NovelToon NovelToon
Nikah Kilat Dengan CEO Berandal

Nikah Kilat Dengan CEO Berandal

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Anvika

Kanara gadis berusia 27 tahun dengan penampilan cupu, pulang ke kampung halamannya sebagai cara untuk melarikan diri dari rasa sakit akibat dikhianati kekasihnya yang merupakan aktor papan atas. Ia bersumpah untuk menolak cinta, tetapi takdir justru mempermainkannya. Nara terjebak dalam pernikahan kilat dengan Sagara, seorang pemuda asing berpenampilan berandal yang datang ke desanya.

Menghadapi Nara yang menutup rapat hatinya, Sagara justru hadir membawa sejuta kejutan yang menjungkirbalikkan dunia gadis itu. Kini, Nara dihadapkan pada pilihan sulit. Sanggupkah ia membuka lembaran baru dan menerima kehadiran Sagara di hidupnya? Ataukah Nara akan memilih melangkah mundur, membiarkan dirinya tenggelam dalam rencana besar untuk membalas rasa sakit hatinya pada sang mantan?

📌 Update setiap hari! Jangan lupa pasang notifikasi dan masukin ke library kalian ya! 😉✨

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anvika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22 Memanfaatkan

Sebelum memasuki waktu magrib, keduanya telah menyelesaikan pekerjaannya. Sagara memutuskan untuk membersihkan diri terlebih dahulu, sebelum Nara. Saat ingin keluar, pria itu baru ingat bahwa dirinya lupa membawa handuk. Maklum, di rumahnya handuk langsung tersedia di kamar mandi.

Sagara berdecih, tidak mungkin ia menggunakan lagi baju kotor penuh keringatnya. Percuma saja ia mandi kalau begitu. Tidak memiliki pilihan lain, Sagara melongokan kepala.

Memanggil-manggil nama Nara sampai gadis itu menyahuti. "Ya, kenapa, A?" tanya Nara yang hanya melihat kepala pria itu di celah pintu.

Sagara amat malu mengatakannya, "Tolong ambilkan handuk untukku, aku lupa membawanya," ujarnya, kemudian menutup pintu kamar mandi.

Tingkah pria itu membuat Nara garuk-garuk kepala, sampai bayangan nakal terlintas dipikirannya. Kepala gadis itu kembali menoleh ke arah pintu kamar mandi. "Berarti dia—haisss ... apa yang kamu pikirkan Nara." Nara memukul-mukul kepalanya. Langkah gadis itu kemudian melaju menuju kamar, mengambil apa yang pria itu minta.

Dua menit kemudian, Nara mengetuk pintu kamar mandi. Sagara membuka sedikit celah, mengeluarkan tangannya untuk mengambil handuk tersebut. Tangan Sagara yang bergerak-gerak membuat Nara mendekatkan handuk tersebut, sampai tanpa diduga malah pergelangan tangannya yang dipegang pria itu dan hampir ditariknya masuk.

"Eeehh, Aa, tanganku!" teriak Nara. Sagara yang juga merasa aneh dengan handuknya segera melepas pegangan tersebut.

"Aku minta handuk, bukan pergelangan tanganmu. Kecuali memang kamu yang ingin bergabung, dipersilahkan," kekeh pria itu dari dalam kamar mandi, menutupi kecanggungan.

"Idih, situ ngarep banget, ya. Ini handuknya, lain kali itu pake mata ambilnya!" dengus Nara.

Sagara Si Mesum, telah kembali, rutuknya dalam hati. Melangkah lebar menuju kamar.

Sagara menutup kembali pintu kamar mandi menjadi rapat, ia menatap tangannya yang memegang pergelangan tangan Nara barusan.

Pergelangan tangannya hangat, berbanding terbalik dengan tangannya yang dingin. Dan karena sentuhan tidak sengaja itu, membuat tubuhnya panas. Pria kembali mengguyur tubuhnya dengan air dingin. Setelah merasa cukup, tubuhnya menjadi normal kembali, barulah pria itu melilitkan handuk di pinggangnya setelah sebelumnya mengibas rambutnya menghilangkan sisa-sisa air yang tertinggal.

Sagara membuka pintu kamar mandi, melihat sekitar sejenak, tampak hening. Sepertinya ibu mertuanya masih di kamar. Ia pun melangkah cepat menuju kamarnya.

Ceklek!

Nara refleks mendongak tak kala pintu kamarnya terbuka, matanya seketika membulat tak kala harus dihadapkan oleh punggung kokoh seorang pria.

Sagara berbalik, setelah menutup pintu kamarnya sendiri. Salah, maksudnya kamar Nara yang juga menjadi kamarnya.

Tubuh Sagara sedikit terjungkal ke belakang mendapati pelototan itu. "Tolong, lihatnya biasa saja," ujar pria itu, kemudian terkekeh jenaka. Padahal, ia risih juga. Ini pertama kalinya bertelanjang dada, lalu ada seorang gadis bersamanya. Berdua saja di dalam kamar!

"Arkkhh, siapa yang—" Nara segera menutup seluruh tubuhnya dengan selimut, tidak melanjutkan ucapannya. Matanya telah ternoda, kemerahan di wajahnya tidak terhindarkan lagi.

"Nara, kamu kenapa?" Sagara mendekat, takut gadis itu sesak dan tidak mendapatkan udara yang cukup. "Naraaa," panggilnya menarik-narik selimut.

Gadis itu sekuat tenaga menahan bentengnya, tidak mau pria itu melihat wajah merahnya bak kepiting rebus saat ini. Nanti dirinya dikata-katain lagi.

"Nara," panggil Sagara sekali lagi.

"Pake bajunya Aa, kamu telanjanggg!" sahut Nara di dalam selimut.

