Kirana, seorang gadis yatim-piatu yang berakhir di bekerja di tempat seorang Tuan Muda dunia bawah yang terkenal dingin dan kejam, Derandra Arseto. Namun begitu, sebuah obsesi di hati Kirana seakan terpancing oleh sebuah tantangan baru...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yann_Story, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Secangkir Kopi di Tengah Badai
Malam harinya, atmosfer di dalam kediaman Arseto terasa sangat mencekam. Seluruh pelayan diperintahkan untuk tetap berada di kamar masing-masing di lantai dasar setelah jam delapan malam, kecuali ada perintah khusus. Namun, Kirana mendapatkan panggilan lewat interkom kamarnya dari Ibu Maya.
"Kirana, Tuan Muda masih berada di ruang kerjanya dan menolak untuk turun makan malam. Antarkan teh hangat dan beberapa kudapan ringan ke atas. Ingat, suasana hatinya sedang sangat buruk. Letakkan saja dan segera pergi," ujar Ibu Maya dengan nada cemas yang tidak bisa disembunyikan.
"Baik, Ibu Maya. Saya mengerti," jawab Kirana dengan tenang.
Kirana segera menuju ke dapur. Namun, alih-alih membuat teh hangat seperti yang diperintahkan, ia justru menyeduh kopi hitam pekat dengan campuran sedikit jahe merah dan madu alami—sebuah ramuan yang pernah ia pelajari dari seorang pemilik kedai tua untuk meredakan stres berat dan memulihkan stamina yang terkuras.
Ia menaiki tangga menuju lantai tiga dengan langkah perlahan. Sunyi. Lorong lantai tiga terasa sangat sepi, hanya terdengar suara detak jam dinding besar di ujung koridor.
Kirana mengetuk pintu ruang kerja Adrian. Tidak ada jawaban. Setelah ketukan ketiga tetap hening, ia dengan berani memutar kenop pintu yang ternyata tidak dikunci, lalu melangkah masuk ke dalam.
Ruangan itu gelap, hanya diterangi oleh lampu meja kerja yang temaram dan kilatan cahaya dari layar laptop. Adrian duduk di kursi besarnya dengan kepala bersandar ke belakang, matanya terpejam. Kemeja abu-abu yang dipilihkan Kirana tadi pagi kini sudah kusut, dengan kancing dada yang terbuka setengah, memperlihatkan gurat kelelahan yang sangat dalam di wajah tampannya.
Kirana berjalan mendekat tanpa suara karpet yang terinjak. Ia meletakkan cangkir kopi racikannya di atas meja.
Aroma kopi bercampur jahe yang khas langsung menguar, membuat Adrian membuka matanya dengan cepat. Tatapan matanya yang tajam dan sarat akan amarah langsung mengunci sosok Kirana.
"Bukankah Maya sudah memesan teh? Dan bukankah aku tidak memanggilmu?" suara Adrian terdengar sangat rendah dan berbahaya, seperti serigala yang siap menerkam.
Kirana tidak mundur. Ia justru meletakkan nampannya di bawah lengan, lalu mengambil cangkir kopi tersebut dan mengulurkannya langsung ke arah Adrian dengan kedua tangannya.
"Teh tidak akan cukup untuk menenangkan pikiran yang sedang berperang, Tuan Muda," ujar Kirana dengan suara yang sangat lembut, penuh empati namun tetap memiliki nada riang yang tipis. "Ini kopi dengan jahe merah dan madu. Bagus untuk menghilangkan rasa penat setelah... urusan melelahkan di bawah tanah tadi."
Mendengar kata 'bawah tanah,' mata Adrian menyipit tajam. Kilatan pembunuh melintas di matanya. Ia berdiri mendadak, mencengkeram pergelangan tangan Kirana dengan kuat hingga cangkir kopi itu bergetar hebat.
"Kau memata-matai aku, Pelayan?" desis Adrian, wajahnya hanya berjarak beberapa sentimeter dari Kirana. Cengkeramannya di pergelangan tangan Kirana sangat kuat, menimbulkan rasa sakit yang nyata.
Namun, Kirana tidak meringis. Ia menahan rasa sakit itu dengan mata bulatnya yang menatap langsung ke dalam manik mata hitam Adrian yang sedang dipenuhi badai amarah. Tatapan Kirana begitu jernih, tanpa ada ketakutan, tanpa ada niat jahat. Hanya ada ketulusan dan obsesi yang mendalam.
"Saya tidak memata-matai Anda, Tuan Muda," ucap Kirana dengan tegas dan perlahan, membiarkan Adrian merasakan keteguhan suaranya. "Saya hanya melihat apa yang terjadi di halaman sore tadi karena saya ada di sana. Dan saya tahu... pria sekuat Anda pun sesekali butuh kehangatan untuk meredakan badai di kepalanya. Saya di sini bukan sebagai musuh. Saya di sini sebagai pelayan Anda... pelayan yang ingin memastikan majikannya tidak tumbang sebelum pertempuran selesai."
Adrian terdiam. Cengkeramannya di pergelangan tangan Kirana perlahan mengendur, meskipun ia tidak melepaskannya sepenuhnya.
Untuk pertama kalinya, Adrian merasa kewalahan menghadapi seorang wanita. Gadis di hadapannya ini tidak memiliki senjata, tidak memiliki kekuasaan, namun keberanian dan ketulusan di matanya terasa begitu kuat hingga mampu menembus dinding es yang telah ia bangun bertahun-tahun.
Adrian melepaskan tangan Kirana, lalu menghela napas panjang—sesuatu yang sangat jarang ia lakukan di depan orang lain. Ia kembali duduk di kursinya, matanya menatap cangkir kopi yang masih mengepulkan uap hangat.
"Kau benar-benar gadis yang aneh, Kirana," gumam Adrian, suaranya kehilangan sebagian besar nada dinginnya, menyisakan kelelahan yang jujur.
Kirana tersenyum manis, mengusap pergelangan tangannya yang sedikit memerah dengan gerakan santai. Sifat nakalnya kembali muncul melihat pertahanan Adrian yang mulai melunak.
"Saya anggap itu sebagai pujian, Tuan Muda," ujar Kirana dengan kedipan mata yang menggoda. "Sekarang, silakan habiskan kopinya selagi hangat. Dan jika Anda butuh seseorang untuk mendengarkan... atau mungkin butuh bahu untuk bersandar, saya bersedia meminjamkannya gratis, khusus untuk Anda."
Adrian mendengus pelan, sebuah kedutan kecil yang menyerupai senyuman tipis—hampir tidak terlihat—muncul di sudut bibirnya sebelum ia meraih cangkir kopi tersebut. "Keluar dari sini, Kirana. Sebelum aku berubah pikiran dan benar-benar membuangmu ke sungai."
"Baik, Tuan Muda tampan. Selamat malam," sahut Kirana dengan riang. Ia berbalik dan berjalan menuju pintu dengan langkah ringan, tahu bahwa malam ini, ia telah berhasil menanamkan jejak yang lebih dalam di dalam hati sang iblis dingin.