Di dalam sebuah kamar sewaan yang sempit dan berbau lembap, seorang pemuda tiba-tiba tersentak bangun. Napasnya memburu, matanya yang tajam memancarkan kilatan cahaya keemasan sebelum akhirnya meredup dan berubah menjadi hitam pekat.
"Ini... di mana?"
Fang Yuan melihat kedua telapak tangannya. Halus, kurus, dan tidak ada bekas luka. Ini bukan tubuh kedagingan seorang Sovereign yang bisa menghancurkan galaksi dengan satu pukulan.
Dia menoleh ke meja belajar. Sebuah ponsel jadul menunjukkan tanggal: 20 Juni 2016.
Fang Yuan tertegun, lalu tawa pelan keluar dari tenggorokannya. Tawa itu semakin lama semakin keras, menggema di dalam kamar sempit tersebut.
"Hahaha! Kesengsaraan Surgawi sembilan warna ternyata tidak menghancurkanku! Aku, Fang Yuan, Sang Penguasa Surgawi Cangqiong, justru kembali ke masa usiaku delapan belas tahun?!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EAGLE EZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8.Pesan Darah
Malam yang dingin di puncak Gunung Jiangnan mendadak berubah menjadi neraka fana bagi para anggota Geng Harimau Hitam. Aura intimidasi yang memancar dari tubuh Fang Yuan membuat udara di sekitar mereka terasa seberat timah. Jangankan untuk kabur, untuk menggerakkan jari kaki pun mereka tidak sanggup.
"T-Tolong... ampuni kami... kami cuma menjalankan perintah!" ratap sang pemimpin geng, wajahnya yang penuh bekas luka kini basah oleh keringat dingin dan air mata ketakutan.
Fang Yuan melangkah mendekat dengan santai. Langkah kakinya tidak bersuara, namun di telinga para pembunuh itu, setiap langkahnya terdengar bagai ketukan lonceng kematian. Rambut biru keputih-putihannya berkilau diterpa cahaya bulan, dan mata kirinya yang keemasan menatap mereka dengan tatapan yang biasa digunakan manusia saat melihat semut yang mengantre mati.
"Menjalankan perintah?" Fang Yuan tersenyum nakal, sangat tipis dan dingin. "Di hadapan seorang Penguasa Surgawi, alasan sepele seperti itu tidak bisa menukar nyawa kalian."
Fang Yuan mengangkat tangan kanannya, lalu mengibaskannya ke depan dengan gerakan horizontal yang lambat, seolah sedang menyapu debu di udara.
*SREEEETTT!*
Gelombang energi murni (*Qi*) berbentuk sabit tajam tak kasat mata melesat dari ujung jarinya. Kecepatannya melampaui kecepatan suara.
*JLEB! JLEB! JLEB!*
Tanpa sempat berteriak, enam kepala anggota geng langsung terpisah dari tubuh mereka, menggelinding di atas rumput halaman vila. Darah segar menyembur tinggi seperti air mancur, menodai malam yang sunyi. Hanya dalam hitungan detik, dari sepuluh pembunuh bayaran profesional, kini hanya tersisa sang pemimpin yang terduduk lemas di tanah, celananya sudah basah kuyup karena ketakutan yang luar biasa.
Tubuh pria kekar itu gemetar hebat melihat seluruh anak buahnya tewas mengenaskan tanpa sempat menyentuh seragam sekolah bocah di depannya.
Fang Yuan berdiri di hadapannya, menunduk menatap sang pemimpin yang sudah kehilangan seluruh harga dirinya. "Aku sengaja menyisakan nyawamu. Tahu kenapa?"
"A-Apa... apa yang Anda inginkan, Master? S-Saya akan melakukan apa saja! Tolong jangan bunuh saya!" jerit sang pemimpin sambil bersujud hingga dahinya berdarah menghantam tanah.
Fang Yuan mengeluarkan secarik kertas putih dari saku jas almamaternya. Dengan ujung jari yang dialiri sedikit energi *Qi*, dia menulis beberapa huruf di atas kertas tersebut menggunakan darah segar yang berceceran di lantai halaman.
Pesan itu berbunyi singkat namun mengerikan: **"Gao Hongda, siapkan sepuluh peti mati untuk keluargamu sebelum matahari terbit."**
Fang Yuan melemparkan kertas berdarah itu tepat di depan wajah sang pemimpin geng yang pucat pasi.
"Bawa kertas ini dan serahkan langsung ke tangan Gao Hongda dan anaknya, Gao Yang. Katakan pada mereka, ini adalah surat penagihan nyawa dari Fang Yuan," ucap Fang Yuan dingin, nadanya sedatar es kutub. "Jika sampai besok pagi mereka tidak berlutut di kaki gunung ini untuk memohon ampun, aku sendiri yang akan menghapus nama Keluarga Gao dari Kota Jiangnan."
"B-Baik! Saya akan menyampaikannya sekarang juga! Terima kasih, Master! Terima kasih!"
Tanpa membuang waktu sedetik pun, sang pemimpin geng merangkak bangun, mengambil kertas itu dengan tangan gemetar, lalu berlari sekencang-kencangnya menuruni gunung seolah sedang dikejar oleh iblis paling mengerikan dari neraka jahanam.
Fang Yuan melihat kepergian pria itu dengan pandangan acuh tak acuh. Dia kemudian mengibaskan tangannya sekali lagi ke arah tumpukan mayat di halaman vilanya. Sebuah api kecil berwarna biru keperakan keluar dari telapak tangannya—*Api Jiwa Cangqiong*. Begitu api itu menyentuh tubuh dan darah di tanah, dalam sekejap semua barang bukti tersebut terbakar habis tanpa menyisakan abu maupun bau, membuat halaman vila kembali bersih seperti semula.
"Kultivasi tingkat tigaku sudah stabil," gumam Fang Yuan sambil menatap kedua telapak tangannya. "Besok pagi, saatnya menyelesaikan urusan dengan Keluarga Gao, lalu memulai langkah pertama untuk menguasai dunia bisnis Jiangnan."Malam itu baru saja dimulai, dan badai besar yang sesungguhnya siap menggulung seluruh elit Kota Jiangnan esok hari.