NovelToon NovelToon
Ponsel Dewa Si Reno

Ponsel Dewa Si Reno

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Komedi / Romansa
Popularitas:299
Nilai: 5
Nama Author: Khusus Game

Berbekal ponsel hitam tanpa merek dengan AI yang sangat sarkastis, Reno mendadak menjadi peretas paling dicari oleh komplotan mafia teknologi. Di tengah pelarian yang menegangkan, Reno tidak hanya harus menghindari peluru, tetapi juga harus menahan malu karena asisten digital di ponselnya yang justru sering menjebaknya dalam situasi paling absurd

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khusus Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22: Sabotase Undangan

​Reno masih duduk membeku di atas lantai beton lapangan, mengabaikan rasa perih di bahunya demi menatap layar ponsel hitam tersebut.

​Antarmuka penyadapan hantu itu memproyeksikan tampilan layar aplikasi pesan instan milik Dika dengan tingkat kejernihan yang luar biasa tanpa celah.

​Sebuah draf pesan panjang sedang diketik dengan sangat cepat oleh musuh bebuyutannya, ditujukan langsung ke nomor kontak pribadi milik Luna.

​{Orang sombong ini benar-benar tidak memiliki urat malu, baru saja dipermalukan di depan umum tapi sudah berani merencanakan kencan baru.}

​Sebuah jaket tebal berukuran besar mendadak melayang dari arah belakang, mendarat tepat menutupi pangkuan dan paha Reno yang terekspos memalukan.

​Radit berdiri dengan napas terengah-engah, memberikan isyarat panik menggunakan gerakan kepalanya ke arah pintu keluar darurat fasilitas olahraga tersebut.

​"Pakai jaketku untuk menutupi celana pendek memalukanmu itu, lalu kita harus segera kabur sebelum para penggemar fanatik Dika mengamuk parah."

​Reno buru-buru melilitkan lengan jaket tersebut ke pinggangnya, mengikatnya dengan sangat kuat agar celana boxer motif stroberinya tertutup secara sempurna.

​Ia bangkit berdiri dengan susah payah, berlari tertatih-tatih mengikuti langkah lebar sahabat gempalnya menyusuri lorong beton menuju ruang ganti putra.

​Ratusan mahasiswa masih sibuk menertawakan sisa-sisa kejadian di lapangan, memberikan kesempatan emas bagi Reno untuk menyelinap pergi tanpa hambatan berarti.

​||||

​Ruang ganti mahasiswa putra itu terlihat sangat sepi dan kosong, memberikan sebuah tempat persembunyian yang cukup aman untuk memulihkan harga diri.

​Deretan loker besi berkarat berjajar rapi di sepanjang dinding, mengapit sebuah bangku kayu panjang yang catnya sudah banyak terkelupas di sana-sini.

​Reno mendudukkan dirinya di atas bangku tersebut, langsung memusatkan seluruh fokus pandangannya kembali ke arah layar ponsel canggih X-Phreak 9000.

​Pergerakan kursor digital di layar sadapan itu menunjukkan bahwa Dika sedang memperbaiki susunan kata demi kata agar terdengar sedramatis mungkin.

​Pemuda pewaris kekayaan itu sepertinya sedang berusaha keras membangun kembali citra elegannya yang sempat hancur lebur di lapangan pertandingan barusan.

​Reno membaca barisan teks pertama itu dengan detak jantung yang kembali berpacu cepat, merasakan ancaman besar sedang mengintai masa depan asmaranya.

​Jari-jari Reno mulai memproduksi keringat dingin, membayangkan Luna mungkin saja akan luluh dengan tawaran kencan super eksklusif dan berharga mahal tersebut.

​{Kalau Luna sampai membalas pesan ini dengan kata setuju, seluruh usahaku memenangkan pertandingan basket tadi akan menjadi sebuah kesia-siaan belaka.}

​Rasa cemburu yang luar biasa hebat mulai membakar rongga dadanya, mengesampingkan fakta bahwa dirinya baru saja dipermalukan di depan umum.

​"Siri-usly, kau harus menggagalkan pengiriman pesan ini sekarang juga, hapus semua ketikannya atau blokir nomor Luna dari perangkatnya selamanya!"

​Reno berbisik panik ke arah mikrofon ponsel, memberikan instruksi membabi buta yang sangat didorong oleh ketakutan kehilangan gadis pujaan hatinya.

​Teks biru menyala itu bergulir tenang di sudut layar, memberikan sebuah analisis logika komputasi yang langsung mematahkan rencana gegabah Reno.

​Reno menelan ludah kasarnya, menyadari bahwa penjelasan kecerdasan buatan sarkastis itu memiliki kebenaran mutlak yang tidak bisa dibantah lagi.

​Pemuda kurus itu membelalakkan matanya, menyadari bahwa mempermalukan Dika melalui kata-katanya sendiri adalah sebuah taktik serangan mental yang jauh lebih mematikan.

​"Aktifkan modul itu secepatnya, aku ingin melihat pria sombong itu mengetik surat undangan paling absurd sepanjang sejarah peradaban umat manusia."

