Di dunia fantasi Eldoria yang dikuasai oleh perserikatan klan penyihir, Aura Zephyra adalah perwujudan dari kepolosan masa muda. Sebagai putri sulung dari Klan Penyihir Angin yang agung, hidup remajanya dipenuhi dengan tulusnya cinta kepada tunangannya, Gavin Elrod. Namun, di hari pernikahan mereka yang seharusnya menjadi momen paling bahagia, cinta itu berubah menjadi mimpi buruk. Gavin mengkhianatinya, membantai seluruh klannya, dan menusuk dada Aura demi merebut Inti Sihir Angin untuk ambisi takhtanya. Di ambang kematian, dalam kobaran api kuil yang hancur, Aura mengutuk Gavin dengan air mata darah.
Bukannya lenyap, jiwa Aura justru terlempar kembali ke masa lalu—dua tahun sebelum tragedi pembantaian itu terjadi. Terbangun di tubuh remajanya yang berusia tujuh belas tahun, Aura bukan lagi gadis naif yang bisa dibodohi. Keajaiban regresi waktu tidak hanya membawa ingatannya, tetapi juga membangkitkan atribut sihir terlarang yang telah punah ribuan tahun: Sihir Es Kuno.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnnaYoung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Batu Ujian Energi
Gemuruh badai salju menyambut kedatangan kereta sihir saat roda-roda besi akhirnya menyentuh jembatan gantung batu yang menghubungkan tebing gunung dengan gerbang utama Istana Serigala Es. Tempat ini tidak seperti istana di Ibu Kota Eldoria yang dibangun dengan marmer putih cerah dan dihiasi kaca-kaca patri warna-warni. Istana Serigala Es adalah sebuah benteng raksasa yang dipahat langsung dari perut gunung es abadi. Dinding-dindingnya berwarna kelabu gelap, dilapisi oleh sihir pelindung kuno yang membuatnya kebal terhadap serangan fisik maupun magis tingkat tinggi.
Saat pintu kereta sihir terbuka, udara dingin yang ekstrem langsung menyergap masuk. Namun, sebelum hawa dingin itu sempat menyentuh kulit Aura, sebuah jubah bulu serigala hitam yang tebal dan hangat sudah tersampir di bahunya.
Aura menoleh dan mendapati Kaelen berdiri di belakangnya, memastikan jubah itu membungkus tubuh Aura dengan sempurna. "Udara di sini tidak ramah bagi orang asing, terutama mereka yang terbiasa dengan angin hangat ibu kota," ucap Kaelen datar, tetapi tindakannya menunjukkan perhatian yang kontras dengan nadanya.
"Terima kasih," bisik Aura. Ia mengeratkan jubah tersebut, menghirup aroma kayu pinus dan salju yang melekat kuat pada kainnya—aroma khas Kaelen yang entah mengapa kini mulai terasa familiar dan menenangkan baginya.
Mereka melangkah turun dari kereta. Di depan gerbang besar yang terbuat dari besi meteorit, puluhan ksatria berbaju besi hitam telah berbaris rapi. Di depan mereka, berdiri seorang pria paruh baya dengan pakaian pelayan formal yang rapi, meskipun salju tipis mulai menumpuk di pundaknya.
"Selamat datang kembali, Yang Mulia Pangeran Kaelen. Dan ... selamat datang di Utara, Yang Mulia Putri Aura," pria paruh baya itu membungkuk dalam-dalam dengan penuh hormat. "Nama saya adalah Boris, kepala pelayan Istana Serigala Es. Segala kebutuhan Anda telah kami siapkan."
Aura memberikan anggukan anggun. "Terima kasih, Paman Boris. Mohon bantuannya selama aku berada di sini."
Boris sedikit terkejut mendengar nada suara Aura yang begitu tenang dan sopan. Di dalam hatinya, ia sempat mengira bahwa putri bangsawan dari ibu kota yang terbiasa dengan kemewahan akan langsung menangis atau mengeluh saat dihadapkan pada keganasan cuaca Utara. Namun, gadis remaja di hadapannya ini justru berdiri dengan tegak, matanya biru jernih seperti langit musim dingin, sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda kelemahan.
Akan tetapi, tidak semua orang di istana itu menyambut kedatangan Aura dengan hangat.
Saat mereka melangkah memasuki aula utama istana yang diterangi oleh obor-obor sihir api biru, sekelompok orang telah menunggu di dekat perapian raksasa. Di antara mereka, ada seorang wanita muda dengan gaun kulit berbulu merah marun. Rambutnya yang merah menyala dikuncir kuda, dan sepasang mata cokelatnya menatap Aura dengan pandangan penuh selidik dan permusuhan yang tidak disembunyikan.
Dia adalah Lady Freya, panglima perang wanita dari klan barbar Utara yang setia kepada Kaelen. Di kehidupan lalu, Aura tahu bahwa Freya adalah salah satu sekutu paling tangguh Kaelen yang gugur dalam pertempuran mempertahankan perbatasan.
