Demi rasa iba, Arhan menikahi Dira, seorang gadis yatim piatu yang baru kehilangan kedua orang tuanya. Dira mengira pernikahan itu adalah awal dari kehidupan yang penuh kasih sayang. Nyatanya, ia hanya dijadikan istri untuk mengurus rumah, melayani suami, dan merawat ibu mertuanya.
Lima tahun berlalu tanpa kehadiran buah hati. Dira terus menyalahkan dirinya karena dianggap mandul. Ia tak pernah tahu bahwa setiap hari Arhan memberinya pil KB yang dikemas sebagai obat penyubur agar ia tak pernah mengandung.
Ketika alasan "mandul" itu digunakan Arhan untuk menikahi wanita yang sejak dulu dicintainya, hati Dira hancur. Lebih menyakitkan lagi, ia tak sengaja mendengar percakapan yang mengungkap bahwa selama ini dirinya hanyalah seorang babu yang sengaja dipertahankan sampai wanita pujaan Arhan kembali.
Namun, semua kebohongan memiliki waktunya untuk terbongkar. Saat rahasia pil KB akhirnya terungkap, penyesalan mulai menghantui Arhan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon peony_ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tinggal dirumah Mewah
"Lima tahun lalu, Dira dinikahi oleh seorang pria yang Dira pikir pria itu tulus mencintai Dira. Tapi pada kenyataanya, pria itu menikahi Dira atas dasar kebutuhannya bukan atas dasar cinta. Menikahi Dira karena hanya ingin memanfaatkan Dira saja. Mengurus ibunya yang sakit, mengerjakan pekerjaan rumah, masak dan lain hal semua Dira kerjakan sendiri. Tanpa Dira ketahui dibelakang Dira, mantan suami Dira itu sering bermain dengan pacar yang ia cintai." Dira bersandar pada ranjang rumah sakit, kini tubuhnya sudah mulai pulih. Tidak lagi pucat dan ada titik semangat kembali diwajahnya.
"Betapa bodohnya Dira saat itu, Dira sangka perlakuan mas Arhan yang cuek pada Dira merupakan bawaan dari sikapnya yang dingin." Dira menyeka air matanya yang mulai turun. Ia tertawa getir kala mengingat kebodohannya.
"Ditahun kelima kami menikah, setelah mas Arhan naik jabatan, pada akhirnya mas Arhan menikahi wanita pujaannya dengan dalih ingin memiliki keturunan, karena aku tidak bisa memberinya. Padahal, dia yang sengaja setiap pagi memberiku pil kontrasepsi agar aku tidak hamil, supaya tetap bisa mengerjakan semua pekerjaan rumah dan mengurus ibunya." Dira terisak, tapi kini hatinya sudah lapang. semangat hidupnya telah kembali setelah bertemu dengan Bu Mira.
"Pantang bagi mas Arhan untuk mempekerjakan ART, karena menurutnya itu sangat membuang-buang uang. Padahal saat itu aku sudah sangat capek sekali Tante."
Bu Mira fokus mendengarkan kisah hidup Dira, tadinya ia tidak memaksa namun Dira begitu saja langsung menceritakan kisah hidupnya. Kisah hidupnya mengalir, dimulai dari menikah sampai dengan akhirnya bercerai.
"Maafkan Tante Ra, tante terlambat. Lima tahun yang lalu Tante masih berada diluar negeri. Satu tahun setelah ibumu tiada Tante baru bisa pulang ke Indonesia. Maafkan Tante sayang..." Bu Mira turut prihatin dengan kisah pilu kehidupan rumah tangga Dira.
"Tante gak salah, Dira yang salah karena pada waktu itu Dira masih termasuk umur yang masih labil. Begitu saja dengan mudah menerima orang asing untuk masuk kedalam kehidupan Dira. Apalagi saat itu mas Arhan sangat memaksa untuk menikahi Dira dengan cepat." Dira menarik nafas pelan, kemudian menghembuskan nya perlahan.
"Sudah kamu jangan bersedih lagi Ra, mulai saat ini kamu anggap aja tante ini ibumu. Mulai saat ini kamu jadi anak tante dan tinggal bersama Tante dirumah ya Ra." Bu Mira menggenggam erat tangan Dira, matanya menatap sendu agar permintaanya disetujui oleh Dira. Bu Mira sangat menyayangi Dira, dari dulu Bu Mira sudah menganggap Dira sebagai anaknya, karena pada saat itu Bu Mira sangat ingin memiliki anak perempuan.
"Tapi Tante Dira malu sekali kali hanya menumpang dirumah tante."
