NovelToon NovelToon
Mengasuh Anak Dari Maduku

Mengasuh Anak Dari Maduku

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Pengkhianatan
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Aurora.playgame

Bagi Kirana, kesetiaan dalam pernikahan adalah impian mutlak. Namun, kebahagiaan yang ia bangun bertahun-tahun runtuh seketika saat sebuah kecelakaan tragis merenggut nyawa suaminya, Rendra. Di saat yang sama, rahasia besar terungkap, Rendra meninggal bersama istri keduanya, meninggalkan seorang putri berusia dua tahun bernama Aura.
Melalui pesan terakhirnya, Rendra memohon agar Kirana sudi mengasuh Aura sebagai anak sendiri. Kirana hancur dan berada di persimpangan jalan yang menyiksa batin. Di satu sisi, ia sangat terluka oleh pengkhianatan suaminya. Di sisi lain, ia sudah memiliki seorang putri kandung berusia empat tahun yang harus ia jaga perasaannya dari kehadiran anak madunya tersebut.
Kini, di bawah satu atap, Kirana harus berjuang menekan rasa sakit hati demi membesarkan dua anak perempuan yang hanya terpaut usia dua tahun tersebut.
Mampukah Kirana berdamai dengan masa lalu dan bersikap adil, ataukah kehadiran Aura justru menjadi luka abadi yang terus mengingatkann

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ep. 21- Langkah Baru

Ep. 21- Langkah Baru

Keputusan Kirana untuk pergi dari kompleks perumahan lama bukan lagi sekadar wacana. Rasa sesak yang menghimpit dada dan tatapan penuh selidik dari para tetangga setiap kali ia keluar gerbang membuat tekadnya makin membulat.

Ia ingin memberikan lingkungan yang bersih, tenang, dan bebas dari racun bisik-bisik masa lalu untuk Keisya.

Hingga, dalam beberapa hari berikutnya, Kirana mendedikasikan seluruh energi dan waktunya untuk mencari hunian baru. Ditemani oleh seorang agen properti terpercaya recommended dari salah satu sahabatnya, Kirana mendatangi berbagai lokasi perumahan di penjuru kota.

Hari pertama, agen properti membawanya melihat sebuah rumah mewah bergaya Mediterania di kawasan perumahan elit barat kota. Rumah itu luas, megah, dengan kolam renang pribadi di bagian belakang. Namun, begitu Kirana melangkah masuk, ia merasa atmosfernya terlalu dingin, megah, dan terisolasi.

"Bagaimana, Bu Kirana? Pencahayaannya sangat bagus dan lingkungannya sangat privat," ujar Pak Rian, sang agen properti, sambil menunjukkan area ruang keluarga yang berplafon tinggi.

Namun, Kirana menggelengkan kepala pelan seraya melihat Keisya yang tampak canggung berdiri di sampingnya. "Rumahnya terlalu besar dan formal, Pak Rian. Saya mencari rumah yang terasa hangat, aman untuk anak-anak, dan tidak terlalu jauh dari sekolah Keisya nanti."

Hari kedua, Kirana diajak melihat townhouse modern di tengah kota. Rumahnya kompak dan fungsional, namun halamannya sangat sempit, hampir tidak ada area hijau untuk tempat bermain anak-anak.

Kirana membayangkan Keisya dan Aura yang butuh ruang untuk berlarian, lalu kembali menolak dengan halus.

Berulang kali ia memilih, meninjau lokasi, membandingkan fasilitas, dan memeriksa tingkat keamanan lingkungan, namun belum juga mendapatkan rumah yang benar-benar pas di hati.

Ada saja yang kurang, entah lokasinya terlalu dekat dengan jalan raya yang bising, lingkungannya yang terlalu padat, atau tatanan bangunannya yang terasa kaku.

Hingga akhirnya, pada hari kelima pencarian, Pak Rian membawanya ke sebuah kawasan pemukiman asri di daerah pinggiran kota yang tenang, dekat dengan perbukitan kecil dengan udara yang masih sangat sejuk.

Mobil yang ditumpangi Kirana berhenti di depan sebuah rumah bergaya tropis modern berlantai dua. Pagar rumahnya terbuat dari kayu jati berpadu besi hitam minimalis. Begitu pintu mobil dibuka, aroma kesegaran pepohonan langsung menyambut mereka.

