NovelToon NovelToon
Benang Tanpa Ujung

Benang Tanpa Ujung

Status: tamat
Genre:Angst / Suami Tak Berguna / Penyesalan Suami / KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga) / Tamat
Popularitas:39.7k
Nilai: 5
Nama Author: novi niajohan

Kisah ini bercerita tentang seorang wanita peranakan Tionghoa yang bernama Melin sering disapa Alin dan bermarga Lim, yang memiliki seorang suami pemabukan dan juga gemar berjudi bernama Yudi atau sering dipanggil koh Judi oleh teman-teman perjudiannya.

Kekerasan dalam rumah tangga juga sering terjadi didalam keluarga Alin, apalagi jika Yudi kalah berjudi dalam keadaan mabuk.

Bagaimanakah kisah Alin dalam menjalani bahtera rumah tangganya dan apa alasan wanita itu selalu kuat menghadapi sikap suami yang selalu kasar terhadapnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novi niajohan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5. Kelakuan Yudi.

Sore harinya.

Sebuah motor tua dengan gerobak besar didepannya telah terparkir didekat warung sembako Alin. Dia adalah Pak Marsan, orang yang sering mengantarkan kebutuhan pokok sembako ke warungnya Alin.

"Alin," panggil Pak Marsan lalu seperti biasa ia duduk di bale.

"Ya Pak Marsan, tunggu sebentar ya!" sahut Alin mengerti lalu mengeluarkan buku catatan dan juga beberapa uang tunai dalam laci.

Sedangkan Pak Marsan juga mengeluarkan bukunya dari dalam tas lusuh untuk dicocokkan dengan Alin.

"Ini Pak setorannya," ucap Alin menyodorkan uang tunai hasil jualannya.

Pak Marsan menghitung jumlah uang setoran tersebut dan dahinya seketika mengerut saat menghitung jumlah uang yang tidak sama dengan jumlah dalam nota catatan yang seharusnya dibayarkan.

"Lin, ini duitnya kurang goban go (lima puluh lima ribu rupiah)," ucap Pak Marsan menunjukkan uang yang ia hitung dengan menjejerkannya diatas meja agar Alin melihat.

"Iya maaf Pak, hari ini kayaknya setoran Alin kurang lagi. Dicatat aja ya Pak kurangnya," balas Alin meminta maaf.

Pak Marsan menghela nafas panjang. "Alin, dari kemarin elu kasih setoran kurang melulu. Kalau begini terus Bapak bisa bangkrut! Alin tahu sendiri kan kalau Bapak juga harus muterin duitnya lagi buat beli bahan sembako."

"Ya Pak Marsan, maaf. Tapi mau bagaimana lagi, memang segitu yang Alin dapat hari ini," balas Alin.

Pak Marsan menggeleng. "Enggak mungkin Lin, Bapak tahu bahan sembako itu banyak pembelinya. Ini pasti duitnya kepake buat yang enggak-enggak ya sama laki lu si Yudi itu?" terkanya.

Alin tertunduk lemas dan mengangguk. "Ya Pak, duitnya kepake sama koh Yudi."

Pak Marsan menghembus nafasnya kasar, merasa kesal dengan kelakuan putra dari almarhum teman baiknya itu. "Dasar si Yudi itu, sudah jadi lelaki pemalas tidak mau bekerja. Gila judi, pemabokan pula! Kalau bukan si Kim Sun teman baik Bapak dulu dan Bapak juga kasihan sama elu Lin, Bapak sudah malas ngirim barang kesini sebenarnya!"

Alin hanya bisa terdiam, mendengarkan Pak Marsan yang mengoceh mengutuki sikap suaminya. Wanita itu juga tidak bisa memungkiri jika sikap Yudi benar-benar tidak patut untuk ditiru.

