NovelToon NovelToon
Azalea Masuk Ke Raga Gadis Yang Malang

Azalea Masuk Ke Raga Gadis Yang Malang

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Transmigrasi / Teen
Popularitas:825
Nilai: 5
Nama Author: Jaena19

Azalea sangat menyukai novel, terkadang dia selalu ingin mengubah jalan cerita jika alur atau endingnya tidaks sesuai dengan ekspektasinya. Terkadang dia juga ingin masuk ke dunia novel supaya bisa merasakan pengalaman menjadi tokoh utama, apalagi jika tokoh utama yang di deskripsikan di kelilingi oleh pria-pria tampan. Dan keinginan Azalea menjadi kenyataan, seperti sebuah mimpi dia masuk ke dalam salah satu novel yang dia baca. Sayangnya tokoh yang dia perankan adalah gadis cantik yang malang. Akankah Azalea mampu menjalani kehidupan barunya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

5

“Kamu emang harus diberi pelajaran, Nayla! Beraninya kamu bolos sekolah harian, hah?! Jawab saya!”

Suara bentakan itu menggema di seluruh ruang kerja yang luas dan dingin, membuat udara di dalamnya seakan-akan ikut menegang. Lampu meja yang menyala terang tidak memberi sedikit pun rasa hangat. Justru cahaya itu memperjelas segalanya, tatapan marah Bagus Raharja, rahang yang mengeras, tangan besar yang mengepal di atas meja, dan sosok Nayla yang berdiri kaku di hadapannya seperti seseorang yang sedang menunggu putusan hukuman.

Nayla menggeleng cepat, air mata yang sejak tadi menggantung di pelupuk matanya hampir jatuh.

“Nayla nggak bolos, Pa. Nayla—”

“Jangan buat alasan!” potong Bagus dengan suara lebih keras lagi. “Saya tidak akan percaya omong kosong kamu!”

Nayla terdiam.

Bibirnya bergetar. Pundaknya menegang. Ia ingin menjelaskan bahwa pagi tadi kepalanya sakit luar biasa, bahwa tubuhnya terasa lemas, bahwa ia benar-benar pingsan sebelum sempat mengikuti pelajaran. Ia ingin mengatakan semuanya dengan jujur, tapi ia sudah tahu hasil akhirnya.

Tidak pernah ada ruang bagi penjelasan di rumah ini.

Yang ada hanya keputusan ayahnya.

Yang ada hanya vonis.

“Tapi Nayla juga pingsan karena Papa,” ucapnya lirih, nyaris seperti bisikan yang bahkan ia sendiri ragu untuk keluarkan.

Ruangan itu mendadak hening.

Hening yang menakutkan.

Bagus menatapnya tajam, seolah kalimat itu bukan pembelaan, melainkan penghinaan paling besar yang bisa diucapkan seorang anak kepada ayahnya.

“Kamu menyalahkan saya?”

Nayla membeku. Dalam sekejap, ia menyesali ucapannya sendiri. Ia tahu kalimat itu akan memancing amarah lebih besar, tapi lidahnya terlalu lelah untuk terus menahan semua yang selama ini ia pendam sendirian.

“Tidak, Pa… Nayla cuma—”

Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, tubuhnya sudah lebih dulu didorong kasar.

Punggung Nayla menghantam dinding di belakangnya dengan keras.

Suara benturan itu membuat napasnya terhenti sesaat. Rasa sakit menjalar cepat dari tulang punggungnya ke seluruh tubuh. Dadanya terasa sesak. Pandangannya mengabur sebentar. Ia berusaha menahan diri agar tidak terduduk, tapi kaki-kakinya gemetar.

“Sudah merasa hebat kamu? Hah?!” bentak Bagus lagi.

Nayla menggeleng pelan, tubuhnya menempel kaku pada dinding. Ia menahan tangis yang hampir meledak di tenggorokannya.

“Tapi Nayla jujur, Pa…” lirihnya, dengan suara yang hampir pecah.

Bagus tidak peduli.

Tangannya tiba-tiba meraih rambut Nayla, menariknya ke belakang dengan kasar. Kepala Nayla terangkat paksa, lehernya menegang, dan rasa sakit itu langsung menyambar hingga ke akar rambutnya.

“Sakit, Pa… lepas, Pa…” Nayla merintih, kedua tangannya refleks memegang pergelangan tangan ayahnya, berusaha melepaskan cengkeraman itu.

Namun tangan Bagus terlalu kuat.

Seperti besi.

Seperti jepitan yang tak bisa ia lawan.

“Beraninya kamu menyalahkan saya, kurang ajar!” Bagus membentak tepat di depan wajahnya. “Anak tidak tahu diri seperti kamu memangnya bisa apa selain menyusahkan saya?!”