"Nah, Bu Kirana, ini unit terakhir yang baru selesai direnovasi total oleh pemilik sebelumnya yang pindah tugas ke luar negeri," jelas Pak Rian seraya membuka selot pagar. "Lingkungan di sini sangat kondusif, penghuninya rata-rata keluarga muda yang menghargai privasi, dan tingkat keamanannya 24 jam dengan one gate system."

Kirana melangkah masuk melewati halaman depan yang luas dan ditanami rumput jepang yang hijau segar. Di sudut halaman terdapat sebuah pohon kamboja fosil yang indah dan tempat ayunan kayu yang terawat.

Saat Pak Rian membuka pintu utama yang terbuat dari kayu solid, sinar matahari pagi memancar masuk menerangi ruang keluarga yang berkonsep open space.

Di bagian belakang rumah, terdapat pintu kaca geser besar yang langsung menghadap ke taman dalam yang asri dan sejuk.

"Wah... Mama! Rumahnya bagus banget!" seru Keisya yang mendadak melompat gembira. Gadis kecil itu berlari kecil menuju pintu kaca belakang, sambil menatap taman dalam dengan mata yang berbinar-binar. "Ma, ada tamannya! Keisya bisa main mewarnai di sana!"

Kirana melangkah mengitari setiap ruangan. Ada lima kamar tidur yang lapang, dapur bersih berkabin kayu yang hangat, serta pencahayaan alami yang melimpah dari setiap sudut.

Tidak ada kesan canggung atau dingin di rumah ini. Sebaliknya, saat melangkah di atas lantai granitnya, Kirana merasakan sebuah kedamaian dan kehangatan yang sudah lama hilang dari hatinya.

"Ini rumahnya..." batin Kirana dengan helaan napas lega yang panjang. "Di sini aku dan Keisya bisa bernapas lega."

"Bagaimana, Bu Kirana?" tanya Pak Rian seraya tersenyum, saat menyadari binar kepuasan di mata kliennya.

Kirana menoleh dan menyunggingkan senyuman tulus yang sudah jarang sekali terlihat di wajahnya. "Saya ambil rumah ini, Pak Rian. Tolong siapkan seluruh dokumen dan pelunasannya hari ini juga."

Proses transaksi dan pengurusan dokumen berlangsung cepat. Begitu sertifikat dan kunci di tangannya, Kirana langsung bergerak cepat tanpa membuang waktu. Ia tidak ingin berlama-lama lagi berada di rumah lama yang penuh dengan kenangan pahit dan gosip beracun.

Keesokan harinya, suasana di kediaman lama Kirana berubah menjadi sibuk dan riuh oleh persiapan kepindahan. Kardus-kardus coklat berukuran besar menumpuk di sepanjang koridor ruang tamu.

Mbok Darmi, Mbak Yem, dan Mbak Tuti sibuk melipat pakaian, membungkus peralatan pecah belah dengan kertas koran tebal, dan memasukkannya ke dalam dus-dus yang telah diberi label sesuai nama ruangan.

"Hati-hati ya, Yem, piring kramik jangan sampai tumpang tindih sama panci," pesan Mbok Darmi seraya menyegel salah satu kardus dengan selotip besar.

"Iya, Mbok. Ini sudah Yem kasih ganjalan kain tebal kok," sahut Mbak Yem cekatan.

Kirana sendiri sibuk di dalam ruang kerjanya, merapikan dokumen-dokumen penting, foto-foto masa lalu, dan barang-barang pribadi.

Ia secara khusus memilah foto-foto Rendra, menyimpan beberapa foto terbaik Rendra bersama Keisya ke dalam album khusus, sementara foto-foto kenangan mereka berdua ditatanya dalam satu kotak kayu tersendiri yang ia simpan di bagian paling bawah.

Sementara itu di ruang keluarga, Keisya ikut sibuk memasukkan mainan-mainan plastiknya ke dalam keranjang kain. Di sampingnya, Aura yang mengenakan gaun kuning mungil mencoba ikut membantunya.

Balita dua tahun itu mengambil satu per satu blok kayu lalu memasukannya ke dalam keranjang Keisya dengan polos.

