NovelToon NovelToon
Saat Cinta Harus Memilih

Saat Cinta Harus Memilih

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Teen / Perjodohan
Popularitas:178.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rosni Lim

Sinopsis

Season 1:

Nia dan Ardian adalah dua sahabat masa kecil yang tinggal bersebelahan rumah di tepi Sungai Asahan, Tanjungbalai. Keduanya melewatkan masa kecil berdua, bermain layang-layang, kelereng, lompat tali, petak umpet, berenang, dan mengumpulkan kerang.
Saat usianya 8 tahun, Ardian menjadi piatu karena kehilangan ibu kandungnya. Sejak saat itu, sifatnya yang semula ceria berubah pendiam. Nia yang merupakan sahabat baiknya pun harus rela menjadi sasaran atas perubahan sikapnya itu.
Sepeninggal mama Ardian, Om Wisnu, papa Ardian, menjadi duda di usia muda, 35 tahun. Familinya yang tinggal di Medan bermaksud menjodohkan Om Wisnu dengan seorang gadis tua, anak seorang pengusaha sukses kaya-raya. Kebetulan, gadis itu memang menginginkan seorang pria sederhana seperti Om Wisnu yang baik hatinya. Om Wisnu pun setuju, memboyong Ardian ke Medan untuk menikah dengan gadis itu yang lebih tua 5 tahun darinya.
Perpisahan yang terjadi antara Nia dan Ardian terus membekas di hati masing-masing sampai mereka berusia 17 dan 18 tahun. Saat Nia tamat SMA, ibunya menerima telepon dari Om Wisnu, menawarkan Nia tinggal di rumah besarnya dan kuliah di Medan, di perguruan tinggi yang sama dengan Ardian. Demi mendapatkan masa depan yang lebih cerah seperti harapan ibunya, Nia memutuskan menerima tawaran Om Wisnu. Sebenarnya, Om Wisnu memiliki maksud utama mengundang Nia tinggal di rumahnya, supaya Nia bisa bersahabat dengan Ardian kembali, dan mengubah diri putra tunggalnya itu yang memiliki sikap, karakter, dan emosi yang buruk selama 10 tahun terakhir.
Nia pun tiba di kota Medan dan tinggal di rumah Om Wisnu. Dia diterima dengan baik oleh Tante Siska, istri kedua Om Wisnu dan mama tiri Ardian. Ardian sendiri tak menyangka sahabat masa kecilnya itu akan datang tiba-tiba ke rumahnya hingga terjadi pertengkaran kecil antara mereka di pertemuan pertama.. Setelah mengetahui Nia adalah sahabat masa kecilnya yang terpisah 10 tahun lalu, Ardian perlahan-lahan membuka hatinya untuk gadis itu dan mengubah sikapnya, menjadi lebih sabar dan perhatian.
Selama libur sekolah, Nia dan Ardian melewati hari-hari yang bahagia, keliling kota, jalan-jalan, makan, shopping, nongkrong di kafe, nonton, dan lain-lain. Ardian bahkan membelikan gadis itu gaun pesta dan handphone android.
Seperti rencana semula, Nia pun kuliah di universitas yang sama dengan Ardian, di Fakultas Ekonomi. Nia semester 1, sedangkan Ardian semester 3, karena itu mereka beda kelas dan beda lantai. Di kelasnya, Nia berkenalan dengan Hansen, cowok berkacama minus yang tampan dan satu hobi dengannya, membaca. Hansen adalah tipe pemuda idaman Nia, sabar, perhatian, penyayang, dan baik hati. Bersama Hansen, Nia merasa nyaman dan tenang, tidak memendam kekhawatiran seperti saat bersama Ardian, walaupun Ardianlah cowok yang selalu membuat hatinya berdebar.
Semenjak kuliah lagi, sikap Ardian kembali berubah, menjadi dingin dan menjauhi Nia. Ardian sibuk dengan teman-teman kuliahnya baik cowok maupun cewek, sedangkan Nia akrab dengan Hansen bahkan cowok itu menginginkan Nia menjadi pacarnya.
Melihat perubahan sikap Ardian, Nia mengira Ardian memang tak menyukai gadis sederhana seperti dirinya dan lebih tertarik pada gadis-gadis cantik seksi seperti teman-temannya selama ini. Karena itu, Nia terpikir menerima tawaran Hansen menjadi pacarnya. Namun, di saat Nia hampir setuju, dia mengetahui kalau sebenarnya Ardian hanya berpura-pura dingin padanya karena dia mengetahui Nia akrab dengan Hansen dan gadis itu selalu tertawa bahagia saat bersama Hansen. Ardian merasa gengsi dan tak percaya diri. Namun, diam-diam dia menyuruh temannya yang sekelas dengan Nia memata-matai gerak-gerik gadis itu dan Hansen, bahkan Ardian selalu menerima kiriman video rekaman saat Nia bersama Hansen.
Mengetahui kepedulian Ardian terhadap dirinya, Nia pun tersadar dan di saat yang bersamaan dia harus memutuskan segera, memilih Hansen yang merupakan cowok tipe idamannya sebagai penuntun masa depannya kelak, ataukah menambatkan cintanya pada Ardian, sahabat masa kecilnya yang selalu membuat hatinya berdebar?

