NovelToon NovelToon
Kaya Mendadak

Kaya Mendadak

Status: tamat
Genre:Komedi / Misteri / Spiritual / Cintamanis / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:377.3k
Nilai: 5
Nama Author: cilamici

Asep seorang pemuda biasa saja, yang selalu tersisih dari kancah dunia percintaan, ditolak ciwi-ciwi karena selalu tongpes, bokek dan misquin.

Tiba-tiba suatu hari Asep ketiban Durian runtuh sepohon-pohonnya. Walhasil Asep dalam sekejap jadi OKB.

Yuk kita intip, apa yang membuat Asep bisa memperbaiki nasibnya... Hihihi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cilamici, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

5. Bersiap Berubah

Hujan tiba-tiba turun deras disertai glundang-glundung geluduk.

Asep akhirnya malam ini langsung tidur di rumah Bibik Marni, meskipun tadinya ia rencananya akan pulang ke rumah lebih dulu untuk mengambil pakaian ganti.

"Pakai kamar depan saja, yang biasa dipakai Wak Imah kalau menginap."

Kata Bibi Marni.

"Ah nggak berani Bi, kan Wak Imah bersihan sekali orangnya, nanti aku bisa kena getok gayung kalo sampe ketahuan pake kamarnya."

Ujar Asep.

"Kalau begitu pake kamar Kakek atau juga kamar Bapakmu saja, cuma belum dibersihkan."

Kata Bibi Marni.

"Kamar SaNi saja Bi, besok aku baru pindah ke bekas kamar Bapak."

Asep memilih.

"Tapi jangan ada yang geser, itu semua yang ada di meja jangan geser satu senti saja, SaNi nanti ngamuk."

Kata Bibi Marni.

"Iya Bi, tenang, santai."

Ujar Asep.

Bibi Marni kemudian menuju kamarnya untuk mengambilkan kunci pintu kamar SaNi, biasanya yang diperbolehkan oleh saNi menginap di kamarnya hanya sepupunya saja, anak Wak Imah, si Aisyah Sekar Wangi, yang calon Diva itu.

Atau juga saudara tunggal uyut mereka yang dari Bandung, yang kadang main, si Fitra Ramdani yang cita-citanya mau jadi Pengusaha Bakery.

Nah sekarang, setelah begitu banyak syarat masuk kamar SaNi, tiba-tiba si Asep akhirnya mendapat ACC dari sang Bibi ikut menikmati kamar yang selalu terjaga kerapihannya.

Ya, kamar yang bahkan jauh lebih rapi dari Asep.

"Jangan merokok Sep."

Kata Bibi Marni lagi.

"Iya... Iya... Bi, masa Asep ngerokok di kamar SaNi, bisa-bisa aku disantet langsung dari tempat SaNi sekarang."

Kata Asep ngeri-ngeri sedap.

Asep akhirnya masuk kamar yang rapi, bersih dan wangi.

Ooh jadi begini rasanya kamar bersih dan rapi. Batin Asep.

Tapi, Asep terbiasa tidur di kamar yang berantakan, rasanya lebih alami.

Sementara melihat tempat tidur sepupunya yang spreinya saja hampir tak ada lipatan begitu jadi membuat Asep takut nanti begitu tidur kasurnya yang langsung menolak keberadaan Asep.

Akhirnya, setelah melalui pertentangan batin yang cukup sengit, Asep memutuskan untuk mengambil bantal saja dan tidur di lantai.

Tak apa, toh ada karpet yang bisa menghalangi tubuhnya bersentuhan langsung dengan lantai tegel yang dingin.

Asep menata bantal, lalu akhirnya rebahan di atas karpet.

Matanya menatap langit-langit kamar yang ditempeli stiker berbentuk bintang-bintang dan juga bulan.

Stiker yang jika lampu dimatikan akan menyala itu dipandangi Asep yang tiba-tiba terbayang wajah Melati.

Melati, gadis cantik menawan hati.

Kecantikannya tak kalah dari si bunga desa Anggita.