Nayla menangis.

Tangisnya pelan.

Lelah.

Patah.

Bagus melepaskan rambutnya dengan kasar lalu membuang muka, mendecih seperti sedang melihat sesuatu yang menjijikkan. Nayla hampir jatuh, tapi ia menahan diri dengan memegang dinding di sampingnya. Napasnya tersengal. Kepala dan punggungnya terasa nyeri bersamaan.

Ia menunduk lama.

Mencoba mengumpulkan kekuatan.

Mencoba tidak runtuh di depan ayahnya sendiri.

Lalu perlahan, dengan tubuh yang masih gemetar, Nayla menegakkan kepala dan menatap Bagus.

“Kalau begitu lepasin Nayla, Pa…” ucapnya dengan mata berkaca-kaca. “Biarin Nayla pergi.”

Kalimat itu sudah sering ia ucapkan.

Terlalu sering.

Sampai-sampai ia sendiri sudah tak yakin apakah ia masih berharap atau hanya sedang memohon pada sesuatu yang tidak akan pernah berubah.

Bagus terkekeh pelan.

Sangat pelan.

Namun tawa itu justru membuat darah Nayla terasa membeku.

“Kamu mau saya lepaskan?” Suara Bagus rendah, penuh ancaman. “Belum saatnya.”

Nayla memejamkan mata.

Terkuras.

Takut.

Seakan jantungnya hendak jatuh dari tempatnya.

Di balik air mata yang menutupi pandangan, ia hampir tidak bisa lagi membedakan mana rasa sakit yang paling menyiksa: bentakan, dorongan, atau kenyataan bahwa ayahnya sendiri tidak pernah melihatnya sebagai anak.

Ia hanya melihatnya sebagai beban.

Sebagai proyek.

Sebagai alat untuk memuaskan ambisi.

“Kenapa?” suara Nayla akhirnya keluar, serak dan hancur. “Papa belum puas nyiksa Nayla? Sampai kapan, Pa? Harus sampai kapan Papa begini ke Nayla? Harus sampai kapan juga Nayla bertahan dengan semuanya?”

Pertanyaan itu terdengar seperti sesuatu yang terlalu besar untuk keluar dari mulut seorang gadis yang baru beberapa saat lalu masih berusaha terlihat kuat. Tapi Nayla sudah kelelahan.

Terlalu lama menahan semuanya sendirian membuat pertahanannya retak, dan sekali retak, semuanya keluar tanpa bisa ia rem lagi.

Brak!

Bagus memukul meja kerjanya keras-keras.

“Keluar dari ruangan saya!”

Bentakan itu membuat telinga Nayla berdenging. Ia tersentak, bahunya bergetar, dan air matanya jatuh lebih deras. Namun ia tidak membalas. Tidak mungkin. Tidak ada gunanya.

Dengan kasar ia mengusap wajahnya, mencoba menyeka air mata yang terus turun, lalu mengangguk cepat.

“Iya, Pa…” suaranya nyaris tak terdengar.

Ia berbalik pelan, menahan sakit di punggungnya, menahan nyeri di kepalanya, menahan luka di dadanya yang rasanya jauh lebih dalam daripada luka di kulit. Saat tangannya menyentuh gagang pintu, suara Bagus kembali menghentikannya.

“Belajar sampai jam dua.”

Nayla berhenti.

Punggungnya kaku.

Tangisnya masih belum selesai, tapi ia tidak berani menoleh. Ia hanya diam di tempat, menutup mata sesaat sebelum mengangguk kecil tanpa berbalik.

“Baik, Pa.”

Lalu ia benar-benar keluar.

Pintu tertutup di belakangnya dengan bunyi pelan yang justru terdengar lebih menyakitkan daripada bantingan keras.

Di luar ruangan itu, koridor rumah Raharja terasa panjang dan dingin. Langit di balik jendela besar mulai gelap, menandakan sore yang perlahan bergeser menjadi malam. Bagi orang lain, malam mungkin waktu untuk beristirahat. Waktu untuk makan bersama. Waktu untuk pulang.

Namun bagi Nayla, malam selalu punya arti yang lain.

Malam adalah waktu paling sunyi.

Paling berat.

Paling menyakitkan.

Ia berdiri beberapa detik di depan pintu ruang kerja, mencoba mengatur napasnya. Setiap tarikan napas terasa perih. Punggungnya masih berdenyut tempat ia tadi menghantam dinding. Tangannya terasa dingin. Kepalanya pening. Tapi ia tetap memaksa diri berjalan.

Langkahnya pelan menuju kamar.

