Bagi Adista, barang antik bukan sekadar benda mati; mereka memiliki jiwa, cerita, dan keindahan tersendiri. Hobinya mengoleksi barang-barang unik dan kuno selalu berhasil membawa kepuasan tersendiri, hingga suatu malam di sebuah ruang pelelangan rahasia, matanya terpaku pada sebuah mahakarya yang unik.
Sebuah lukisan tua berbingkai emas kusam yang menggambarkan sosok perempuan dengan air mata darah.
Ada daya tarik magis yang tak kasat mata, seolah lukisan itu sengaja memanggil namanya. Tergiur oleh keunikan dan aura mistisnya, Adista berhasil memenangkan lelang tersebut tanpa tahu harga yang harus ia bayar bukan sekadar uang.
Sejak lukisan itu tergantung di dinding rumahnya, atmosfer berubah mencekam. Langkah kaki misterius, bau anyir yang menguap di udara, hingga bisikan ghaib yang menyayat hati mulai meneror malam-malam Adista. Sosok perempuan dalam kanvas itu seolah hidup, dan tangisan darahnya perlahan mulai merembes keluar dari bingkai, menuntut balas yang mengerikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andhig Rosdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 34
Suasana rumah kembali sunyi setelah kejadian di kamar Bram.
Maya masih terduduk di sofa ruang tengah. Segelas air putih yang diberikan Bik Sumi sejak tadi tidak juga disentuhnya. Tatapannya kosong mengarah ke lantai, sementara pikirannya masih dipenuhi bayangan perempuan berambut panjang yang dilihatnya di depan cermin.
Selama ini ia selalu menganggap cerita-cerita tentang hantu hanyalah mitos.
Namun apa yang baru saja dialaminya tidak mungkin bisa dijelaskan dengan akal.
Adista duduk di sampingnya.
"Bagaimana keadaanmu?" tanyanya pelan.
Maya mengembuskan napas panjang.
"Saya masih gemetar, Bu."
"Saya benar-benar melihat perempuan itu."
Air mata kembali memenuhi mata Adista.
"Akhirnya ada yang percaya sama saya."
Maya menoleh.
"Maafkan saya."
"Selama ini saya pikir Ibu hanya terlalu terpukul karena kehilangan Pak Ronald dan Mas Bram."
"Ternyata semua yang Ibu ceritakan memang benar."
Bik Sumi yang berdiri tidak jauh dari mereka ikut mengangguk pelan.
"Saya juga tidak pernah percaya ada kejadian seperti ini."
"Tapi sekarang saya melihatnya sendiri."
Ruangan kembali dipenuhi keheningan.
Tatapan mereka perlahan tertuju pada lukisan perempuan misterius yang tergantung di dinding ruang tengah.
Lukisan itu tampak tenang.
Tidak ada darah.
Tidak ada perubahan.
Seolah-olah semua kejadian mengerikan tadi hanyalah mimpi.
Namun tidak seorang pun berani mendekatinya.
Setelah beberapa saat, Maya memecah kesunyian.
"Bu."
"Saya ingin bertanya sesuatu."
Adista mengangguk.
"Waktu membeli lukisan itu... apa Ibu tahu siapa pemiliknya?"
Adista menggeleng.
"Tidak."
"Saya membelinya di sebuah pelelangan barang seni."
"Awalnya saya hanya ingin mencari lukisan untuk mengisi ruang tengah."
"Tapi begitu melihat lukisan itu..."
Adista berhenti sejenak.
Ia masih mengingat malam itu dengan sangat jelas.
"Entah kenapa, saya tidak bisa mengalihkan pandangan."
"Rasanya seperti ada yang memanggil saya."
Maya memperhatikan wajah Adista.
"Apa ada orang lain yang juga menawar lukisan itu?"
"Ada."
"Bahkan harganya sempat naik beberapa kali."
"Tapi saya terus menawar sampai akhirnya lukisan itu menjadi milik saya."
"Setelah itu?"
"Lukisan langsung dikirim ke rumah."
Adista menarik napas panjang.
"Malam pertama setelah lukisan itu dipasang..."
"Saya mendengar suara perempuan menangis."
Bik Sumi langsung merapatkan kedua tangannya.
"Saya merinding mendengarnya."
Maya kembali bertanya.
"Apakah sebelum membeli lukisan itu pernah ada kejadian aneh di rumah ini?"
Adista berpikir sejenak.
"Lalu menggeleng."
"Tidak."
"Semuanya dimulai setelah lukisan itu ada di rumah."
Ucapan itu membuat Maya semakin yakin.
"Berarti jawabannya ada pada lukisan itu."
"Tapi bagaimana kita mencarinya?" tanya Adista.
Maya berpikir beberapa saat.
"Rumah pelelangan pasti memiliki data barang yang dijual."
"Kalau kita bisa mengetahui dari mana lukisan itu berasal..."
"Mungkin kita juga bisa mengetahui siapa perempuan dalam lukisan itu."
Adista mengangguk pelan.
