Bagi Adista, barang antik bukan sekadar benda mati; mereka memiliki jiwa, cerita, dan keindahan tersendiri. Hobinya mengoleksi barang-barang unik dan kuno selalu berhasil membawa kepuasan tersendiri, hingga suatu malam di sebuah ruang pelelangan rahasia, matanya terpaku pada sebuah mahakarya yang unik.
Sebuah lukisan tua berbingkai emas kusam yang menggambarkan sosok perempuan dengan air mata darah.
Ada daya tarik magis yang tak kasat mata, seolah lukisan itu sengaja memanggil namanya. Tergiur oleh keunikan dan aura mistisnya, Adista berhasil memenangkan lelang tersebut tanpa tahu harga yang harus ia bayar bukan sekadar uang.
Sejak lukisan itu tergantung di dinding rumahnya, atmosfer berubah mencekam. Langkah kaki misterius, bau anyir yang menguap di udara, hingga bisikan ghaib yang menyayat hati mulai meneror malam-malam Adista. Sosok perempuan dalam kanvas itu seolah hidup, dan tangisan darahnya perlahan mulai merembes keluar dari bingkai, menuntut balas yang mengerikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andhig Rosdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 27
Suara kunyahan yang mengerikan itu akhirnya berhenti. Wanita misterius dari dalam lukisan telah menghabiskan bagian tubuh Rian yang paling berharga sebagai santapan dendamnya. Ia menyeka sisa darah di bibir hitamnya dengan punggung tangan yang pucat, menyisakan coretan merah yang semakin memperjelas kesan menyeramkan di wajahnya.
Hantu wanita itu kembali melayang, berputar pelan di atas tubuh Rian yang kini sudah tidak bernyawa dengan dada yang bolong berdarah. Tatapan mata hitam kelamnya beralih, kembali tertuju kepada Adista yang masih terduduk lemas di lantai sambil memeluk tubuh Bik Sumi yang pingsan.
Adista memejamkan matanya, bersiap jika makhluk itu memutuskan untuk menghabisi nyawanya juga. Air matanya terus mengalir tanpa henti, membasahi pipinya yang sudah pucat pasi. Di dalam benaknya, ia hanya bisa terus berdoa, memasrahkan seluruh sisa hidupnya kepada Tuhan.
Namun, rasa sakit yang ia bayangkan tidak pernah datang.
Perlahan, Adista memberanikan diri untuk membuka sedikit kelopak matanya. Sosok wanita bergaun putih itu kini berada sangat dekat di depannya, melayang hanya berjarak beberapa jengkal dari wajah Adista. Bau anyir darah dan wangi mawar yang menyengat langsung menusuk indra penciuman Adista, membuatnya hampir muntah.
Hantu wanita itu tidak menyerang. Senyuman creepy yang tadi menghiasi wajahnya kini telah lenyap, berganti dengan sepasang mata yang memancarkan kesedihan yang teramat sangat mendalam. Aliran darah segar yang keluar dari sudut matanya tampak mengalir semakin deras, menetes jatuh mengenai lantai kayu di dekat kaki Adista.
...Jangan takut, Adista...
Bisikan suara dingin dan parau itu kembali bergema di dalam kepala Adista, namun kali ini nadanya terdengar sangat rapuh, seolah-olah menahan rasa sakit yang luar biasa.
...Aku tidak akan pernah menyakitimu, ataupun wanita tua di belakangmu. Kami, kaum wanita, adalah korban dari kebiadaban mereka. Aku hanya mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku... hak atas keadilan yang direnggut dariku...
Adista terdiam seribu bahasa. Di balik rasa takutnya yang teramat sangat, sebersit rasa iba mendadak muncul di dalam hatinya. Ia teringat kembali akan mimpi buruknya sore itu. Ia ingat bagaimana nasib naas wanita cantik ini yang disiksa, dilecehkan secara bergantian oleh lima orang preman, hingga kepalanya dihancurkan memakai batu besar di dalam gudang kosong. Penderitaan wanita itu terlalu besar, hingga mengubah jiwanya menjadi monster penuh kutukan setelah kematiannya.
Makhluk itu memundurkan tubuhnya secara perlahan, melayang menjauh dari Adista dan Bik Sumi. Ia kembali ke tempat asalnya, berdiri tepat di bawah bingkai emas yang tergantung di dinding ruang tengah.
...Jaga dirimu, Adista. Rumah ini akan kembali tenang, selama tidak ada lagi laki-laki kotor yang berani menginjakkan kaki di sini...
