Luciana hanya mampu terbelenggu mengikuti aturan tak kasat mata dari kedua orang tuanya. Terlalu banyaknya aturan yang tercipta membuat luciana merasa dunianya seketika menjadi mati. Hingga luciana bertemu dengan pria yang memilih kehidupan bebas tanpa memikirkan apa itu aturan yang membuat hidup seperti dipenjarah. Setidaknya Luciana sedikit bernapas lega bisa bertemu dengan pria yang berkehidupan bebas. Apakah mampu Luciana menghancurkan pagar tak kasat mata yang membuat hidupnya selalu terkekang, atau mungkin mungkin Luciana akan terbendam dalam ikatan yang akan membuatnya terbunuh secara perlahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Echa Wathy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Tak ada rasa bosan nampaknya pada diri Vano yang sedari tadi terus menatap Luciana, garis senyum terus terukir diwajahnya saat menatap Luciana serasa tak ingin pemandangan ini hilang dari hadapannya hingga Vano tak henti-hentinya menatap Luciana tanpa satu kata pun yang terucap dari bibirnya.
Ketika Vano sedang asik dengan dunianya lain pula dengan Lucina, salah tinggah ya itu yang saat ini Luciana lakukan selain memainkan ponselnya sesekali juga Luciana melihat kesekitar untuk mengalihkan rasa canggungnya yang sedari menyelimuti hatinya karena tatapan Vano.
"Kalian nampak serasi pasti kalin baru menikah ya"kata pegawai yang mengantarkan makanan dan meletakannya diatas meja semua makanan dan minuman yang dipesan Lucina dan Vano.
Seketika ucapan itu membut Luciana terdiam tak tau harus menjawab apa, pengantin baru apa tak salah ucap dari sisi apa yang terlihat dua sejoli ini baru menikah.
Tapi tak dengan Vano bukannya menyangkal perkataan pegawai itu Vano malah semakin melebarkan senyumannya menatap Luciana dan tangannya kini ikut serta berperan yang tadinya tangan itu hanya terlipat di meja kini tangan itu meraih tangan Luciana dan menariknya mendekat ke arah bibir Vano.
Deg....
Seketika Luciana menarik tangannya dan langsung mencubit perut Vano. Tapi bukan Vano namanya jika hanya berhenti disana Vano pun kembali meraih tangan mungil itu sembari menggengam tangan Luciana tangan itu pun kini menjadi sanggan wajah Vano yang kembali menatap Luciana semakin dalam.
"Kalin romantis sekali oya silahkan nikmati makanan kalin jika ada yang mau dipesan lagi silahkan order langsung disana" karena tak ingin mengganggu keromantisan dua sejoli ini pegawai itu pun memilih pergi dan melanjutkan pekerjaannya.
Luciana berusaha menarik tangannya agar Vano melepaskannya, tapi nampaknya Vano tak mau dan tak rela melepaskan tangan itu jadi semakin Luciana berusaha melepasnya semakin Vano mempererat gandengannya dan sesekali Vano kembali mencium punggung tangan Luciana .
Nampaknya usaha Lucina tak membuahkan hasil yang ada malah membuat Vano bertingkah lebih akhirnya Luciana memilih menyerah dan mulai memakan makanan yang ada dihadapnnya.
"Sampai kapan kau akan terus memandangku" sermbari memasukan makanan ke dalam mulutnya.
"Sampi aku berhasil mencium bibir merahmu itu" seketika makanan yang ada didalam mulut Luciana susah untuk di telan dan membuat Lucina tersendak dan memukul-mukul dadanya. Vano pun langsung memberikan minuman padanya tapi tetap tangan Luciana tak juga dilepasnya.
Whatt ... beruang kutup satu ini haruskah kau mengeluarkan kata-kata vulgar itu disituasi dan tempat seperti ini tolonglah gadis disampingmu ini masih terlalu polos untuk mendengar kata-kata vulgarmu itu.
Matahari masih bersinar cerahnya langit pun tampak indah dengan warna biru cerahnya, begitu indah cuaca hari ini tapi nampknya tak seindah dengan suasana hati Luciana yang kini berada dalam mode salah tingkah lagi setelah mendengar perkataan Vano tadi Luciana pun lebih memilih fokus dengan makanannya dan tak menghiraukan kebetadaan Vano disisinya.
"Makanya pelan-pelan aja gak usah buru-buru gitu gak akan ada yang ambil kok itu makanan" Vano pun mengambil selembar tisu dan mengusap sisa makanan yang menempel dibawah bibir Luciana.
Deg
Lagi-lagi Vano mampu membuat Luciana membualatkan matanya dan terdiam seperti patung selama beberapa saat,sampai akhirnya ia meraih tisu di tangan Vano.