Untuk pertama kalinya sejak teror itu dimulai, ia merasa memiliki sedikit harapan.
Namun harapan itu tidak bertahan lama.
Tiba-tiba...
Tap...
Tap...
Tap...
Terdengar suara tetesan air dari ruang tengah.
Mereka bertiga langsung menoleh.
Tidak ada atap yang bocor.
Tidak ada jendela yang terbuka.
Tetapi suara itu terus terdengar.
Tap...
Tap...
Tap...
Maya berdiri perlahan.
"Suara itu..."
"Berasal dari lukisan."
Adista ikut berdiri.
Dengan langkah hati-hati mereka mendekati dinding tempat lukisan itu tergantung.
Semakin dekat...
Suara tetesan semakin jelas.
Saat mereka berdiri tepat di depannya...
Adista menahan napas.
Setetes cairan merah perlahan mengalir dari sudut mata perempuan dalam lukisan.
Disusul tetesan kedua.
Lalu ketiga.
Air mata darah itu kembali muncul.
Bik Sumi langsung mundur sambil membaca doa.
Maya mematung.
Ia kini menyaksikan semuanya dari jarak yang sangat dekat.
Tidak ada tali.
Tidak ada rekayasa.
Darah itu benar-benar mengalir dari mata perempuan di dalam lukisan.
"Ya Tuhan..." bisiknya.
Darah terus menetes hingga membasahi bingkai kayu.
Lalu jatuh ke lantai marmer.
Namun kali ini darah tidak berhenti di sana.
Perlahan darah itu bergerak sendiri.
Membentuk sebuah garis panjang.
Kemudian berubah menjadi huruf-huruf.
Mereka bertiga hanya bisa memandang dengan tubuh gemetar.
Tulisan itu akhirnya terbentuk.
CARI AKU.
Tidak lama kemudian, darah kembali bergerak.
Huruf-huruf sebelumnya menghilang.
Lalu muncul kalimat baru.
TEMUKAN KEBENARANNYA.
Ruangan mendadak menjadi sangat dingin.
Embusan angin yang entah datang dari mana membuat tirai jendela bergerak pelan.
Lampu ruang tengah mulai berkedip.
Tik...
Tik...
Tik...
Brak!
Salah satu bingkai foto keluarga yang berada di atas lemari jatuh ke lantai.
Kacanya pecah.
Adista menoleh.
Foto itu adalah foto keluarganya beberapa tahun lalu.
Di dalam foto terlihat dirinya, Ronald, Bram, dan ayahnya.
Anehnya...
Kaca yang pecah tepat berada di atas wajah ayahnya.
Maya memungut foto itu.
Wajahnya berubah serius.
"Bu..."
"Lihat ini."
Adista mendekat.
Retakan kaca hanya menutupi wajah ayahnya.
Bagian wajah yang lain tetap utuh.
"Itu hanya kebetulan..." gumam Adista, berusaha menenangkan dirinya sendiri.
Namun Maya tidak langsung menjawab.
Ia memandangi foto itu cukup lama.
Entah mengapa, ia merasa ada sesuatu yang ingin ditunjukkan oleh perempuan dalam lukisan.
Belum sempat mereka membahasnya...
Dari arah lantai atas terdengar suara langkah kaki.
Tok...
Tok...
Tok...
Pelan.
Berjalan dari ujung lorong menuju tangga.
Padahal mereka bertiga berada di lantai bawah.
Tidak ada siapa pun di atas.
Suara itu berhenti tepat di atas kepala mereka.
Lalu...
Terdengar suara perempuan berbisik.
Sangat lirih.
Namun cukup jelas.
"...pulang..."
Suara itu menghilang bersama hembusan angin dingin yang menerpa ruang tengah.
Tidak ada lagi langkah kaki.
Tidak ada lagi bisikan.
Rumah kembali sunyi.
Maya menggenggam tangan Adista.
"Besok pagi kita pergi ke rumah pelelangan."
"Apa pun yang terjadi..."
"Kita harus mengetahui asal-usul lukisan ini."
Adista mengangguk perlahan.
Ia kembali menatap perempuan dalam lukisan itu.
Kini wajah perempuan tersebut telah kembali diam.
Namun jauh di dalam hatinya, Adista merasa...
Wanita misterius itu sedang menunggu mereka menemukan sebuah rahasia besar yang selama ini terkubur rapat.
Dan mungkin...
Rahasia itu akan mengubah hidup mereka untuk selamanya.
krn dosa lama kai skrg menempuh apa yg kau tabur
tp.setidaknjya klo berani mengakui dn bertibat akan lenih enteng tp ini tak ada niat ya sudah lah
apakah dgn riyan juga ya
nahhh ini jadi misteri
weehhh kira2 apa ya
aduh entah lah
aduh kira2 kmn lagi akan melangkah
knp.sih susah sekali nyebut namanya hadeh
tp setifak nya g ada yg mati dlu deh kasihan jiwa adista terguncang hebat dgn kejadian kematian yg tak wajar
waduh gmn dong
yg pasti kukisan nya g minta tumbal lagi