"
Lima tahun Naira menyusun kerajaan bisnis suaminya dari balik bayang, tapi lelaki itu malah memberikan undangan kongres penting kepada cinta lamanya. Lalu Dimas membatalkan janji menjemput ayahnya sendiri demi perempuan itu. Naira tidak berteriak. Ia hanya melepas cincinnya, mengajukan cerai, dan mengambil kembali seluruh aset yang ia bangun.
Keluarga Mahendra panik. Mereka tidak tahu bahwa Naira adalah putri tunggal Atmadja yang kekayaannya bisa membeli seluruh perusahaan mereka. Tepat saat segalanya kacau, Raka Wiratama muncul. Penguasa bisnis paling ditakuti itu bersumpah melindungi Naira dengan satu alasan: lima tahun lalu, perempuan itu menyelamatkan nyawanya. Dan Raka tidak pernah main-main soal utang nyawa."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 5
Bab 05
Naira tidak langsung kembali ke rumah Menteng.
Setelah meninggalkan rumah Mahendra, ia meminta sopir berhenti di dekat jalan menuju pelabuhan lama. Bagas ingin ikut turun, tetapi Naira menolak.
"Saya butuh sendiri sebentar."
"Non, kawasan ini bukan tempat aman."
"Saya tahu."
Justru karena tahu, ia memilih turun.
Angin dari arah laut membawa bau garam, solar, dan besi basah. Di kejauhan, peti kemas tersusun seperti dinding raksasa. Truk-truk besar bergerak perlahan, lampu kuningnya berkedip di bawah langit yang mulai gelap.
Naira berjalan menyusuri jalur kosong di samping gudang tua.
Di tempat seperti ini, dulu ia belajar membaca peta pergerakan orang. Ayahnya punya banyak bisnis legal di pelabuhan, dari logistik sampai keamanan. Tapi sejak kecil Naira juga tahu, pelabuhan menyimpan bagian kota yang tidak pernah muncul di brosur perusahaan.
Ia berhenti di depan pagar besi dengan papan kecil.
AREA TERBATAS
IZIN KHUSUS
Naira hampir tertawa.
Seumur hidupnya ia selalu berada di area terbatas. Keluarga Atmadja membatasinya demi keselamatan. Keluarga Mahendra membatasinya demi kenyamanan mereka. Dunia medis membatasinya dengan skandal ibunya.
Hari ini ia hanya ingin berjalan tanpa diminta pulang, memasak, diam, atau mengalah.
Ponselnya bergetar.
Dimas.
Ia membiarkannya.
Panggilan berhenti, lalu masuk lagi.
Ketiga kalinya, Naira mengangkat.
"Kamu di mana?" suara Dimas tegang.
"Bukan urusanmu."
"Naira, jangan kekanak-kanakan. Mama memang salah bicara, tapi kamu juga tidak bisa mengusir keluarga begitu saja."
Naira menatap laut gelap di ujung jalan. "Jadi ini soal rumah?"
Dimas diam sebentar.
"Aku khawatir padamu."
Kata itu datang terlalu terlambat.
"Khawatir karena aku pergi, atau karena dokumen itu benar?"
"Kamu selalu memutar semua jadi serangan."
"Tidak. Aku hanya berhenti menyusun kalimat agar egomu tidak terluka."
Dimas menarik napas kasar. "Kita masih suami istri."
"Untuk sementara."
"Naira..."
"Aku tutup."
Ia memutus telepon.
Di saat yang sama, bunyi mesin berat terdengar dari arah belakang. Naira menoleh. Sebuah mobil SUV hitam masuk terlalu cepat ke jalur sempit itu. Lampunya menyilaukan. Sopirnya seperti tidak melihat ada orang di depan.
Naira bergerak ke samping.
Kakinya tersandung batu. Tubuhnya kehilangan keseimbangan, tetapi sebelum jatuh, sebuah tangan menarik lengannya.
Gerakannya cepat, kasar, dan tepat.
Naira menabrak dada seseorang.
Aroma tembakau dingin dan antiseptik tipis menyentuh hidungnya. Ia langsung menegang.
"Kalau mau mati, cari tempat lain."
