NovelToon NovelToon
TO MARRY A REGEN

TO MARRY A REGEN

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat / Mengubah Takdir
Popularitas:688
Nilai: 5
Nama Author: byKaru

“Cinta bisa menjadi rumah yang nyaman, atau justru belenggu yang tak terlihat”

Arin sudah menikah dengan seorang pengusaha yang terkenal dan sangat sukses. Pernikahan yang diimpikan banyak orang. Dari Luar kehidupan Arin sangat sempurna, suami yang tampan, kekayaan yang melimpah, dan status sosial yang dihormati. Namun, hanya Arin yang tahu bahwa di balik kemewahan itu, ada sesuatu yang tidak boleh diketahui siapa pun.

Semua baik-baik saja, aku bisa mengatasinya, aku tidak butuh siapapun. Tekanan, trauma, stres, dan emosi yang sering ditahan oleh Arin perlahan menumpuk di dalam dirinya, dengan mengabaikan rasa sakit dan setiap trauma yang menghampirinya, tanpa sadar tubuh Arin mulai bereaksi terhadap setiap beban yang selama ini dia abaikan. di malam yang tenang tanpa kendali Arin mulai berjalan dalam tidurnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byKaru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20: Perjanjian

Arin masih terdiam, bingung dan terkejut, mencoba mencerna apa yang barusan ia dengar. Sementara itu Nathan tetap berdiri tak terusik oleh dampak ucapannya, seolah-olah semuanya sudah lama ia pikirkan. Dan sekarang, ia hanya menunggu jawaban dari Arin.

"Aku akan membayar semua hutangmu," lanjut Nathan. Saat ini, hanya itu yang bisa ia tawarkan. Namun, Nathan tidak tahu bahwa pernikahan ini tidak hanya akan melunasi hutang Arin, tetapi juga mengubah seluruh hidupnya.

Arin mendongak, menatap Nathan kembali. Mendengar tawaran itu membuatnya sedikit tergoda. Jujur saja, beban hutang itu memang sudah lama menggerogoti dirinya, mental, keuangan, bahkan kestabilan hidupnya terganggu. Ia merasa seperti bekerja hanya untuk membayar hutang.

Tapi menikah? Arin masih ragu. Ia bahkan sempat berpikir untuk tidak pernah menikah seumur hidupnya, terutama setelah menyaksikan apa yang harus dilalui Mamanya dalam hubungan yang disebut pernikahan itu.

"Aku… aku tidak tahu harus mengatakan apa. Pak Nathan, apa anda mabuk?" tanya Arin sembarangan, masih sulit mempercayai apa yang baru saja ia dengar.

"Berarti kau setuju," tegas Nathan cepat karena ia tidak mendengar penolakan dari Arin.

"Aku tidak mengatakan itu," jawab Arin segera.

"Pernikahan ini hanya akan menjadi status, tidak akan mempengaruhi kehidupanmu," lanjut Nathan lagi.

"Tapi… kenapa aku? Pak Nathan bisa menikahi wanita mana pun. Kenapa memilihku?" Arin benar-benar bingung. Jujur, tawaran itu terdengar mustahil, seorang Nathan Regen memintanya menikah?

"Karena kau membutuhkan bantuan, dan aku membutuhkanmu," jawab Nathan mantap, masih berdiri di depan Arin, menatapnya tanpa ragu.

Namun jawaban itu justru membuat Arin semakin bingung, bukan puas.

"Apa maksud Pak Nathan membutuhkanku? Aku tidak akan bisa membantu apa pun. Aku hanya wanita biasa, aku tidak akan bisa membantu," jelas Arin, yakin dengan penilaiannya sendiri.

"Aku tidak akan memintamu melakukan apa pun. Kau hanya perlu menjadi istriku, itu saja. Dan aku akan membantumu melunasi hutangmu," jelas Nathan sekali lagi.

Arin masih terpaku, menimbang-nimbang semua yang baru saja ia dengar. Sementara itu, Nathan sudah bergerak menuju meja dan mengambil tas Arin yang terletak di sana.

"Kita pulang," ucap Nathan yang sudah kembali berdiri di depannya.

"A… apa?" Arin tersentak.

Tanpa menjelaskan lebih lanjut, Nathan memegang tangan Arin dan membawanya keluar dari kamar VVIP itu. Arin, yang masih dipenuhi kebingungan yang mendalam, hanya bisa mengikuti langkah Nathan.

Begitu mereka tiba di depan rumah sakit, Nathan tiba-tiba mengangkat tubuh Arin. Arin sangat terkejut, namun ia tidak sempat menolak.

"Ada beberapa paparazzi di sana. Biarkan mereka mengambil foto kita," jelas Nathan.

Mendengar itu, Arin hendak menoleh untuk mencari keberadaan mereka.

