Bimatara Reza Winajaya tumbuh menjadi pria tampan yang amat di kagumi semua wanita yang melihat. Tapi kisah cintanya tidak semulus di bayangkan banyak orang. Meski fisik mendukung tapi soal wanita dia kurang beruntung.
Banyak orang yang mencintai tapi cintanya hanya untuk wanita di masa lalunya. Clara Mariana Argata.
Pertemuan dengan wanita yang mirip wanita di masa lalu menghantuinya. Ciara Hanaria Azata. Memiliki banyak rahasia yang wanita itu sembunyikan. Hingga wanita itu diam-diam mengagumi Bima saat pertemuan pertama.
Apa Bima akan melupakan sosok wanita yang di cintai selama hidupnya? Atau wanita yang mirip dengan masa lalunya yang akan mengubah segalanya, menjadi cinta baru...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NOVIA IP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kenangan Masa lalu
Update
Selamat membaca guys
Jangan luoa Vote, Komen dan Jempolnya (👍)
***
Hampir kata itu yang selalu Hana gunamkan sendiri. Coba kalian ada di posisi Hana saat itu. Bima dengan gamblang tanpa rasa dosa kemudian mendekati wajah Hana hendak mencium bibirnya. Betapa gugup setengah mati ia harus menghadapi Bima. Untung bin untung Hana tidak memejamkan matanya seperti dalam novel. Pasti Bima menyangka yang tidak-tidak. Kegiatan mereka begitu saja buyar dengan suara dari seorang pria yang tidak lain adalah Arvind, sahabat Bima. Mereka berdua selamat. Kalau sampai hal itu terjadi Hana pastikan mereka berdua menjadi tontonan bak drama.
Dunia serasa milik berdua, sampai lupa kalau kita dan yang lain ada di sini juga.
Ucapan Arvind lah yang membuyarkan adegan khalayak drama korea yang di tontonnya.
Di tambah betapa malunya saat itu banyak pandangan memandang keduanya. Hana juga tahu kalau Bima malu karena wajahnya juga terlihat merah di tambah ejekan ketiga sahabatnya yang terus saja memojokan keduanya.
Semalam pun dia tidak bisa tidur. Matanya sekarang seperti panda dengan lingkaran hitam di sekeliling kedua matanya.
Suara dering ponsel berbunyi.
Dr.Saka
***
Melewati setiap koridor rumah sakit tampak sepi, Hana terus berlari tanpa pikir panjang.
Saat mendapatkan kabar kalau Maminya kembali melukai diri sendiri adalah sesuatu yang membuat Hana sesak dalam dadanya. Yang Hana takutkan terjadi. Ia amat takut kehilangan Maminya. Hanya Maminya lah keluarga satu-satunya yang di miliki Hana dan Tyana, meski keluarga Azata adalah keluarganya juga. Saat mendapatkan telepon dari Dr.Saka yang senantiasa mengabarinya. Beliau bukan hanya Dokter yang menangani Maminya saja tapi pria paruh baya itu adalah sahabat Maminya saat masa sekolah. Itu yang Hana tahu dari Dr.Saka saat pertama kali bertemu dan mengenalnya di rumah sakit ini.
Perasaannya yang sulit di gambarkan membuat kinerja otak Hana berubah menjadi minus saking takut terjadi apa-apa akan Maminya. Hana tidak sendiri. Ia di temani Azata dan Safira. Sementara Tyana bersama pengasuh.
Saat mereka mendekati kamar yang biasa Hana kunjungi, tiba-tiba kakinya berhenti di ambang pintu. Mematung. Ia tidak tahu harus bagaimana saat nanti bertatap muka dengan Maminya. Ia tidak benci hanya kecewa saat wanita itu lebih mengingat kakaknya di bandingkan Hana. Yap, Maminya selalu menganggap kakaknya dan memanggil namanya dengan nama kakaknya ada rasa sakit menjalar saat Maminya lebih menyayanginya daripada Hana.
Hana benci akan hal itu.
Dia kembali teringat akan kejadian di masa lalu di mana terdengar begitu jelas kalau Maminya tidak menginginkan dirinya, meskipun dia sudah tahu alasanya saat dia menginjak sekolah menengah atas.
Tapi rasa sakit hatinya masih terbayang sampai saat sekarang.
Flashback
Dua orang anak kecil berusia empat tahun duduk berdampingan di kursi kayu yang cat berwarna putih, mereka berdua tampak tersenyum senang apalagi mereka seraya menikmati permen lolipop warna-warni di tangan keduanya.
