Kehidupan penduduk Kampung Surya Kencana, dimana sebagai besar penduduknya bekerja sebagai besar petani. Kampung ini kini gersang karena dilanda kekeringan.
Warga Kampung Surya Kencana bersifat, tradisional, sehingga sulit menerima perkembangan terutama dibidang pertanian. Pemerintah baik dari pusat, provinsi, kecamatan hingga Kampung sudah sering mengadakan Penyuluhan Pertanian agar pertanian masyarakat dapat meningkat, namun di tolak oleh sebagian besar penduduk yang bekerja sebagai petani.
Seorang pemuda bernama Harjo (pemeran utama) adalah salah seorang dari sedikit petani yang mau mengikuti arahan Penyuluh Pertanian. Dia gigih dan ulet dalam bertani serta cerdas dalam mengembangkan pertanian, sehingga hasil pertanian Harjo menjadi berbanding terbalik dengan hasil pertanian warga Kampung. Hasil pertaniannya melimpah sedang petani lainnya sering terkena hama dan gagal panen.
Banyak penduduk yang mulai tertarik dengan cara bertani Harjo yang terkadang diluar kebiasaan penduduk.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dini Sinaga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter sambungan, Penjelasan Harjo Layaknya seorang Ahli
"Saran Aku, karena kebun kita mirip keadaannya, yakni di dekat aliran sungai, dan keadaan cuaca saat ini akan masih musim penghujan. Sebaiknya kita menanam tanaman yang suka atau mampu bertahan walaupun kekurangan air. Sebaiknya menanam: jagung, kacang hijau atau ubi dan lain-lain." Harjo memberikan contoh sambil menyeruput kopinya.
"Walaupun kelihatan saat ini masih sering dilanda hujan..." Harjo mencoba menjelaskan kembali, tetapi di potong oleh salah seorang warga lain yang ada di warung itu.
"Tetapi, kita lihat sendiri. Cuaca saat ini masih sering dilanda hujan, walaupun sesekali." Arif memberikan pendapatnya, Arif yang adalah peternak kambing.
“Iya benar kemarin malam terasa dingin sekali Aku juga dapat merasakannya sendiri. Menurutku tidak bagus menanam ubi atau ketela saat ini."
Udin mendukung pendapat arif, Dia adalah seorang petani juga tetapi jarang mengolah tanahnya. Dia lebih sering, bekerja sebagai pemanjat pohon kelapa dan ikut berdagang bersama Hadi si pedagang ternak.
”Sabar dulu semua biarkan Bang Jo meneruskan penjelasannya! Aku percaya pada penjelasan Bang Jo, karena sudah terbukti selama ini hasil panennyalah yang paling tinggi di kampung Kita dan hampir tidak pernah gagal panen. Kalian berdua bersabar dahulu, karena yang Ku butuhkan saat ini adalah penjelasan dari Bang Jo." Moko ingin jawaban yang lengkap dari Jo, supaya yang lain tidak ikut mengganggu Jo dalam menjawab.
"Baiklah aku lanjutkan, dahulu ya supaya tidak terjadi kesalahpahaman." Jo melanjutkan.
“Saat ini memang masih terasa beberapa kali turun hujan, tetapi aku dengar di radio prakiraan cuaca untuk bulan ini dan kedepannya daerah kita akan memasuki musim kemarau panjang. Berita di radio pemerintah boleh dipastikan benar dan sangat kecil tingkat kesalahannya. Kalau pun salah, hanya berbeda beberapa hari saja. Jadi kesimpulan Ku dari berita di radio yang telah disampaikan oleh pihak BMKG atau Badan Meteorologi Klimatologi dan GeoFisika, kampung kita ini akan mengalami musim kemarau. Oleh karena itu, yang paling cocok adalah menanam jagung dan umbi-umbian. Karena tanaman padi sangat menyukai air yang banyak, sedangkan tanaman yang lain, seperti ubi jalar, singkong, maupun jagung kurang menyukai air yang banyak. Jika dipaksakan tentu tanaman akan mati, kalaupun hidup hasil yang diperoleh tidak akan maksimal."