Suara pria itu rendah.
Naira mengangkat wajah.
Pria di depannya tinggi, wajahnya pucat dengan garis rahang tajam. Matanya gelap, nyaris tanpa hangat. Di belakangnya, beberapa pria berbaju hitam berdiri dengan posisi menyebar. Bukan satpam biasa. Mereka terlalu tenang.
Naira mengenali pria itu dari laporan lama ayahnya.
Raka Wiratama.
Pemilik jaringan pelabuhan, logistik, keamanan swasta, rumah sakit khusus, dan setengah rumor paling gelap di Jakarta. Orang menyebutnya pengusaha. Orang lain menyebutnya kepala keluarga Wiratama. Mereka yang lebih tahu memilih tidak menyebut apa pun.
Naira menarik lengannya.
Raka tidak langsung melepas.
Matanya turun ke pergelangan tangan Naira, lalu ke wajahnya. Ada sesuatu yang berubah di tatapannya, sangat cepat, hampir tidak terlihat.
"Lepaskan," kata Naira.
Salah satu anak buah Raka bergerak.
Raka mengangkat tangan sedikit. Orang itu berhenti.
"Kamu masuk area pribadi."
"Saya berdiri di pinggir jalan."
"Jalan itu milikku."
Naira menatapnya datar. "Selamat. Semoga aspalnya bahagia."
Untuk pertama kali, ekspresi pria itu retak.
Bukan senyum. Lebih seperti ia hampir lupa cara menahan reaksi.
"Kamu tahu dengan siapa bicara?"
"Dengan pria yang hampir menabrak orang lalu menyalahkan korban."
"Mobil itu bukan hampir menabrakmu. Kamu yang berdiri di jalur operasional."
"Papan peringatannya ada di belakang saya."
Raka melirik papan kecil di pagar. Lalu kepada anak buahnya. "Siapa yang pasang papan itu?"
Tidak ada yang menjawab.
Naira menarik lengannya lagi. Kali ini Raka melepas.
Sentuhan itu singkat, tetapi Naira melihat jari pria itu mengejang sedikit. Seolah menyentuhnya membuatnya terganggu, tapi bukan jijik.
"Kamu terluka?" tanya Raka.
"Tidak."
"Kakimu."
Naira baru sadar pergelangan kakinya nyeri. Ia menahan beban tanpa mengubah ekspresi.
"Bukan urusanmu."
Raka menatapnya dari kepala sampai kaki. "Kamu selalu begini?"
"Begini bagaimana?"
"Berdarah, terluka, lalu bilang tidak apa-apa."
Naira membeku.
Kalimat itu terlalu spesifik.
Terlalu dekat dengan masa lalu yang tidak ia ceritakan kepada siapa pun di keluarga Mahendra.
"Kita pernah bertemu?" tanyanya.
Mata Raka menggelap.
"Mungkin."
"Saya tidak suka jawaban tidak jelas."
"Aku juga tidak suka perempuan masuk wilayahku tanpa izin."
"Kalau begitu kita impas."
Di belakang Raka, seorang pria berkacamata yang tampak seperti asisten mendekat. "Pak Raka, rombongan dari kantor otoritas pelabuhan sudah menunggu."
Raka tidak menoleh. "Suruh tunggu."
Asisten itu menatap Naira sekilas, lalu menunduk. "Baik."
Naira tidak ingin berlama-lama. Ia mengambil ponsel, hendak menelepon Bagas, tetapi Raka lebih dulu berkata, "Orangmu menunggu di depan gerbang. Bagas."
Jari Naira berhenti.
"Kamu tahu nama orang saya?"
"Aku tahu banyak hal."
"Itu bukan jawaban yang membuatmu terdengar lebih aman."
Raka melangkah mendekat setengah langkah. Anak buahnya ikut menegang, tetapi Naira tidak mundur.
"Naira Salsabila Atmadja," katanya pelan. "Istri Dimas Mahendra. Atau mungkin sebentar lagi mantan istri."
"Kamu menyelidiki saya."
"Sudah lima tahun."
Udara di sekitar mereka seperti berhenti.
Naira menahan napas. "Kenapa?"