Rumah itu besar. Terlalu besar bahkan untuk seorang gadis yang tumbuh di dalamnya tanpa benar-benar merasa dimiliki. Dinding marmer, lorong panjang, lampu gantung yang mahal, karpet tebal, lukisan keluarga yang sengaja dipajang agar semua orang percaya bahwa keluarga Raharja adalah keluarga harmonis.

Semua indah.

Semua palsu.

Nayla tahu itu.

Ia sudah lama tahu.

Saat melewati ruang keluarga, ia sempat melihat ibunya duduk di sofa dengan punggung tegak dan wajah tenang, seolah tak terjadi apa-apa di rumah ini. Mata sang mama bahkan tidak beralih padanya ketika Nayla lewat. Seperti biasa.

Tidak ada sapaan.

Tidak ada pertanyaan.

Tidak ada rasa peduli.

Nayla berhenti sebentar di depan ruang keluarga, menatap ibunya dengan harapan yang sangat kecil mungkin hari ini, hanya hari ini, ibunya akan berkata sesuatu. Akan bertanya apakah ia baik-baik saja. Akan melihat wajahnya yang sembab. Akan menahan langkahnya dan berkata ia tidak perlu belajar lagi malam ini.

Namun harapan itu padam sebelum tumbuh.

Ibunya tetap diam.

Memandang jauh ke depan dengan ekspresi dingin yang tak bisa dibaca.

Nayla menelan ludah.

Lalu melanjutkan langkahnya.

Di rumah ini, ia tidak punya siapa-siapa.

Ayahnya menekannya.

Ibunya mengabaikannya.

Kakak-kakaknya ada, tapi tidak pernah benar-benar ada untuknya.

Sampai akhirnya ia tiba di depan kamar.

Saat tangannya hendak memutar knop pintu, suara pintu kamar di sebelahnya terbuka.

Nayla refleks menoleh.

Dan di sanalah ia melihat Jevan.

Kakak pertamanya.

Laki-laki itu berdiri di ambang pintu kamar dengan ekspresi datar seperti biasa. Tingginya menjulang, bahunya tegap, dan wajahnya nyaris tidak menunjukkan emosi apa pun. Mereka bahkan mirip sekali secara bentuk wajah, tetapi aura yang keluar dari Jevan benar-benar berbeda dari Devan, kakak keduanya yang jauh lebih ekspresif.

Jevan selalu tenang.

Terlalu tenang.

Terkadang itu justru membuat Nayla sulit membaca pikirannya.

“Baru keluar dari ruang Papa?” tanya Jevan dengan suara datar, tidak kasar, tidak lembut. Hanya datar.

Nayla menunduk sedikit. “Iya.”

Jevan menatapnya lama.

Terlalu lama.

Tatapan itu membuat Nayla ingin segera masuk kamar dan mengunci pintunya. Ia tidak suka diperhatikan. Ia tidak suka tatapan yang terlalu tajam. Ia tidak suka harus merasa diadili lagi setelah baru saja dihukum.

Namun Jevan tidak bergerak.

Ia hanya berdiri di sana, satu tangan di saku celana, mata gelapnya menelusuri wajah Nayla yang sembab, lalu turun sebentar ke punggungnya yang sedikit kaku.

“Kamu habis nangis,” katanya datar.

Nayla diam.

Tidak menjawab.

Apa gunanya menyangkal? Di rumah ini semua orang selalu tahu saat ia menangis. Tidak ada yang benar-benar peduli, tapi semua orang tahu.

Jevan mengalihkan pandangannya ke pintu kamar Nayla. “Papa marah?”

Nayla hanya mengangguk kecil.

Jevan tidak berkata apa-apa selama beberapa detik. Keheningan di antara mereka terasa canggung dan jauh. Bukan keheningan hangat antar saudara. Melainkan keheningan orang-orang yang hidup berdekatan, namun tidak pernah benar-benar dekat.

Nayla ingin segera masuk kamar. Bersembunyi. Menjauh. Namun langkahnya tertahan oleh suara Jevan yang tiba-tiba berkata, “Jangan bikin Papa tambah emosi.”

Kalimat itu jatuh begitu saja.

Tanpa nada tinggi.

Tanpa pembelaan.

Tetapi justru karena itulah Nayla merasa dadanya sesak.

Ia menatap Jevan dengan mata yang mulai memanas lagi.

“Kak Jevan…” suaranya lirih, hampir memohon.

Namun Jevan tidak menoleh. Ia hanya membuka pintu kamarnya sedikit lebih lebar, seolah pertanyaan Nayla bukan sesuatu yang layak ia tanggapi.

Nayla menahan napas.

Setiap kali mencoba berharap pada keluarganya, hasilnya selalu sama. Ia hanya mendapat jarak. Dingin. Dan saran agar ia lebih patuh. Seolah rasa sakit yang ia rasakan selama ini tidak pernah cukup penting untuk dipedulikan.