Sagara pun menghentikan aksinya, melihat tubuhnya sendiri yang hanya terlilit handuk. "Oh ya, ya," katanya. Segera menuju tasnya untuk mengambil pakaian. "Aku pake baju sekarang, di kamar ini, Kamu jangan ngintip," ujar pria itu.

Mata Nara dalam selimut membelalak, memang dirinya cewek apa-apaan. "Kenapa nggak di kamar mandi, sih!" protesnya.

"Malas bolak-balik," singkat pria itu, mulai berpakaian.

Nara menunggu beberapa saat, pengap juga dia. "Sudah belum?" tanyanya.

"Ini masih pake kolor," jawab Sagara. Yang memang benar demikian.

Nara di dalam selimutnya bergerak-gerak tidak jelas, ingin sekali ia langsung menendang pria itu. Hais!

***

Sagara masuk ke kamar, ia baru saja pulang dari sholat isya. Dan langsung mendapati Nara yang tengah fokus di depan layar laptopnya. Entah apa yang gadis itu lakukan, tapi jari-jari lentiknya bergerak begitu cepat di atas keyboard.

Pria itu tidak berniat mengganggu, ia melepaskan peci, baju koko dan sarungnya, menyisakan kaos hitam polos dan celana pendek sebatas lutut. Rambut gondrongnya ia cepol dengan karet. Tampilan yang jauh dari kata memukau, tapi diselamatkan oleh wajah tampannya.

"Mau kemana A?" tanya Nara saat melihat pria itu bersiap membuka pintu.

"Mau makan malam, tadi keasikan ngobrol sama bapak-bapak, jadi nggak pulang makan pas selesai magrib," jawab pria itu.

Nara mengangguk, mematikan laptop dan menyusul Sagara yang telah keluar lebih dulu.

"Loh, ngapain?" tanya pria itu saat hendak mencentong nasi, di tangannya sudah ada piring.

"Makan, tadi ibu nggak bolehin makan duluan. Harus tunggu kamu dulu. Sini, biar aku saja." Nara mengambil alih piring di tangan Sagara.

"Padahal sih, tidak perlu. Aku bisa ambil makan sendiri," ujar pria, menuju meja makan. Ia membiarkan Nara melayaninya makan.

Nara tidak menjawab, hanya kembali teringat perkataan ibunya tadi. Kasihan suamimu makan sendirian nanti, lagi pula masa kamu kenyang, suamimu kelaparan. Kata-kata itu membuatnya sedikit terganggu, alhasil menunggu pria ini. Dulu, ibunya juga sepertinya itu, makan saat bapaknya pulang. Keduanya akan sesekali mengobrol hangat, dan dirinya yang sudah makan, akan kembali makan. Mengingat itu, membuat senyum di bibirnya terukir.

"Ini," Nara memberikan piring nasi beserta lauknya pada Sagara.

"Makasih, Istri," ujar Sagara dengan senyum ramahnya. Sampai Nara tertegun dibuatnya.

"Berarti nggak marah lagi, ya?" tanya gadis itu, ikut duduk berhadapan dengan Sagara. Nasi dan lauk sudah memenuhi piringnya juga.

"Marah?" tanya pria itu tidak mengerti. Menuangkan air ke dalam gelas, kemudian di simpannya di dekat piring Nara.

"Wah, apakah ini tanda kamu sudah memaafkan ku, sehingga melupakannya dengan mudah. Atau karena kamu sudah tua, banyak pikiran, jadi pikun?!" raut wajah gadis itu menatap minat menunggu jawaban, amat menjengkelkan.

Tak!

Dahinya langsung mendapatkan sentilan dari Sagara. Ia pun mengingat insiden saat dirinya dijambak. "Mengingatnya lagi sekarang membuatku lebih kesal, kulit kepala ku juga masih sangat sakit!" ketus pria itu, mengambil sendok, siap menyantap makanan.

"Maaf," ujar Nara dengan tulus, raut bersalahnya tercetak jelas.

"Hm," dehem Sagara. Nara menganggapnya tidak iklas memaafkannya.

"Maaf Aa, Nara bersalah, tolong maafkan, ya. Lain kali tidak akan ku ulangi lagi." Gadis itu menyimpan telur mata sapinya ke piring Sagara sebagian permintaan maafnya yang tulus.

Sagara mengulum bibirnya ke dalam mulut, dibujuk seperti ini membuatnya sedikit geli. "Ya, aku maafkan," ujarnya kemudian. Tidak tega juga ia melihat wajah melas istrinya itu.

"Beneran?" Nara memastikan, Sagara mengangguk. "Nggak kesal lagi, nggak marah lagi?"

"Iyaa, Kanaraaa."

Gadis itu tersenyum, senyuman yang amat cantik, membuat Sagara tanpa sadar ikut tersenyum juga.

***

Bersambung ...

1
Maulidia Okta
wah karna ada uwak sakit, nara sama sagara pasti bisa lebih dekat lagi, udh kayak suami istri beneran...
Maulidia Okta
gitu donk yang akur dan mendekati mesra nick.....
Maulidia Okta
duh...mulau ada bau² kedekatan nich
Maulidia Okta
duh... enteng banget aa gara, ngomong ya....
Anvika: Iya, kaya ngajak main diaa🤭
total 1 replies
Maulidia Okta
suka cefitanya....
Anvika: Makasih kak😍🥰
total 1 replies
Maulidia Okta
nara ribet banget ya
Anvika: Heheh, memang ribet dia kak🤭
total 1 replies
fabdul
Walaupun tanpa cinta, tapi tetap berkomitmen 👍
Anvika: Setuju, kak😊
total 1 replies
fabdul
Mampir💪
Anvika: Siap, Kak. Semoga suka ceritanya 🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!