KARYA INI HANYA FIKSI BELAKA, APABILA TERDAPAT KESAMAAN NAMA DAN TEMPAT ITU HANYA KEBETULAN SEMATA DAN TIDAK ADA UNSUR KESENGAJAAN.
DILARANG KERAS PLAGIAT!!! SEMUA ISI DARI NOVEL REAL DARI IDE DAN PEMIKIRAN SAYA SENDIRI.
SEGALA TINDAKAN YANG TIDAK BAIK DALAM CERITA TIDAK UNTUK DITIRU. AMBIL SISI POSITIFNYA SAJA!!!
Pemuda tampan,gagah dan kekar itu bernama Yusuf. Ia hidup berdua dengan kakeknya.Kehidupan yang ia jalani bisa dikatakan serba kekurangan dengan menjadi kuli cangkul ataupun serabutan disawah.
Rasa sayang pada kakenya, membuat ia mampu untuk tetap berdiri tegak dan mengesampingkan segala sesuatu yang tidak terlalu penting.
Dilema dengan dua pilihan yang sama-sama berarti dalam kehidupannya.Pergi atau tetap tinggal.
Kehidupan yang tak selalu mulus, meski berulang kali yang disebut kematian membuatnya seakan putus asa. Mencintai gadis yang sudah tiada adalah hal yang paling menyakitkan.
Hingga hampir mustahil untuk membuka kembali lembaran yang telah penuh dengan goresan tinta.
Bagaimana cara untuk menghapus???
Atau memberi lembaran baru untuk menghapus yang telah usang.
Bagaimana kisah Yusuf, Muluskah perjalanan cintanya? Bagaimana kisah hidupnya saat cinta yang baru telah tumbuh dihatinya?
Yukk.. Simak terus kisah perjalan hidup dan cinta Yusuf sampai selesai ya.Maaf update nya tidak menentu, jadi mohon bersabar untuk para reader. Tapi insyaa Allah author akan menyelesaikan hingga tamat.
Karya ini orisinil ya para readers..
Semoga bermanfaat dan banyak hikmah yang bisa diambil..
mohon dukungannya supaya author lebih gigih, dan lebih baik lagi dalam pembuatan naskah. 😍🙏
Selamat membaca para readers....... Dukunganmu, Semangatkuu...😍😍😍
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lailatul Zulfa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kenangan Menghilang dan Tragedi Masa Lalu
Akan ada masa dimana kenangan masa lalu itu akan hilang bersamaan dengan datangnya sebuah harapan baru dimasa mendatang.
Jangan sampai karena menoleh kebelakang, jatuh terlalu dalam menghayati masa lalu. Karena masa lalu teramat berbeda dengan sejarah yang harus selalu dikenang.
Malam ini hawa begitu dingin, dihiasi rintik hujan yang mulai berjatuhan membasahi bumi. Simbah sudah tertidur pulas, aku masuk untuk memberikan selimut. Dengan perlahan, aku menyelimuti tubuh Simbah yang sudah keriput dimakan oleh usia.
Aku pun menyusul simbah, rasa kantuk membuatku tak tertahankan. Tidur dalam dekapan dinginnya malam. Perlahan aku merasakan nyaman yang sangat luar biasa. Aku pun mulai masuk alam yang berbeda kembali. Seperti terhanyut mengikuti derasnya arus.
Nampak lah gadis yang aku cintai. Menemuiku dengan segenap rasa yang tak pernah pudar. Namun kali ini ada yang aneh, dalam mimpi itu perlahan ia melepaskan genggaman erat tanganku. Lambat laun, jarak kami mulai ada sekat. Ia diliputi oleh kabut yang membuat jarak kian terasa. Sesekali ia tersenyum manis, tak ada yang berubah sama sekali seperti saat masih hidup.
'Aku rindu...' Dalam mimpi aku menangis saat mengucapkan kata-kata itu.
Tiba-tiba saja ia menyampaikan sesuatu untukku. Yang bisa dikatakan pesan terakhirnya lewat mimpi itu.
'Sampai kapan kamu akan seperti ini, Mas? Jangan berlarut dengan perasaanmu yang kamu sendiri tidak tau ujung pangkalnya. Aku adalah perempuan yang pernah singgah dihatimu, yang ditakdirkan oleh gusti hanya sementara. Iya sementara memberi warna dalam setiap detak jantungmu, sebelum detakku berakhir. Berakhir sudah kisah kita. Jangan membuat derai air mata muncul saat kamu masih saja mengharapkanku. Karena itu mustahil. Kamu percaya akan takdir, kan? Jika kamu percaya akan takdir, lanjutkanlah skenario dengan semestinya. Kamu adalah wayang. Ketika kamu tidak patuh pada dalang, maka bubrah sudah hatimu, Mas. Aku sudah tenang disana, pernah mencintaimu dialam duinia adalah karunia gusti yang luar biasa. Kini hatimu harus berjalan dengan sesuai kehendak-Nya. Jangan menutupi benih dihatimu. Selamat tinggal, aku pergi Mas. Semoga gusti mempertemukan kita disana.'