Di lantai atas, langkah kaki terdengar samar.

Mungkin Devan.

Mungkin salah satu pelayan.

Entahlah.

Nayla tidak terlalu peduli.

Ia justru lebih sibuk menahan gemetar di tubuhnya sendiri.

Saat hendak kembali membuka pintu kamar, Jevan akhirnya bicara lagi.

“Kalau ada apa-apa, jangan ribut.”

Nayla menoleh cepat. “Maksud kakak apa?”

Jevan menatapnya sekilas. “Kamu tahu maksud saya.”

Bibir Nayla bergetar. “Aku bahkan selalu nurut.”

“Dan tetap selalu berantakan,” jawab Jevan singkat.

Kalimat itu seperti pisau kecil yang diselipkan di sela-sela tulang rusuk. Tidak keras, tapi cukup dalam untuk membuat Nayla ingin menangis lagi.

Jevan lalu masuk ke kamarnya sendiri, meninggalkan Nayla di depan pintu dengan dada yang terasa kosong.

Azalea, yang selama ini terjebak di dalam kesadaran Nayla, merasakan semuanya bersamaan. Ketika Nayla diseret ke ruang kerja, Azalea ingin berteriak. Ketika punggung itu menghantam dinding, Azalea seolah ikut merasakan tulang yang nyeri. Ketika tangan Bagus menarik rambut Nayla, Azalea ikut sakit.

Dan sekarang, saat Jevan menatapnya tanpa kehangatan, Azalea kembali merasa sesak karena tidak mengerti.

Bagaimana bisa ada manusia yang tinggal di rumah sebesar ini, dengan nama keluarga yang begitu disegani, namun hidup seperti penjahat yang terus dipenjara di dalam rumah sendiri?

Azalea tidak bisa memahami.

Ia tidak bisa menerima.

Tapi ia juga tidak bisa mengubah apa pun.

Nayla membuka pintu kamarnya perlahan dan masuk.

Begitu pintu tertutup, ia langsung bersandar pada daun pintu, menutup mata rapat-rapat. Napasnya yang sejak tadi ditahan akhirnya keluar bersama isak kecil yang tak mampu ia cegah.

Ia merosot perlahan ke lantai.

Lemah.

Lelah.

Terhantam oleh kenyataan yang sama setiap hari.

Rumah besar itu di luar tampak seperti istana. Namun di dalam, ia adalah labirin yang penuh luka. Nayla tidak pernah benar-benar bebas. Ia hanya bergerak di antara ruangan-ruangan yang menuntutnya menjadi sesuatu yang ia bukan.

Dan malam ini, seperti malam-malam sebelumnya, ia kembali sendirian.

Ia memeluk lututnya, menyandarkan dahi ke lengan, lalu membiarkan air mata jatuh diam-diam.

Tidak ada yang mendengar.

Tidak ada yang datang.

Tidak ada yang peduli.

Hanya tubuhnya sendiri yang terus menanggung semuanya.

Namun jauh di dalam dirinya, Azalea masih terjaga.

Masih melihat.

Masih menyimpan semuanya.

Dan untuk pertama kalinya, ia mulai mengerti bahwa hidup Nayla bukan tentang kekayaan, bukan tentang wajah cantik, bukan tentang keluarga sempurna yang dilihat orang-orang dari luar.

Hidup Nayla adalah tentang bertahan.

Tentang dihancurkan sedikit demi sedikit.

Tentang dipaksa tetap berdiri meski tak ada tempat aman untuk bersandar.

Dan entah sejak kapan, di tengah tangis yang tidak pernah selesai itu, Azalea mulai bersumpah dalam diam.

Bahwa jika ia benar-benar harus tinggal di tubuh Nayla Arabella, maka suatu hari nanti ia akan mencari jalan keluar.

Bukan hanya untuk dirinya.

Tetapi juga untuk Nayla.

Untuk semua luka yang selama ini dipaksa diam.

Untuk semua tangis yang tak pernah diberi ruang.

Untuk gadis mata hazel yang dari luar tampak sempurna, namun di dalamnya sedang perlahan-lahan runtuh.

Malam itu, rumah Raharja tetap berdiri megah seperti biasa.

Lelangit tinggi.

Lampu mewah.

Lorong panjang.

Dan keheningan yang menakutkan.

Namun di salah satu kamar di ujung lantai, Nayla menangis sendirian sambil memeluk dirinya sendiri, sementara dunia tetap berjalan seolah tak ada yang salah.

Dan itulah yang paling menyakitkan.

Bahwa bagi dunia, semuanya tampak baik-baik saja.

1
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!