"Ya sudah, kalau begitu Bapak maklumi kekurangan setoran hari ini. Tapi inget ya Alin, besok-besok kalau kurang setoran lagi. Terpaksa Bapak akan kurangi pengiriman dari seperti biasanya," ucap Pak Marsan sambil menggeleng tidak habis pikir.

"Terima kasih Pak Marsan! Alin janji besok-besok tidak kurang lagi duit setorannya," balas Alin bersyukur.

Pak Marsan mengangguk ikhlas. "Ya sudah, kalau begitu Bapak turunin barang-barangnya."

"Ya Pak!" seru Alin semangat dan membantu Pak Marsan mengangkat semua bahan sembako seperti minyak, beras karungan tepung dan lain sebagainya ke dalam warung.

Setelah aktifitas berat yang cukup melelahkan usai, Alin menutup warung dan segera menuju dapur karena ingin menyiapkan makan malam untuk keluarganya.

Dan setelah makan malam siap, Alin segera memanggil Yuan untuk makan.

"Yuan makan dulu yuk! Ada telor ceplok kesukaan kamu nih!" panggil Alin.

Tak butuh waktu lama Yuan keluar dari kamarnya dan duduk manis dibangku sambil menunggu sang ibu menyendok nasi dan lauk untuk dirinya.

"Nah makanlah!" ucap Alin.

"Ya Ma, terima kasih." Yuan mengucapkan doa sebelum makan, doa yang diajari Yuan selama ia bersekolah dan hal itu tentu membuat Alin merasa tersindir oleh putranya sendiri.

Dimana ia jarang sekali mengajari pendidikan agama yang ia anut kepada putranya itu, bahkan ia sendiri sudah jarang sekali beribadah semenjak menikah dengan Yudi.

Akan tetapi bukannya Alin tidak ingin mengajari itu semua kepada Yuan, melainkan Alin masih belum punya waktu karena terlalu sibuk mengurus rumah tangga.

Namun disepanjang hidup Alin, ia bertekad untuk tetap berusaha memberikan nasihat kepada putranya itu sesuai dengan ajaran agama, agar Yuan menjadi orang baik dan hidup sesuai dengan Dhamma.

...***...

Malam harinya.

Sebelum tidur, Alin menyempatkan diri mendengarkan Yuan berlatih menyanyikan satu lagu, untuk acara hari ibu yang akan dibawakan oleh kelas putranya itu dalam acara hari ibu di sekolah pada hari senin minggu depan.

Alin duduk dilantai bagai seorang penonton, sedangkan Yuan berdiri diatas ranjang, sambil membayangkan dirinya tengah berdiri diatas panggung.

Lalu tak lama setelah Yuan memberi hormat, pria kecil itu mulai bernyanyi.

"Kasih ibu ... Kepada beta ... Tak terhingga sepanjang masa ... Hanya memberi ... Tak harap kembali ... Bagai sang surya menyinari dunia ..."

Alin bertepuk tangan setelah Yuan selesai bernyanyi dan memberi hormat, ada kenangan tersendiri bagi Alin saat mendengar lagu tersebut. Dimana ia teringat akan sosok ibu kandungnya yang telah tiada.

Wanita yang sangat menyayanginya dan seketika Alin rindu dengan sosok tersebut, rindu akan kasih sayang dan Alin mentauladani sikap bajik sang ibu, dengan menyayangi kedua anaknya sekarang ini.

"Bagaimana suara kokoh tadi Mah?" tanya Yuan seakan ingin tahu hasil nyanyiannya.

Alin tersenyum. "Bagus! Bagus sekali, tapi Yuan harus lebih banyak belajar lagi ya. Biar hasilnya bagus nanti saat nyanyi bersama teman-teman di atas panggung," balasnya memuji.

Yuan tentu merasa senang, hingga ia spontan melompat-lompat diatas kasur. Namun kesenangan itu tidak berlangsung lama, karena tiba-tiba saja Yudi masuk ke dalam kamar dalam keadaan sempoyongan akibat mabuk dan segera mendorong Yuan agar menjauh dari tempat tidur.

