Hana Yasmin adalah lambang dari ketegaran wanita yang luar biasa. Enam tahun yang lalu terpaksa diusir dari rumah orang tuanya sendiri karena telah mengandung benih pria yang tidak dia kenal. Sebuah tragedi kelam merenggut paksa kesucianya. Trauma mendalam itu sempat meruntuhkan dunia Yasmin. Namun, takdir berkata lain. Bayi yang dititipkan dalam tahimnya lahir sepasang malaikat kecil laki-laki dan perempuan yang ia beri nama Fatir dan Fathia.
Yasmin berjuang sendiri membesarkan anak kembarnya itu hingga tumbuh menjadi anak yang cerdas, padahal masih usia 5 tahun dan sekolah TK. Yasmin yang bekerja di restoran bertemu Marco Bellini. Pria itu jatuh cinta kepadanya bahkan mengajak menikah dan berjanji untuk membesarkan si kembar, tapi rasa trauma membuat Yasmin tidak mudah untuk menerima.
"Yasmin, menikahlah denganku demi kamu dan anak-anak."
Apakah Yasmin akhirnya menerima Marco? Bagaimana kisah selanjutnya? Kita ikuti kelanjutannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna Seta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Tidak mau keributan orang tuanya mengganggu mental anak-anak, Yasmin segera mengajak Fatir dan Fathia ke kamar. Namun, air matanya yang masih menetes di pipi terlihat oleh Fatir dan Fathia. Kedua anak itu seketika merangkul pinggang Yasmin sekuat tenaga. "Bunda nggak boleh menangis..." kata Fathia sedih, tangan mungilnya segera mengusap air mata ibunya.
"Bunda menangis bukan karena sedih sayang... tapi karena bahagia bertemu sama Kakek yang sudah lama...," jawab Yasmin menutupi.
"Soalnya tadi dari kamar mendengar laki-laki berteriak Bun. Diaaamm... gitu... iya kan Dek," kata Fakir polos.
Yasmin memeluk kedua malaikat kecilnya erat, menyembunyikan wajahnya di sela-sela bahu mereka. Rasa kecewa di hatinya perlahan terobati oleh kehangatan cinta dari anak-anaknya. Meski ditolak ayahnya, ia kini sadar tidak sendirian, Fatir dan Fathia adalah kekuatan sejatinya yang tak akan pernah meninggalkan dirinya.
"Sekarang Kakak sama Adik mandi dulu ya... setelah shalat ashar, kita kembali ke Jakarta," Yasmin melepas pelukannya.
"Iya Bun..." ucap keduanya tidak ada yang membantah. Fatir yang ke kamar mandi lebih dulu, gantian dengan Fathia.
"Bunda kan tadi sudah shalat, sekarang gantian kalian yang shalat di tempat kita shalat dzuhur tadi ya, Nak..." titah Yasmin sambil melipat pakaian kotor anak-anak dan akan ia bawa pulang.
Dua bocah yang sudah berpakaian rapi dan wangi minyak kayu putih itu, masing-masing ambil peci dan mukena lalu keluar kamar.
Tidak lama kemudian mereka keluar, gantian ibu Maryam yang masuk. Wanita itu duduk di samping Yasmin yang memasukkan kembali pakaian, padahal baru ia keluarkan siang tadi.
"Yas, jangan pulang sekarang ya, Nak," Bu Maryam mengusap kepala putrinya lembut. Ia minta Yasmin menginap barang semalam untuk mengobati rasa kangen.
Yasmin hanya menunduk, tidak tega menatap wajah ibunya yang penuh harap. Sebenarnya ia pun masih kangen kepada wanita yang melahirkan itu, tapi ia juga tidak kuat-kuat lama-lama melihat ayahnya yang jelas-jelas tidak mau anaknya ada di rumah ini.
"Yasmin, kamu tidak kasihan sama Ibu?" Maryam mengusap punggung tangan Yasmin, ia sebenarnya bisa saja ikut Yasmin ke Jakarta, tapi suaminya itu tidak akan mengizinkan.
"Aku mandi dulu, Bu..." Yasmin tidak memberi jawaban.
Bu Maryam menarik napas panjang, memandangi putrinya hingga menghilang di balik pintu. Ia sudah memberi pengertian sang suami agar damai dengan takdir, tapi yang ada justru bertengkar hebat. Dengan langkah berat Maryam meninggalkan kamar itu.
Di tempat yang lain, dari kamar kosong, Fatir dan Fathia baru selesai shalat Ashar kemudian keluar, telinga Fatir menangkap suara khas "petok-petok" ayam yang terdengar jelas dari arah belakang rumah.
"Kok ada suara Ayam, apa di rumah ini ada yang piara seperti di rumah Bu Retno," kata Fatir menajamkan pendengaran karena penasaran dan akhirnya terdengar lagi.
"Masa, di rumah besar gini ada yang piara Ayam, Kak," Bantah Yasmin.
"Kita lihat yuk..." Fatir mengait jemari Fathia menuju arah suara.
