NovelToon NovelToon
TO MARRY A REGEN

TO MARRY A REGEN

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat / Mengubah Takdir
Popularitas:925
Nilai: 5
Nama Author: byKaru

“Cinta bisa menjadi rumah yang nyaman, atau justru belenggu yang tak terlihat”

Arin sudah menikah dengan seorang pengusaha yang terkenal dan sangat sukses. Pernikahan yang diimpikan banyak orang. Dari Luar kehidupan Arin sangat sempurna, suami yang tampan, kekayaan yang melimpah, dan status sosial yang dihormati. Namun, hanya Arin yang tahu bahwa di balik kemewahan itu, ada sesuatu yang tidak boleh diketahui siapa pun.

Semua baik-baik saja, aku bisa mengatasinya, aku tidak butuh siapapun. Tekanan, trauma, stres, dan emosi yang sering ditahan oleh Arin perlahan menumpuk di dalam dirinya, dengan mengabaikan rasa sakit dan setiap trauma yang menghampirinya, tanpa sadar tubuh Arin mulai bereaksi terhadap setiap beban yang selama ini dia abaikan. di malam yang tenang tanpa kendali Arin mulai berjalan dalam tidurnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byKaru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29: Alia

Di dalam pesawat, Alia terus menatap layar ponselnya. Kabar pernikahan Nathan masih terpampang di sana. Tatapannya tidak beralih sedikit pun, seolah berharap berita itu berubah menjadi sesuatu yang berbeda.

Setelah beberapa saat, ia mengirim sebuah pesan kepada sekretaris ayahnya. Begitu menerima balasan, Alia mematikan layar ponselnya, lalu mengalihkan pandangan ke luar jendela. Pesawat yang ditumpanginya sebentar lagi akan mendarat.

"Halo."

Alia membuka pintu ruang kerja ayahnya tanpa pemberitahuan. Di dalam ruangan itu sudah ada Dison dan kakak laki-lakinya, Abram, yang biasa dipanggil Bram.

"Bukankah kau masih di luar negeri?" tanya Bram dengan nada terkejut.

"Aku harus kembali untuk mengucapkan selamat kepada Ayah."

Dison baru saja dilantik sebagai Menteri Perhubungan sehari sebelumnya. Jabatan itu semakin mengukuhkan namanya di dunia politik.

Alia langsung menghampiri ayahnya, lalu duduk di sampingnya sambil memeluk lengannya. Dison tertawa kecil dan membalas pelukan putrinya dengan hangat.

"Hm... Ayah, aku ingin menjadi Direktur Logistik & Distribusi."

Bram langsung menatap adiknya. "Bukankah kau tidak pernah tertarik dengan bidang logistik?"

"Ayah sudah menjadi Menteri Perhubungan, Kakak menjadi CEO perusahaan. Jadi, biarkan aku yang memimpin divisi logistik."

"Karena Nathan?" tanya Bram tanpa ragu.

Ruangan itu mendadak hening.

Alia tidak menjawab. Namun, diamnya sudah cukup menjadi jawaban bagi Dison dan Bram.

"Aku tidak akan mengecewakan Ayah. Kalian tau aku mampu." ucapnya mencoba meyakinkan Ayahnya.

Dison dan Bram saling berpandangan. Mereka tahu Alia pasti memiliki maksud lain. Namun, mereka juga tahu kemampuan Alia tidak perlu diragukan. Sebagai lulusan Oxford dengan gelar magister, Alia memang layak memimpin divisi tersebut.

Setelah beberapa saat berpikir, Dison akhirnya mengangguk pelan. "Baiklah. Mulai besok kau resmi menjabat sebagai Direktur Logistik & Distribusi."

Senyum Alia langsung mengembang. "Terima kasih, Ayah."

Ia mencium pipi ayah dan kakaknya secara bergantian sebelum meninggalkan ruangan dengan langkah ringan.

...*****...

Keesokan paginya, Nathan dan Arin berangkat untuk melihat vila yang semalam mereka pilih dari proposal. Sekretaris Nathan telah mengabarkan bahwa seluruh proses administrasi selesai lebih cepat dari perkiraan, sehingga mereka sudah bisa meninjau vila itu hari ini.

Vila ini akan menjadi rumah pertama yang benar-benar mereka tempati sebagai suami istri. Meski tidak seorang pun mengatakannya, perjalanan pagi itu seharusnya menjadi awal yang tenang bagi mereka.

Sepanjang perjalanan, suasana di dalam mobil tetap hening. Nathan fokus mengemudi, sementara Arin sesekali mengalihkan pandangannya ke luar jendela, menikmati pemandangan yang mereka lewati. Keheningan di antara mereka masih ada, tetapi tidak lagi terasa secanggung malam sebelumnya.

Tiba-tiba, dering ponsel Nathan memecah kesunyian.

"Siapa?" ucap Nathan singkat setelah menjawab panggilan melalui sistem hands-free mobil.

"Pak Nathan, Direktur baru perusahaan mereka adalah Ibu Alia. Sampai sekarang dokumen persetujuan impor dan ekspor kita belum juga diterbitkan," lapor sekretarisnya dari kantor pusat Regen Corporation.

Nathan mengakhiri panggilan itu tanpa banyak bicara. Ia baru saja hendak menghubungi Direktur Divisi Logistik & Distribusi ketika panggilan dari Victor lebih dulu masuk.

Nathan segera mengangkatnya.

"Bagaimana kau akan menyelesaikan masalah ini?" tanya Victor tanpa basa-basi.

"Aku akan menemuinya."

"Aku tunggu hasilnya malam ini. Jika kau gagal, orang lain yang akan mengambil alih."

Panggilan itu langsung terputus.

Nathan memahami maksud ayahnya. Jika persoalan ini tidak segera diselesaikan, posisinya sebagai CEO bisa saja diberikan kepada Andre. Hal itu tidak akan pernah ia biarkan terjadi.

Tanpa membuang waktu, Nathan segera menghubungi Direktur Divisi Logistik & Distribusi. "Jelaskan situasinya."

"Hampir seluruh kontainer kita tertahan di pelabuhan Pak. Izin impor dan ekspor belum diterbitkan, jalur distribusi ikut dihentikan, dan pihak Bea Cukai akan melakukan penyelidikan terhadap perusahaan kita."

Nathan tetap diam, memberi isyarat agar pria itu melanjutkan laporannya.

"Saya sudah berusaha menghubungi Direktur baru mereka, Ibu Alia. Namun, sepertinya beliau sengaja menutup akses komunikasi dengan pihak kita."

Nathan menarik napas pelan. "Berikan alamat kantornya. Pastikan dia masih berada di sana."

"Baik, Pak."

Begitu panggilan berakhir, Nathan langsung membelokkan mobilnya menuju alamat yang baru saja dikirimkan oleh Direktur Divisi.

...*****...

Nathan akhirnya tiba di kantor perusahaan milik Dison, tempat Alia dipastikan berada.

Ia segera turun dari mobil. Arin yang sejak tadi ikut bersamanya juga turun, sementara Nathan melemparkan kunci mobil kepada valet yang telah menunggu untuk memarkirkan mobilnya.

Nathan langsung melangkah memasuki gedung. Namun, baru beberapa langkah, ia berhenti dan menoleh ke belakang. Arin masih berdiri di tempatnya.

"Ada apa?" tanya Nathan sambil menghampirinya.

"Aku akan menunggu di sini," jawab Arin pelan. