NovelToon NovelToon
Faristya

Faristya

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Dijodohkan Orang Tua / Bad Boy
Popularitas:780
Nilai: 5
Nama Author: NdahDhani

Karena permintaan terakhir ibunya, Tyasabella Almeera terpaksa menerima kenyataan yang tidak pernah ia inginkan: menikah muda.

Dan lebih parahnya lagi, menikah dengan musuhnya sendiri, Faris Abimanyu Alzavian. Cowok tukang nyolot yang selalu berhasil membuat emosinya naik setiap hari.

"Kenapa harus lo sih?" kesal Tya.

Faris langsung mendelik. "Emangnya gue mau nikah sama lo?"

"Gue juga gak mau."

"Bagus. Berarti kita sepakat."

Tya mendengus. "Sepakat kalau ini ide paling buruk yang pernah ada."

Namun, takdir seolah tidak peduli dengan pendapat mereka. Di tengah kehilangan yang masih terasa, dua remaja keras kepala itu dipaksa menjalani sebuah pernikahan yang tidak pernah mereka pilih sendiri.

Masalahnya, bagaimana jika perlahan mereka mulai menemukan sesuatu yang tidak pernah mereka duga sebelumnya?

Karena terkadang, orang yang paling sering membuat kita kesal justru menjadi orang yang paling sulit dilupakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NdahDhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1: Permintaan Mama

"Tya gak mau nikah sama dia!"

Suara Tya menggema di ruang kerja ayahnya. Matanya sudah memerah sejak tadi, sementara jemarinya mengepal kuat di sisi tubuhnya.

Tubuhnya yang mungil, bahkan jika berdiri di tengah orang dewasa selalu terlihat kecil, justru membuat amarahnya terasa semakin kontras dengan suasana ruangan yang berat itu.

"Papa gak bisa paksa Tya menikah di umur segini."

Di depan mereka, sang ibu hanya tersenyum lemah di atas kursi rodanya. Tubuhnya terlihat semakin kurus, tetapi tatapannya tetap hangat menatap putri semata wayangnya.

"Maafin Mama..." Lirih ibunya pelan. "Mama cuma ingin kamu bahagia sebelum Mama pergi."

Kalimat itu membuat Tya terdiam, dadanya terasa sesak. Ia menelan ludahnya susah payah. Tangannya yang tadi mengepal kini gemetar pelan di samping tubuhnya.

Tya langsung menggeleng cepat, "Jangan ngomong kayak gitu, Ma," suaranya mengecil, nyaris seperti menahan sesuatu agar tidak runtuh. "Mama pasti sembuh. Dokter aja bilang masih ada harapan, kan?"

Tya sempat melangkah mendekat, namun langkahnya terhenti di tengah jalan. Tatapannya terpaku pada wajah sang ibu yang terlihat semakin lemah dari hari ke hari.

"Tya gak mau nikah sama siapapun," tambah Tya cepat. "Tya masih sekolah, Tya masih mau disini sama Mama."

Suara Tya mulai bergetar. "Kenapa harus nikah sekarang? Kenapa harus dia?"

Di sudut ruangan itu, ayahnya hanya diam. Wajahnya tegang, seolah menahan sesuatu yang lebih besar dari sekedar emosi.

Ayah Tya akhirnya menghela nafas panjang. Untuk beberapa saat, ruangan itu benar-benar hening. Hanya terdengar suara jam dinding yang berdetak pelan.

"Tya," suara ayahnya akhirnya keluar. Nadanya berat juga hati-hati, seperti sedang memilih kata yang tidak menyakitkan.

Tya menoleh cepat. Matanya masih merah bahkan terlihat berkaca-kaca, tapi ada ketegasan yang dipaksakan di sana.

"Apa lagi, Pa?"

Ayahnya diam sejenak. Pandangannya sempat beralih ke sang istri, lalu kembali menatap putrinya. "Ini bukan keputusan yang baru, Tya."

Kalimat itu membuat Tya mengernyit. "Apa maksud Papa?"

Hening lagi, kali ini lebih lama. Lalu akhirnya ayahnya kembali bersuara, pelan tapi terdengar jelas. "Semua ini sudah direncanakan sejak lama."

Deggg!

Tya terdiam, nafasnya terhenti untuk beberapa detik. "Sejak lama?" Ulangnya pelan, seolah memastikan telinganya tidak salah mendengar.

Ayahnya mengangguk kecil. "Keluarga kita dan keluarga Faris, sudah sepakat dari dulu. Kalian memang akan dinikahkan setelah dewasa."

