NovelToon NovelToon
TERBAWA ARUS TAKDIR BERSAMA SUAMI MAFIAKU

TERBAWA ARUS TAKDIR BERSAMA SUAMI MAFIAKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Mafia / Mengubah Takdir / Keluarga & Kasih Sayang / Romansa / Dark Romance
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: PUTRI

Zara — gadis sederhana, polos, dan hidup dalam keterbatasan, namun tetap memancarkan keanggunan yang tak dimiliki siapa pun. Dipermainkan takdir, ia dipersatukan dengan Adrian Romanov, pria dingin, berkuasa, dan menjadi sumber segala penderitaannya. Dituduh, disakiti, dan dikucilkan, Zara harus menelan semua kepahitan sendirian. Namun ketika sebutir nyawa tumbuh di dalam rahimnya, semangatnya bangkit kembali. Demi bayi yang dikandungnya, ia berjanji akan bertahan, melewati badai, dan membuktikan bahwa ketabahan akan mengalahkan segala kepalsuan. Akankah takdir berubah, atau justru luka yang semakin dalam menantinya?



Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PUTRI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ikrar Di Sisi Tempat Tidur

Pagi itu matahari baru saja naik, menyinari atap gedung-gedung tinggi. Terdengar kicau burung dari balik pepohonan, dan suara kendaraan mulai berlalu lalang di jalan raya. Aku sudah bangun tepat pukul enam pagi seperti biasa, berjalan-jalan sebentar saja di luar rumah sakit—tak berani melangkah terlalu jauh, takut nanti tersesat. Begitu masuk kembali, aku langsung mandi, lalu memakai kaos hitam lengan pendek dan rok putih sederhana. Rambutku hanya diikat asal dengan karet gelang, membuatku terlihat persis seperti gadis sekolah biasa.

Aku berjalan menuju ruang ayah, tapi hanya berhenti di depan pintu. Tak lama kemudian dokter datang sepagi itu, masuk dan memeriksa kondisi ayah yang masih terbaring tak sadarkan diri. Saat keluar, ia menyampaikan kepada ibu: “Ayahmu masih dalam keadaan koma, belum bisa dipastikan kapan akan sadar. Tapi kondisinya sudah stabil, boleh dijenguk asalkan tetap menjaga kebersihan dan mengikuti aturan ruangan ICU.”

Setelah itu dokter pergi. Ibu masuk lebih dulu, disusul aku dan adik. Melihat ayah terbaring lemah begitu, hatiku terasa perih sekali. “Ayah… kapan kau akan membuka matamu kembali? Aku ingin berbicara padamu,” gumamku pelan dalam hati. Aku duduk menatapnya tanpa berkedip, sedangkan ibu menarik kursi lalu duduk tepat di sisi tempat tidur, menggenggam tangan ayah dan menempelkannya ke pipinya dengan wajah penuh kepedihan. Sejak kejadian kemarin, ibu masih enggan menatapku langsung, jadi aku sengaja duduk agak menjauh agar tidak membuatnya makin tertekan.

Setelah dua jam lebih duduk diam, aku berdiri dan keluar sebentar—hanya ingin ke kamar mandi. Sesampainya kembali, aku mengambil tasku yang tergantung di sudut, memastikan ponselku masih ada, lalu berjalan ke depan pintu ICU untuk duduk beristirahat. Belum sempat aku duduk, ponselku berdering menampilkan nomor yang tidak kukenal. Meski ragu, aku tetap mengangkatnya. Dari seberang terdengar suara pria yang tenang: “Selamat pagi, Nona. Penata rias dan busana akan tiba sekitar tiga jam lagi, harap bersiap-siaplah.”

Aku hanya menjawab singkat: “Baik, terima kasih.” Lalu sambungan terputus.

Aku menatap layar ponsel itu, lalu menghela napas pelan. “Jadi waktunya sudah semakin dekat… kenapa rasanya jantungku berdebar tak karuan? Aneh sekali. Apakah begini rasanya orang yang akan menikah? Padahal ini cuma perjanjian satu tahun saja. Selama ini bisa menyelamatkan ayah dan tidak menyakiti siapa pun, biarlah semuanya berjalan apa adanya.” Tatapanku perlahan berubah tegas, lalu kembali menatap kaca tembus pandang tempat ayah terbaring di dalam.

Tak terasa waktu berlalu, sampai akhirnya seorang wanita datang membawa tas besar berwarna hitam. Ia terlihat lembut sekali: wajahnya halus, berseri tanpa riasan berlebih, rambut hitam panjangnya terurai jatuh rapi di bahu, kulitnya cerah bersih. Badannya ramping dan tinggi, berjalan dengan langkah yang halus dan anggun, mengenakan gaun krem polos yang simpel tapi terlihat sangat elegan.