* * *

Season 2:

Setelah 3 tahun tinggal menumpang di rumah Ardian demi kepentingan kuliah, Nia terpaksa pulang ke Tanjungbalai untuk merawat ibunya yang sakit sepeninggal ayahnya.

Kepulangan Nia yang tiba-tiba itu membuat Ardian kecewa karena Nia meninggalkannya justru di saat hubungan mereka sedang dekat.

Mulanya Ardian masih menghubungi Nia via WA, namun setelah beberapa bulan Ardian mulai bosan dan tak lagi mengontak gadis itu. Di sisi lain Nia tak punya keberanian untuk mengusik Ardian karena berpikir pemuda itu mungkin sedang sibuk kerja karena katanya akan mulai bekerja di perusahaan papanya.

Hari pertama Ardian bekerja di perusahaan menggantikan posisi ayahnya sebagai direktur perusahaan, dia berkenalan dengan Shella, sekretarisnya dan Ayu, seorang cleaning service. Papa dan mama Ardian (Pak Wisnu dan Bu Siska) sengaja tinggal di rumah mereka yang di luar negeri untuk memberi kesempatan pada Ardian mengelola perusahaan.

Ardian berangkat meninjau proyek luar kota bersama sekretarisnya, Shella yang merupakan putri dari sahabat baik Bu Siska. Di lapangan proyek Ardian hampir mengalami kejadian serius yang bisa melukai dirinya namun dia diselamatkan oleh Ayu, cleaning service yang ada di proyek itu.

Insiden kecelakaan dan penyelamatan di lapangan proyek luar kota itu membuat Ardian merasa berutang budi pada Ayu dan ini mendekatkan hubungan mereka. Ardian sendiri mengagumi dan menyukai Ayu yang dirasanya sangat berdedikasi pada pekerjaan di usianya yang masih belia.

Kedekatan hubungan Ardian dan Ayu membuat Ardian seolah melupakan Nia, namun suatu hari Ayu memecahkan bingkai foto Ardian dan Nia di masa kanak-kanak hingga membuat Ardian marah dan bersikap dingin padanya. Ardian teringat kembali pada Nia dan menerima usul Shella untuk sama-sama mengunjungi Nia di Tanjungbalai yang dicurigainya telah memiliki pacar.

Di Tanjungbalai, Ardian melihat sendiri Nia dekat dengan seorang cowok yang bernama Riko, teman masa SMA Nia dulu. Kesalahpahaman Ardian terhadap Nia semakin dalam, padahal Nia dekat dengan Riko karena cowok yang menyukainya itu sudah banyak membantunya dalam hal materi dan moril selama dia kesusahan merawat ibunya yang sakit/lumpuh.

Ardian kembali ke Medan dengan rasa kecewa yang dalam. Dia kembali dekat dengan Ayu.

Nia yang terlambat tahu kalau Ardian pernah mengunjunginya ke Tanjungbalai dan salah paham dia sudah punya pacar akhirnya kembali ke Medan melanjutkan kuliahnya yang tinggal 1 tahun lagi setelah ibunya berangsur sembuh.

Kedatangan Nia agak terlambat karena dia melihat Ardian ternyata sudah dekat dengan Ayu. Namun Ardian memutuskan untuk lebih memilih dan menikahi Nia daripada Ayu setelah dia tahu selama ini dia hanya salah paham pada Nia.