Jika melihat bagaimana sikap Melati padanya, tentu saja Asep merasa lumayan optimis bisa memacari gadis itu.

Tapi...

Ah, Asep jadi ingat kata-kata Emakya dan juga kata-kata Bibi.

Asep harus kerja, mana ada gadis yang mau dengan laki-laki malas dan pengangguran macam si Asep.

Apalagi bau apeknya sudah sampai meresap ke dalam tulang.

Asep mulai putar otak.

Otak yang selama ini jarang diputar itu akhirnya difungsikan sebagaimana mestinya.

Apa memang benar kata Bibi harusnya dia meneruskan usaha Bapak saja ya?

Asep mulai memikirkan usaha Bapaknya yang dulu sempat maju.

Usaha membuat etalase, rak dan juga beberapa jenis lemari untuk warung, toko, dan lain-lainnya.

Asep cengar-cengir pada stiker bintang yang ditempel SaNi di atas langit-langit kamar.

Ya, sepupunya semua sudah mulai sukses. Aisyah meski masih kecil sudah dilirik produser buat rekaman, SaNi yang baru dua tahun bekerja jadi teller salah satu Bank BUMN sekarang bahkan sudah beli rumah sendiri.

Asep jadi mulai merasa benar-benar tertinggal dalam semua hal.

Apalagi jika mengingat temannya dulu jaman SD, si Abdul, dia juga sukses jadi staf di kantor Kabupaten.

Aduh, Asep jadi senut-senut kepalanya.

Entah sudah berapa kali reuni Asep tak berani hadir.

Ia merasa minder sendiri membayangkan berkumpul dengan teman-temannya dulu, yang mayoritas sudah jadi orang, sedangkan ia justeru lumutan dan di ureng-urengi.

Kalau ingat itu, Asep rasanya jadi makin ngenes dan iba dengan dirinya sendiri.

Tak terbayang jika ia masih dalam keadaan seperti ini, lalu ia bertemu dengan ciwi-ciwi yang dulu menolaknya.

Juwita yang katanya sudah menikah dengan Guru Bahasa Inggris, atau Anita yang sekarang punya warung sate di dekat showroom Wak Imah.

Atau Ambavani, yang kabarnya juga menikah dengan pengusaha batik, dan Annisa Alma, yang dulu menolak Asep dengan surat bahasa Inggris yang Asep salah mengartikan walhasil jadinya malu.

Asep kemudian bangun dan duduk, ia tiba-tiba mengepalkan tangannya lalu mengangkatnya tinggi-tinggi.

"Semangat!!"

Kata Asep pada dirinya sendiri.

Setelah mengatakan semangat, Asep kembali rebahan, tak sadar ada dua Cicak yang sedang ngobrol cara menangkap nyamuk jadi melihat menatap Asep dengan sinis.

"Apa sih itu manusia, gangguin kursus saja."

Begitulah kira-kira suara hati Cicak.

Asep kemudian memejamkan matanya, bibirnya mengulas senyuman.

"Tunggu Babang ngapel Melati, sabarlah."

Gumam Asep cengar-cengir tak jelas.

Di luar sana hujan masih mengguyur deras.

Emak di rumah baru mendapat telfon dari bibi Marni yang mengabarkan Asep menginap dan akan mulai tinggal di sana besok hari.

Bibi Marni juga cerita kemungkinan Asep akan mau buka usaha Bapaknya lagi, dan itu tentu saja adalah kabar baik bagi Emak.

Dan karena Asep dipastikan tak akan pulang, Emak akhirnya pergi ke belakang untuk ambil payung karena harus mengunci pagar rumah sendiri.

Hujan sudah mulai reda, tapi toh Emak tetap harus keluar menggunakan payung.

Emak berjalan cepat ke arah pagar rumah yang catnya mulai mengelupas dan berkarat di mana-mana.

Pagar besi jaman dulu, menandakan sisa-sisa kejayaan keluarga Asep saat Bapak masih hidup.