Jo menjelaskan dengan panjang dan lengkap. Dia meyakinkan mereka, bahwa apa yang dia tahu, berasal dari BMKG badan yang bertanggungjawab mengenai cuaca adalah cukup akurat.
"Lagipula kebun kita kan dekat sungai, masih bisa memanfaatkan air sungai sebelum musim kemarau tiba. Jadi tidak perlu takut kelebihan air, sebab airnya dapat kita alirkan ke sungai."
Untuk lebih meyakinkan pendapatnya, Jo mengingatkan letak kebun mereka berdua berada di dekat aliran sungai, yang airnya tidak banyak sehingga mencukupi untuk menghindari tanaman mereka dari kebanjiran karena kebun atau sawah yang berada didekat dengan sungai.
"Hahaha..." Arif tertawa.
Benar dekat sungai, tetapi air dilebur tidak bisa pindah ke sungai dengan sendirinya, sedangkan jagung, ketela maupun umbi-umbian tidak suka terhadap air yang banyak yang berada di kebun kalian, air itu tidak akan tidak mematikan tanaman kalian. Ngaco aja kamu Jo... Jo." Arif coba meremehkan pendapat dari Harjo.
Widuri yang adalah pedagang sekaligus pemilik warung, mendengarkan dengan serius. Dia juga sangat tertarik dengan penjelasan dari Harjo. Dia kagum akan kepintaran dan kecerdasan Harjo.
“Dia benar, kalau di kebun atau sawah memang masih ada air, tetapi bagaimana cara memindahkannya ke sungai. Kalau kamu Jo bisa memindahkan air dari sawah kita ke sungai, Aku juga mau menanam kacang hijau seperti saran kamu.”
Alfred yang selama ini, dengan keras menolak keras setiap tata cara baru dalam bertani, mulai angkat bicara. Tetapi dia sudah merasa down dan mentalnya jatuh, karena hasil pertaniannya selalu saja tidak menghasilkan hasil yang memuaskan, bahkan cenderung sedikit.
Alfred saat ini bermaksud belajar dari Harjo, namun masih merasa enggan dan malu-malu karena selama ini, Alfred salah seorang yang dengan sangat keras menolak, bahkan mencoba mempengaruhi warga dan petani lainnya supaya tidak mengikuti kegiatan penyuluhan pertanian apalagi menjalankan tata cara bertani baru ala PPL.
Alfred pernah mencari cara supaya bisa berkomunikasi langsung dengan Harjo. Dia sebenarnya sudah sangat berkeinginan untuk belajar dari Harjo. Dia meyakini bahwa Harjo dapat menjawab apa yang menjadi pertanyaannya, karena dirinya sudah sering sekali melihat Harjo melakukan sesuatu yang berbeda dalam bertani namun berhasil.
“Mudah, ketika musim kemarau, sungai kita bandung dan di alirkan airnya kedalam sawah kita. Jadi airnya hanya digunakan pada saat kebun atau sawah kita kekurangan air saja, namun terbatas karena airnya sangatlah sedikit dan memerlukan kerja yang keras.
Nantinya hal sebaliknya kita lakukan. Pada saat musim penghujan, aliran air sungai kita kembalikan ke sungai, jadi sawah kita tidak kebanjiran.
Tetapi perlu diingat bendungan yang kita buat harus dapat juga tetap mengalirkan air ke sungai agar orang yang berada di hilir sungai tetap kebagian air."