"Kak, Cia mau lolipop kakak boleh?" pinta gadis kecil dengan rambut di kuncir kuda. Tatapannya penuh memelas pada gadis kecil yang rambutnya di urai menjuntai sebahu.
"Gak boleh. Ini punya aku, Cia. Kamu punya sendiri." Tolak gadis yang di pintanya.
"Kakak pelit, aku mau itu..." Paksa gadis kecil berkuncir kuda itu merengek sambil menunjuk lolipop di tangan gadis satu lagi.
"Jangan. Aku bilangin Mami. Kalau kamu nakal sama aku." balasnya sedikit dengan nada teriak seakan mengretak.
Saat mendengar kata 'Mami' membuat nyali yang bernama Cia itu menunduk seperti orang yang takut. Sedang gadis yang teriak tersenyum menang.
Tidak lama seorang wanita memakai dress hijau toska datang menghampiri keduanya. Di ikuti seorang pria di belakangnya tampak gagah memakai kemeja hitam dan celana jeans yang dipakainya.
"Sayang kamu kenapa kok Mami denger kamu teriak-teriak." Ucap lembut seraya mengelus lembut gadis di depannya. Sedangkan Cia hanya bisa melihat kedekatan Mami dan Kakaknya dengan perasaan sakit.
"Cia mau ngambil lollipop aku, Mi." Adunya sambil merajuk manja.
"Cia benar apa yang di katakan kakak kamu? Jawab." Wanita dewasa menatap Cia tidak suka.
Cia menunduk, menahan agar tidak menangis.
"Kok malah nunduk?" Wanita dewasa itu makin tajam menatap Cia. Karena tidak ada respon dari Cia.
"CIARA... " sentak wanita itu membuat Cia makin ketakutan akan suara bentakan yang terdengar menggema di telinganya.
"Cukup! Kamu gak harus bentak Cia karena hal sepele begini." Bela pria itu mendekati Cia yang tampak ketakutan."Sayang kamu gak apa-apa?" tanyanya seraya mendekap Cia kedalam pelukan. Melihat anaknya diam, pria itu tahu kalau Cia begitu rapuh. Apalagi umurnya masih sangat belia.
"Gak apa-apa." Cia tersenyum samar.
"Kamu dengar sendiri kan Mas dia bilang gak apa-apa. Gak usah di manja deh." Wanita itu tampak santai memeluk gadis satunya lagi yang masih menikmati lollipop.
"Harusnya kamu pikirkan juga perasaan Cia. Jangan berat sebelah. Cia anak kita. Mereka kembar." Timpal pria itu.
Selama ini istrinya lebih mementingkan kakaknya Cia dibandingkan Cia sendiri.
"Serah kamu, Mas. Aku mau pulang. Kita harus check up ke rumah sakit lagi besok." Kata wanita itu pun mengalihkan pembicaraan.
"Cia akan ikut dan tinggal di sana. Aku gak tega harus terus menitip Cia sama Mas Azata sama Mbak Safira. Dia butuh kasih sayang kita. Orang tua kandungnya." Pria itu tegas menatap istrinya terkekeh.
"Mas, aku cuma mau fokus sama一" Wanita itu sedikit tidak terima.
"Jangan pernah menyesal kalau suatu saat nanti Cia lebih memilih orang lain ketimbang keluarganya sendiri."
Pria itu menggendong Cia masuk kedalam rumah dan meninggalkan keduanya. Wanita itu hanya diam mendengarkan ucapan suaminya.
***
"Hana kamu kok malah diam. Ayo masuk." Hana tersentak kaget saat lamunan masa lalunya terus saja menghantuinya. Elusan lembut Safira seakan menguatkan hatinya yang agak tergoyahkan. Hana adalah panggilan baru saat dia sudah bergabung dengan keluarga angkatnya di Bandung. Sekarang panggilan Cia adalah kenangan kelam untuknya.
"Kenapa sayang?" Azata mengelus punggung Hana. "Kamu harus bisa hadapi semuanya. Kubur semua kenangan buruk, buatlah kenangan indah mulai hari ini."
Hana menangis memeluk Azata. Tangisnya tumpah begitu saja dan rasanya begitu sesak. Padahal Hana sudah berjanji tidak akan lagi menangis pada Papinya. Saat mendiang Papinya masih hidup, dia selalu menasehati Hana agar menjadi wanita yang kuat dan tegar. Meski dia iri dengan Kakaknya bisa bersikap manja pada umumnya pada kedua orangtuanya. Kenapa Hana tidak boleh?
