NovelToon NovelToon
Menikahi Ayah Mantanku

Menikahi Ayah Mantanku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / Perjodohan
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: Dunia_halusinasi

Diana Ayuningtyas, Berniat memberikan kejutan. dengan sengaja mendatangi Apartemen Gilang Wijaya - sang kekasih, untuk merayakan ulang tahunnya.

Tetapi malah mendapatkan kenyataan bahwa kekasihnya ternyata tinggal bersama wanita lain.

"Kamu siapa ?"

"Aku? Aku tunangan pemilik Apartemen ini!"

Duarrr...

Diana langsung terdiam mematung, tidak ingin percaya.

"Sayang ! Siapa yang datang ?"

Tapi suara Gilang dari dalam, yang memanggil wanita di depannya ini dengan panggilan mesra, membuatnya tidak bisa menahan nya lagi.

Sebelum Gilang datang, Diana segera pergi dengan air mata yang perlahan mengalir.

Lift perlahan tertutup, matanya menatap lurus ke depan, hatinya bergemuruh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dunia_halusinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30

Bab 30: Malam Tanpa Batas Cinta

Setelah mengeluarkan segala keresahan, rasa cemburu, dan ketakutannya, hati Diana terasa jauh lebih ringan.

"Mas"

"Apa, sayang ?"

Diana mencium bibir suaminya "Kamu, mau punya anak sama aku?"

Arga tertegun, tapi kemudian tersenyum dengan lebar.

"Tentu saja, aku ingin memiliki banyak anak denganmu, hanya saja Mas tidak akan memaksa. Jika kamu mau dan siap, Mas akan sangat berterimakasih" Ujar Arga dengan perasaan bahagia.

"Aku juga mau, dan selalu siap untukmu!" Diana mencium bibir suaminya lagi.

"Terimakasih, sayang!" Arga memeluk istrinya erat.

Di dalam pelukan Arga yang hangat, Diana merasa tidak ada lagi ruang bagi keraguan.

Ia adalah satu-satunya wanita di hati pria itu, dan malam ini ia ingin membuktikan betapa dalam cintanya, sekaligus memastikan bahwa tidak ada ruang sedikit pun bagi wanita lain untuk masuk di antara mereka.

“Sudah tenang sekarang?” tanya Arga lembut, menyisir rambut istrinya yang masih sedikit basah.

Diana mengangguk, tersenyum manis dengan mata yang masih sedikit berkaca.

“Sudah, Mas. Terima kasih sudah mendengarkan dan meyakinkan aku. Aku janji tidak akan membiarkan omongan orang lain mengganggu kita lagi.”

Arga mencium dahinya dalam-dalam. “Bagus. Sekarang, biar Mas mandi dulu, Nanti kita langsung istirahat, kamu pasti udah capek kan?” Ujar Arga sambil mencolek hidung sang istri.

Diana hanya mengangguk sambil tersenyum penuh makna.

Begitu Arga berdiri dan membawa handuk menuju kamar mandi, menutup pintunya dengan rapat, detak jantung Diana mulai berpacu lebih cepat.

Ia sudah menyiapkan kejutan kecil yang ia simpan di dalam tasnya, sebuah pakaian tidur yang sengaja ia beli khusus untuk malam ini —

terbuat dari bahan sutra tipis yang lembut, berwarna gading pucat dengan hiasan renda halus di bagian pinggang dan bahu, tembus pandang namun tetap terlihat elegan, bukan sekadar pakaian yang berlebihan .

Diana bergerak cepat dan hati-hati.

Ia melepas pakaian tidur biasa yang ia kenakan, lalu menggantinya dengan gaun sutra itu.

Bahan itu terasa sangat ringan dan dingin saat menyentuh kulitnya, membuatnya merinding seketika.

Ia berdiri di depan cermin, memutar tubuhnya perlahan, melihat bagaimana cahaya lampu kamar yang redup menerobos kain tipis itu,

memperlihatkan lekuk tubuhnya secara samar dan sangat menggoda.

"Sempurna" Gumamnya

Dengan senyum percaya diri, ia mengatur posisi rambutnya, menjatuhkannya terurai bebas menutupi sebagian bahu dan punggungnya, lalu berjalan mendekat ke tempat tidur dengan langkah yang lambat dan anggun, seolah sedang berpose di depan kamera layaknya model musim panas yang memikat .

Beberapa menit kemudian, suara pintu kamar mandi terbuka.

Arga keluar dengan rambut basah yang masih meneteskan air, mengenakan handuk yang melingkar di pinggangnya,

memperlihatkan dada bidang dan lengan yang berotot.

Tetapi, langkahnya terhenti seketika, matanya membulat tak percaya saat pandangannya jatuh pada sosok istrinya yang duduk di tepi tempat tidur.

Diana menatapnya dengan pandangan lembut penuh godaan, menyandarkan tubuhnya sedikit ke belakang, menopang dengan kedua tangan di kasur sehingga lekuk tubuhnya terlihat semakin jelas.

