Selama bertahun-tahun, Bee Catleen hidup sebagai putri kesayangan keluarga Luwis. Meskipun berstatus anak angkat, Bee selalu menerima cinta dan kasih sayang yang membuatnya merasa tidak pernah berbeda dari anggota keluarga lainnya.
Namun semuanya berubah ketika Jelita, putri kandung keluarga Luwis yang hilang selama lima belas tahun, akhirnya kembali.
Perlahan, perhatian yang dulu menjadi miliknya mulai beralih. Bee hanya bisa tersenyum dan berpura-pura bahagia demi melihat keluarganya kembali utuh. Di balik tawa ceria dan sifat humorisnya, Bee menyimpan luka yang tidak pernah ia tunjukkan kepada siapa pun.
Hari demi hari, Bee hidup dengan topeng kebahagiaan, hingga takdir mempertemukannya dengan seorang pria yang mampu melihat kesedihan yang ia sembunyikan rapat-rapat.
Untuk pertama kalinya, ada seseorang yang memilihnya tanpa ragu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cumi kecil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10 MENDAPATKAN KEHANGATAN KELUARGA
Di tengah suasana kelas yang masih dipenuhi bisikan-bisikan kecil, Jelita tiba-tiba menoleh.
"Bee."
"Hm?" Jawab bee
"Nanti pulangnya kita bersama ya." Suara Jelita cukup keras hingga beberapa mahasiswa mendengarnya.
"Jangan naik bus lagi."
Bee terdiam.
"Dan jangan pedulikan omongan orang lain." Lanjut jelita
Beberapa mahasiswa langsung saling pandang.
Cristal yang mendengar itu langsung menyipitkan mata. Entah kenapa ucapan Jelita terdengar aneh di telinganya, Seolah ingin menunjukkan sesuatu kepada semua orang.
"Kamu pulang sama aku aja."
Bee menoleh.
Cristal menyilangkan tangan. "Sekalian aku juga ada perlu sama kamu."
Bee langsung menangkap maksud sahabatnya. Ia tahu Cristal sedang berusaha menjauhkannya dari Jelita.
"Kebetulan sekali."
Bee tersenyum. "Aku juga ada perlu sama kamu."
Wajah Jelita langsung berubah. "Gak bisa."
Cristal mengangkat alis "Kenapa gak bisa?"
"Bee harus pulang denganku."
"Apa hak kamu menentukan Bee harus pulang sama siapa?"
Jelita langsung terdiam.
Bee buru-buru menengahi sebelum pertengkaran terjadi. "Aku pulang bareng Cristal aja, Jelita."
"Tapi—"
"Aku ada tugas kuliah yang harus diselesaikan sama Cristal." bohong bee " tugas ini sebelum sudah ada sebelum kamu masuk kampus " lanjut bee
Bee tidak terbiasa berbohong. Namun kali ini ia benar-benar tidak ingin pulang bersama Jelita.
Jelita tampak kecewa. Namun sebelum sempat membalas, dosen masuk ke dalam kelas.
Pembicaraan mereka pun terhenti.
Jam kuliah akhirnya selesai. Mahasiswa mulai meninggalkan kelas satu per satu.
Jelita kembali menghampiri Bee. "Kamu benar-benar gak bisa pulang sama aku?"
Bee mengangguk. "Maaf." kata bee "Aku harus menyelesaikan tugas."
Jelita terlihat ragu Namun akhirnya mengangguk pelan. "Ya sudah."
Meski jauh di dalam hatinya, Jelita sebenarnya ingin memastikan Bee pulang bersamanya.
Tak lama kemudian. Bee dan Cristal berjalan menuju gerbang kampus.
Mobil keluarga Cristal sudah menunggu. Begitu melihat mereka, sopir keluarga Cristal langsung turun dan membukakan pintu.
"Selamat siang Nona Cristal."
"Siang Pak."
Bee ikut tersenyum. "Siang."
"Selamat siang Nona Bee."
Bee langsung tertawa kecil. "Pak, panggil Bee saja."
"Baik Nona Bee."
"Itu sama saja."
Cristal langsung tertawa.
Perjalanan menuju rumah Cristal terasa jauh lebih menyenangkan, Setidaknya tidak ada tatapan aneh.
Tidak ada bisikan-bisikan yang membuat Bee tidak nyaman.
Hanya ada Cristal yang terus mengomel karena masih kesal kepada Jelita.
Sesampainya di rumah keluarga Cristal.
Bee langsung masuk tanpa rasa canggung sedikit pun.
Rumah itu sudah seperti rumah keduanya.
"Mommy!" teriak Cristal begitu masuk.
Seorang wanita elegan keluar dari ruang tengah. "Kenapa teriak-teriak?" Lalu matanya langsung berbinar saat melihat Bee.
"Bee!"
Bee tersenyum lebar. "Mamih!"
Wanita itu langsung memeluk Bee "Aduh, anak cantik Mamih datang."
Bee terkekeh "Kangen ya?"
"Tentu saja."
Cristal langsung cemberut. "Aku juga datang loh."
"Iya, iya."
"Pilih kasih."
Mamih hanya tertawa. Kemudian mengusap kepala Bee penuh sayang. "Sudah makan belum?"
"Belum."
"Nah kebetulan."
Mamih langsung menggandeng Bee. "Temani Mamih makan siang."
Cristal langsung protes. "Mah! Aku juga lapar."
"Kamu cari sendiri."
"Bee terus yang disayang."
Bee langsung tertawa hingga matanya menyipit.