Ia menghampiriku dengan senyum ramah, suaranya lembut seperti bisikan angin: “Permisi, apakah ini Nona Zara? Saya dikirim untuk merias dan menyiapkan busana untukmu hari ini.”

Aku mengangguk, membalas senyumnya: “Iya, benar. Terima kasih sudah datang.”

Beberapa saat kemudian, di ruang istirahat yang disediakan rumah sakit, aku sudah mengenakan gaun pengantin berwarna putih bersih. Modelnya sederhana saja—leher persegi, lengan tiga perempat, pinggangnya dirapikan agar terlihat pas, lalu jatuh lembut menyentuh lantai dengan ekor gaun yang pendek tapi tetap anggun. Bahannya terasa halus sekali saat menyentuh kulit. Rambutku yang sempat diikat asal tadi kini ditata rapi ke atas menjadi sanggul longgar, dengan beberapa helai dibiarkan terurai jatuh lembut membelai pipiku, membuat wajahku terlihat lebih lembut tanpa terkesan berlebihan.

Setelah selesai menyentuh bagian terakhir, penata rias itu mengangguk puas sambil tersenyum: “Sudah sempurna, Nona.”

Ia mulai membereskan peralatannya, lalu sempat bertanya dengan nada yang terdengar khawatir tulus: “Maaf kalau saya lancang… tapi di mana calon suamimu? Sudah begini jamnya belum juga terlihat. Apakah dia benar-benar menghargaimu? Kalau ragu, pikirkanlah baik-baik lagi.”

Aku tahu itu bukan niat buruk, melainkan rasa peduli sesama wanita. Aku hanya tersenyum tipis dan menjawab tenang: “Terima kasih atas perhatiannya, tapi percayalah—dia orang yang menepati janji. Aku tidak kecewa memilih jalan ini.”

Ia mengangguk mengerti, lalu berpamitan: “Semoga semuanya berjalan lancar dan membawa kebaikan untukmu. Sekali lagi maaf jika ucapan saya mengganggu.”

Setelah ia pergi, aku duduk termenung sendirian, pikiran melayang entah ke mana. Sampai terdengar ketukan pelan di pintu, lalu terbuka perlahan—terlihat sosok Yamal, sekretaris Tuan Ardian, berdiri rapi di ambang pintu. Ia memberi hormat sopan dan berkata: “Nona Zara, silakan ikut saya. Tuan Adrian sudah menunggu sejak tadi.”

Dalam hatiku bergumam pelan: “Dia sudah ada di sini rupanya… Baiklah, apa pun yang terjadi, ini sudah menjadi jalanku.”

Aku berdiri perlahan dan mengikuti langkahnya. Sepanjang lorong rumah sakit, banyak mata menoleh ke arahku—ada yang heran melihat ada calon pengantin di tempat seperti ini, tapi lebih banyak lagi yang memandang dengan kagum. Bisikan pujian samar terdengar dari sisi kiri dan kanan, tapi aku tak memedulikannya, hanya melangkah lurus ke depan.

Sesampainya di depan ruang ICU, pandanganku langsung tertuju pada sosoknya. Ardian berdiri tegak mengenakan jas hitam pekat yang sangat pas di tubuhnya, dipadukan kemeja putih bersih dan dasi kupu-kupu, dengan setangkai bunga putih sederhana tersemat di kerah bajunya. Ia terlihat lebih gagah dan berwibawa dari yang aku ingat, tatapannya tajam namun tenang, seolah bisa membaca setiap detik perasaanku.

Begitu ia melihatku mendekat, matanya menatap lekat-lekat dari ujung kepala hingga ujung kaki. Dalam hatinya ia bergumam: “Saat pertama bertemu aku tak terlalu memperhatikan, tapi ternyata… dia jauh lebih cantik dari yang terbayang. Kulitnya putih bersih seperti susu, halus dan mulus, terlihat jelas memancarkan kilau alami saat terkena cahaya.”