Senyumnya mengembang, matanya berbinar penuh cinta dan hasrat yang terpendam.

“Mas sudah selesai?” suaranya terdengar lebih lembut dan merdu dari biasanya, membuat jantung Arga berdebar kencang.

Arga terpaku di tempatnya, menelan ludah dengan susah payah.

Matanya tidak mampu berpaling dari sosok istrinya yang terlihat begitu memukau malam itu.

Gaun sutra tipis itu membiarkan bayang tubuhnya terlihat samar, ditambah dengan rambut terurai yang menambah kesan liar namun tetap anggun.

Napas Arga terasa sedikit memburu, rasa dingin dari air mandi seketika berganti dengan rasa hangat yang menjalar ke seluruh tubuhnya.

“Sayang… kamu…” Arga tidak mampu melanjutkan kata-katanya, langkah kakinya bergerak mendekat secara otomatis, seolah ada magnet yang menariknya mendekat.

Begitu berada di depan Diana, Arga berjongkok dan mengangkat dagu istrinya perlahan.

Matanya menatap dalam, penuh kekaguman dan keinginan yang meluap-luap. “Kamu terlihat sangat indah malam ini, sayang. Lebih indah dari apa pun yang pernah Mas lihat.”

Diana tersenyum malu, lalu melingkarkan kedua lengannya di leher Arga, menarik pria itu mendekat hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa senti.

“Aku ingin membuat Mas hanya melihatku, hanya merasakanku, dan tidak memikirkan hal lain malam ini. Izinkan aku menunjukkan betapa aku mencintaimu, Mas.”

Tanpa menunggu jawaban, Diana mendekatkan bibirnya, menyentuh bibir Arga dengan ciuman yang lembut namun penuh hasrat.

Arga meresponsnya seketika, membalas ciuman itu dengan lebih dalam dan penuh gairah, memeluk pinggang istrinya erat hingga tubuh mereka saling menempel sempurna.

Rasa lembut kain sutra di kulit Diana terasa semakin menambah kenikmatan sentuhan, membuat batas antara cinta dan hasrat melebur menjadi satu.

Malam itu, waktu seolah berhenti berputar.

Di dalam kamar yang hanya diterangi cahaya lampu tidur yang redup, mereka saling memeluk, mencium, dan merasakan kehadiran satu sama lain dengan lebih mendalam dari sebelumnya.

"Eunghhhh...."

Diana yang biasanya terlihat lembut dan pendiam, malam itu berubah menjadi lebih berani, agresif, dan penuh gairah, memandu setiap sentuhan dan ciuman seolah ingin menghapus segala keraguan yang sempat ada di hatinya.

"Massss...."

Ia membiarkan seluruh rasa cintanya tumpah ruah, menunjukkan bahwa ia adalah milik Arga sepenuhnya, jiwa dan raga.

Arga pun tidak kalah terpesona.

"Sayangghhh..."

Ia menyambut setiap gerakan dan sentuhan Diana dengan penuh kasih sayang dan perhatian, memastikan bahwa istrinya merasa nyaman, dicintai, dan dihargai.

Setiap belaian, setiap ciuman, dan setiap bisikan kata cinta yang terucap di antara mereka mempererat ikatan batin yang sudah terjalin.

Malam ini terasa lebih hangat, lebih dalam, dan lebih membara dibandingkan malam pertama mereka bersatu.

Seolah-olah, malam ini menjadi tanda baru: kepercayaan yang kembali terbangun, lebih kuat dari sebelumnya, dan cinta yang semakin menyala tanpa batas.

Jam terus berputar menuju dini hari, namun mereka belum merasa lelah.

Di dalam pelukan satu sama lain, mereka menghabiskan waktu sepanjang malam itu, menjelajahi setiap sudut hati dan tubuh pasangan, mengukir kenangan yang takkan terlupakan.

Tidak ada lagi bisikan orang luar, tidak ada lagi nama Wulan, tidak ada lagi rasa takut kehilangan. Hanya ada mereka berdua, cinta yang tulus, dan kehangatan yang menyelimuti seluruh ruangan.

Saat fajar mulai menyingsing, menyelinap masuk melalui celah tirai jendela dengan cahaya keemasan yang lembut, Diana terbaring lemas namun merasa sangat bahagia di dada bidang Arga.

Tubuhnya terasa lelah, namun hatinya terasa penuh, damai, dan sangat dicintai. Arga memeluknya erat, mencium puncak kepalanya dengan lembut, napasnya teratur namun masih terasa hangat.

“Malam ini… malam yang paling indah dalam hidupku,” bisik Arga dengan suara serak namun penuh kasih. “Terima kasih, Sayang. Kamu telah membuatku merasa menjadi pria paling beruntung di dunia.”

Diana mengangkat wajahnya, menatap mata suaminya dengan senyum yang paling tulus. “Aku juga, Mas. Semua rasa takutku hilang sudah. Aku tahu, selama kita saling percaya dan mencintai, tidak ada yang bisa memisahkan kita.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!