NovelToon NovelToon
Mantan Suamiku Menyesal Saat Aku Hamil Anak CEO

Mantan Suamiku Menyesal Saat Aku Hamil Anak CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cintapertama / Penyesalan Suami
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Nurul Jung

Alara percaya, jika ia berhasil menikah dengan cinta pertamanya, ia akan menjadi orang paling bahagia.
Karena itulah ia rela meninggalkan kariernya sebagai desainer dan model demi menikah dengan Bagas, pria yang telah ia cintai sejak remaja.
Namun pernikahan impiannya berubah menjadi mimpi buruk.
Bagas selalu sibuk bekerja dan tak pernah membelanya saat ibu mertuanya menghina serta memperlakukannya seperti pembantu. Bertahun-tahun tidak memiliki anak membuat Alara dicap mandul. Hingga suatu hari, ibu mertuanya membawa seorang wanita muda ke rumah dan memaksa Bagas menikah lagi.
Saat itulah kesabaran Alara habis.
Ia memilih bercerai dan pergi dengan harga diri yang tersisa.
Semua orang mengira hidupnya akan hancur.
Nyatanya, Alara bangkit.
Ia kembali mengejar mimpi yang pernah ditinggalkan. Serta membalas rasa sakit hati yang ia rasakan selama ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Jung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rahasia yang Mulai Terungkap

"Dia mulai curiga. Kita harus bertindak sebelum semuanya terbongkar."

Suara Wendah bergetar, nyaris seperti hembusan napas yang tertahan di balik pintu kamar yang terkunci rapat. Tangannya yang memegang ponsel gemetar hebat hingga benda pipih itu hampir terlepas dari genggamannya. Di seberang telepon, seseorang memberikan instruksi singkat yang membuat wajah pucatnya berubah menjadi kelabu, seolah aliran darahnya baru saja berhenti mengalir.

Di luar kamar, Alara tidak tahu bahwa badai besar baru saja dimulai. Ia sedang sibuk memasukkan sisa bungkusan jamu yang ia temukan ke dalam tas jinjing kecil dengan tangan yang masih gemetar. Setiap sentuhan pada bungkusan plastik itu terasa membakar kulitnya. Apakah benar ia telah meminum racun yang disamarkan sebagai obat penyubur selama bertahun-tahun?

Pikiran Alara melayang kembali ke masa-masa di mana ia begitu naif. Ia ingat bagaimana mertuanya dengan penuh kasih sayang atau yang ia kira kasih sayang dengan menyuapinya sendok demi sendok cairan hitam pekat yang berbau tanah dan akar-akaran.

"Ini untuk cucu Ibu, Alara. Jangan membantah, ini demi masa depan rumah tanggamu," kata-kata itu dulu terdengar seperti sebuah tanggung jawab, namun kini, di telinga Alara, kalimat itu terdengar seperti lonceng kematian bagi kesuburannya.

---

Sore itu, suasana di rumah besar Bagas terasa jauh lebih mencekam daripada biasanya. Setelah insiden di acara keluarga, Bagas lebih memilih untuk berdiam diri di ruang kerjanya. Pria itu bahkan tidak repot-repot bertanya kenapa istrinya terlihat begitu pucat dan gelisah saat mereka sampai di rumah. Baginya, Alara hanyalah seorang wanita yang terlalu banyak pikiran dan mudah tersinggung.

Alara berjalan pelan menuju dapur, menyelinap di antara bayang-bayang. Ia harus keluar rumah malam ini. Ia tidak bisa menunggu hingga esok pagi. Ia harus membawa sisa-sisa jamu ini ke laboratorium independen atau setidaknya ke apotek yang memiliki akses untuk memeriksa kandungan obat tradisional.

Saat ia hampir mencapai pintu belakang, suara langkah kaki yang berat menghentikannya.

"Mau ke mana malam-malam begini, Alara?"

Suara itu milik Bagas. Pria itu berdiri di ambang pintu dapur, menatap Alara dengan sorot mata yang sulit diartikan. Di tangannya, ia memegang gelas kosong, namun tatapannya tertuju lurus pada tas jinjing yang disembunyikan Alara di balik punggungnya.