Emak tengah menggembok pintu pagar, manakala Bu Putri Marfuah dan Bu Resti berjalan beriringan dengan payung warna biru putih dengan logo sebuah Bank BUMN.

"Lho Bu Zakiah, tumben gembok pagar sendiri, Bang Asep ke mana?"

Tanya Bu Putri.

Kedua Ibu itu tampak kompak membawa kresek ayam bakar yang memang cukup sering mereka beli dari warung Bu Retno Guntara yang kabarnya cabang dari Bekasi.

Emak sendiri belum pernah mencoba, karena demi menghemat, Emak tentu tak bisa sering-sering makan enak.

Paling banter Emak nyeplok telor, kalau masak ayam juga harus dibuat sayur dicampur tahu atau tempe, karena kalau digoreng biasa langsung habis sekali makan, maka itu akan menambah beban pengeluaran Emak.

Kalau Bu Putri dan Bu Resti kan enak, anak-anaknya sudah pada sukses, tiap hari belanja di tukang sayur saja selalu udang, ayam, daging, sementara Emak...

Hupe, hupe, hupe...

Ya begitulah, nasib Emak-emak yang anaknya model macam Asep, masih harus terus berusaha hemat.

"Bang Asep pergi ya Bu Zakiah?"

Tanya Bu Resti menambahkan pertanyaan Bu Putri yang belum terjawab.

"Iya Ibu-ibu, Asep mulai hari ini di rumah Bibinya."

Jawab Emak akhirnya.

"Ooo di rumah Bibinya."

Bu Putri dan Bu Resti bersamaan sambil manggut-manggut.

**------------**

1
Fida
Luar biasa
zevs
Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatu
Bismillahirrahmanirrahim
izin maraton thor . . . .
snow Dzero
Luar biasa
Ken Keenan
Keren.. ringan gaya bahasa asyik, sangat menghibur, rekomen untuk dibaca. Te O Pe..
novita setya
bani di skip aja..bw pengaruh buruk ke asep. tar kl asep kesandung yg ketawa paling keras si bani,yg kabur duluan juga si bani dasar teman rasa penghianat
novita setya
keluarga besar asep rukun ga saling julid..bener2 hal mewah dijaman skrg
novita setya
mikimos pesen etalase..etdah mo buka warung keknya
novita setya
oala msh tetanggaan sm depy & ela
Naida Iko
waduh
Daddy Ghani
Dasar hantu nenek matre🤣🤣
Guz Pur
novel Lou TeOpe bgt thoirr gue suka gaya Lou
nisa
ok kk critanya mksih
Cila Mici: hehehe makasih juga ya
total 1 replies
Angel Poerba
keren abiss
Romi Tama
bagus ceritanya
Cila Mici: hehehe makasih makasih
total 1 replies
abdan syakura
Assalamu'alaikum kak Cila..
Aq mampir nih...
Cila Mici: waalaikumsalam... okay ka... 🥰
total 1 replies
Tama!
Halo kakak Author izin buat dubbing novelnya ya kak 😊
Cila Mici: monggo hehehe
total 1 replies
Okta Via
ceritanya sederhana.menghibur dan banyak yg bisa kita pelajari dr cerita ini
sukses buat penulisnya karya yg bagus
Cila Mici: wkwkwk asep suresep yg baunya kayak kecoak,

makasih makasih ya udah mampir
total 1 replies
adriana nadirah 🐻💜
rasanya asep jomblo sampai skrg mesti angkara melati...🤭🤭🤭
Cila Mici: hahhaahhaa...
total 1 replies
adriana nadirah 🐻💜
trm ksh thor...br nak tanya😘😘😘
Cila Mici: kembali kasih donhs
total 1 replies
Azaidane Azaidane
padahal karya author cila bagus bgt semua y.. tp jempol y dikit.. bayak yg baca tp pelit ngasih jempol.. semangat d sukses y tor...
Cila Mici: wkwkkwk gpp, mgkin lupa ngelike aja,
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!