"Jangan mencarinya," ucap Nathan sambil mengeratkan tubuh Arin pada dadanya. Arin pun mengerti dan hanya diam, lalu menundukkan wajahnya.

Tak menunggu lama seorang sopir yang baru saja tiba dengan mobil Nathan segera turun dan langsung membukakan pintu. Nathan lalu memasukkan Arin ke dalam, lalu diikuti olehnya.

Di dalam mobil, tidak ada obrolan apa pun yang terjadi. Nathan sibuk dengan ponselnya, menggulir setiap berita mengenai dirinya:

~ Siapakah wanita yang sedang bersama Nathan Regen? ~

~ Nathan Regen, putra kedua dari Victor Regen, membawa istrinya ke rumah sakit ~

~ Nathan Regen menggendong istrinya yang sedang sakit ~

~ Seorang wanita menggugurkan kehamilannya, Nathan Regen menemaninya ~

~ Nathan Regen membawa wanita ke rumah sakit, apa mereka menggugurkan kandungan? ~

~ Istri Nathan Regen ~

Nathan terus menggulir dan memperhatikan semua headline tersebut, tapi ia sama sekali tidak terganggu. Malah, senyum tipis muncul di wajahnya.

Di sisi lain, Arin sedang sibuk dengan pikirannya sendiri. Apa yang aku lakukan di sini? Sebenarnya apa yang sedang terjadi? Apa aku akan benar-benar menikah dengan Pak Nathan? Dan sekarang, ke mana aku sedang dibawa? Semua pertanyaan itu terus menguar dalam benak Arin, sampai akhirnya mobil mereka berhenti, menghentikan lamunannya.

Lalu tanpa mengatakan apa-apa, Nathan turun dari mobil dan langsung masuk ke kursi kemudi. Supir yang baru saja mengantarkan mereka segera turun lalu pergi begitu Nathan menyerahkan sesuatu padanya.

Arin masih diam, memperhatikan Nathan dari kursi belakang. Mobil itu berbelok masuk ke kawasan elite, sebuah private residence yang hanya dihuni oleh dua ratus unit eksklusif. Gerbangnya tinggi dan dijaga ketat, dengan jalan masuk yang senyap dan tertata rapi oleh pepohonan serta cahaya lampu taman yang lembut.

Tanpa berhenti, mobil Nathan terus melaju menuju bangunan utama. Begitu sampai di lobi, mobil itu tidak berhenti di area parkir, melainkan langsung masuk ke dalam lift kendaraan, sebuah ruangan logam luas yang hanya dapat diakses oleh penghuni tertentu. Arin sempat menoleh ke sekeliling sebelum pandangannya kembali tertuju pada Nathan, namun pria itu tetap membisu.

Beberapa detik kemudian, lift mulai bergerak naik, membawa mereka langsung menuju lantai unit Nathan. Begitu pintu lift terbuka, Nathan segera keluar dari mobil. Tidak demikian dengan Arin, ia masih terdiam di kursi belakang, bingung tak tahu apa yang harus diperbuat.

Klak..

Nathan membuka pintu mobil tempat Arin masih duduk mematung.

"Keluarlah," ucapnya sambil sedikit membungkuk, menatap Arin yang masih terpaku di dalam mobil. Arin menatap Nathan, tetapi tubuhnya tak kunjung bergerak. Nathan akhirnya meraih tangan Arin dan menariknya perlahan. Mau tak mau, Arin pun keluar.

Begitu keluar, Arin terpana oleh pemandangan di depan matanya. Terbentang ruangan yang begitu luas dan terang, dengan dinding kaca menjulang dari lantai hingga langit-langit, memamerkan pemandangan kota di bawahnya. Ribuan lampu berkilauan memantul di permukaan kaca, menciptakan ilusi seolah-olah ruangan ini menggantung di udara. Lampu gantung berwarna keemasan memantulkan cahaya hangat ke lantai marmer putih yang mengilap.

Di sisi kiri, dua sofa panjang berwarna gading tersusun saling berhadapan, diapit oleh meja marmer putih yang kokoh dengan permukaan halus. Di atasnya tergeletak beberapa buku seni serta dua mangkuk dekoratif berwarna hitam keemasan yang memantulkan cahaya lembut dari lampu di atasnya.

Sedikit lebih ke dalam, di area yang lebih privat dari ruangan utama, terpancang sebuah perapian panjang bergaya modern yang menyatu dengan dinding. Api berwarna jingga keemasan menari-nari lembut di balik panel kaca hitam, memantulkan cahayanya yang hangat pada permukaan lantai marmer dan sofa melengkung besar berwarna krem yang menghadap langsung ke perapian. Di sekelilingnya, dua kursi berwarna beige dan sebuah meja rendah dengan bentuk geometris hitam menciptakan kesan minimalis namun elegan.

