NovelToon NovelToon
Kyara, Bangkitnya Istri Yang Tersakiti

Kyara, Bangkitnya Istri Yang Tersakiti

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Selingkuh / CEO / Tamat
Popularitas:351.4k
Nilai: 5
Nama Author: Ama Apr

Punya rumah tangga bahagia adalah dambaan setiap orang. Apalagi bagi seorang wanita. Suami dan mertua yang baik adalah anugerah yang tak ternilai harganya.

Seperti itulah harapan Kyara Nawasena. Menikah dengan lelaki yang ia cintai dan mencintainya ternyata tidak menjamin rumah tangganya berjalan mulus.

"Mas, tidakkah kau punya sedikit pun rasa iba kepadaku? Aku ini istrimu, bukan seorang babu!"

"Kalau kau sudah tak mau menuruti semua perintahku, lebih baik kau keluar dari rumah ini! Aku capek dan muak setiap pulang kerja harus mendengar ocehanmu! Kau itu adalah istri yang menyusahkan dan pembangkang!" Doni menghardik Kyara seraya melemparkan bantal ke wajah istrinya.

Kyara tersenyum getir, "Jika aku istri pembangkang, berarti kau adalah suami yang tidak bertanggung jawab!"

"Kyaraaa!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5

Kyara masih berdiri di depan pintu kamar Dini, napasnya masih belum stabil. Suara aneh itu kembali terdengar samar, membuat dadanya terasa sesak oleh rasa penasaran sekaligus kegelisahan. Namun akhirnya ia memejamkan mata sejenak. "Bukan urusanku." Ia menarik napas panjang, lalu memaksa kakinya melangkah lagi menyusuri lorong. Ia memilih melanjutkan langkah menuju kamarnya sendiri di ujung.

Ia membuka pintu kamar pelan, lalu segera masuk dan menguncinya dari dalam. Begitu pintu tertutup, bahunya merosot lemah. Tubuhnya terasa semakin berat, bukan hanya karena lelah, tapi juga karena pikiran yang terus berputar.

Suara barusan ... benar-benar bukan suara televisi.

Kyara menggeleng pelan, seolah ingin membuang bayangan yang mulai liar di kepalanya. Ia berjalan ke lemari, mengambil pakaian rumah yang lebih nyaman. Jemarinya bergerak lambat saat melepas baju kerja yang masih berbau dapur rumah makan.

Baru saja ia hendak mengenakan kaus longgar, perutnya tiba-tiba terasa mulas. "Aduh ..." Ia meringis pelan. Mungkin karena sejak siang ia belum sempat makan dengan tenang. Atau mungkin karena terlalu banyak pikiran. Rasa mules itu datang cepat dan tak bisa ditahan.

Kyara buru-buru masuk ke kamar mandi di dalam kamarnya. Ia mengunci pintu dan duduk, berusaha menenangkan diri. Suara kipas ventilasi berdengung pelan, bercampur dengan detak jantungnya yang perlahan mulai stabil.

Sekitar sepuluh menit kemudian, ia keluar dari tempat BAB dengan wajah sedikit pucat namun lebih ringan. Ia kemudian mengambil air wudhu, lalu menatap bayangannya di cermin.

Wajahnya tampak lelah. Mata sedikit sembap. Garis halus di sudut bibirnya terlihat jelas ketika ia tidak tersenyum. "Hah," gumamnya lirih pada diri sendiri.

Ia membuka pintu kamar mandi dan segera beranjak ke dekat ranjang, mengambil mukena dan sajadah. "Nggak papa lah di akhir waktu juga, daripada tidak salat asar."

Selesai salat, Kyara segera melipat mukena dan buru-buru melangkah keluar dari kamarnya. Tanpa sadar, langkahnya melambat ketika kembali melewati kamar Dini.

Sunyi.

Tak ada lagi suara aneh. Tak ada bisikan. Tak ada gesekan ranjang. Lorong terasa normal kembali, seolah tidak pernah terjadi apa-apa.

Kyara berdiri sebentar, menatap pintu itu dengan ekspresi datar. Dalam hatinya, rasa penasaran masih menggelitik. Namun ia segera menepisnya. Ia lalu melanjutkan langkah menuju tangga.