"Aaa ... aku bisa sendiri" ya kini tiba - tiba jantung Luciana mulai berdetak kencang seakan jantung itu ingin melompat keluar dari tempatnya.
"Apa kau hanya akan memandang makananmu saja cepat habiskan" kini Luciana mencoba menenangkan hatinya dengan mencoba mencairkan suasana canggung ini.
tapi bukannya menjawab Vano malah membuka mulutnya lebar dan mendekatkan wajahnya pada Luciana, Luciana nampak bingung dengan yang dilakukan Vano tapi beberpa saat kemuadia saat Vano mulai menunjuk makanan untuk dimasukan ke dalam mulutnya Luciana mencoba tak menghiraukan .
"Punya tangan kan makan sendirilah kan udah gede" tapi Vano tak kehabisan akal juga ia pun menarik tangan Luciana yang berisi makanan lalu memasukan makanan itu ke dalam mulutnya.
"Tanganku penuh gak bisa makan sendiri jadi harus disuapin" sembari mengakat kedua tangannya yang dimana satu sisi tangannya menggandeng tangan Luciana dan satu sisi lainnya memengang ponsel.
Luciana pun hanya mampu menggeleng-ngelengkan kepalanya melihat tingakah Vano yang sedari tadi entah kena angin apa seketika berubah drastis dari biasanya, awal kenal Vano sikapnya sangat dewasa dan selalu memberikan tegasnga walau hanya beberapa kali bertemu tapi Luciana tau kalau Vano laki-laki yang tegas dan selalu memarihi Luciana jika kelakukan Luciana salah.
Entah kenapa hari ini sikap Vano berubah drastis dari memberi bunga, selalu mengandengan tangan mencium pungung tangan ditempat umum sampai makan pun maunya disuapin seperti anak kecil yang ingin mendapatkan perhatian lebih dari ibunya.
Selesai makan Luciana dan Vano memilih untuk berjalan-jalan sejenak menikmati hari yang cerah ini sembari ingin merengangkan otot-otot. Beberapa kali Luciana mencoba melepaskan gandengan tangan Vano karena merasa sedikit tak nyaman dengan beberapa tatapan orang-orang disepanjang jalan.
Selain tak nyaman dengan tatapan itu bagi Luciana hanya sepasang kekasih yang berjalan sembari bergandengan tangan seperti yang sedang dilakukan Vano dan Lucaian, sedangkan Luciana dan Vano bukan sepasang kekasih. Untuk memikirkannya saja rasanya Luciana tak mampu karena dalam pikiran Luciana dia hanya gadis biasa yang tak pantas di sandingkan dengan Vano yang Luar biasa nampaknya untuk berpasangan dengan Vano pun sangat tak mungkin bagi Luciana.
Come Luciana gadis seperti apa memangnya yang pantas bersama seorang Vano, kau cantik jadi please jangan terlalu banyak berpikir bukan-bukan jalan hidup hanya tuhan yang tau kita hanya mampu menikmatinya saja.
Beda dengan jalan pikir Luciana beda pula jalan pikir Vano, nampaknya Vano lebih nyaman berjalan dengan menggandeng tangan Luciana dan nampaknya Vano tak rela jika gadis yang saat ini bersamanya menjadi sasaran empuk para lelaki hidung belang disepanjang jalan memandangi paras cantik Luciana.
Walau Luciana hanya mengenakan baju kaos putih yang sedikit over size dan celana jeans panjang tak menutupi kecantikan Luciana yang memang tak hanya cantik diparasnya saja tapi memang cantik luar dalam dan memang benar sepanjang jalan tak hanya satu dua orang pria yang memberi Luciana senyuman manis saat berpapasan dengan Luciana saat Vano tak menggandeng tangan Luciana.
Entah apa yang dirasaakan Vano saat ini apa memang dia benar tertarik pada Luciana dan terobsesi ingin memiliki sesaat , atau hanya karena lelah dengan tekanan orang tuanya yang selalu menjodohkannya dengan wanita diluar sana tanpa tau bagaimana sifat wanita itu bagaimana.
ditunggu kunjungannya ke karyaku TERJEBAK DALAM DERITA
Mampir juga yuks thorr ke " Bersemi Kembali " Dan jangan lupa untuk menngggalkan jejak
Salam Hangat
Aku tunggu kedatangan kk di karya aku ya
"Kamu matahari dan aku bulan" dan
"Siren or Human"
Semangat🥰
jgn lupa mampir jg ke karya ku 👐
jangan lupa beri vote di lapakku saat mampir nanti yaa😉terima kasih
like mendarat untuk episodemu❤️
semangat selalu😊
dan mampir juga ya ke cerita aku
🌸Stole Audrey's Heart🌸
🌸Hate His Touch🌸
cemungut ya... 🤭🤭