NovelToon NovelToon
Sistem Raja Cuan Membangun Kampung Halaman

Sistem Raja Cuan Membangun Kampung Halaman

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Fantasi Isekai
Popularitas:13.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nissa Safira

Lelah menjadi budak korporat di kota besar tanpa hasil dan malah dikhianati oleh orang terdekatnya, Yao Wi memutuskan menyerah dan pulang ke kota kelahirannya yang miskin dan terbelakang. Namun, siapa sangka keputusannya untuk menyerah justru menjadi titik balik hidupnya saat sebuah sistem misterius tiba-tiba aktif di kepalanya.

Ding!

​[Selamat datang, Tuan Rumah Yao Wi.]

​[Sistem ini bertujuan untuk membantu Anda mengubah kota kelahiran Anda yang tertinggal menjadi kota paling makmur di bumi.]

​[Aturan Utama Sistem: Tuan rumah akan menerima seratus ribu setiap hari dari setiap jiwa yang terdaftar resmi sebagai warga kota ini.]

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16

Kring! Kring!

Suara alarm dari ponsel pintar di atas nakas membangunkan Yao Wi dari tidur lelapnya.

Ia membuka mata dan meregangkan otot-ototnya yang terasa sangat segar pagi ini.

Ding!

[Hari baru telah dimulai di Kota Linzhou.]

[Populasi saat ini tercatat sebanyak 50.000 jiwa.]

[Dana harian sebesar 5.000.000.000 telah berhasil ditransfer ke rekening prioritas Tuan Rumah.]

Yao Wi tersenyum puas melihat saldo di aplikasi perbankannya yang kini melonjak menjadi enam miliar lebih.

Ia segera bangkit, membersihkan diri, dan mengenakan setelan jas kasual berwarna biru dongker yang elegan.

Saat ia turun ke restoran hotel di lantai dasar, Shen Yue sudah menunggunya di meja VIP dengan setumpuk dokumen.

"Selamat pagi, Tuan Bos, saya sudah merekap semua aset properti yang kita beli kemarin," sapa Shen Yue sambil berdiri dan menunduk hormat.

"Duduklah, Shen Yue, mari kita sarapan sambil membahas rencana kita hari ini," jawab Yao Wi santai.

Seorang pelayan segera menghidangkan bistik daging sapi wagyu kelas atas dan secangkir kopi hitam panas untuk Yao Wi.

"Tuan Bos, tim konstruksi misterius Anda benar-benar gila, seluruh bangunan kumuh di Jalan Utama Sudirman sudah rata dengan tanah subuh tadi," lapor Shen Yue dengan mata berbinar antusias.

"Itu baru permulaan, Shen Yue," balas Yao Wi sambil memotong daging di piringnya.

"Hari ini, kita akan menunda pembangunan pusat perbelanjaan dan fokus pada sebuah proyek yang jauh lebih penting."

Shen Yue mengerutkan keningnya, merasa penasaran dengan perubahan rencana mendadak dari bosnya itu.

"Proyek apa yang lebih penting dari memonopoli jalan utama, Tuan Bos?" tanya Shen Yue bingung.

Yao Wi meletakkan pisau garpunya dan menatap lurus ke mata asisten pribadinya itu.

"Aku ingin membangun rumah sakit elit bertaraf internasional di kota ini," jawab Yao Wi mantap.

"Dan untuk memulainya, kita akan mengakuisisi Rumah Sakit Umum Linzhou pagi ini juga."

Shen Yue terbelalak kaget mendengar target ambisius bosnya yang kesekian kalinya.

Rumah Sakit Umum Linzhou adalah satu-satunya fasilitas kesehatan di kota ini yang dikelola secara buruk oleh pemerintah daerah.

"Tuan Bos, rumah sakit itu kondisinya sangat bobrok dan sarat akan korupsi dari direkturnya," jelas Shen Yue memberikan informasi.

"Justru karena itu aku ingin mengambil alihnya, mari kita bersihkan tikus-tikus berdasi di sana hari ini," ucap Yao Wi sambil menghabiskan sisa kopinya.

Setengah jam kemudian, Range Rover hitam pekat milik Yao Wi membelah jalanan kota menuju Rumah Sakit Umum Linzhou.

