Empat bersaudara Jafar, Ira, Iskan, dan Tina harus berjuang melawan kehidupan yang keras dan tidak adil bagi mereka, yang dibuang dan ditelantarkan oleh kedua orang tua mereka.
Jafar, sebagai kakak tertua yang kini masih duduk di kelas 12 terpaksa berhenti sekolah dan mencari pekerjaan, serta banting tulang untuk menghidupi ketiga adiknya yang masih sekolah.
Dan Ira, yang kini baru duduk di kelas 10 berusaha dengan sangat baik, belajar dengan giat dan bekerja paruh waktu untuk membantu sang kakak.
Serta Iskan, yang kini masih duduk di kelas 8 selalu bertugas untuk menjaga adik bungsunya-Tina yang masih duduk di kelas 5 SD.
Masalah demi masalah terus berdatangan kepada mereka. Membuat hidup mereka sangat menderita dan terkadang tertimpa oleh rasa putus asa. Lantas, akankah mereka berhasil membuat kehidupan mereka menjadi lebih baik?
Yuk, ikuti kisah mereka. Jangan lupa like dan komen yah! Semoga para readers suka ama ceritanya.
Selamat membaca!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina0801, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep. 5
Ira kembali ke kelas usai dari ruang guru. Nampak wajahnya bersemangat penuhbinar dan harapan yang cerah. Ia duduk di meja belajarnya dan mulai mengeluarkan sketbook yang sering ia bawa. Lalu, ia mulai melatih tangannya dan menggambar sesuatu.
Biasanya, ia hanya mengeluarkan sketcbooknya jika ia mempuyai waktu santai. Karena ia selalu sibuk bekerja dan belajar.
"Tumben gak belajar? Biasanya yang dibuka buku pelajaran sepagi ini!" tegur Arif yang muncul dari belakangnya untuk mengintip.
"Arif!" Ira sontak menoleh sejenak dan menutup buku gambarnya dengan tergesa-gesa.
Arif duduk di kursi depan meja belajar Ira. "Kemarikan tangan kanan loh!" pinta Arif seketika.
"Ngapain?"
"Uda nurut ajah, sih! Lagian gue heran sama loh! Kita ini satu kelas, tapi loh gak pernah mau bicara sama gue? Kenapa?" ungkap Arif.
Ira tak menjawabnya dan hanya menatapnya sinis.
"Jadi cewek, ramah dikit kek! Jangan terlalu dingin juga. Emang loh gak mau apa, punya banyak teman?" tanya Arif.
"Gue gak tertarik. Lagian buat apa banyak teman, jika akhirnya mereka menjadi seorang penghianat!" ketus Ira.
Arif menyadri sesuatu yang paling penting dari ungkapan Ira tersebut. Ia tersenyum mengerti dan langsung saja mengambil tangan kanan Ira tanpa persetujuannya.
"Gue paham sekarang," ucap Arif sambil menempelkan plester di sikut Ira yang terluka. "Tapi, mesti loh tahu. Gak semua orang seperti itu. Misalnya gue. Gue ini tipe teman yang setia lho!" lanjutnya membanggakan diri.
Ira menatapnya dengan sorotan mata yang malas mendengarnya. "Terima kasih atas sarannya. Tapi gue sama sekali gak tertarik. Permisi, gue mau lanjut sama urusan gue. Bisa loh pergi, dan jangan ganggu gue?"
Arif sejenak menatap Ira dengan kesan yang berbeda. Sikapnya ternyata membuat ia sangat tertarik padanya. Karena sebelumnya ia tidak pernah menerima tolakan dari gadis manapun. Tetapi, dengan mudahnya dan tegas Ira menolak dirinya mentah-mentah.
Arif menjadi sangat penasaran. Lantas, gadis ini tertarik pada apa? Apa yang membuat ia sangat tertarik? Selintas pikiran itu lewat di kepalanya.
"Hellooo! Loh kagak denger? Gue minta loh pergi dan jangan ganggu gue lagi!"
"Yaudah, oke! Gue pergi, tapi bukan berarti gue gak akan bicara lagi sama loh, kan?"
Ira tersenyum masam. "Gak akan pernah. Jadi gak usah ngarep!"
Arif hanya mengagguk kecil dan segera pergi dengan hati yang senang. Rasanya percakapan barusan dengan Ira membuat suansana hatinya gembira. Entah kenapa, meskipun singkat itu menyenangkan baginya.
"Eh, liat tuh! Gadis itu caper lagi!"
"Iyah. Gue gak suka sama dia. Dia itu so banget orangnya."
"Bener. Sombong banget! Waktu pas pertama sekelas saja. Dia yang paling jutek dan so so-an gak mau berteman."
Tiga gadis yang satu kelas dengan Ira terus saja menggosipi sikap dingin Ira yang enggan berteman karena trauma dengan masa lalunya.
Arif yang mendengar gosipan mereka sejenak menatap Ira kembali dengan rasa tertarik. Ia menjadi pensaran kepadanya dan apa yang membuat ia tidak mau berteman dengan siapapun.
***
Sementara itu, Tina yang baru sampai di kelas duduk tertunduk dibangkunya. Tina selalu menyendiri karena tidak ada satu pun di sekolah yang mau berteman dengannya. Ia sering dikucilkan. Bahkan hampir tak pernah dianggap ada oleh teman-temannya.
Tak lama kemudian, bel masuk berbunyi. Semua murid bergegas masuk ke kelas masing-masing. Wali kelas Tina datang dengan seorang siswa pindahan. Seorang anak lelaki tampan yang rapih. Dilihat dari penampilan ia seperti terlahir dari keluarga yang kaya raya.
"Selamat pagi, anak-anak! Nah, hari ini kita kedatangan teman baru. Silahkan perkenalkan nama kamu kepada teman-teman satu kelas," ujar Bu Anis-wali kelas Tina.
"Hallo! Namaku Adnan Al. Panggil saja Al. Aku berharap kita bisa menjadi teman yang akrab, terima kasih."