"Jadi, ini gadis dari ibu kota yang membuat Anda mengikat sumpah darah secara tiba-tiba, Yang Mulia?" Freya melangkah maju, memotong jalur jalan mereka. Suaranya lantang dan tegas, bergema di aula batu tersebut. "Dia terlihat seperti boneka porselen yang akan pecah hanya dengan satu sentuhan angin Utara. Apakah kita benar-benar harus mempercayakan posisi Ratu Utara kepada seorang anak remaja yang naif?"
"Freya, jaga bicaramu." Suara Kaelen mendadak turun beberapa oktav, memancarkan aura intimidasi yang membuat para ksatria di sekitar mereka langsung menundukkan kepala. "Dia adalah istriku. Menghinanya sama saja dengan menantangku."
Freya tidak mundur, harga dirinya sebagai prajurit Utara membuatnya tetap tegak. "Saya tidak bermaksud menghina keputusan Anda, Yang Mulia. Namun, hukum Utara tetaplah hukum Utara. Siapa pun yang ingin menjadi pendamping penguasa Utara harus membuktikan bahwa dia bukan sekadar beban. Di sini, kita tidak butuh wanita yang hanya bisa bersolek dan merajuk."
Aura mengamati Freya. Di masa remajanya yang dulu, jika dihadapkan pada wanita intimidatif seperti Freya, Aura pasti akan bersembunyi di balik punggung Gavin atau menangis karena merasa terhina. Namun sekarang, Aura justru merasa senang. Sikap lugas orang-orang Utara jauh lebih baik daripada kemunafikan para bangsawan ibu kota yang tersenyum di depan namun menusuk dari belakang.
Aura melangkah maju, keluar dari perlindungan bayangan Kaelen, dan berdiri tepat di hadapan Freya. Meskipun tubuhnya lebih kecil dan usianya lebih muda, aura yang dipancarkan olehnya sama sekali tidak kalah menekan.
"Lady Freya benar," ucap Aura tenang, membuat semua orang di aula tertegun, termasuk Kaelen yang meliriknya dengan alis terangkat. "Di tempat yang keras seperti ini, kelemahan adalah dosa. Aku tidak meminta Anda atau siapa pun di istana ini untuk menghormatiku hanya karena gelar pernikahan kontrak ini. Katakan padaku, ujian apa yang harus kulalui untuk membuktikan bahwa aku layak berdiri di samping Pangeran Kaelen?"
Freya menyeringai, merasa tertantang oleh keberanian gadis remaja ini. "Bagus. Aku suka bicaramu yang tidak bertele-tele. Di sudut aula ini, ada batu ujian energi. Batu itu berasal dari dasar jurang Abyss dan memiliki berat serta tekanan magis yang setara dengan kekuatan satu peleton prajurit barbar. Jika kau bisa mengalirkan sihirmu dan membuat batu itu memancarkan cahaya tanpa hancur oleh tekanannya, aku akan berlutut dan mengakui dirimu sebagai ratu kami."
"Freya, itu terlalu berbahaya untuk seorang—" Boris mencoba menyela, cemas bahwa upacara penyambutan ini akan berubah menjadi bencana diplomatik.
"Aku menerima ujian itu," potong Aura cepat. Ia menatap Kaelen, memberikan tatapan meyakinkan yang mengatakan 'percayalah padaku'.
Kaelen menatap mata biru Aura selama beberapa detik, mencari keraguan, namun ia hanya menemukan tekad yang membara.
"Baiklah. Lakukan!" kata Kaelen akhirnya, melangkah mundur untuk memberikan ruang bagi Aura.
Aura berjalan menuju sudut aula, tempat sebuah batu hitam legam berukuran sebesar dada manusia bertengger di atas fondasi besi. Batu itu memancarkan aura magis kelabu yang terasa berat dan menyesakkan, membuat udara di sekitarnya seolah bergetar.
Aura menarik napas dalam-dalam. Ia mengingat kembali latihan spiritual yang ia lakukan bersama Kaelen di dalam kereta sihir selama tiga hari terakhir. Inti sihirnya yang menampung sihir es kuno kini telah teratur dan patuh di bawah kendalinya. Ini adalah kesempatan sempurna untuk menguji sejauh mana kekuatannya telah berkembang setelah regresi waktu ini.
Aura meletakkan kedua telapak tangannya yang halus di atas permukaan batu hitam yang dingin dan kasar itu.
Wush!
Seketika, tekanan magis yang sangat besar dari dalam batu itu melonjak keluar, mencoba menolak energi Aura dan menghancurkan pembuluh sihir di tangannya. Rasa sakit yang menusuk sempat membuat Aura mengernyitkan dahi. Di dalam benaknya, bayangan kegagalan dan ejekan Gavin kembali melintas. 'Kau terlalu naif, Aura. Mati saja dengan tenang'.
Tidak! batin Aura berteriak. Aku tidak akan gagal di sini! Jika aku bahkan tidak bisa menaklukkan batu ini, bagaimana aku bisa meruntuhkan Klan Elrod dan memotong kepala Gavin?!