Bersamaan dengan selesainya bisikan tersebut, tubuh wanita bergaun putih itu perlahan-lahan mulai memudar. Siluet tubuhnya yang tipis berubah menjadi kabut hitam yang bergerak naik, lalu terserap kembali ke dalam kanvas lukisan. Sosok perempuan di dalam lukisan itu kini kembali diam membeku, dengan goresan air mata darah yang tampak lebih segar dari biasanya.
Bersamaan dengan hilangnya sosok itu, aliran listrik di bagian rumah yang lain tiba-tiba kembali menyala. Cahaya terang benderang langsung memancar dari arah koridor depan, ruang makan, dan dapur yang pintunya terbuka. Namun, ruang tengah itu sendiri tetap tinggal dalam kegelapan yang sunyi. Lampu gantung hias yang menjadi sumber cahaya utama di sana kini sudah hancur berantakan di lantai, membuat ruangan tersebut menjadi satu-satunya sudut yang gelap di dalam rumah.
Hawa dingin yang membekukan tulang perlahan-lahan mulai memudar, digantikan oleh suhu ruangan yang normal. Bau anyir darah yang menyengat pun berangsur-angsur menipis, meskipun noda darah yang berceceran di lantai masih tercium samar dari pantulan cahaya ruangan sebelah.
Adista mengembuskan napas panjang yang gemetar. Dalam remang-remang cahaya yang masuk dari ruangan lain, ia melihat ke sekeliling ruangan yang berantakan. Di depannya, tubuh Rian tergeletak kaku dengan kondisi yang sangat mengenaskan di bawah reruntuhan besi lampu hias gantung yang menancap di kepalanya. Mantan pacarnya yang arogan, yang sebulan lalu selalu bertindak semena-mena, kini telah mengembuskan napas terakhirnya dengan cara yang paling tragis.
Adista mencoba menggerakkan kakinya yang semula lemas. Dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki, ia menepuk-nepuk pelan pipi Bik Sumi yang masih tidak sadarkan diri di pelukannya.
"Bik... Bik Sumi, bangun, Bik..." bisik Adista dengan suara yang serak.
Bik Sumi melenguh perlahan. Matanya terbuka sedikit, melihat ke arah koridor depan yang sudah terang benderang, lalu beralih melihat ke arah ruang tengah yang masih gelap dan sunyi. Begitu kesadarannya pulih sepenuhnya, Bik Sumi langsung terduduk tegak dengan wajah yang panik. Ia melihat ke arah bayangan tubuh Rian, lalu melihat ke arah Adista dengan mata yang berkaca-kaca.
"Non... Non Adista, hantu itu... hantu wanita itu..." tangis Bik Sumi pecah, tubuh tuanya kembali gemetar hebat karena teringat kejadian mengerikan yang ia lihat sebelum pingsan.
Adista langsung memeluk erat tubuh pembantunya itu, mencoba memberikan ketenangan yang ia sendiri sebenarnya tidak miliki. "Sudah, Bik... sudah selesai. Makhluk itu sudah pergi. Kita aman, Bik. Kita aman..." kata Adista sambil mengusap punggung Bik Sumi.
Bik Sumi menangis sesenggukan di bahu Adista. Sifatnya yang polos dan tidak banyak bicara membuat ia tidak mengajukan pertanyaan apa pun tentang mengapa hantu itu memakan jantung Rian atau mengapa mereka berdua dibiarkan hidup. Bik Sumi hanya bisa bersyukur karena Tuhan masih melindungi nyawa mereka malam ini.
Setelah Bik Sumi agak tenang, Adista melepaskan pelukannya. Ia menatap ke arah tubuh Rian yang terbujur kaku di dalam kegelapan ruang tengah, lalu beralih mengambil ponselnya yang tergeletak di atas sofa dengan bantuan cahaya dari koridor. Dengan tubuh yang masih gemetar, ia menekan nomor darurat, bersiap untuk menghubungi pihak kepolisian dan ambulans untuk mengevakuasi jenazah Rian.
Malam itu, di bawah rintik hujan yang semakin lebat, Adista menyadari satu hal yang pasti. Rumah mewah ini tidak akan pernah sama lagi. Rahasia kelam di balik lukisan berdarah itu telah terbuka sepenuhnya di depan matanya sendiri, meninggalkan luka dan trauma mendalam yang akan ia bawa seumur hidupnya di dalam kegelapan ruang tengah tersebut.
soookorrr
apa ya g gmn gtu smpe teror siang hari pun ada lho
mau lwrtahanin lukisan mu apa mau buang dan bakar gtu
trus piye yo saiki
nah jadi misteri bget sih tp sadis cara bantai nya hiss ngeri ya