Vroom! Ciiiit!

Mobil mewah itu berhenti tepat di pelataran parkir rumah sakit yang terlihat sangat kotor dan semrawut.

Cat dinding bangunan rumah sakit itu sudah mengelupas di mana-mana, menebarkan aroma obat-obatan murah yang bercampur dengan bau pesing.

Di sudut halaman, terlihat puluhan preman Geng Naga Hitam yang tubuhnya dibalut perban sedang mengerang kesakitan di atas ranjang dorong berkarat.

Mereka dibiarkan terlantar di luar karena ruangan rumah sakit tidak cukup untuk menampung mereka semua.

Yao Wi dan Shen Yue berjalan melewati kerumunan preman itu tanpa mempedulikan tatapan ketakutan mereka.

Saat memasuki lobi rumah sakit, suasana bising langsung menyambut telinga mereka layaknya pasar ikan.

Banyak pasien miskin yang tidur beralaskan tikar di lorong karena tidak mampu membayar biaya kamar rawat inap.

"Tempat ini benar-benar tidak layak disebut sebagai rumah sakit," komentar Yao Wi dengan nada jijik.

Tiba-tiba, dari arah lorong bangsal VIP di lantai dua, terdengar suara keributan yang cukup keras.

"Tolonglah, Direktur Ma, saya sudah membayar biaya kamar VIP dan biaya operasi istri saya!" terdengar suara parau seorang pria tua yang memohon.

Yao Wi menghentikan langkahnya, merasa sangat mengenali suara pria yang sedang putus asa tersebut.

"Itu sepertinya suara Paman Zhang yang kemarin menjual gedung plaza tua kepadaku," gumam Yao Wi pelan.

"Ayo kita ke atas, Shen Yue, sepertinya ada pertunjukan menarik yang sedang terjadi."

Tap! Tap! Tap!

Mereka berdua berjalan menaiki anak tangga yang kusam menuju lorong VIP di lantai dua.

Di depan sebuah kamar rawat inap, Paman Zhang sedang berlutut di lantai sambil memegangi kaki seorang pria paruh baya bertubuh tambun.

Pria tambun itu mengenakan jas dokter berwarna putih yang terlihat sangat mahal, lengkap dengan jam tangan emas di pergelangan tangannya.

Papan nama di dadanya menunjukkan bahwa ia adalah Direktur Ma, kepala rumah sakit tersebut.

"Lepaskan tangan kotormu dari celana mahalku, Paman Tua!" bentak Direktur Ma sambil menendang bahu Paman Zhang dengan kasar.

Brak!

Paman Zhang tersungkur ke belakang, namun ia segera merangkak maju lagi dengan air mata bercucuran.

"Direktur Ma, saya mohon, istri saya sudah kritis di dalam sana, kenapa jadwal operasinya dibatalkan tiba-tiba?" ratap Paman Zhang histeris.

Direktur Ma melipat tangannya di dada dengan senyum angkuh yang sangat menyebalkan.

"Aku mendengar dari pihak bank bahwa kau baru saja menerima uang lima miliar dari penjualan tanah kemarin siang," ucap Direktur Ma dengan mata menyipit serakah.

"Orang kaya baru sepertimu seharusnya tahu aturan main di rumah sakit ini."

Paman Zhang menggelengkan kepalanya bingung, tidak mengerti apa yang diinginkan oleh direktur rakus di depannya ini.

"Saya sudah membayar biaya rumah sakit sesuai tagihan, apa lagi yang kurang?" tanya Paman Zhang putus asa.

"Uang administrasi itu masuk ke kas daerah, bukan ke kantongku," jawab Direktur Ma tanpa rasa malu sedikit pun.

"Jika kau ingin istri tercintamu itu dioperasi hari ini oleh dokter spesialis terbaik, kau harus memberikan uang donasi sukarela sebesar satu miliar kepadaku sekarang juga."

Mata Paman Zhang melotot nyaris keluar mendengar permintaan pemerasan yang sangat gila tersebut.

Satu miliar hanya untuk menyogok agar istrinya dioperasi tepat waktu?