Rumah tangga Nia dan Ardian tidak berjalan mulus karena setelah menikah 2 tahun mereka belum juga memiliki momongan. Ayu kembali mendekati Ardian dan berhasil membuat laki-laki itu menghamilinya.

Ardian merasa bertanggung jawab telah menghamili Ayu, namun tanpa sepengetahuannya Ayu mengalami keguguran di usia kandungan 1,5 bulan. Karena cemas Ardian akan meninggalkannya, Ayu berusaha membohongi Ardian dengan hamil bersama Willy/pacarnya dan mengaku perutnya yang semakin membesar itu adalah benih dari Ardian.

Setelah anak itu lahir dan berusia 7 tahun, Ardian baru mengetahui kebohongan itu. Karena marah, Ardian memutuskan hubungam dengan Ayu. Untunglah di saat yang bersamaan, Nia tiba-tiba bisa hamil anak Ardian dan melahirkan buah hati mereka yang mendekatkan kembali hubungan dirinya dengan Ardian.

* * *

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosni Lim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cerita Bik Aini tentang Ardian

Bab 5

Sepeninggal Bik Aini, Nia berjalan melihat-lihat kamarnya sendiri. Kamar yang cukup luas namun sangat mewah baginya. Lihatlah tempat tidurnya saja, sping bed mahal dengan sprei indah. Ditambah lagi pendingin ruangan alias air conditioner yang tergantung di atas dinding dekat jendela kamar.

Nia berjalan mendekati meja rias dan duduk di kursi bulat yang ada di situ. Dipandanginya wajah sendiri di depan cermin rias. Wajahnya tampak agak lelah dan pucat setelah menempuh perjalanan jauh. Ditambah dengan kejutan-kejutan baru yang dilaluinya tadi.

Melihat pertama kali kota Medan yang besar dan megah sebagai ibukota provinsi, melalui jalan-jalan besar yang macet dan padat arus lalu lintas. Berbagai jenis kendaraan yang saling berlomba dengan klakson tak sabar saat ada kendaraan yang lebih lambat sedikit bergerak. Lalu sampai di villa mewah milik Om Wisnu, menginjakkan kaki ke rumah besar yang di dalam mimpinya pun tak pernah dia pikirkan.

Bertemu dengan Bik Aini yang menceritakan tentang Ardian, Om Wisnu, dan Tante Siska yang jarang di rumah dan sibuk setiap hari. Semua itu amat berbeda dengan kehidupan tenang dan santainya di kampung halaman.

Apakah setiap manusia yang tinggal di kota besar seperti Medan ini harus demikian sibuk setiap hari? Apakah setiap hari juga mereka harus berkutat dengan pekerjaan yang tiada habis-habisnya sampai membuat jalan raya pun tak pernah sepi dan padat seperti semuanya berlomba-lomba menuju atau mengurus hal penting? Juga tak ada kesempatan lebih banyak menghabiskan waktu di rumah bersama keluarga, sampai orangtua dan anak pun jarang bisa bersua.

Lain sekali dengan kehidupannya di rumah sendiri. Dia dan ibunya sering bercerita bersama, bersenda gurau dan tertawa lepas. Waktunya bersama sang ibu lebih dari cukup. Membantu pekerjaan di dapur, membereskan rumah, duduk-duduk bersama di beranda, semua itu adalah saat-saat dia bersama ibunya melewati hari. Kecuali saat di sekolah, pagi hingga siang memang waktunya dihabiskan di sekolah bersama pelajaran, teman, dan guru.

Nia berhenti memandang dirinya sendiri di depan cermin. Dibukanya tas besarnya yang ada di lantai. Dipilihnya satu stel baju tidur yang dibawanya dari rumah. Baju tidur warna biru muda. Dia bermaksud untuk mandi dulu sekarang, makan, dan setelah itu malamnya baru menaruh baju-bajunya di lemari seperti pesan Bik Aini tadi.

Sehabis mandi dan sisiran, Nia turun ke lantai 1 menjumpai Bik Aini. Dilihatnya, Bik Aini sedang sibuk memasak di dapur.

“Bibik masak untuk makan malam kita semua?” tanya Nia sambil melihat beraneka macam sayur dan lauk yang sedang diaduk-aduk Bik Aini di kuali dan panci.

