Kisah ini sekuel dari ABANG TENTARA, TEMBAK AKU!!!
Andra tumbuh bersama keluarga angkatnya yang tidak lain adalah sahabat dari mendiang bundanya. Andra juga memiliki seorang adik perempuan yang sangat manja bernama Lala.
Walaupun sering ditinggal tugas oleh ayah kandungnya, Andra tidak pernah kehilangan kasih sayang keluarga lengkap. Bersama orang tua angkatnya Andra dididik dengan kedisiplinan dari Andi sang papa angkat serta dari mama Rani, Andra didik dengan kejujuran serta berpikiran terbuka.
Andra besar dengan impian tinggi menjadi pengusaha dan berhasil mewujudkan impiannya setelah mewujudkan kuliah S2 di Singapura.
Akan tetapi huubungannya dengan sang adik tiba-tiba harus renggang karena status mereka tidak sedarah.
Bagaimana kisah Andra selanjutnya???
Happy Reading...🥰🥰🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zur Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Calon Imam...
Singapura...
Andra yang baru datang dari ruangan Kevin dikejutkan dengan isi pesan sang adik.
"Apa ini? Apa ini?" Andra panik, otaknya terus mencerna setiap kata yang dikirim adiknya. Antara bahagia dan penasaran membuat Andra seperti orang yang hilang arah.
Andra menghubungi Lala tapi sayangnya sudah lima kali belum juga diangkat. Sementara Lala sudah terlelap ke dunia mimpi sampai lupa jika Rian dan Dokter Indah masih di bawah.
"Saya pulang dulu, sudah malam." Dokter Indah melihat jam di tangannya yang sudah menunjukkan waktu setengah 10 malam.
"Gak nginap di sini aja, udah malam. Saya takut Dokter kenapa-kenapa di jalan." Pinta Rian.
Dokter Indah tersenyum menatap Rian. Dirinya tidak menyangka bertemu dokter dengan kepribadian aneh seperti Dokter Rian. "Jangan lihatin saya terus, nanti gak bisa tidur. Ayo, saya antar ke kamar Lala."
"Di kamar tamu aja, saya sungkan tidur di kamar suami Lala." Rian tersenyum, "Sebentar, saya ambil baju dulu di mobil." Dokter Indah keluar menuju mobilnya, Rian mengikuti di belakang.
"Jarang pulang ya? Sampai nyimpan baju di mobil." Rian memperhatikan Dokter Indah yang sedang mengambil baju dalam kotak pakaian yang terletak di bagasi mobil.
"Untuk jaga-jaga, kalo-kalo ketumpahan apa gitu, udah ada stok buat ganti."
Selesai mengambil baju, mereka kembali masuk ke dalam rumah. Rian mengantar Dokter Indah sampai di depan pintu kamar tamu yang bersebelahan dengan kamarnya. "Selamat tidur, jangan mimpikan saya!" Ucap Rian seraya tersenyum, sementara Dokter Indah masuk ke kamarnya sambil geleng-geleng kepala.
Setelah membasuh wajah dan mengganti bajunya dengan baju kaos biasa, tiba-tiba terdengar bunyi pesan masuk ke ponselnya.
"Maaf ya, saya tidak bisa bersikap romantis dan berkata manis seperti pria-pria lain. Saya tidak suka mengucapkan apa yang ada di hati saya saat ini. Saya ingin mewujudkannya dalam bentuk tindakan tapi kita belum halal. Maukah Adek menunggu sampai waktunya tiba?" Dokter Indah tersenyum membacanya.
"Insya Allah, saya bersedia menunggu." Balas Dokter Indah.
"Saya masih penasaran, kenapa Dokter dengan mudahnya menerima saya? Kita kan belum kenal?"
"Karna saya yakin pada lelaki yang mengajak saya berkomitmen untuk dunia akhirat." Rian tersenyum membaca pesan tersebut. Lalu kembali membalas pesan Dokter Indah. "Dan saya percaya, Allah sudah memilih yang terbaik untuk menemani saya dunia akhirat."
"Amin, selamat malam calon imam. Assalamualaikum."
"Walaikumsalam, calon istri."
Lala terbangun tengah malam karena panggilan alamnya, setelah selesai membuang hajat dirinya baru menyadari tentang Dokter Indah yang ditinggal dengan Rian tadi. Lala langsung turun, mengetuk kamar Rian.
Tok...tok...
"Bang, bang Rian." Panggil Lala.
Bagi seorang Rian yang berprofesi sebagai dokter, mendapat panggilan di tengah malam bukan hal yang aneh. Dia juga tidak mengeluh saat tidurnya diganggu oleh Lala. "Ada apa Dek?" Tanya Rian dengan mata sedikit terpejam.
"Aku lupa Dokter Indah tadi gimana, Bang?"
"Telat kamu, Dokter Indah dah tidur tuh di kamar sebelah."