Jantung Alara hampir melompat keluar. "Aku... aku hanya ingin mencari udara segar. Kepalaku pening setelah kejadian di acara keluarga tadi," jawab Alara, mencoba sebisa mungkin menjaga suaranya agar tetap stabil.

Bagas menyipitkan mata. Ia mendekat, aroma parfum maskulinnya yang biasanya menenangkan kini justru membuat Alara mual.

"Sudah kubilang, jangan memikirkan ucapan mereka. Keluargaku memang punya mulut yang tajam, tapi itu bukan alasan untuk keluyuran di jam segini."

"Bukan soal mereka," potong Alara dengan keberanian yang entah datang dari mana.

"Ini soal aku. Aku merasa ada yang salah dengan diriku selama ini. Aku ingin memeriksakan diri lagi ke dokter, sendiri."

Bagas terdiam sejenak. Ada kilatan keraguan di matanya, atau mungkin itu adalah ketakutan?

"Aku akan mengantarmu besok," sahut Bagas dingin, mematikan keinginan Alara untuk pergi sekarang juga.

"Tidak perlu," tegas Alara. "Aku sudah cukup sering merepotkanmu. Aku ingin mandiri."

Bagas tidak menjawab. Ia hanya menatap Alara lebih lama, seolah sedang menimbang-nimbang apakah istrinya ini sudah tahu terlalu banyak atau hanya sekadar sedang meledak karena tekanan. Akhirnya, pria itu mengangguk kaku.

"Terserah kau saja. Tapi jangan buat keributan lagi."

Setelah Bagas berlalu, Alara membuang napas panjang. Kakinya hampir lemas. Namun, ia tahu ia tidak boleh menyerah.

---

Sementara itu, di dalam kamar lantai dua, Wendah mondar-mandir seperti singa yang terkurung. Ia baru saja menutup sambungan telepon dengan seseorang yang di masa lalu pernah ia bayar untuk memalsukan hasil rekam medis Alara.

"Bodoh! Kenapa harus manusia itu yang melihatku?" gumamnya pada diri sendiri.

Ia tahu, Bagas adalah satu-satunya orang di keluarga besar yang memiliki integritas tinggi. Jika pria itu mulai berbisik ke telinga Alara, maka rumah kartu yang telah ia bangun selama bertahun-tahun ini akan runtuh dalam sekejap. Ia tidak bisa membiarkan kebenaran itu terungkap.

Tiba-tiba, ia teringat sesuatu. Jika Alara membawa jamu itu ke laboratorium, mereka akan tahu bahwa di dalamnya terdapat bahan kimia yang berfungsi sebagai kontrasepsi keras, bukan jamu penyubur.

"Aku tidak bisa membiarkan dia sampai ke tempat itu," bisik Wendah dengan mata yang berkilat penuh rencana jahat.

Ia membuka laci meja riasnya, mengambil sebuah kunci cadangan, dan segera keluar dari kamar. Ia harus bergerak cepat. Sebelum Alara keluar dari rumah ini, tas itu harus lenyap. Entah itu dengan cara mencurinya atau menukar isinya.

---

Alara kembali ke kamarnya dengan hati yang berdebar. Ia sengaja menyimpan tas itu di dalam laci baju yang terkunci. Ia tahu, di rumah ini, tidak ada satu pun sudut yang benar-benar aman. Namun, ia tidak punya pilihan lain.

Ia menatap cermin, memperhatikan bayangan dirinya sendiri. Wajah yang dulu ceria dan penuh harapan, kini terlihat layu dan sarat akan kecurigaan. Ia teringat kembali pada hari-hari awal pernikahannya, di mana ia begitu percaya pada janji Bagas dan kasih sayang palsu mertuanya. Ternyata, selama ini ia hidup di dalam kandang emas yang penuh dengan duri beracun.

"Apa lagi yang mereka sembunyikan dariku?" pikirnya.