Di sampingnya sudah berdiri seorang penghulu yang akan memimpin akad. Namun sebelum sempat melangkah lebih dekat, pintu ruang ICU terbuka dan ibu keluar. Ia tertegun memandang penampilanku, matanya melebar tak percaya, lalu tanpa ragu ia menarik pergelangan tanganku dan membawaku kembali ke ruang tempat aku bersiap tadi. Begitu pintu tertutup, ia menatapku dengan wajah merah padam karena emosi yang tertahan:

“Apa maksud semua ini? Kau berani menikah tanpa izin ibumu sendiri? Bahkan melakukannya tepat di sisi ayahmu yang sedang terbaring tak sadarkan diri! Apakah kau tidak punya hati? Kalau suatu saat ayah sadar dan tahu apa yang kau lakukan, apakah kau ingin membuatnya jatuh sakit lagi? Ini sama saja menyiksa dia perlahan! Katakan padaku, apa sebenarnya yang ada di kepalamu?”

Ibu memalingkan wajah seolah menahan tangisnya, tapi ia terkejut mendengar jawabanku yang keluar datar, lemah, tanpa nada emosi sedikit pun: “Ibu… apa salahku?”

Kalimat itu membuat ibu membeku seketika. Ia menoleh kembali, dan saat melihat tatapanku yang kosong, hampa, tanpa cahaya harapan apa pun—seolah aku sudah menyerah menerima segalanya—rasa marah itu perlahan lenyap, terganti oleh rasa sakit yang lebih dalam. Air matanya akhirnya jatuh membasahi pipi, ia menutup mulutnya dengan tangan, tak sanggup berkata apa-apa lagi. Dalam hatinya ia bergumam: “Apa yang telah kulakukan? Mengapa putriku terlihat seperti kehilangan jiwanya sendiri? Apakah kemarahanku selama ini yang membuatnya tertekan sampai begini?”

Namun sebelum ibu sempat melanjutkan, terdengar ketukan dan suara Yamal dari luar: “Mohon maaf mengganggu, Nona, waktunya sudah tiba agar akad dapat segera dilaksanakan.”

Aku segera membalikkan badan dan melangkah keluar, sedangkan ibu hanya berdiri diam sesaat, lalu mengikuti dari belakang dengan langkah yang terasa sangat berat.

Kami masuk ke dalam ruangan ICU, berdiri tepat di sisi tempat tidur ayah agar ia bisa menjadi saksi dalam tidurnya sendiri. Ardian sudah duduk tenang, tatapannya tetap tegas dan tak tergoyahkan. Penghulu mengangguk memastikan semuanya siap, lalu berkata: “Baiklah, jika semua sudah bersedia, kita mulai saja.”

Adrian menjawab dengan suara lantang, mantap, dan terdengar jelas ke seluruh ruangan: “Laksanakanlah.”

Setelah ijab kabul selesai berjalan lancar, kami berjalan keluar meninggalkan ruangan itu. Saat Yamal hendak mengambil barang-barang kecilku, Adrian menghentikannya dengan nada dingin: “Tidak usah bawa apa-apa. Biarkan saja semuanya di sini.”

Aku hanya melirik sekilas, lalu melanjutkan langkah berjalan di sisinya dengan pandangan tetap lurus ke depan, kosong dan lelah. Semua rasa sedih, takut, dan bimbang seolah sudah tertutup rapat, menyisakan hanya rasa pasrah yang dalam.

Sesampainya di depan gerbang rumah sakit, mobil mewah berwarna hitam sudah terparkir rapi. Pintu dibukakan, dan aku duduk berdampingan dengan Adrian. Selama perjalanan sekitar dua puluh lima menit, ia sempat menoleh memandangku sekilas, menyadari betapa hambarnya ekspresiku, tapi baginya—kesepakatan sudah tercapai, itu saja yang paling penting. Ia pun memalingkan wajah kembali ke arah jalan dengan tatapan dingin dan acuh tak acuh.

Sampai akhirnya mobil berhenti di depan sebuah bangunan yang membuatku tertegun takjub. Itu adalah rumah bergaya Eropa klasik yang megah sekali—tinggi tiga lantai, berwarna krem lembut dengan atap kelabu, jendela-jendelanya besar dan terawat rapi. Di halaman luas terbentang taman hijau yang indah, di tengahnya ada air mancur yang menyemburkan air jernih. Pagar tinggi dan kokoh mengelilingi seluruh area, terlihat eksklusif dan sangat aman.

Begitu mobil berhenti, belasan pelayan berpakaian seragam hitam putih segera berbaris rapi, sedikit menunduk memberi hormat serempak: “Selamat datang, Tuan dan Nyonya.” Tak jauh dari situ, terlihat juga beberapa pria bertubuh kekar berpakaian jas hitam, berdiri berjaga dengan waspada—jelas mereka adalah petugas keamanan yang menjaga tempat ini dengan ketat.

1
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Blue Lock Munchen Gaiden
Putry Chan: tentu trimakasih
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!