“Iya, Non. Maunya sih semua penghuni rumah ini makan masakan yang dimasak Bibik biar hati Bibik senang. Tapi lebih seringnya yang makan cuma Bibik sendiri sama Wak Amat. Hehe.”

“Maksudnya?” tanya Nia tak mengerti.

“Maksudnya, Tuan, Nyonya, dan Nak Ardian jarang makan di rumah. Karena pulangnya malam-malam, jadi mereka sudah makan di luar bersama relasi atau di restoran yang mereka suka. Kalau Nak Ardian sih lebih banyak makan bersama teman-temannya di mal, pujasera, atau apalah namanya.”

“Wah, masakan segini banyak dan lezat cuma Bibik dan Wak Amat yang makan?” seru Nia tak percaya.

“Iyalah, Non. Habis mau bagaimana lagi? Kalau masak sedikit, tiba-tiba Tuan dan Nyonya pulang cepat dan tak ada disediakan makan malam bagaimana pula? Nak Ardian juga kadang pulang malam-malam tapi belum makan. Katanya sih bosan makan di luar, sesekali mau juga Nak Ardian bantu menghabiskan masakan Bibik. Hehe. Kalau dibuatkan sarapan pagi, biasanya Tuan, Nyonya, dan Nak Ardian memang mencicipinya.”

“Oh, begitu, ya?” angguk-angguk Nia.

“Iyalah, begitu, Non. Entar kalau Non tinggal di sini lebih lama, masakan Bibik jadi laku, deh! Non bantu habiskan, ya?” kata Bik Aini seperti memohon.

Mendapat permohonan seperti itu, tak tahan Nia pun tertawa. Bik Aini pun ikut tertawa karena merasa geli atas permohonannya sendiri.

Selesai masak, Bik Aini membereskan perkakas masak di bak cuci piring. Sementara Nia membantu Bik Aini membawa masakannya ke atas meja, menghidangkannya dengan rapi dan menarik.

“Non boleh makan dulu kalau sudah merasa lapar,” kata Bik Aini. “Tak perlu menunggu Nak Ardian karena bisa-bisa dia pulangnya larut malam. Entar Non Nia keburu lapar, deh!”

“Iyakah, Bik?” tanya Nia takjub. “Ardian kadang pulangnya larut malam juga ya, Bik?”

“Iya, tuh! Pernah hampir tengah malam baru sampai di rumah. Tapi tak sering-sering. Biasanya pukul 10 malam sudah ada di rumah Nak Ardian.”

“Oh… Kalau Om Wisnu ke mana, Bik? Tadi Nia lihat Om masuk ke ruang kerjanya? Dan Tante Siska juga?”

“Tuan langsung berangkat lagi, cuma sebentar saja di ruang kerjanya tadi.”

“Ke mana Om Wisnu memangnya?”

“Menjemput Nyonya untuk sama-sama berakhir pekan di villa yang di Berastagi. Entar kapan-kapan Non bakal diajak juga ke sana kalau Nak Ardian mau ikut. Tapi biasanya Nak Ardian tak mau. Dia nggak suka dekat-dekat dengan Nyonya walaupun Nyonya baik padanya.”

“Oh…”

“Non Nia pernah ke Berastagi nggak? Itu tempat berakhir pekan yang sangat terkenal bagi orang Medan. Letaknya di daerah pegunungan, jadi sangat dingin dan sejuk, seperti di Puncak begitulah.”

Nia menggeleng. “Baru kali ini Nia ke Medan, Bik. Jangankan ke Berastagi, ke mal yang paling kecil di kota Medan pun belum pernah. Haha.”

“Oh, pantas...,” senyum Bik Aini. “Selain Berastagi, juga ada Danau Toba yang sangat terkenal bagi orang Medan, juga terkenal di seluruh negeri.”

“Iya, Bik. Nia pernah membaca buku hikayat terjadinya Danau Toba. Danau paling terkenal di Sumatra Utara, iya, kan, Bik?”

Bik Aini mengangguk. “Makanya, Non ajaklah Nak Ardian pergi ke sana jalan-jalan bareng papa mamanya. Kasihan lho lihatnya, Tuan dan Nyonya selalu ke mana-mana berdua saja, Nak Ardian tak pernah mau ikut serta. Seperti bukan satu keluarga saja.”