Suasana hangat itu membuat hatinya sedikit lebih ringan.
Tak lama kemudian. Papih Cristal yang baru pulang dari kantor ikut bergabung. "Bee."
Papih langsung tersenyum ramah. "Sudah lama tidak main ke sini."
Bee berdiri lalu memeluk Papih seperti anak sendiri.
"Papih."
"Nah, ini baru anak kesayangan Papih."
Cristal langsung mengangkat kedua tangan. "Aku anak pungut ya?"
Papih dan Mamih langsung tertawa Di tengah suasana hangat itu, langkah seseorang terdengar menuruni tangga.
Kak Juna. Dokter muda itu baru pulang dari rumah sakit.
Bee yang melihatnya langsung tersenyum jahil.
"Pagi Dokter Galak."
Kak Juna meliriknya datar. "Sudah sore."
"Berarti Dokter Galak Sore."
Kak Juna menghela napas.
Cristal langsung tertawa terbahak-bahak. Sementara Bee tersenyum puas.
Meski Juna selalu terlihat dingin dan sulit didekati, Bee justru senang menggodanya. Dan anehnya...
Kak Juna tidak pernah benar-benar marah setiap kali Bee mengusilinya. Untuk pertama kalinya sejak beberapa hari terakhir...
Bee merasa bisa bernapas sedikit lebih lega. Karena berada di rumah yang meski bukan miliknya...
Suasana ruang keluarga keluarga Cristal terasa hangat dan ramai. Bee sedang duduk di sofa sambil mendengarkan Cristal yang masih mengomel tentang kejadian di kampus.
Sementara Juna baru saja duduk setelah menuruni tangga. Awalnya pria itu terlihat biasa saja, Namun saat Bee menoleh untuk mengambil minuman, pandangan Juna langsung tertuju pada pipi gadis itu.
Alisnya mengernyit.
"Ada apa dengan pipimu?" Pertanyaan itu membuat semua orang langsung menoleh.
Bee refleks menyentuh pipinya. "Hm?"
Mamih Cristal langsung mendekat. "Ya ampun." Wanita itu memegang wajah Bee dengan hati-hati.
"Pipimu kenapa, Sayang?"
Papih yang semula santai ikut memperhatikan. "Benar juga. Papih gak menyadari ada yang aneh di pipimu " ucap papih " merah Dan sedikit bengkak."
Bee langsung tertawa kecil. "Oh ini?"
"Iya ini." Bee menggaruk kepalanya. "Kepentok pintu."
Juna langsung menatapnya datar.
Bee tersenyum polos. "Sumpah."
Kak Juna tetap diam.
"Kepentok pintu."
Masih diam.
Bee mulai salah tingkah.n"Kepentok pintu yang sangat... kuat."
Cristal langsung memalingkan wajah karena takut ketahuan.
Sementara kak Juna menghela napas panjang. "Bee."
"Iya?"
"Aku dokter."
Bee langsung terdiam.
Kak Juna melanjutkan dengan tenang. "Bekas benturan dan bekas tamparan itu berbeda." Ruangan langsung sunyi.
Mamih dan Papih saling berpandangan.
Cristal menggigit bibirnya.
Bee sendiri hanya tersenyum kecil. "Dokter memang menakutkan ya."
"Siapa yang melakukan itu?" Suara kak Juna terdengar lebih serius.
Bee menatap Cristal yang sudah hampir membuka mulut. Namun Bee langsung menggeleng pelan.
Memberi kode agar sahabatnya diam.
Cristal langsung kesal. Tapi akhirnya menuruti permintaan Bee.
Bee kembali tersenyum. "Aku baik-baik saja."
"Itu bukan jawaban."
"Aku benar-benar baik-baik saja."
Kak Juna menatap Bee cukup lama, Seolah ingin memaksa gadis itu mengatakan yang sebenarnya.
Namun Bee tetap diam Akhirnya Kak Juna menyerah.
Meski jelas terlihat ia tidak percaya sedikit pun.
Sejak saat itu, perhatian keluarga Cristal justru semakin besar. Mamih bahkan beberapa kali menyentuh pipi Bee dengan hati-hati.
"Masih sakit?"
"Sedikit."
"Aduh..."
Bee tersenyum geli. "Jangan sedih begitu dong, Mih."
"Ya sedihlah." Mamih mengusap rambut Bee "Anak cantik Mamih terluka."
Bee langsung tertawa Entah kenapa dadanya terasa hangat. Sangat hangat, Hal sederhana seperti ini saja sudah cukup membuat matanya terasa panas.
Karena beberapa hari terakhir... Tidak ada yang benar-benar bertanya apakah ia baik-baik saja.
"Mih?"
"Kenapa?"
"Mamih ngapain?"
"Membuat bubur."
Bee berkedip. "Bubur?"
Mamih mengangguk. "Supaya kamu bisa makan malam dengan nyaman."
Bee langsung terdiam, Tatapannya perlahan menghangat. Bahkan di rumahnya sendiri...
Tidak ada yang memperhatikan hal sekecil itu.
Namun di rumah ini... Seseorang rela masuk dapur hanya karena khawatir pipinya sakit saat mengunyah.
Bee langsung memeluk Mamih dari belakang. "Mih."
"Hm?"
"Bee sayang Mamih."
Mamih langsung tertawa. "Mamih juga sayank kamu "
"Terimakasih mih "
" Teruslah manja seperti ini ya "
Tangan Mamih tetap mengusap kepala Bee dengan penuh kasih sayang.