Perkataan ayah Tya jatuh seperti sesuatu yang berat, menghantam langsung tanpa bisa ditahan. Tya langsung menggeleng cepat. "Enggak, itu gak mungkin! Tya masih remaja, Pa!"

Dada Tya naik turun tidak teratur. Jemarinya mengepal lebih kuat kali ini, bahkan kukunya hampir menekan telapak tangannya sendiri.

"Tya remaja!" Ulang Tya dengan nada yang lebih keras, seolah berharap kata itu bisa membatalkan semuanya. "Tya belum dewasa, Tya masih sekolah, Tya masih punya impian sendiri." Lanjutnya dengan suara yang bergetar.

Tya kembali menatap ayahnya, penuh protes yang hampir berubah menjadi putus asa. "Papa gak bisa ambil keputusan kayak gini buat Tya..." Suaranya lirih, bahkan matanya terlihat berkaca-kaca.

Ibu Tya menatap putrinya lama. Tatapannya tetap lembut, tapi ada sesuatu di dalamnya yang berbeda. "Tya," ujarnya pelan, hampir seperti bisikan yang lahir dari sisa tenaga. "Sini, nak."

Tya tidak langsung bergerak. Bahunya masih tegang, tubuhnya seperti menolak mendekat, tapi matanya justru tidak bisa lepas dari sang ibu. Sampai akhirnya, ia melangkah perlahan.

Tya berdiri di sisi kursi roda itu, hanya beberapa langkah tapi terasa seperti melangkah ke dunia yang berbeda. Ibunya tersenyum kecil, lalu mengangkat tangannya dengan susah payah, menyentuh ujung jari putrinya.

"Ma," gumam Tya, suaranya sudah mulai pecah bahkan sebelum kalimat berikutnya terdengar.

Ibunya menghela nafas pelan. "Mama cuma ingin liat kamu bahagia," ujarnya lembut. "Sebelum Mama benar-benar harus pergi."

Tya kembali terdiam. Bibirnya bergetar pelan sebelum akhirnya ia menunduk. Tangis yang sejak tadi ia tahan, akhirnya pecah begitu saja.

"Enggak," suara Tya serak, pecah di sela nafasnya. "Mama gak boleh ngomong gitu."

"Mama pasti sembuh," lanjut Tya dengan gelengan kepala. "Mama gak boleh ninggalin Tya."

Tya menggenggam erat tangan ibunya, seolah jika dilepas sedikit saja semuanya akan hilang.

Ibu Tya mengusap pelan tangan putrinya. Tangannya sendiri terlihat semakin lemah, tapi sentuhannya masih penuh kehangatan seperti dulu. Hangat yang selalu membuat Tya merasa aman, bahkan disaat ia sedang kacau sekalipun.

"Tya," panggil ibunya pelan.

Tya mengangkat wajahnya, masih dengan air mata yang tidak berhenti jatuh. Matanya sembab, nafasnya masih belum stabil. "Iya, Ma?"

Ibunya menatap Tya dalam. "Tya sayang Mama, kan?"

Pertanyaan itu sederhana, tapi itu justru membuat Tya tercekat. Tanpa ragu, ia langsung mengangguk cepat. "Sayang," suaranya serak. "Sayang banget."

Ibunya tersenyum tipis, seolah ada kelegaan di wajahnya. "Kalau begitu," ujarnya, lalu menghela nafas pelan. "Mama minta satu hal."

Tubuh Tya menegang. Tatapannya kembali waspada, seperti sudah bisa menebak arah pembicaraan itu. "Ma..."

"Bantu Mama wujudkan permintaan terakhir Mama," ujar ibunya dengan suara lembut tapi mantap.

Tya langsung menggeleng kecil, air matanya kembali jatuh. "Jangan Ma, jangan bilang itu lagi," suaranya mulai panik. "Tya gak mau dengar itu."

Ibunya tetap menatapnya dengan tatapan penuh harap. "Sekali ini saja, Tya," bisiknya. "Tolong dengarkan Mama."

Tya benar-benar terdiam. Tangannya yang tadi menggenggam tangan ibunya perlahan mulai mengendur, meski tidak sepenuhnya melepas. Seolah ia masih takut jika sedikit saja jarak tercipta, ibunya akan benar-benar pergi meninggalkan dirinya.

Tya menghela nafas panjang. Nafasnya terasa berat, seperti sedang menahan sesuatu yang berat di pundaknya. Ia menunduk, air matanya terus jatuh tanpa diminta.

Ruangan itu ikut hening. Tidak ada yang berani menyela, bahkan ayahnya hanya menatap dari kejauhan.

Tya memejamkan mata sejenak. Kepalanya terasa penuh oleh banyak hal sekaligus: penolakan, ketakutan, dan suara ibunya yang terus terngiang tanpa henti.