Nia terdiam mendengar kata-kata Bik Aini. Dirasanya memang agak kasihan kalau keluarga Om Wisnu memang seperti itu sekarang. Ada apa dengan Ardian, kenapa dia tak suka dekat-dekat mama tirinya itu? Apakah dia masih belum bisa menerima pengganti ibu kandungnya itu walaupun sudah 10 tahun? Bukankah kata Bik Aini Tante Siska itu orangnya baik?

Selesai Nia membantu Bik Aini menghidangkan makanan di atas meja, dia duduk di kursi menghadap meja makan. Sendirian, menatapi beraneka-macam lauk-pauk yang tampak lezat dan dihidangkan panas-panas. Tapi semua itu cuma dia sendiri yang makan? Sedangkan punya Bik Aini dan Wak Amat sudah disisihkan sebagian di rantang yang dibawa ke rumah belakang. Di sanalah Bik Aini makan bersama suaminya dan tidur di situ.

Apakah Ardian akan pulang makan malam di rumah nanti? Kalau tidak, alangkah sayangnya lauk segini banyak tak ada yang bantu menghabiskan, pikir Nia.

“Non makan dulu saja,” kata Bik Aini lagi. “Tak usah menunggu Nak Ardian. Tuan dan Nyonya sudah pasti tak makan di rumah karena sudah berangkat ke Berastagi.”

“Iya, Bik,” Nia mengangguk dan mulai menyendok nasi berikut lauk yang ada di hadapannya.

Setelah piringnya terisi lumayan banyak lauk, mulailah dia menyantap makanannya dengan lahap. Maklum saja, perutnya sudah terasa keroncongan sedari tadi. Apalagi makanan di depannya ini sangatlah enak. Bik Aini pintar memasaknya hingga manis asam asin terasa di pas di lidah.

“Bibik ke rumah belakang dulu ya, Non, mau antar rantang ini ke suami Bibik biar bisa sama-sama makan kami. Non berani kan ditinggal sendiri?”

“Nggak apa-apa, Bik, pergi saja. Nia berani kok sendiri,” katanya.

Nia melihat Bik Aini berjalan keluar dari pintu utama dan berbelok ke kanan. Pastinya rumah belakang yang dimaksudnya itu ada di sisi kanan dari pintu utama rumah ini, pikir Nia.

Sehabis makan, Nia menunggu Bik Aini balik tapi tampaknya Bik Aini tak balik lagi malam ini. Buktinya sudah pukul 8 malam tapi belum ada tanda-tanda baliknya Bik Aini. Merasa kantuk, Aini membereskan piring makannya di dapur. Setelah mencuci tangannya bersih, dia beranjak naik ke lantai 2, menuju kamarnya. Rasanya lelah sekali seharian ini. Karena itu, dia pun langsung tertidur tak lama setelah masuk kamar.

* * *

1
Yuli Sadira
Luar biasa
Liq San
menarikkk
Elisabeth Ratna Susanti
taburan like 👍
@Kristin
balas mampir Thor ☺️
R.F
semangat kaka
Rosni Lim: Ok beres
total 1 replies
Inru
Mampir thor
Rosni Lim: Ya ok
total 1 replies
@Kristin
mampir y Thor 🖐️
@Kristin
like Komen 🥰
Nur Zia Aini
alur nya lambat,,,lanjutan novel nya cm dikit jd jenuh bc nya
Cut Yus manidar
lanjut Thor penasaran
Rosni Lim
Ya kan cuma cerita, Sri 😂
Sip-lah nanti buat Ayu susah 👌🙏
Sri
dan jangan sampai kasih celah nuat pelakor modelan ayu melenggang bebas di rumah ardian ,,katanya pembantu tapi kok kaya nyoya besar di rumah adrian
Sri
buat ardian tegas ama ayu donk tor,,,masa pembantu belagu keganjenan lagi
Rosni Lim
Trims ya, Nur Zia Aini sudah mengikuti 🙏 Rencananya Ardian menikahi Nia tapi Ayu akan jadi duri di RT mereka 😁
Nur Zia Aini
alur lanjutnya dikit bngt thor pngin tau ardian tr pilih ayu atau nia gtu..msh lama ya alur akhirnya
Ulfa
lanjut...
El_Tien
lanjut kak
El_Tien
semangat kak Ros.. aku nyicil lagi
El_Tien
maaf kak baru mampir lagi
Ulfa Zahra
lanjut kak selalu semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!