Mereka berjalan setengah berlari, hingga peci Fatir masih nempel di kepala. Tiba di dapur, menatap sekilas bibi yang sedang sibuk menyiapkan bahan masakan.
"Adik-adik ini mau kemana?" Tanya bibi, menoel pipi putih kemerahan dan montok itu bergantian, bibi merasa gemas.
"Mau lihat Ayam," jawab Fatir tangannya terus menarik Fathia melangkah menuju pintu belakang yang terbuka lebar, mereka kaget karena di belakang rumah tersebut terdapat taman luas yang belum pernah mereka lihat.
"Wah, banyak bunga Kak," seru Fathia memandangi taman luas itu sebagian ditanami bunga berwarna-warni yang bermekaran.
Sementara Fatir tidak tertarik dengan bunga itu, tapi menatap sosok pria berkaca mata berdiri memperhatikan kandang ayam, membelakangi mereka sambil merapikan pakan unggas.
"Dek, kita samperin Kakek yuk," ujar Fatir tanpa ragu sedikit pun.
"Yakin Kak? Nggak mau ah, takut. Kakek galak gitu," tolak Fathia merasa ngeri ketika melihat sedang marah di ruang tengah tadi tampak seram, ia tahu bundanya menangis tadi pasti gara-gara kakek itu.
"Jangan takut, ayo," Fatir setengah memaksa Fathia, menarik tangannya lalu berlari-lari kecil mendekat, Fatir kira kakek tidak mau menyapa dirinya karena belum kenal.
"Kakek..." panggil mereka berbarengan ketika sudah berdiri di samping pria itu.
Namun Kakek tidak menoleh sedikit pun. Ia seolah tidak mendengar panggilan cucunya, pura-pura sibuk membersihkan kandang, padahal sudah ada petugasnya.
Tanpa ragu, Fatir memberanikan diri menyentuh ujung baju kakeknya lalu mendongak menatap wajah pria itu, tapi sang kakek justru melangkah menjauh dari mereka.
Fatir dan Fathia saling melempar pandang. "Kan, apa aku bilang, Kakek ngga suka sama kita," Fathia gantian menarik tangan Fatir supaya ke dalam.
"Tenang saja," jawab Fatir mengumpulkan keberanian. Ia tahu Kakek masih marah, tapi akan membuat sang Kakek sayang kepada bundanya.
"Kek, boleh aku kasih umpan Ayamnya?" Fatir tiba-tiba sudah berdiri di samping kakek.
Kakek tetap dingin tidak menjawab, sementara Fathia mencabut sejumput rumput segar di tanah, lalu ikut Fatir mendekat. "Kek... ini untuk makan ayamnya ya? Biar ayamnya kenyang," ucapnya sambil memasukkan rumput di sela-sela kandang.
"Dasar bocah! Ayam mana doyan rumput," Ketus kakek. Melirik dua cucunya. Namun, tidak di duga, beberapa ayam berkumpul macok rumput tersebut hingga habis membuat Amir melebarkan mata.
"Kan... Apa Fathia bilang, doyan kan?" Fathia tersenyum menatap wajah kakeknya.
Amir akhirnya menatap Fathia lebih lama, kemudian beralih ke wajah Fatir. "Kenapa aku pernah melihat wajah itu?" Tanyanya dalam hati.
Sementara itu Fatir pun mencabut rumput berikutnya lalu mengikuti jejak Fathia.
"Kakek... Ayamnya banyak sekali..." seru Fathia yang awalnya takut kini tidak lagi.
Begitulah, di balik kesibukan pria itu hobinya memelihara Ayam.
"Dek, kandang Ayam Kakek bersih ya, nggak seperti punya Bu Retno, huh! Bauuu..." Fatir memencet hidung ingat kandang ayam bu Retno yang kotor.
"Kek, boleh nggak Fatir nangkap satu?" Tanyanya serius.
"Buat apa?" raut wajah kakek menandakan penolakan yang tegas.
"Di goreng kan endul, Kek, Bu Retno sering potong, tapi nggak pernah dikasih."
"Dasar bocah, Ayam buat hiburan mana boleh di potong!" Ketus Amir sambil berlaku menuju kandang yang lain.
Dari kejauhan Amir memperhatikan cucunya yang tampak ceria berlari ke sana kemari tiba-tiba bibirnya tersenyum tipis.
Fatir dan Fathia yang merasa kakek tersenyum lalu berlari mendekat. Namun, belum sempat bicara panggilan dari pintu terdengar melengking.
"Fatir... Fathia... kita pulang sekarang sayang..."
"Iya Bundaaaa..." jawab keduanya.
"Kakek... kami pulang dulu ya... sampai jumpa..." Mereka salim tangan kakeknya yang hanya terpaku.
"Dada, Kakek... Dada Kakek..." seru mereka sambil berlari.
"Tunggu!"
...~Bersambung~...
bingung....tu...Marco mo jawab apaan....
jgn kan knyataan dlm mimpi juga Marco GK bkln blik Karo kwe tau....🤣🤣🤣🤣🫣
bnyak bgt ....bikin syok nya....dri kmrin 🤣🫣