"Minggir! Kebiasaan lu jadi anak lelompatan aja di kasur, ini tempat tidur bukan tempat bermain!" sentak Yudi. Lalu merebahkan tubuhnya diatas kasur.

Yuan pun turun dari ranjang dan segera memeluk ibunya. "Mama ... " ucapnya takut. Sambil membenamkan wajah mungilnya di dada sang ibu.

Alin tentu kesal melihat Yudi yang berlaku kasar kepada anaknya, apalagi suaminya itu sudah memejamkan kedua mata padahal belum mandi sehabis bermain di rumah temannya.

"Koh, mandi dulu!" tegur Alin tidak suka mencium aroma tidak sedap dari tubuh suaminya.

"Bawel!" sentak Yudi tidak peduli.

Alin mengurut dadanya karena kesal, sikap Yudi yang selalu seenaknya dan tidak mempan nasihat, membuat Alin mengalah dan tidur bertiga bersama dengan kedua anaknya daripada harus tidur bersama suami yang malas mandi.

...***...

Keesokan paginya.

"Alin! Alin!" panggil Yudi di depan meja makan.

"Ada apa sih Koh teriak-teriak? Enggak lihat apa aku lagi mandiin Yuan?" sahut Alin dari kamar mandi.

"Perut gua lapar, cepet bikinin lauk!" perintahnya.

"Itu ada telor dadar!" sahut Alin.

"Enggak mau, bosen gua! Gorengin ayam kek," balas Yudi menutup kasar tudung saji di atas meja.

"Ya tunggu!" sahut Alin bergegas.

Tak butuh waktu lama, Alin menyiapkan sarapan pagi sesuai dengan keinginan suaminya itu. Lalu berganti mengurus Yuan memakaikan seragam sekolahnya.

"Alin air minumnya mana?" tanya Yudi.

"Ambil sendiri ya Koh, Alin lagi repot!" jawab Alin sibuk memakaikan pakaian Yudi.

Yudi menggebrak mejanya dan marah. "Suruh si Yuan pakai sendiri bajunya! Jangan manja! Elu urusin gua dulu disini!"

Alin mendengus kesal, ia tersenyum menatap Yuan sambil mengancingkan kemeja bajunya. "Mama, urusin Papa sarapan dulu ya. Kamu bisa kan pakai kaos kaki dan sepatu sendiri?"

Yuan mengangguk. "Bisa," jawabnya.

"Pinter, habis pakai sepatu kita berangkat ya."

"Iya Ma," balas Yuan.

"Alin!" panggil Yudi semakin memekakan telinga.

"Ya Koh tunggu!" sahut Alin lalu bergegas menghampiri suaminya ke dapur untuk mengambilkan air minum.

"Ini airnya," ucap Alin menaruh gelas dihadapan Yudi.

"Hem, taro aja disitu. Kalau ketemu sama si Ayong tolong bilangin suruh dia datang ke rumah, gua mau pasang buntut sama pa-kong! Kebetulan tadi malam gua mimpi jelas banget, siapa tahu gua bisa kena empat angka! Kan lumayan duitnya bisa buat mabok lagi," balas Yudi tanpa dipikir kembali.

"Kenapa sih Koh percaya banget sama pasang-pasang buntut kayak begitu. Itu kan sudah diatur sama bandar, jadi kita enggak mungkin bisa menang dengan mudah," balas Alin mengingatkan.

Yudi mengangkat wajahnya dan menatap Alin kesal. "Gua enggak butuh ceramah elu, gua suruh panggil, panggilin aja si Ayong!"

Alin menghela nafas panjang dan sebal. "Ya kalau ketemu," balasnya lalu pergi mengantar Yuan ke sekolah.

.

.

Bersambung.