Kemarahan dan dendamnya yang membara memicu reaksi ledakan di dalam inti sihirnya. Aliran energi biru es kuno yang murni dan masif melesat keluar dari telapak tangannya, menerobos masuk ke dalam inti batu hitam tersebut dengan paksa.
Krek! ... Krek! ....
Suara retakan es mulai terdengar. Namun, itu bukan batu yang retak karena hancur, melainkan lapisan es murni yang tebal yang mulai menjalar, membungkus seluruh permukaan batu hitam tersebut dari atas hingga ke bawah. Energi kelabu yang semula menekan dari dalam batu langsung ditekan habis-habisan oleh sihir es Aura.
Detik berikutnya, dari dalam lapisan es yang membungkus batu tersebut, seberkas cahaya biru es yang sangat terang dan menyilaukan memancar keluar, menerangi seluruh aula batu Istana Serigala Es dengan keindahan yang mistis dan dingin.
Seluruh ruangan seketika menjadi sunyi senyap.
Bahkan Freya terbelalak, mulutnya sedikit terbuka karena tidak percaya dengan apa yang baru saja disaksikannya. Batu ujian energi dari Abyss yang biasanya membutuhkan sirkulasi energi sihir konstan dari seorang master sihir dewasa untuk bisa menyala, kini telah dibekukan dan dipaksa tunduk oleh seorang gadis remaja berusia 17 tahun dalam hitungan detik.
"Sihir es kuno ...." Freya berbisik, suaranya bergetar. Sebagai orang Utara, ia tahu betul legenda tentang penyihir es kuno yang mampu membekukan seluruh pasukan monster hanya dengan satu ketukan jari. Kekuatan itu telah punah ribuan tahun lalu, dan kini kekuatan itu ada di hadapannya, dimiliki oleh gadis yang baru saja ia sebut boneka porselen.
Aura menarik kembali tangannya dengan anggun. Cahaya terang dari batu itu perlahan meredup, namun batu itu tetap terbungkus dalam es abadi yang tidak mencair sedikit pun meski berada di dekat perapian. Aura berbalik, menatap Freya dengan ekspresi tenang tanpa ada rasa angkuh.
"Apakah ini cukup untuk membuktikan bahwa aku tidak akan menjadi beban di Utara, Lady Freya?" tanya Aura lembut.
Freya menatap Aura, lalu beralih menatap Kaelen yang berdiri dengan tangan bersedekap di dada, sebuah senyuman bangga yang langka terukir di wajah tampannya. Tanpa ragu-ragu lagi, Freya menjatuhkan satu lututnya ke lantai batu yang dingin, menundukkan kepalanya dalam-dalam di hadapan Aura.
"Saya, Freya dari Klan Barbar Kapak Merah, memohon maaf atas kelancangan saya, Yang Mulia Ratu Aura. Mulai hari ini, kapak dan nyawa saya berada di bawah perintah Anda. Kekuatan Anda adalah kehormatan bagi Utara," ucap Freya dengan nada penuh ketulusan dan kesetiaan mutlak.
Para ksatria hitam di aula yang menyaksikan hal itu segera mengikuti tindakan Freya. Mereka semua berlutut secara serentak, membuat suara denting besi baju zirah mereka bergema megah di dalam aula.
"Hormat kami kepada Yang Mulia Ratu Aura!"
Aura menatap pemandangan itu dengan perasaan yang bergejolak. Di kehidupan lalu, ia hanyalah bidak catur yang tidak berdaya yang gerakannya ditentukan oleh keserakahan orang lain. Namun di kehidupan ini, di tempat yang paling dingin dan paling berbahaya di seluruh dunia fantasi Eldoria, ia baru saja mendapatkan pasukannya sendiri.
Kaelen melangkah mendekati Aura, berhenti di sampingnya. Ia meletakkan tangannya di atas bahu Aura, menunjukkan kepada seluruh dunia bahwa mereka adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan.
"Ujian pertama telah selesai," bisik Kaelen di dekat telinga Aura, napas hangatnya kontras dengan suhu ruangan. "Kau melakukannya dengan sangat baik, pengantin utaraku. Sekarang, saatnya kita masuk ke bagian dalam istana. Ada banyak hal yang harus kita persiapkan untuk menyambut pesta pernikahan kita minggu depan ... pesta yang akan memastikan bahwa berita tentang aliansi kita sampai ke telinga Gavin Elrod dengan cara yang paling menyakitkan."
Aura tersenyum, sebuah senyuman mawar es yang sangat indah namun mematikan. "Tentu saja, suamiku. Mari kita pastikan mantan tunanganku itu tidak bisa tidur dengan nyenyak mulai malam ini."
Pondasi di Utara telah diletakkan dengan sempurna. Dengan kekuatan barunya yang telah diakui dan kesetiaan para prajurit Utara yang telah ia genggam, Aura siap melangkah ke tahap berikutnya dari kultivasi kekuatannya sebelum ia kembali ke ibu kota untuk memulai tarian balas dendamnya.