Raka menatapnya lama.
Di matanya ada sesuatu yang tidak cocok dengan wajah dinginnya. Sesuatu seperti marah, lega, dan dendam yang dipendam terlalu lama.
"Karena lima tahun lalu, seorang perempuan menyelamatkan hidupku di pos medis perbatasan. Aku hanya ingat suaranya, tangannya, dan aroma obat di bajunya."
Naira merasa darah di tubuhnya turun.
Pos medis perbatasan.
Lima tahun lalu.
Malam dengan hujan, darah, dan tembakan yang masih sesekali datang dalam mimpi.
"Banyak dokter di sana," kata Naira.
"Tidak ada yang memanggilku bodoh karena menolak dijahit tanpa bius."
Naira terdiam.
Ia ingat.
Pria itu setengah sadar, penuh darah, tapi masih sempat mengancam perawat karena menyentuhnya. Ia menahan pendarahan di perut pria itu sambil berkata, "Kalau mau mati, diam saja. Kalau mau hidup, berhenti bersikap bodoh."
Saat itu wajah pria itu tertutup darah.
Ia tidak tahu itu Raka Wiratama.
Raka melihat perubahan di wajahnya.
"Jadi benar kamu."
Naira menelan ludah. "Kamu salah orang."
"Kamu selalu berbohong seburuk ini?"
"Saya tidak punya urusan denganmu."
"Sekarang punya."
Naira menatapnya tajam. "Jangan mulai."
Raka justru tersenyum tipis, nyaris berbahaya.
"Aku terlambat lima tahun. Kali ini aku tidak berniat terlambat lagi."
Naira tidak sempat menjawab karena Bagas sudah berlari dari arah gerbang.
"Non Naira!"
Raka tidak menahan ketika Naira berbalik pergi. Ia hanya berdiri di tempat, melihat perempuan itu berjalan dengan kaki yang jelas sakit tetapi tetap menolak dibantu.
Asistennya, Hanif, mendekat.
"Pak, harus saya antar dokter?"
Raka menatap punggung Naira sampai ia masuk mobil.
"Dia dokternya."
"Maksud Bapak?"
Raka memasukkan tangan ke saku, menahan gemetar kecil yang muncul setiap kali ingatan tentang darah kembali.
Tadi, ketika ia menarik Naira, tidak ada rasa mual.
Tidak ada dorongan mencuci tangan sampai kulit terkelupas.
Hanya aroma herbal dingin yang sama seperti lima tahun lalu.
"Cari semua tentang perceraiannya," kata Raka. "Dan pastikan keluarga Mahendra tidak menyentuhnya."
Hanif menunduk. "Baik, Pak."
Di dalam mobil, Bagas menatap Naira dari kaca depan.
"Non baik-baik saja?"
Naira memegang pergelangan tangannya yang tadi disentuh Raka.
Tidak ada bekas.
Tapi rasanya seperti masa lalu baru saja menemukan pintu masuk.
"Tidak apa-apa," jawabnya.
Kali ini, ia sendiri tidak yakin.
Di belakang mobil Naira, satu motor mengikuti dari jarak aman.
Bagas melihatnya lewat spion. "Orang Pak Raka."
Naira membuka mata. "Suruh mereka pergi."
"Kalau saya suruh, belum tentu mereka menurut saya, Non."
Naira mengambil ponsel dan mengetik ke nomor yang baru saja mengirim pesan.
Tarik orangmu.
Balasan Raka datang cepat.
Mereka hanya memastikan kamu sampai rumah.
Naira mengetik lagi.
Aku punya orang sendiri.
Kali ini jawabannya lebih lama.
Aku tahu. Orangmu bagus. Tapi aku lebih gelisah daripada mereka.
Naira mematikan layar tanpa membalas. Ia tidak ingin mengakui bahwa kejujuran kasar itu lebih mudah diterima daripada perhatian Dimas yang selalu datang setelah terlambat.
Otak berputar terus ini
Good job author🤏
ada yg diulang2, ada dimas yg ikut nimbrung.
naira yg cucunya dilarang masuk, tp stlh bisa masuk, tau2 dimas jg ada disitu. aneh & membungungkan.