"Pinter, Aura! Bantu Kakak ya, biar cepat selesai," puji Keisya sambil tersenyum lebar.

Aura pun tertawa riang, "Cepat... cepaat! Owa pinter!" cicitnya sambil bertepuk tangan.

Tak lama kemudian, Kirana keluar dari ruang kerja membawa kotak kayu terakhir. Langkah kakinya terhenti sejenak saat melihat kedua anak itu duduk berdampingan di tengah keramaian kardus.

Rasa perih di hatinya belum sepenuhnya sirna, namun melihat Keisya yang begitu ceria dan Aura yang menempel penurut pada kakaknya, Kirana menyadari satu hal, yaitu, kehidupan harus terus berjalan, dan rumah baru ini adalah lembaran bersih yang harus ia perjuangkan.

_____

_________

Tidid tidid!!!

Suara klakson truk angkutan barang dari jasa pindahan terdengar dari luar gerbang. Petugas angkut berseragam biru mulai bermunculan menyapa dan mengangkut kardus-kardus berat ke atas bak truk.

Kini, Kirana berdiri di teras depan untuk terakhir kalinya. Dari kejauhan, di sebrang jalan, ia sempat melihat Bu Siska berdiri mengintip dari balik tirai jendelanya dengan raut wajah kaget dan penasaran melihat truk pindahan besar terparkir di depan rumah Kirana.

Namun kali ini, Kirana tidak lagi merasa sesak atau marah. Ia hanya menyunggingkan senyum dingin yang penuh ketegasan, lalu membalikkan badannya.

"Mbok, anak-anak sudah siap di mobil?" tanya Kirana pada Mbok Darmi.

"Sudah, Bu. Dek Keisya sama Dek Aura sudah duduk manis di jok belakang sama Tuti dan Yem," jawab Mbok Darmi.

"Bagus. Mari kita berangkat," tegas Kirana.

Kirana melangkah menuju mobilnya, menutup pintu, dan menyalakan mesin. Saat kendaraan itu perlahan bergerak meninggalkan halaman dan melintasi gerbang kompleks perumahan lama untuk terakhir kalinya, Kirana melepaskan satu hembusan napas yang panjang, menghempaskan seluruh bayang-bayang masa lalu, duka, dan celaan tetangga ke belakang dan siap menyongsong takdir baru di rumah asri yang telah menantinya.

Bersambung...

1
Lisa
Aura keras kepala juga y..hayo g bisa dibiarin tuh.
Lisa
Wah Aura mulai ngambek nih 😊
Lisa
Aura ingin juga disuapi sama Kirana...teruslah bersikap adil pada kedua putrimu Kirana..
Lisa
Wah sepertinya Aris ini bakal jadi teman deketnya Kirana..lucu banget 2 pengawal cilik itu 😊
Lisa: 😊 iya Kak..
total 2 replies
Lisa
👍👍 ayo Kirana lawan si nenek itu..
Anonim
Kok gini sih
Enak banget si Hendra sama si ayu
Yg gk sala Karina nanggung sesak seumur hidup
Lisa
Benar Kak.
Lisa
Syukurlah Kirana sudah menyadari kesalahannya dan mau menyayangi Aura..
Lisa
Cpt sembuh Aura..Kirana kamu harus sadar jgn dendam terus pada Aura..
Lisa
Amin..kasihan banget Aura..moga Kirana mampu menyayangi Aura..
Lisa
Ceritanya bagus Kak
Aurora: terimakasih.../Rose/
total 1 replies
Lisa
Aku mampir Kak
Lisa: Suka banget Kak
total 2 replies
Banu Tyroni
... akhirnya Aura mendapatkan kasih sayang seorang ibu.
Banu Tyroni
Aura.... kasihan kamu 😭
Banu Tyroni
... siapin tisu yg banyak.
Banu Tyroni
... sedih banget lihat Aura, besok kedepannya bagaimana ya? 😭
Banu Tyroni
... menarik.
Aurora: terimakasih /Rose/
total 1 replies
Banu Tyroni
Baca di awal ini nampaknya cerita akan penuh konflik dan menguras air mata... siap² tisu 😄
Irmha febyollah
lanjut lagi kk.
Aurora
kaya tega banget ya Kirana 🤭
Tapi emang lukanya belum sembuh...🤗
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!