Baru beberapa anak tangga ia turuni, tiba-tiba Kyara berpapasan dengan Dini yang baru naik tangga, rambutnya sedikit berantakan, wajahnya tampak tegang sepersekian detik sebelum tersenyum dibuat-buat. "Mbak ... kapan pulang?" tanya Dini cepat. Suara itu terdengar biasa, tapi sorot matanya tidak. Ada kilat gugup yang belum sepenuhnya hilang. Bibirnya seperti sedikit kering, dan tangannya sibuk merapikan ujung bajunya.

Kyara menangkap perubahan itu. Namun ia memilih memasang wajah setenang mungkin. "Baru saja," jawab Kyara ringan. Ia berdusta. Padahal ia sudah berada di atas cukup lama. Cukup untuk mendengar suara yang tidak ingin ia dengar.

Seketika wajah Dini berubah lagi. Tegangnya mengendur. Senyum kecil muncul, lebih santai. "Oh ... kirain udah dari tadi," ucapnya sambil tertawa kecil.

"Nggak," sahut Kyara pelan. "Kamu juga tumben pulang cepat. Biasanya lewat magrib?"

Dini mengedip cepat sebelum menjawab, "Dosennya nggak masuk, Mbak."

"Oh," hanya itu yang keluar dari bibir Kyara. Jawaban sederhana. Tanpa nada menuduh. Tanpa pertanyaan lanjutan.

Dini menatapnya sejenak, mungkin menunggu reaksi lain. Mungkin menunggu pertanyaan tambahan. Tapi tak ada.

Kyara kembali melanjutkan langkah menuruni tangga, melewati Dini. Setiap pijakan terdengar jelas di antara keheningan yang kini terasa canggung.

Sementara Dini tetap berdiri beberapa detik sebelum akhirnya kembali menaiki tangga dengan langkah lebih santai.

Kyara tidak menoleh lagi. Di dalam dadanya, ada campuran perasaan yang sulit dijelaskan. Curiga, kecewa, bahkan sedikit takut. Namun ia menahannya rapat-rapat. Selama ini, ia selalu berada di posisi paling mudah disalahkan. Jika ia ikut campur, siapa yang akan membelanya?

Bukan suaminya. Bukan siapa pun di rumah ini.

Sesampainya di lantai bawah, Kyara langsung menuju dapur. Ia membuka kulkas, mengambil ayam, udang, dan bahan-bahan lain yang tadi diperintahkan.

Tangannya mulai bekerja otomatis ... membersihkan ayam, menyiapkan bumbu, mengiris cabai, Lalu mengulek bumbu.

Ia mulai memasukkan bumbu halus ke dalam wajan dan mengaduknya dengan gerakan perlahan, menatap api kompor yang menyala biru. Wajahnya kembali datar, seolah tak terjadi apa-apa. Ia tidak ingin ikut campur. Ia tidak ingin mencari masalah.

Lima menit sebelum azan magrib berkumandang, seluruh masakan telah tersaji rapi di atas meja makan. Ayam woku dengan kuah kuning kemerahan masih mengepul harum. Udang pedas manis berkilau oleh saus yang mengental sempurna. Perkedel jagung tersusun di piring saji, keemasan dan renyah di bagian luar. Sambal ulek berada di mangkuk kecil, merah menyala, menggoda siapa pun yang melihatnya.

Kyara berdiri sejenak memandangi hasil kerjanya. Tangannya masih beraroma bawang dan cabai. Punggungnya terasa kaku. Tapi setidaknya, satu kewajiban lagi telah ia tuntaskan tanpa cela. Ia melepas celemek dapur, menggantungkannya di sandaran kursi.

Suara sendok yang beradu pelan menjadi satu-satunya bunyi di ruang makan yang mulai remang. Dari luar, langit semakin gelap. Tak lama lagi azan akan terdengar dari masjid dekat rumah.

Kyara berbalik, meninggalkan dapur dan meja makan yang sudah siap. Langkahnya pelan menaiki tangga menuju lantai dua. Setiap pijakan terasa berat, bukan hanya karena lelah, tapi juga karena hati yang entah mengapa terasa kosong.

Sampai di kamar, ia menutup pintu perlahan. Ruangan itu sederhana. Rapi, tapi sunyi. Ia duduk di tepi ranjang, lalu tanpa sadar meraih ponsel di atas nakas. Layar menyala, memantulkan wajahnya yang tampak pucat dalam cahaya kebiruan. Ia membuka aplikasi pesan. Tak ada notifikasi. Tak ada panggilan tak terjawab. Tak ada satu pun pesan dari sang suami.

Seperti biasa.