"Ayo sayang. Gak enak berdiri terus di depan pintu." Ajak Safira setelah Hana sudah menghapus bekas tangisannya.
Saat mereka memasuki ruang kamar milik Maminya, Hana melihat keberadaan Dr.Saka berdiri di samping ranjang wanita paruh baya itu yang sedang tidur pulas.
"Kamu sudah datang." Kata Dr.Saka, Hana mendekati ranjang melihat wajah Maminya begitu kacau. Ia duduk dan memegang tangan wanita itu.
"Bagaimana keadaan Mami, Dok?" Tanya Hana mengenai keadaan Maminya masih terkulai lemas. Ada rasa sesal ia tidak bisa setiap hari berada di sisinya. Apalagi ia sekarang sudah bekerja. Waktu semakin berkurang untuk menjenguknya.
"Masih sama, dia hanya butuh dukungan moril dari keluarganya saja. Ia tertekan dan merasa bersalah saat di masa lalu terutama dengan kamu. Ia selalu memanggil namamu Cia dalam setiap gunamannya dia selalu meminta maaf. Setidaknya kamu harus lebih meluangkan waktu untuk Mami mu. Saya yakin dia akan cepat sembuh kalau dia selalu berada di sekitar kalian." Ucapan Dr.Saka membuatnya berpikir kembali.
"Hana akan coba untuk sering mengunjungi Mami."
Tidak lama Dr.Saka dan kedua orang tua Hana keluar dari ruangan dan menyisakan Hana dan Maminya. Hana senantiasa memegang tangan wanita paruh baya itu.
"Mami harus cepat sembuh, jangan melakukan hal-hal yang dapat membahayakan. Mami mau ninggalin kami. Mami tega." Suara Hana terdengar parau menahan isak tangis. Air matanya kembali keluar membasahi kedua pipinya.
Ia menyekat air matanya. Tiba-tiba tubuh wanita itu menggeliat dan pelan-pelan matanya mengusik dan terbuka. Keduanya saling tukar pandang.
Beberapa menit mereka dalam diam. Masih belum membuka suara. Maminya tampak lemah kemudian air mata wanita keluar deras dan menyentuh wajah Hana lembut.
"Cia..." Katanya lirih.
Hana mencoba menyentuh tangan Maminya yang berada di wajahnya dan sedikit memberikan senyum.
"Iya, ini Cia. Mami mau minum?" Maminya mengangguk. Dengan cekatan ia mengambil gelas di atas nakas, tidak lupa mengambil sedotan agar mempermudah Maminya minum.
Ia membantu membenarkan posisi Maminya, sedikit menyandar di bantal. Selesai minum mereka mencoba mencairkan kecanggungan di antara keduanya.
"Cia... "
"Iya, Mi?"
"Maaf, selama ini Mami selalu jahat sama kamu. Mami bukan seorang Ibu yang baik untuk kamu. Mami terlalu egois." Ucap Maminya. Ini ketiga kalinya permintaan maaf dari Maminya. Dalam suasana hari ini seakan melupakan kejadian sebelumnya di mana Maminya mencoba mencelakakan dirinya sendiri. Seakan tidak pernah terjadi.
Wanita paruh baya yang masih terlihat cantik meski sudah di makan usia. Tapi senyumnya selalu membuat Hana merasa hangat. Ia amat jarang melihat senyum Maminya terutama padanya.
"Sudah Mi, aku sudah maafkan Mami kok. Yang penting sekarang Mami cepat sembuh dan kita tinggal sama-sama. Tya pasti senang Omahnya pulang."
Maminya mengangguk senang. "Boleh Mami peluk Cia." katanya minta persetujuan.
"Tentu saja."
Mereka berdua saling berpelukan. Perasaan keduanya seakan tercurahkan lewat sebuah pelukan yang sudah lama tidak mereka lakukan.
"Mami...rindu sama kamu, Cia."
"Cia juga."
Kedua mengurai pelukan mereka. Hana masih belum melepas pandangan dari raut wajah Maminya.
"Sudah hampir lima tahun, apa kalian berdua baik-baik saja? Maaf Mami gak menjaga kalian dengan baik." Sesalnya begitu menjalar dalam hatinya.
"Kami sangat baik, Mami jangan merasa bersalah. Ayah dan Bunda selalu melakukan yang terbaik untuk kami. Tya juga sudah sangat aktif dan bawel." Cerita sedikit Hana pada Maminya.