Alara teringat akan ucapan Paman Bagas tadi.

“Suamimu tidak pernah mandul, dan kalian tidak memiliki anak bukan karena nasib. Bagas sengaja melakukan sterilisasi tanpa sepengetahuanmu.”

Kalimat itu terngiang kembali, menghantam relung jiwanya seperti godam. Jika itu benar, maka bukan hanya mertuanya yang jahat, tetapi Bagas, pria yang ia cintai adalah dalang dari semua penderitaan ini. Bagas tidak sekadar diam; ia aktif mematikan harapan Alara untuk menjadi seorang ibu.

Alara menggenggam ujung meja rias hingga jemarinya memutih. Kebencian mulai tumbuh perlahan di hatinya, menggantikan rasa sakit yang selama ini menggerogoti. Ia bukan lagi Alara yang dulu, yang akan menangis di pojok ruangan saat dihina.

Ia adalah Alara yang sekarang sudah bangun dari mimpi buruknya. Dan bagi mereka yang telah menipunya, mereka tidak akan menyukai kenyataan bahwa mangsanya kini telah memiliki taring.

Di lorong luar kamar, terdengar suara langkah kaki yang diseret pelan. Itu langkah Wendah. Alara terdiam, menahan napas. Ia mendengar suara pintu kamarnya yang mencoba diputar gagangnya. Wendah mencoba masuk.

Alara segera mematikan lampu, berbaring di tempat tidur, dan berpura-pura tidur. Ia memejamkan mata rapat-rapat, namun seluruh indranya waspada. Ia menanti, ingin tahu sejauh mana ibu mertuanya akan melangkah untuk menutupi kejahatan ini.

Pintu perlahan terbuka sedikit. Cahaya dari lorong menyusup masuk, menerangi sebagian lantai kamar. Seseorang masuk dengan gerakan yang sangat hati-hati, seperti maling di rumah sendiri. Alara bisa mendengar detak jantungnya sendiri yang berdegup kencang, beradu dengan suara deru napas mertuanya yang terdengar berat dan terburu-buru.

Ini adalah momen pembuktiannya. Jika Wendah memang berniat mencuri tas itu, maka sudah jelas bahwa semua kecurigaan Alara benar adanya. Dan saat itulah, Alara bersumpah, ia tidak akan membiarkan siapa pun lagi menginjak-injak harga dirinya, apalagi membunuh masa depannya.

Bersambung...

1
Nurul Jung
😄
Noey Aprilia
Dfinisi mrtua durjana....
mga abs ni hkum krma dtng buat dia...dn buat bagas,slmt mnikmti pnyesalan......😛😛😛😛
Noey Aprilia
Alara....ttp sm kputusanmu y,jgn smp kena bjuk rayu setan lg....kbnrn mlai trungkap,biarkn mreka nrima hkuman yg stimpal atw bhkn lbih mnykitkan.....
Noey Aprilia
Sprti biasa.....orng akn mnysal stlh khilangn....slmt mnkmti pnyesalan bagas....
Nurul Jung: okok 😄
total 3 replies
Noey Aprilia
Hai kk....
Aku udh mmpir....slm knal....
aku udh ksel dr awal,gemes sm alara yg msih ngemis pnjlasan sm suami dn mrtua durjana....tp sykurlah krna skrng dia ush sdar....ttp smngt alara,abs ni km bkln jd orng sukses dn bhgia.....😘😘😘
Nurul Jung: Hallo kak, salam kenal juga, terus simak kisah Alara ya 😍
total 1 replies
Nurul Jung
Hari ini aku kasih double up ya sayang. Besok kalau mau tak kasih double up, tinggalin jejak yaa
Sabhana Pena
sialan si bagas
Sabhana Pena
loh, kok si Nindy udah ngehubungi. Alara duluan?
Nurul Jung
Betul itu 🤭🙏
Sabhana Pena
yaaa begitulah konflik dengan mertua kaya... ga papa Alara, setelah badai pasti ada 🌈. stay strong 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!