Kyara terdiam beberapa detik, menatap layar kosong itu lebih lama dari yang seharusnya. Hatinya sempat berharap ... mungkin hari ini berbeda. Mungkin ada satu kalimat sederhana, "Kya, apakah kamu sudah makan?" atau "Kamu lagi apa?"

Namun nihil.

Bibirnya melengkung tipis, senyum yang lebih menyerupai luka kecil. "Jangan berharap yang tidak-tidak, Kya ..." gumamnya pelan pada diri sendiri. Ia mematikan layar ponsel, lalu menatap kosong ke arah jendela. "Mengharapkan pesan dari Mas Doni sekarang ini," lanjutnya lirih, "Sama saja seperti mengharapkan ada pelangi di tengah terik mentari ..." Kalimat itu terdengar puitis, tapi menyakitkan.

Dulu, nama Doni selalu membuat dadanya hangat. Dulu, ponselnya tak pernah sepi dari pesan singkat dan perhatian kecil.

Sekarang ... bahkan kabar sederhana pun terasa terlalu mahal.

Kyara menarik napas panjang. Ia menyimpan kembali ponselnya ke atas nakas, seolah menyimpan harapan yang kembali ia lipat rapi.

Di luar, suara azan mulai berkumandang, mengisi udara senja dengan nada syahdu. Kyara bangkit perlahan dari tempat duduknya. Ia berjalan menuju kamar mandi.

Mungkin air hangat bisa sedikit meredakan penat.

Mungkin dengan membersihkan tubuhnya, ia juga bisa membersihkan rasa kecewa yang menempel di hatinya.

Ia menutup pintu kamar mandi, membiarkan suara gemericik air menggantikan sunyi yang sejak tadi menemani.

Dan di antara uap yang perlahan memenuhi ruangan, Kyara kembali belajar satu hal yang sudah terlalu sering ia lakukan ... menurunkan harapan, agar tidak semakin sakit.

_______

Uap hangat masih melekat di kulitnya ketika Kyara membuka pintu kamar mandi. Rambutnya setengah basah, air menetes pelan ke ujung dasternya. Ia mengeringkan wajah dengan handuk kecil sambil melangkah keluar. Namun langkahnya terhenti.

Di atas ranjang, Doni bersandar santai di kepala tempat tidur. Suaminya itu tampak begitu nyaman, satu kaki ditekuk, punggung bertumpu pada bantal. Wajahnya diterangi cahaya layar ponsel. Sudut bibirnya terangkat, bahkan sesekali terdengar tawa kecil tertahan.

Cekikikan.

Hati Kyara mencelos. "Kapan Mas Doni pulang?" gumamnya tanpa suara. Ia bahkan tak mendengar suara pintu atau langkah di tangga.

Kyara menurunkan handuk dari wajahnya, mencoba menenangkan detak jantung yang tiba-tiba tak beraturan. Ia melangkah mendekat dengan senyum tipis yang dipaksakan. "Kukira Mas belum pulang," ucapnya pelan.

Tak ada jawaban. Doni tidak menoleh. Jemarinya masih lincah mengetik di layar. Tawa kecil kembali keluar dari bibirnya, kali ini sedikit lebih jelas.

Kyara berdiri di samping ranjang, menunggu. Satu detik. Dua detik. Lima detik. Tetap tak digubris. Seolah ia tak ada di sana.

Perih itu muncul lagi. Perasaan asing di dalam kamar sendiri. Perasaan menjadi bayangan di hadapan suami sendiri. "Mas ..." panggilnya lebih pelan.

Namun Doni hanya menggeser posisi, masih tersenyum pada sesuatu di layar ponselnya.

Kyara menelan ludah. Ia memalingkan wajah sebentar, mencoba menahan rasa yang mulai menggenang di dada. Jangan cemburu tanpa bukti. Jangan berpikir macam-macam.

Tanpa berkata apa-apa lagi, Kyara berbalik menuju lemari kecil di sudut kamar. Ia berjongkok, membuka laci paling bawah. Tangannya meraba sesuatu yang sejak pagi ia simpan di sana.

Kertas kecil yang ia temukan di saku jaket Doni ketika hendak mencucinya tadi pagi. Struk pembelian pakaian dalam wanita dan lingerie.

Kyara berdiri kembali. Tangannya terasa dingin saat menggenggam kertas tipis itu. Ia berjalan mendekat ke ranjang, berdiri tepat di depan Doni. "Mas," suaranya kali ini lebih tegas, meski masih lembut.