Harjo sebenarnya sudah pernah, memikirkan cara ini, namun belum berani membuatnya, sebab dirinya ragu, Harjo takut petani lain, tidak setuju atau tidak suka dan malahan marah jika dirinya membendung sungai. Tetapi ide ini sudah dipikirkan oleh Harjo, ketika ia menanam padi waktu itu dan ternyata prediksi cuaca berubah, yang seharusnya musim penghujan menjadi musim kemarau panjang atau lebih dikenal dengan nama el-nino. Harjo pada waktu itu melihat air sungai masih ada, maka Dia bermaksud akan membendung air sungai, tetapi tidak jadi.
Harjo beruntung, dengan kerja keras panennya masih dapat diperoleh, walaupun tidak sebanyak biasanya. Hal inilah salah satu yang membuat petani di kampung itu merasa iri, sebab hanya dia yang berhasil panen. Petani yang lain mengalami fuso atau gagal panen.
Alfred terkesima di dalam hatinya mendengarkan penjelasan Harjo,
"Hebat Kau Harjo bisa memikirkannya, kalau saja dari dahulu Aku mendengarkannya dan mengikuti caranya, Aku tentu saja bisa sama seperti Dia. Kedepannya aku akan belajar darinya'
Alfred dapat mengerti dengan jelas semua penjelasan yang sudah dijelaskan oleh Harjo.
"Baiklah Aku sangat setuju dengan saranmu itu. Kita lakukan bersama, jika air kurang Aku bersedia membantu membendung air sungai. Aku juga akan menanam jagung seperti saranmu Jo." Alfred dengan sepenuh hati mendukung setiap saran yang diberikan oleh jo.
Arif dan Udin serta petani lain yang berada di warung Widuri merasa terkejut, sebab Alfred salah seorang yang paling keras menentang, tata cara pertanian baru. Mereka mulai berbisik-bisik di antara mereka. Tak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar.
“Saya pasti juga akan ikut Bang, penjelasan Abang sangat bagus sekali. Saya dapat mengerti dengan jelas, Saya yakin Kita akan berhasil. Panen Saya tahun ini pasti akan banyak. Terima kasih Bang buat informasinya" wajah Moko kelihatan sangat yakin.
Di seberang, meja dagangan seorang wanita lagi berseri-seri, dirinya sangat kagum sekali. Harjo kau masih seorang pemuda tetapi sudah bisa meyakinkan orangtua seperti Alfred, yang biasanya suka menang sendiri.
Di warung itu, para pengunjung tak lupa menikmati kopi dan kue-kue yang sudah dibuat Widuri untuk dijual di warungnya. Dia juga menyediakan makanan berat, seperti nasi telur ikan dan sayuran walaupun jenisnya masih terbatas, tetapi rasanya memang sungguh enak. Oleh karena itulah, banyak yang sering singgah ke warungnya. Sebab masakan Widuri, termasuk enak.
Alfred yang merasa senang dan puas, karena bisa mendapatkan pencerahan dan pengajaran dari Harjo. Meminta supaya apapun yang di belanja kan oleh Harjo hari ini, dirinya yang membayar.
"Mbak, Widuri aku yang bayar ya, semua yang dipesan oleh Harjo!" pinta Alfred ke Widuri.
"Tidak usah repot-repot Pak." Harjo mencoba mencegah Alfred.
"Sudah tidak apa-apa sesekali, kamu juga sudah berhasil mencerahkan Ku, membuka pikiranmu yang selama ini tertutup oleh ego Ku." Alfred memaksa, Harjo untuk ditraktirnya.
"Saya juga dong pak," Moko dan Udin serentak, meminta Alfred untuk mentraktir mereka juga.
"Maaf, ini khusus buat Harjo saja. Yang lain bayar sendiri. Hahaha..." Alphard tersenyum dan tertawa.
Para pengunjung warung Widuri serentak ikut tertawa, melihat Moko dan Udin yang meminta untuk ditraktir juga.
Mereka riuh rendah,
"Kan spesial hanya untuk yang spesial!" Widuri memberitahu Moko dan Udin.
Pengunjung yang lain pun tertawa lebar.***
👍
yuk diikutin dan di like
tema yang baru