"I-itu pemerasan namanya! Saya tidak akan memberikan uang sebanyak itu untuk masuk ke kantong pribadi Anda!" teriak Paman Zhang menolak dengan tegas.

Wajah Direktur Ma langsung berubah merah padam menahan amarah karena penolakan tersebut.

"Berani kau menolakku di rumah sakitku sendiri?" desis Direktur Ma tajam.

"Perawat! Cabut semua selang infus dari istri pria tua ini dan usir mereka dari kamar VIP sekarang juga!" teriak Direktur Ma memberikan perintah kejam.

Dua orang perawat jaga yang berdiri di belakangnya hanya bisa menundukkan kepala dan bersiap masuk ke dalam kamar rawat.

"Jangan! Tolong jangan lakukan itu, istri saya bisa mati!" jerit Paman Zhang mencoba menghalangi pintu kamar dengan tubuh rentanya.

Plak!

Sebuah tangan yang kuat tiba-tiba menahan bahu perawat itu, membuat mereka terhenti seketika.

Yao Wi melangkah maju dengan tenang, menempatkan tubuhnya di antara Paman Zhang dan Direktur Ma yang sombong.

"Pemandangan yang sangat memuakkan di pagi hari," ucap Yao Wi dengan suara dingin yang menggema di lorong sepi itu.

Paman Zhang mendongak dan matanya langsung berbinar penuh harapan melihat siapa yang datang menyelamatkannya.

"Tuan Muda Yao Wi! Anda datang!" seru Paman Zhang dengan suara bergetar haru.

Direktur Ma mengerutkan keningnya, menatap penampilan Yao Wi dari atas ke bawah dengan tatapan menilai.

Meskipun Yao Wi mengenakan pakaian mahal, Direktur Ma tidak mengenalnya sebagai salah satu pejabat di kota ini.

"Hei anak muda, siapa kau berani ikut campur urusan internal rumah sakitku?" hardik Direktur Ma sambil menunjuk wajah Yao Wi.

"Menjauh dari sini jika kau tidak ingin dipanggilkan petugas keamanan!"

Yao Wi dengan santai menepis tangan Direktur Ma yang menunjuknya dengan keras.

Plak!

"Ahhh! Beraninya kau memukul tanganku!" jerit Direktur Ma kesakitan sambil memegangi pergelangan tangannya yang memerah.

Yao Wi menyeka tangannya sendiri dengan sapu tangan seolah baru saja menyentuh sampah yang bau.

"Aku adalah Yao Wi, dan aku datang ke sini untuk membeli tempat rongsokan yang kau sebut rumah sakit ini," jawab Yao Wi dengan nada merendahkan.

1
Fajar Fathur rizky
aturan mentri zhou di bantai
Hadi Hadi
mantap🤭
Hadi Hadi
sikat💪
Hadi Hadi
up up
Kirigaya Haruto
tinggi gedungnya 5 kali burj khalifah
Kirigaya Haruto
alur ceritanya bagus dan gak berbelit-belit walaupun aku gak tau uangnya dari mana bisa ngeluarin uang sebanyak itu
Fajar Fathur rizky
hahahaha mampus kau
Kirigaya Haruto
linzhou itu kota di China gimana bisa di linzhou ada jalan sudirman yang lekat sama kota2 di Indonesia
Kirigaya Haruto
kan harusnya jumlah uangnya itu 4.348.550.000 kenapa dia bisa ngeluarin 5m hari ini kan uangnya seharusnya gak cukup
Kirigaya Haruto: aku sebagai pembaca veteran selalu menemukan pola yang sama jumlah uang yang keluar sama jumlah uang yang masuk itu gak seimbang banyakan uang keluar dari pada uang yang masuk
total 2 replies
Hadi Hadi
up💪
Nissa Safira: terima kasih kaka hadi🥰🙏
total 1 replies
Hadi Hadi
up up up💪
Hadi Hadi
lanjut💪
Hadi Hadi
good😍
Hadi Hadi
semangat💪
Hadi Hadi
mantap😍😍💪
Hadi Hadi
semangat💪
Hadi Hadi
bantai💪
Hadi Hadi
mantap
Hadi Hadi
sikat
Hadi Hadi
lanjut💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!