Doni mendengus pelan, seolah terganggu, tapi tetap belum menoleh.

Kyara mengangkat tangan, menyodorkan kertas itu tepat di depan wajah suaminya. "Ini struk belanjaan milik siapa?" Kalimat itu meluncur pelan, tapi sarat makna.

Barulah Doni bereaksi. Matanya yang tadi berbinar langsung membola. Senyum di wajahnya lenyap seketika. Ia menurunkan ponsel perlahan, menatap kertas di tangan Kyara, lalu menatap wajah istrinya. Sontak ia menegakkan badan. "Apa ini?" tanyanya cepat, nada suaranya berubah tegang.

Kyara tidak menarik kembali tangannya. "Struk ini aku temukan di jaket Mas tadi pagi, saat aku mau mencucinya."

Sunyi mendadak memenuhi kamar. Cahaya layar ponsel yang masih menyala kini terasa menyilaukan. Senja di luar jendela telah benar-benar berganti malam.

Doni menatap kertas itu beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya. Rahangnya mengeras.

1
Marlina
✨always love you ✨
ceritanya gantung banget kak thor..tp gpp deh yg penting happy ending tokoh utama nya
Ama Apr: wkwkwk
total 5 replies
Marlina
✨always love you ✨
kalau sudah tiada baru terasa 😅 itulah yg di alami doni
Ama Apr: hoohh kk
total 1 replies
Marlina
✨always love you ✨
bertaubat lah sebelum ajal menjemput mu Don
Ama Apr: lanjut kk
total 1 replies
Marlina
✨always love you ✨
akhirnya terungkap juga kematian nayla
Ama Apr: yappp🥲
total 1 replies
Marlina
✨always love you ✨
karena kama ingin menikah mu secara resmi tanpa ada kesepakatan
Ama Apr: hehe betul
total 1 replies
Marlina
✨always love you ✨
udh Din gak usah kebanyakan mikir.. mending nikah sama Roy jelas² pria baik tulus.. lagi pula km udh gak perawan juga kan
Ama Apr: hooj ya
total 1 replies
Marlina
✨always love you ✨
klo Roy mau menerima dini apa adanya knp gak nikah aja
Marlina
✨always love you ✨
si Nayla udh metong dan di kubur sama dokter abal² tuh
Ama Apr: haha atut
total 3 replies
Marlina
✨always love you ✨
hahaha tuh kan bener perkutut nya Doni kurapan 🤣🤣🤣
Ama Apr: iuhhh jijik
total 1 replies
Marlina
✨always love you ✨
hayolo udh mulai penyakit mu keluar Doni.. perkutut nya kudisan ya 🤣
Ama Apr: hooh kk
total 1 replies
Marlina
✨always love you ✨
ibu anda metong karena gak kuat anus nya keluar dan mengeluarkan banyak berlian 😅
Ama Apr: hahaha geuleuh kk
total 1 replies
Marlina
✨always love you ✨
azab di dunia aja udh mengenaskan gitu gmna di akhirat nya hiiiii... auzhuminzalik
Ama Apr: 🥲 amit2
total 1 replies
Marlina
✨always love you ✨
astaghfirullah 🤮 aku gak ikut di situ ikut mual
Marlina
✨always love you ✨:
iyuuuhhhh gak deh 🤮
total 2 replies
Marlina
✨always love you ✨
pasti syok berat tuh si Doni knp calon suami nya kyara bersama pak darta.. ternyata mantan istri yg kau sia sia kan akan menjadi ratu di keluarga sultan.. itu lah pembalasan bt setan seperti dirimu
Marlina
✨always love you ✨:
hu'umm
total 2 replies
Marlina
✨always love you ✨
udh tau salah masih menyangkal aja tuh si Doni.. pengen ku geprek tuh pala nya
Marlina
✨always love you ✨
metong aja sekalian Hesti
Marlina
✨always love you ✨
kira" Doni jadi gila gak ya..klo si dini jelas tobat.. orang yg lu salah kan udh di kubur dokter abal² tuh udh metong Nayla nya 😅
Marlina
✨always love you ✨
selamat ya keluarga pezina dapat karma yg spektakuler 🤣🤣🤣🤣
Marlina
✨always love you ✨
nah puas banget aku sama kejutan hari ini buat keluarga pezina
Marlina
✨always love you ✨:
banget
total 2 replies
Marlina
✨always love you ✨
hahaha ketakutan tuh si doni🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!