​||||

​Sebuah jendela antarmuka baru terbuka melayang di atas layar ponsel Reno, menampilkan ruang kosong yang siap menerima instruksi modifikasi teks.

​Reno memiringkan kepalanya sedikit, memutar otak untuk mencari kalimat pengganti yang bisa menghancurkan citra maskulin Dika di mata Luna seketika.

​Senyum licik perlahan mengembang di bibirnya, sebuah ide cemerlang yang sangat merusak harga diri baru saja melintas liar di dalam kepalanya.

​Ia menempatkan kedua ibu jarinya di atas kibor virtual, mulai mengetikkan deretan kalimat pengganti dengan kecepatan yang luar biasa lincah.

​Di layar sadapan utama, Dika tampaknya sudah selesai menyusun draf pesan romantisnya dan sedang bersiap menekan tombol kirim berwarna hijau.

​Namun, tepat pada hitungan milidetik sebelum ujung jari Dika menyentuh layar, algoritma dari ponsel hitam Reno mengeksekusi manipulasi teks tersebut secara paksa.

​Barisan kalimat elegan yang disusun susah payah oleh Dika mendadak berubah bentuk secara total di dalam kolom obrolannya sendiri tanpa peringatan.

​Reno menahan napasnya, memantau pergerakan visual di dalam layar sadapan itu untuk memastikan bahwa seluruh ketikannya berhasil masuk secara sempurna.

​Dika yang sedang berjalan terburu-buru di lorong luar sama sekali tidak memperhatikan perubahan teks sesaat itu di layarnya sendiri.

​Pemuda arogan itu memusatkan pandangannya ke arah jalan keluar kampus, langsung menekan tombol panah kirim tanpa membaca ulang isi pesannya.

​Tanda centang dua berwarna abu-abu langsung muncul di sudut gelembung pesan, mengonfirmasi bahwa undangan absurd itu telah berhasil terkirim ke peladen utama.

​Reno menyandarkan punggungnya ke dinding loker besi, menghela napas panjang menikmati kemenangan tak kasat mata yang baru saja ia raih.

​||||

​Di sudut perpustakaan kampus yang sangat tenang, Luna sedang duduk menyendiri menghadap sebuah buku diktat tebal yang halamannya terbuka lebar.

​Gadis berprestasi itu masih berusaha menenangkan pikirannya yang kacau balau setelah menyaksikan insiden olahraga paling memalukan di lapangan tadi.

​Pemandangan memalukan di bawah keranjang logam itu terus berputar-putar di dalam kepalanya, memancing perdebatan batin antara rasa iba dan simpati yang aneh.

​Sebuah getaran singkat dari ponsel pintar di atas mejanya memecah keheningan, menandakan adanya sebuah pesan instan baru yang baru saja masuk.

​Luna mengambil perangkat tipis tersebut dengan gerakan anggun, membuka kunci layarnya untuk memeriksa identitas sang pengirim pesan di jam istirahat ini.

​Nama Dika terpampang di urutan teratas daftar obrolan, membuat gadis itu menghela napas panjang karena merasa sedikit malas untuk menanggapinya.

​Ia membuka ruang obrolan tersebut dengan niat awal untuk menolak secara halus apa pun bentuk ajakan atau keluhan dari pemuda arogan itu.

​Kedua bola matanya mulai bergerak menyusuri deretan teks yang baru saja masuk, membaca setiap suku kata dengan tingkat ketelitian yang sangat tajam.

​Alis kanannya perlahan terangkat naik, disusul oleh kerutan dalam di dahi yang memancarkan tingkat kebingungan luar biasa besar.

​Ia membaca ulang pesan tersebut untuk yang kedua kalinya, memastikan bahwa matanya sama sekali tidak salah menangkap makna dari susunan huruf yang tertera.

​Ajakan konyol di sebuah acara ulang tahun itu terdengar seperti sebuah lelucon yang sama sekali tidak memiliki logika kewarasan bagi pria sekelas Dika.

​Gadis idaman jutaan umat itu menatap layar ponselnya tanpa berkedip, otaknya bekerja keras mencoba membedah maksud tersembunyi di balik kalimat absurd tersebut.

​Menggunakan modul mutakhir Autocorrect Sabotage, Reno telah sukses besar menyisipkan teks manipulatif ke dalam ruang obrolan pribadi milik Dika dengan sangat mulus.

​Pesan yang tadinya berupa undangan kencan romantis di hotel bintang lima itu kini berubah wujud menjadi sebuah bencana komunikasi yang sangat menghibur.

​Deretan pesan yang dimanipulasi secara paksa oleh Reno itu menampilkan susunan kalimat pengganti yang luar biasa merusak harga diri sang pengirim aslinya.

membuat Luna mengernyitkan dahi kebingungan.

1
M Amir
kurang greget aghhh
Khusus Game: gigit...kurang gereget mah.
total 1 replies
Aisyah Suyuti
good
Dragonovic#
let's gooooo
semoga happy ending thor jangan bad ending im already tired for bad ending
Khusus Game: siappp. Abang first komen, LANGSUNG SAJA, ACC.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!