Beberapa karya seni abstrak menghiasi dinding, satu dengan dominan putih dan garis-garis tegas, sementara lainnya menampilkan gradasi biru tua yang dalam. Di sudut ruangan, berdiri sebuah meja konsol berkaki besi hitam dengan permukaan kaca, di atasnya terpajang vas kristal bening berisi rangkaian bunga putih yang masih segar.

Udara di dalam ruangan terasa hening, nyaris tanpa suara selain dengung lembut AC dan desiran halus api di perapian. Setiap sudut ruangan tampak bersih, sempurna, dan tertata dengan presisi, lebih menyerupai galeri seni daripada sebuah rumah.

Andai Arin harus mendeskripsikan semua yang ia lihat, ia tak akan sanggup mengungkapkannya dengan kata-kata. Bahkan, tanpa disadari, mulutnya sedikit terbuka, begitu takjub akan pemandangan di hadapannya.

"Ayo," ucap Nathan, menoleh ke arah Arin. Namun, Arin masih saja tidak bergerak. Nathan akhirnya kembali menarik tangan Arin dengan lembut dan membimbingnya untuk duduk di sofa.

Nathan pergi sebentar untuk mengambil minuman, lalu kembali menghampiri Arin. Ia meletakkan segelas air putih di atas meja tepat di depan Arin, kemudian duduk di sofa yang berseberangan dengannya.

"Kita akan menikah besok," ucap Nathan membuka percakapan.

Mendengar itu, Arin langsung menatap Nathan. Wajahnya jelas memperlihatkan keterkejutan.

"Pak Nathan, aku rasa ini semua terlalu terburu-buru. Terlalu cepat. Hari ini aku baru saja bertarung untuk hidupku, dan dalam hitungan jam, aku akan menikah? Aku... aku..."

"Benar," potong Nathan tiba-tiba, "Kau belum memberitahuku kenapa kau berlari di hotel dan berteriak minta tolong."

Arin kembali diam, enggan menjawab.

"Kau akan segera menjadi istriku. Semuanya harus diselesaikan. Dokter mengatakan ada tanda kekerasan fisik, jelaskan padaku." Nathan sebenarnya sudah menebak hal yang negatif, tetapi ia ingin mendengarnya langsung dari Arin.

Namun, Arin masih saja membisu. Tanpa sadar, kuku kedua ibu jarinya menekan-nekan jari telunjuknya, menandakan kegugupannya yang makin menjadi. Nathan menyadari hal itu, dan justru membuatnya semakin ingin tahu.

"Arin... aku ada di pihakmu. Kau bisa mengatakannya."

Ucapan Nathan membuat Arin tertegun. Ia menatap Nathan, dan tangan yang sedari tadi gelisah akhirnya menjadi tenang. Perkataan Nathan memberikannya sedikit keberanian, entah dari mana asalnya, Arin pun tidak mengerti.

Namun, mendengar seseorang menyatakan berada di pihaknya membuatnya merasa tidak sendirian menghadapi masa sulit ini. Hanya Intan yang pernah mengatakan hal serupa, dan ini pertama kalinya ia mendengarnya dari orang lain.

"Aku... aku... General Manager... di ruangannya... dia..." Tanpa sadar, Arin menggenggam erat lengan kirinya dengan tangan kanan. Genggamannya begitu kencang hingga buku-buku jarinya memutih. Nathan memperhatikan hal itu. Ia lalu berdiri dan berpindah ke sofa kecil di dekat tempat Arin duduk, membuat jarak antara mereka menjadi lebih dekat.

Nathan meraih tangan kanan Arin dengan lembut, membantunya melepaskan genggaman yang tanpa sadar menyakiti dirinya sendiri. Arin seakan tidak merasakan sakit itu, terlalu tenggelam dalam gejolak emosinya.

Begitu genggaman itu terlepas, Nathan mengambil ponsel dari saku jaketnya. Ia menekan beberapa tombol di sana sebelum menempatkan ponsel itu di telinganya.

"Bantu aku menyelidiki sesuatu. Ambil seluruh rekaman CCTV dari ruang General Manager di Virelle Hotel. Setelah itu, siapkan tuntutan hukum dengan ancaman dua puluh tahun penjara dan denda miliaran.Tidak perlu memikirkan apakah tuntutannya masuk akal, Pastikan tuntutan ini menghancurkan hidupnya. Kau mengerti?" ucap Nathan dengan suara dingin.

Ia terdiam sejenak sebelum melanjutkan, "Satu hal lagi. Pastikan wajah wanita yang terekam di CCTV tidak sampai bocor ke media." setelah mengatakan itu, Nathan mengakhiri panggilannya.

Arin yang mendengar semua percakapan itu, untuk pertama kalinya merasa bisa berdiri tegak dan mengangkat kepalanya. Rasanya seperti ada seorang pahlawan yang berdiri di depannya, menghalau segala hal yang dapat mengancamnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!