Aku menangis tersedu-sedu melihatnya perlahan menjauh. Kata-kata yang ia lontarkan adalah salam perpisahan dari segala apapun yang menjadi kenangan.
Sampai ia menghilang aku masih saja meneteskan air mata. Tak sadar jika suaraku bisa membangunkan simbah dari tidurnya. Aku terbangun dari mimpi itu.
Ternyata aku benar-benar mengeluarkan air mata. Tertunduk lemas, aku sadar itu adalah salam perpisahan dan nasihat ia untuk membuatku membuka hati kembali.
"Aku tidak menyangka, mimpi yang seperti ini akan hadir. Apa ia sudah tidak akan lagi hadir dalam mimpiku?" Gumamku pada diriku sendiri.
Padahal mimpi adalah satu-satunya cara untuk bertemu dengannya. Sekarang sirna sudah. Aku seperti kehilangan separuh hiidupku kembali.
"Apa sekarang benar-benar harus ku relakan perasaan itu lenyap seiring berjalannya waktu. Pergi bersama kabut putih yang membawanya terbang ke tempat yang sangat jauh. Dan tidak akan ku temui kembali sosok sepertinya.
Mungkin ini adalah jawaban atas pertanyaan gadis itu saat berjanji bertemu di sawah. Diriku tidak ingin kematian dan cinta menjadi jalan yang harus dilewati. Menginginkan membina rumah tangga hingga menua. Namun apalah daya takdir tetaplah takdir yang tidak bisa untuk dinegosiasi, jika itu adalah perihal kematian.
"Apa yang harus ku lakukan dengan hatiku kini, yang sudah terlanjur hampa untuk membukanya." Aku terus saja berbicara pada diriku sendiri.
Tanpa terasa mataku sembab dan mulai terpejam kembali. Walaupun sebenarnya rasa sesak didada masih mengitari. Mencoba untuk ikhlas, ikhlas yang benar-benar melupakan.
Tidak lama kemudian muncul kembali mimpi yang membuatku merasa tak percaya. Iya, kejadian saat berada disamping rumah bersama gadis itu. Kenapa tiba-tiba muncul. Aku tidak pernah memikirkannya. Namun, dalam mimpi terlihat sekali gadis itu tulus mengharapkan terbuka hatiku untuknya.
Hingga terdengar sayup-sayup adzan Subuh. Aku pun bergegas untuk segera menunaikan kewajiaban. Ternyata simbah sudah lebih dulu bersuci. Kami pun jama'ah bersama dirumah.
"Ono opo Le, mau bengi Mbah krungu awakmu koyo nangis?" Usai sholat mbah bertanya itu padaku. (Ada apa Le, tadi malam denger kamu kayak nangis)
"Apa iya, Mbah? Mungkin salah dengar. Tadi malam aku tertidur pulas, kok." Aku mencoba berkelit tentang mimpi itu.
Kali ini simbah tidak nampak ekspresi misteriusnya, yang pernah seakan membuat jantungku mau copot.
"Oalah yasudah Le. Mati iku gak iso dinyang Le. Yen awakmu kepengen ngenyang karo gusti, yo kui takdir sing isih biso diubah. Dikehno anggonmu nyedak mring gusti. Wong gusti iku gumantung karo kawulane. Ngadoh yo dadi adoh. Gelem nyedak yo dadi cedak. Umpama awakmu ditakdirke dadi kuli pacul, yo nyuwuno mring gusti supoyo dadi juragane kuli pacul. Mbah ngerti Le, dungamu pendak bengi gak pernah pedot. Tapi kabeh iku nganggo wayah. Madep mantep, ikhlas anggone nglakoni. Insya Allah bakal kepenak akhire. Biso semeleh atimu Le."
Lagi-lagi nasihat ini, aku merasa ada kaitannya dengan mimpi itu.
(Mati itu tidak bisa di negosiasi Le. Kalau kamu ingin bernegosiasi sama Tuhan, ya negolah takdir yang masih bisa di ubah. Perbanyak mendekat kepada Tuhan. Karena Tuhan itu tergantung hamba-Nya. Menjauh ya jadi jauh. Kalau mau mendekat ya jadi dekat. Seumpama kamu ditakdirkan menjadi kuli cangkul, ya mintalah pada-Nya supaya jadi juragannya kuli cangkul. Mbah tahu Le, doa mu setiap malam tidak pernah putus. Tapi semua itu butuh waktu. Menghadap mantap, ikhlas dalam menjalani. Insya Allah pasti enak akhirnya. Bisa tawakal.)