"Kalau Mama benar-benar pergi, gimana?" Batin Tya.

Tya langsung menggeleng kecil, seperti menolak pikirannya sendiri. Beberapa detik berlalu terasa lebih lama dari biasanya.

Tya akhirnya kembali menatap ibunya. Wajah yang sudah terlalu sering ia lihat tersenyum, bahkan ketika sakit telah mengambil banyak hal darinya.

Tya sempat memejamkan mata sesaat, sebelum kembali membuka bibirnya pelan. "Ma..."

"Tya," ujar Tya sembari mengusap cepat air matanya. "Tya gak setuju dengan ini."

Ayahnya sedikit menegang, tapi Tya belum selesai. "Tapi kalau ini memang satu-satunya hal yang Mama mau..." Ia menggigit bibirnya kuat, sampai tidak gemetar lagi. "Tya nurut."

Tya langsung menunduk lagi, seolah takut melihat siapapun. Bahunya bergetar sedikit, bukan karena marah melainkan karena sesuatu yang lebih sulit dijelaskan.

"Jangan bikin Tya nyesel ya, Ma," bisik Tya lirih.

Ibunya mengangkat tangannya perlahan, gerakannya lemah tapi penuh niat. Dengan susah payah, ia membelai pipi Tya yang basah oleh air mata.

Tya memejamkan mata sejenak saat sentuhan itu terasa di pipinya, seolah dunia di sekitarnya berhenti sesaat.

Ibunya tersenyum, meski matanya sendiri terlihat berkaca-kaca. "Mama gak minta banyak, Tya." Suaranya pelan, hampir rapuh. "Mama cuma ingin Tya bahagia."

Tya membuka mata lagi. Nafasnya memburu, tapi tidak ada kata yang keluar. Semua emosi yang tadi berantakan di dalam dirinya seperti menumpuk menjadi satu, terlalu menyesakkan dada.

Ibunya menatap Tya dalam. "Kalau nanti Mama udah gak ada," ujar ibunya lirih. "Mama pengen kamu tetap bisa ketawa, tetap bisa hidup dengan baik."

Tya langsung menggeleng cepat. "Jangan," ujarnya pilu. "Jangan ngomong kayak gitu lagi, Ma."

Ayah Tya yang sedari tadi diam akhirnya melangkah mendekat. Langkahnya pelan, seolah tiap inci jarak yang ia tempuh terasa berat oleh situasi di ruangan itu.

Ayahnya berhenti di belakang Tya. Dengan hati-hati ia mengusap rambut Tya pelan. Gerakannya lembut dan menenangkan, sama seperti dulu.

Tya sedikit tersentak, tapi tidak menolak. Tangisnya masih ada, tapi kini lebih sunyi. Bahunya yang tadi gemetar mulai sedikit mereda, meski nafasnya masih belum stabil.

"Udah," suara ayahnya berat, tapi berusaha tenang. "Udah, nak."

Tya menunduk, matanya menatap lantai. Ayahnya mengusap rambut putrinya sekali lagi, lebih pelan. "Kamu gak harus kuat sendirian di sini."

Kalimat itu membuat dada Tya kembali sesak, ia tidak tahu harus bagaimana menahan semuanya.

Perlahan, Tya mengangkat wajahnya sedikit. Matanya sembab dan merah, tapi masih mencari sesuatu yang bisa membuat semua ini tidak terasa seburuk itu.

"Mama..." Suara Tya hampir hilang di ujung nafasnya. "Mama bisa sembuh kan, Pa?"

Ayahnya terdiam sesaat. Lalu, ia mengusap punggung Tya, berusaha menenangkan putrinya yang sedang rapuh. Senyum kecil terukir di wajahnya, mencoba kuat untuk anak semata wayangnya.

"Mama akan sembuh," ujar ayah Tya pelan. "Insya Allah."

Tya menatap ayahnya lama, seperti sedang mencoba mengunci kata-kata itu di kepalanya. Harapannya sederhana, ingin melihat sang ibu sembuh dari penyakitnya.

Penyakit ibunya bukan penyakit biasa. Sudah hampir dua tahun terakhir, ia berjuang melawan penyakit saraf yang menyerang tubuhnya. Dan kini, kursi roda menjadi bagian dari kesehariannya.

Ibunya menatap Tya lembut, meski wajahnya sendiri terlihat lelah setelah percakapan panjang itu. "Kamu capek, kan?" Tanyanya pelan.