1
Anonim
keren
Joan
terharu banget dengan perjuangannya Alin. sangat menginspirasi sekali
Noviyanti: terima kasih
total 1 replies
Dewi Payang
Aku suka yg berbahan ba-bi kak😁👍
Dewi Payang: Lezat😄👍
total 2 replies
Dewi Payang
Demi duit ya Tina😁😁
Dewi Payang
Ya ampun, nyumpahin pula, tar kebalik ke diri sendiri😁
🌻⃝⃟𝓜֟፝•ᴿʸ MENTARY
Happy Ending Novel
Ry Otw ke novel baru
🌻⃝⃟𝓜֟፝•ᴿʸ MENTARY
jd bumi ngidam buah Kana
🌻⃝⃟𝓜֟፝•ᴿʸ MENTARY
Ini itu kisah nyata kah Kk Novi????
🌻⃝⃟𝓜֟፝•ᴿʸ MENTARY: Hahaha🤣🤣🤣
Ry kira kisah nyata
total 2 replies
Senajudifa
akhir penderitaan alin y thor
Senajudifa
akhirnya 😊😁😁
Senajudifa
cie cie😄😄
🌻⃝⃟𝓜֟፝•ᴿʸ MENTARY
Akhirnya Hendrik dan Alin
Unboxing bentar lg Marlin bakal pny dedek nih
DinDut itu pacarku🌻
🌻⃝⃟𝓜֟፝•ᴿʸ MENTARY
Semangat Hendrik
Cinta itu butuh perjuangan
DinDut Itu Pacarku 🌻
🌻⃝⃟𝓜֟፝•ᴿʸ MENTARY
Ya di tolak
🌻⃝⃟𝓜֟፝•ᴿʸ MENTARY
Sama aja novel Pamud Dan DinDut gk msk bab Terbaik tp Ry gk sedih 😊
Lina Zascia Amandia
Karya barunya nanti dicicil mampir ya...
Lina Zascia Amandia
Jujur saja karya ini bagus dan luar biasa, rekomendasi bagi para pembaca yg mencari sebuah karya yg sarat dgn nilai positif. Ada nilai budaya dan adat istiadat yg ditonjolkan di sini. Dari awalnya saya tdk tahu budaya dan adat orang Tionghoa, setelah Kak Author bercerita di sini, akhirnya sy tahu. Seharusnya karya seperti ini byk pembacanya, tdk vulgar, berbobot dan sekali lagi byk nilai positif yg bs dipetik dan diambil hikmahnya. Alin yg pd akhirnya mendpt karma baik atas kebaikan dan kegigihannya dlm menjalankan khdpn yg serba sulit dan penuh penderitaan, sehingga menganggap hdpnya bagai benag tak berujung. Namun Yang Maha Kuasa membalas kebaikan Alin dgn karma baik, diujung cerita bertemu seseorang yg bagai malaikat, yaitu Koh Hendrik. Di sinilah benang Alin yg tadinya tidak berujung menemukan ujungnya bersama Hendrik, yakni sebuah kebahagiaan. Semoga karya Kak Novi juga karya saya banyak dikunjungi pembaca, rekomen bgt karya ini Kak Nov..... semangat Kak Nov menghadirka karya yg byk nilai positifnya dan bisa diambil pelajarannya....
Lina Zascia Amandia: Mksh Kak Novi...
total 4 replies
Lina Zascia Amandia
Ya Allah Masya Allah (kalo dlm agama sy mendapati sesuatu yg indah bagus atau mengagumkan sllu menyebut masya Allah), ceritanya sangat bagus Kak No. Kumplit, jujur saja ini karya sangat sarat dengan nilai positif dan banyak pelaaran hidup yang harus dipetik.
Lina Zascia Amandia: Sama2...
total 2 replies
Lina Zascia Amandia
Kesampaian keinginan Yuan.
Lina Zascia Amandia
Apa artinya Kak Nov...
Lina Zascia Amandia: Ohhhh itu ya. Trmksh sudah diartikan... jadi tahu deh...
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!