Aku tertunduk saat mendengar semua pangendikan dari simbah. Seraya menjawab,
"Nggih Mbah..." Mengangguk pada mbah yang ada didepanku.
Jika saja gusti tidak mengirim sosok simbah dalam kehidupanku yang teramat menyedihkan ini, mungkin aku sudah gila. Memikirkan hal yang seharusnya tidak dipikirkan. Dan mengharapkan hal yang mustahil untuk dimiliki.
...*********...
Didalam kehidupan tidak ada aturan untuk mendahului takdir. Layaknya game, siapa tidak ikut aturan main, maka ia terkalahkan oleh rintangan itu sendiri. Maka lakukanlah apa yang sudah menjadi bagiannya. Putus asa bukan suatu alasan untuk berhenti menjalani hidup yang memang sangat terjal. Putus asa adalah dua kata yang tidak boleh permanen dalam kamus hidup. Jangan sampai putus asa pokoknya. Kegagalan pula yang menjadikan diri lebih kuat untuk menghadapi berbagai rintangan hidup.
Dari kejadian diwarung Mbok Nah, Kholil begitu penasaran mengenai tragedi yang pernah di ucapkan oleh Susi. Berhari-hari ia membujuk Susi agar mau bercerita. Akan tetapi tidak membuahkan hasil.
Hingga pada suatu hari, Kholil sengaja membuntuti Susi saat pulang dari warung.
"Sus, ayo dong.. Cerita, apa maksud tragedi itu." Kholil merengek-rengek pada Susi.
"Iihh, apa sih Lil. Ngagetin kamu."
"Sus, ayu wis ayu... Ayo lah kasih tau ya..." Masih saja memohon-mohon pada Susi dengan rayuannya.
Namun Susi tidak bergeming, ia terus berjalan tanpa mempedulikan Kholil yang sedari tadi membuntutinya dari belakang.
"Ayo lah Sus, katakan padaku. Aku janji tidak akan bicara pada siapapun. Tolong lah, ini demi sahabatku Ucup."
Tiba-tiba saja Susi memberhentikan langkahnya. Ia agak terkejut mendengar pernyataan Kholil.
"Apa? Demi Ucup? Apa ia benar-benar jatuh cinta pada Ajeng?" Tanya Susi seraya ia mengernyitkan dahinya.
Sambil terbata-bata ia menjawab pertanyaan dari Susi.
"Ya... Ya.. Belum, sih. Tapi aku yakin Sus, ada perasaan yang terpendam diantara mereka."
Susi pun terdiam sejenak mendengar penuturan dari Kholil.
Lagi-lagi Kholil merengek-rengek,
"Ayo lah Sus, cerita dong. Baik, cantik, nggak sombong wis.."
"Kamu menyogokku dengan pujian, Lil?" Melirik ke arah Kholil.
"Haduh, terus gimana sih, Sus. Biar kamu mau cerita? Aku janji nggak akan cerita pada siapapun."
Tak lama kemudian Susi berkata,
"Yaudah, ayo kita cerita dirumahku saja. Di rumah ada bapakku. Disini tempatnya terlalu terbuka untuk bercerita privasi orang."
Kholil pun tersenyum, merasa girang. Dari mana mereka memulai, yang tadinya Mbok Nah melarang keras Kholil mendekati putri semata wayangnya itu. Kini mereka malah terlihat akrab.
"Duduk dulu Lil," pinta Susi. Sambil ia masuk ke dapur meletakkan termos.
Dan kembali ke ruang tamu. Mulailah pembicaraan mereka tentang tragedi itu.
"Gimana Sus, tragedi apa?"
"Ceritanya panjang Lil, akan ku ceritakan satu per satu."
"Baiklah, Sus..."
"Begini Lil, sebelum aku kembali kesini, ke tempat kelahiran ibuku. Aku tinggal di Jogja, tanah dimana asal bapakku. Tempat tinggalku lumayan dekat dengan rumah Ajeng yang memang terbilang mewah. Kami sempat menjadi satu di universitas ternama. Tapi nasibku tak seberuntung ia yang memang dari kalangan atas. Aku harus terhenti dari perkuliahan, karena orang tuaku nggak mampu lagi membiayai. Aku mengerti cerita Ajeng, ya karena dia sudah seperti saudara sendiri. Saat ia merasa suntuk, pasti sempatkan main ke rumah. Curhat denganku atau simbok yang bisa memberi solusi atau seenggaknya mau mendengar dan menenangkan hatinya."