Tya tidak langsung menjawab. Matanya masih sembab, dadanya pun terasa sesak sejak tadi. Namun melihat kondisi ibunya yang mulai terlihat kehabisan tenaga, ia akhirnya mengangguk kecil.

"Istirahat sana," lanjut ibunya dengan seutas senyum tipis. "Udah malam."

Tya menggigit bibir pelan, seolah masih enggan meninggalkan ruangan itu. "Tapi Mama-"

"Mama enggak apa-apa," potong ibunya lembut. "Mama cuma mau liat anak Mama tidur dengan tenang malam ini."

Penuturan sang ibu membuat dada Tya kembali merasa hangat sekaligus nyeri. Perlahan, gadis itu mengangguk. "Iya, Ma."

Ayahnya mengusap pundak Tya pelan, memberi isyarat agar Tya benar-benar istirahat. Dengan langkah pelan, Tya akhirnya melangkah dari ruangan itu.

Suasana rumah terasa begitu sunyi malam itu. Lampu-lampu rumah menyala redup, sementara suara jam dinding kembali samar di tengah keheningan.

Tya melangkah menyusuri lorong rumah menuju kamarnya dengan pikiran yang masih berantakan. Setiap langkah terasa berat, seolah percakapan tadi masih terus memengaruhi pikirannya.

Tiba di depan kamar, Tya berhenti sejenak. Tangannya memegang gagang pintu, tapi tatapannya justru menunduk lama. Sampai akhirnya ia membuka pintu itu perlahan dan masuk ke dalamnya.

Tya duduk di tepi tempat tidurnya. Kasur empuk itu sedikit turun mengikuti gerakan tubuh mungilnya. Kedua tangannya bertumpu di sisi tubuh, sementara pandangannya kosong menatap lantai kamar yang remang-remang.

Kamar itu sebenarnya nyaman. Seharusnya malam itu berjalan biasa saja. Malam seorang siswi SMA yang biasanya sibuk mengeluh soal tugas, belajar sampai tertidur di meja, atau sekedar berdebat kecil dengan sahabatnya di grup chat.

Tapi tidak untuk Tyasabella Almeera. Gadis 17 tahun itu tiba-tiba dipaksa berdiri di persimpangan hidup yang bahkan belum siap ia pahami, tentang pernikahan.

Tya memang terlihat kuat dari luar. Mulutnya sering lebih cepat bicara daripada air matanya, emosinya gampang naik kalau sesuatu tidak berjalan sesuai pikirannya. Bahkan, hal kecil saja bisa membuatnya kesal setengah mati.

Namun dibalik semua itu, Tya hanyalah seorang gadis yang terlalu menyayangi keluarganya. Bahkan, ia sampai rela menekan dirinya sendiri demi melihat orang yang dicintai tersenyum.

Itulah mengapa Tya tidak benar-benar bisa menolak permintaan ibunya. Karena sejauh apapun dirinya marah, sejauh apapun ia membenci keadaan ini, ia tetap anak perempuan yang selalu takut melihat ibunya kecewa.

Tya menarik kedua lututnya ke atas tempat tidur lalu memeluknya erat. Kamar itu begitu hening, sampai detak jam di sudut ruangan terdengar lebih jelas dari biasanya.

Matanya menatap langit-langit kamar, tapi pikirannya justru dipenuhi banyak hal sekaligus. Wajah ibunya dan permintaan itu, serta satu nama yang sejak tadi terus muncul di kepalanya — Faris.

"Kenapa jadi gini sih?" Gumamnya lirih pada dirinya sendiri.

^^^Bersambung...^^^

1
xuer jinghao
kak lanjut semangat terus kak 🤭🤭
Enz99
bagus banget
xuer jinghao
dan sehat selalu 💪💪
𝓘𝓷𝓭𝓪𝓱 𝓻𝓪𝓶𝓪𝓭𝓱𝓪𝓷𝓲: Terima kasih kak, semoga kakaknya juga sehat selalu😄
total 1 replies
xuer jinghao
kak lanjut semangat terus kak 😍😍
Shintara
Faris : Dari sekian banyak cewek di dunia ini, kenapa harus lo?
Tya : Karena lo gak mampu cari cewek kayak gue 🤣🤣🤣
𝓘𝓷𝓭𝓪𝓱 𝓻𝓪𝓶𝓪𝓭𝓱𝓪𝓷𝓲: Hehehe bener banget kak🤭
total 1 replies
Shintara
❤️❤️❤️
Shintara
lanjut kak..
jangan lupa mampir juga ya. ❤️
𝓘𝓷𝓭𝓪𝓱 𝓻𝓪𝓶𝓪𝓭𝓱𝓪𝓷𝓲: Siap kak, terima kasih sudah mampir 😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!