"Mami sangat berhutang budi pada mereka, Cia. Mami malu selama ini mereka yang menyongkong kehidupan kita. Semuanya."
"Mami jangan pikirkan itu, lebih baik Mami berusaha untuk sembuh. Itu yang terpenting sekarang."
"Kamu benar. Mami ingin sembuh." Maminya kembali mengusap wajah Hana lembut. "Maaf telah membuat kamu menderita, Cia."
"Sudahlah Mi, lupakan masa lalu kita harus membuat kenangan baru yang menyenangkan."
"Boleh Mami tanya sesuatu?"
Hana mengangguk.
"Kamu sudah punya pacar?"
Hana tersenyum kikuk mendengar ucapan Maminya. "Kenapa Mami menanyakan hal itu?"
"Mami hanya penasaran dengan perkembangan percintaan anak Mami. Kamu sudah dewasa. Mami selama ini selalu mengabaikan kamu. Kali ini Mami ingin menjadi seorang Ibu sekaligus sahabat kamu, Cia."
"Iya, Cia paham. Aku masih sendiri. Untuk saat ini masih belum memikirkan hal itu."
"Kenapa? Kamu masih belum melupakannya? Mungkin kalau kejadian tersebut tidak terjadi. Mami yakin kalian masih berhubungan sampai sekarang. Maaf Cia, ini semua berasal dari kesalahan Mami. Mami begitu berdosa."
"Mami jangan merasa bersalah. Semua sudah terjadi. Cia juga sudah melupakan dia kok."
"Mami harap dia tidak muncul di hadapan kita. Mami takut kalau dia tahu yang sebenarnya, dia akan mengambilnya dari kita."
"Mami tenang aja, bukan kata Mami kalau dia tidak mengetahuinya? Kita hanya berharap kalau dia tidak pernah tahu akan hal itu. Mami tenang saja. Cia bakal menjaganya dengan baik kok."
"Mami percaya sama kamu Cia, terima kasih."
"Mami sekarang istirahat, jangan banyak pikiran. Mami harus sembuh."
Hana memanjakan Maminya dan mengelus rambutnya agar cepat tidur dan menenangkan pikiran Maminya. Istirahat cukup adalah kombinasi yang baik untuk Maminya.
Semuanya akan baik-baik saja.
***
Sepulangnya dari rumah sakit perasaan Hana mulai tenang. Hana menatap pemandangan di balkon kamarnya. Menghirup udara segar meski bukan di pagi hari, tapi bisa membuat Hana tenang apalagi angin sore sepoi-sepoi perlahan mengurai rambut Hana terbang akibat tiupan angin yang lumayan mengibas rambut hitamnya ke belakang.
Tidak sengaja pandangan matanya tertuju pada Tyana yang sedang bermain di halaman tepat di depan balkon kamarnya. Gadis kecil itu terlihat bersenang-senang bermain dengan boneka dan peralatan masak di dekatnya bersama Fani, pengasuhnya yang sudah tiga tahun menjaga Tyana.
Tyana tertawa lepas. Melihat senyum dan tawa Tyana sudah cukup membuat Hana melupakan masalahnya. Meski ego paling dalamnya sangat benci akan senyum bibir gadis kecil itu. Ia menghela nafas panjang. Membuang semua ego dalam hatinya yang selalu muncul saat ia memikirkan pria brengsek itu.
Hana kembali masuk ke dalam kamar kemudian mengambil kotak yang berada di atas lemari dan membukanya. Ada beberapa foto masa-masa sekolah dan beberapa surat dan barang-barang yang masih utuh dan tidak dimakan waktu.
Sebuah foto usang, sepasang kekasih sedang duduk mesra, kepala keduanya saling bersandar satu sama lain. Senyum keduanya tampak suram bahagia. Jari tangan mereka juga saling bertautan seperti tidak terpisahkan.
"Ini sudah saatnya, bukan?" Hana masih menyimpan semuanya bukan karena dia masih mengharapkan pria itu tapi dia memang belum bisa melupakan kenangan manis saat bersama pria itu.
Hana merapikan kotak tersebut dan membawanya ke bawah dan melemparnya ke dalam tong sampah. Semuanya sudah berakhir.
***
Yuhu, sudah mulai flashback dan konflik tapi masih ringan-ringan belum konflik besar menggelegar hehehe, selama ini banyak main tebak-tebakan ada yang benar ada juga yang hampir.
untuk spoiler kalian bisa cek di group chat kok.
Terima kasih sudah membaca.