"Malu sama siapa sayang, malah Tante sangat senang. Dirumah akan lebih ramai dengan anggota keluarga baru."
Perlahan Dira menganggukkan kepalanya, senyum terukir pada wajahnya yang kini sudah terlihat segar. Dira sudah benar-benar pulih. Bu Rena memang mengeluarkan biaya yang sangat mahal untuk mengobati luka Dira.
"Makasih tante..kalau gak ada tante Dira harus pulang kemana?" Dira memeluk erat tubuh Bu Mira.
"Sama-sama sayang... anggap tante ini mama saja."
*
Di hadapan Dira berdiri sebuah rumah mewah bergaya Eropa yang tampak begitu megah. Bangunannya didominasi warna putih gading dengan pilar-pilar tinggi yang menjulang kokoh di bagian depan. Jendela-jendela besar berbingkai hitam menambah kesan elegan, sementara balkon berukir klasik memperlihatkan kemewahan yang tak berlebihan. Halaman luas yang dihiasi taman bunga dan air mancur di tengahnya membuat rumah itu tampak seperti istana kecil yang keluar dari negeri dongeng.
Dira benar-benar takjub dengan keindahan rumah Bu Mira, dulu ia hanya bisa bermimpi untuk tinggal dirumah Mewah seperti ini, tapi kini ia akan menempati rumah mewah ini. Menjadi anggota keluarga baru hasil paksaan dari Bu Mira.
Lama tidak bertemu dengan Bu Mira membuatnya menjadi lebih pangling, dulu Bu Mira hanya seorang karyawan biasa seperti mendiang ibunya Dira, serta suaminya pun hanya seorang menejer disalasatu perusahan biasa kala itu. Tapi sekarang sudah berubah drastis. Bu Mira sudah menjadi orang yang kaya raya.
"Ini beneran rumah tante?" tanya Dira masih menatap takjub rumah mewah dihadapannya.
"Bukan sayang, Tante hanya numpang disini. Rumah ini milik putra tante." ucap Bu Mira sambil menarik pelan pergelangan tangan Dira.
"Putra tante, ma maksudnya mas Arya?" tanya Dira, kakinya kini mulai melangkah diatas lantai marmer yang mengkilap, mewah dan bayangan tubuh Dira terlihat jelas disana.
"Iya betul, mas mu. Yang dulu suka gendong kamu kalau kamu nangis kerana inget sama mama dan papamu yang lagi kerja."
Otak Dira seperti diputar pada jaman dulu, dia yang sering menangis karena tidak ingin ditinggal oleh kedua orangtuanya. Tapi Arya selalu datang tepat waktu padanya, Arya akan berusaha sebisa mungkin untuk menghentikan tangisan Dira. Arya yang sangat menyayangi Dira dan menganggap Dira sebagai adik kecil yang sangat menggemaskan.
"Dira inget tante, bagaimana keadaan mas Arya sekarang?" tanya Dira, senyum hangat kembali terukir diwajahnya.
Langkah mereka mulai mendekati pintu utama yang sangat besar, berwarna coklat dengan ukiran klasik nan elegan. Ada beberapa pelayang berseragam yang tersenyum menyambut diambang pintu. Penyambutan seperti ini bukanlah sebuah keharusan didalam rumah mewah Arya, tapi ini adalah sebuah kebetulan saja karena pelayan itu sedang bersih-bersih pada daerah pintu rumah.
"Arya baik, sekarang sedang pergi ke Singapur biasa lagi banyak kerjaan."
"Wah...pasti mas Arya udah jadi orang hebat ya tante."
"Mas mu dari dulu kan sangat ambisius sekali. Lihat aja sekarang, dihari libur saja dia malah masih ngurus kerjaannya." ucap Bu Mira diakhiri dengan kekehan diakhirnya.
"Oma...Lara kangen sama Oma..." teriak Lara sambil berlari ke arah Bu Mira.
"Sini sayang....kenalin ini tante Dira, keluarga baru dirumah ini." Bu Mira memeluk tubuh mungil Lara, sambil memperkenalkan Dira padanya. Senyum hangat terukir pada wajah imut Lara.
"Haloo, nama Tante Dira..kamu namanya siapa?" ucap Dira sambil mengulurkan tangannya yang langsung disambut oleh Lara.
"Hai... tante nama aku Elara,"
"Ah...cantik sekali kamu Lara..." puji Dira sambil mengelus lembut pipi Elara.
"Putri siapa ini tante?"
"Putri mas mu, Arya."
Deg.
Entah mengapa Dira merasa jantungnya berdenyut, sampai menghentak keras.