Belum selesai Susi bercerita, Kholil bertanya,
"Terus dia curhat apa aja, Sus?"
"Hmm, bentar dong, ini kan belum selesai. Mau tau nggak? Aku stop nih ceritanya." Kesal karena Kholil memotong pembicaraan.
"Hehe, iya.. Gitu aja ngambek. Lanjut, lanjut dong!"
"Nah, waktu itu dia pernah cerita kalau naksir sama lelaki dikampusnya. Tapi lelaki itu berasal dari keluarga biasa-biasa saja. Kau tau sendiri kan dari ceritaku, bagaimana prinsip ayahnya. Sampai disuatu saat, mereka benar-benar jatuh cinta. Si lelaki mau menunggu sampai kuliah mereka selesai dan menjalin hubungan ke jenjang yang lebih serius. Namun, belum sampai pertengahan jalan, hubungan mereka ditentang oleh Pak Cokro. Hanya karena soal status sosial. Dari penuturan Ajeng, lelaki yang pernah ia cintai itu sudah berusaha untuk membuktikan rasa cintanya pada Ajeng. Usaha itu tidaklah membuahkan hasil, saat lelaki itu datang ke rumah Ajeng, hanya caci makian yang ia dapat dari Pak Cokro. Hati mana yang tak sakit. Walau setegar karang, namun usaha keras tetaplah usaha. Saat disepelekan hati jadi memiliki dendam yang harus dibuktikan. Walau sampai titik darah penghabisan, dan bagaimanapun caranya beliau tetap bersikukuh tidak merestui hubungan mereka. Ajeng dikurung dalam rumahnya, sementara lelaki itu pernah babak belur karena ulah orang suruhan Pak Cokro. Aku tidak mengerti kenapa tragis sekali kisah mereka. Hingga akhirnya kejadian na'as menimpa si lelaki itu. Ia tewas bunuh diri di kostan nya. Gantung diri saat tetangga kost sebelah sedang sepi. Ada yang ditinggal kuliah, ada juga yang bekerja. Kenapa harus jalan mendahului takdir yang ia pilih. Pak Cokro, iya, menurutku sangat keterlaluan sekali membuat nyawa orang melayang hanya karena egonya. Tapi menurutku juga, ia tidak memiliki pondasi iman yang kuat. Sehingga memilih jalan yang dimurkai." Dengan nada lemas Susi menceritakan semua tragedi itu.
"Apa itu alasan keluarga mereka kembali kesini?" Tanya Kholi penuh dengan penasaran.
"Aku tidak tau Lil, saat aku kembali kesini, mereka masih di Jogja. Bisa jadi itu alasannya."
"Bagaimana nasib sahabatku ini?" Gerutu Kholil.
"Lebih baik kau jangan ceritakan dulu pada sahabatmu itu, Lil. Aku takut saat ia sudah jatuh
cinta beneran, malah mundur duluan sebelum melangkah. Aku lihat-lihat sepertinya dia orang yang kuat. Tidak mudah putus asa."
"Baiklah Sus, terimakasih banyak atas semua penjelasan ini. Aku ngerti sekarang, berarti dia termasuk gadis yang sangat tangguh." Ucap Kholil.
"Iya sama-sama Lil, aku juga tau perasaannya. Jika ia benar menaruh hati pada Ucup, itu artinya ia sedang mencari obat dihatinya yang pernah diremuk redamkan oleh sebuah ke egoisan. Mencari sandaran untuk mengerti hatinya. Hidupnya memang serba ada, namun terbatasi oleh peraturan yang sama sekali tidak menguntungkan baginya."
Kholil tertunduk lemas mendengar semua cerita dari Susi.
"Aku tidak menyangka Sus, kisah hidup gadis secantik dia benar-benar sangat tragis."
"Iya Lil, mungkin salah satu alasan ia melatih menari adalah untuk menylamurkan bayang-bayang dimasa lampau."
Kholil hanya mengangguk-angguk. Dia mulai mengerti apa yang terjadi pada kedua insan itu.
'Ternyata mereka memiliki sejarah yang hampir sama. Sama-sama ditinggalkan oleh orang yang paling mereka cintai. Tragisnya kematian yang memisahkan mereka sebelum mereka bersatu. Apa mereka berjodoh? Walau pasti akan terjal sekali menghadapi kerasnya prinsip ego nya ayah si gadis.'
sekarang anak2 lebih Suka main hp ,fb atau game online, disuruh ikut latihan beladiri aja di kelurahan gak mau😔😔
Nampaknya Ajeng nih yg mulai jatuh hati
Tentang realita kehidupan yg sebenarnya
gak halu
😘😘😘😘
semangat terus...
😍😍