"Syukurlah, aku jadi gak enak tadi ninggalin dia."
"Kamu tidur gih, abang mau tidur lagi."
Rian kembali masuk ke kamarnya, Lala membuka pintu kamar Dokter Indah yang ternyata tidak dikunci. Lala ikut merebahkan badannya di samping Dokter Indah. "Makasih ya Dok, mau nerima bang Rian, aku sayang sama dia sebagai seorang Abang, aku mau dia bahagia dengan Dokter." Lirih Lala di samping Dokter Indah.
"Terima kasih juga udah dikenalin dengan Dokter tampan, udah malam. Tidur Gih!" Jawab Dokter Indah dengan sedikit senyum tersungging di bibirnya.
Keesokan paginya...
Setelah shalat subuh, Dokter Indah keluar dari kamarnya. Sudah menjadi rutinitasnya setiap pagi saat mentari belum terbit di ufuk timur, Dokter Indah akan keluar, berjalan-jalan kecil atau berlari kecil di depan rumahnya sambil menghirup udara pagi.
Berhubung saat ini lagi berada di rumah keluarga Roni yang memiliki taman hijau di belakang rumah, Dokter Indah memilih berada di sana. Menghirup banyak-banyak oksigen yang belum tercemar sungguh sangat menenangkan. "Apa di sini sangat menyenangkan?" Tanya Rian tiba-tiba datang dari dalam.
"Iya, saya suka alam, sesuatu yang alami saya suka." Jawab Dokter Indah.
"Bagaimana dengan laut? Apa Dokter juga menyukainya?"
"Saya suka, melihat hamparan laut yang luas membuat saya terus berpikir positif, jauh ke depan serta optimis menjalani hidup."
"Hmmm...saya benar-benar tidak percaya jika akan memperistrikan seorang psikiater."
"Kalo menyesal silakan dibatalkan, saya tidak apa-apa?"
"Yakin? Apa gak akan kecewa?" Goda Rian.
"Insya Allah, lagian kita baru bertemu. Kenangan juga gak punya. Jadi saya rasa mudah untuk melupakan Dokter Rian."
"Apa itu artinya saya belum mendapatkan tempat di hati Dokter?" Kali ini Rian tampak serius.
"Saya memberikan hati saya pada orang yang tepat, yaitu suami saya."
"Baiklah kalo begitu, ayo kita sarapan! Biar saya yang buatkan." Dokter Indah terkejut dengan ucapan Rian.
"Dokter bilang tadi gak ada kenangan diantara kita. Anggap aja saya membuatkan sarapan untuk Dokter Indah sebagai kenangan yang akan sulit Dokter lupakan."
Rian menyiapkan semua bahan untuk memasak nasi goreng spesial, Dokter Indah melihat dari arah meja makan sambil tersenyum.
"Jangan ditatap, nanti tergoda." Ucap Rian yang tengah mengiris bawang.
"Apa Dokter benar berasal dari Aceh?" Rasa penasaran Dokter Indah ahkirnya keluar juga.
"Kenapa? Apa saya gak mirip orang Aceh?" Rian bertanya dengan tangan bermain dengan pisau.
"Wajah Dokter seperti orang luar, apa Dokter blasteran?"
Rian tertawa kecil, "Pernah dengar orang Aceh bermata biru? Daerahny bernama Lamno, letaknya dipinggir laut. Tempat para Portugis berlabuh dulu dan meninggalkan jejaknya berupa keturunan yang beranak pinak."
"Jadi Dokter masih punya garis keturunan luarlah ya."
"Orang Aceh itu susah mencari wajah aslinya seperti apa, faktor banyak orang luar yang singgah di sana membuat wajah orang Aceh itu berbeda-beda. Di satu daerah yang dulu disinggahi orang India, maka wajah mereka sangat mirip orang India, bahkan nama jalan sampai desanya juga dari bahasa India. Ada satu kampung yang dulunya disinggahi orang Turki sampai ada salah satu ulama dari Turki yang meninggal dan dimakamkan di desa tersebut, sampai sekarang desa tersebut dikenal dengan desa Turki. Ada juga yang dari Arab. Makanya jika ada orang Jawa misalnya yang menikah dengan orang Aceh, wajah anaknya jika tidak terlalu ikut gen bapaknya, pasti lain dari wajah ibunya. Hasilnya tidak akan sama, biasanya lebih cantik atau tampan. Secara medis, kawin silang antar lain suku juga bagus untuk gen anak itu sendiri kan? Buktinya udah jelas di depan mata, Lala. Perpaduan dua suku, hasilnya sangat berbeda kan?" Dokter Rian menatap Dokter Indah yang terlihat menikmati obrolan pagi hari mereka.
Dokter Indah tersenyum, lelaki di depannya benar-benar membuatnya nyaman. Obrolan Rian yang universal membuat lawan bicara seperti Dokter Indah merasa nyambung dan nyaman.
***
Like...
Komen...
Vote...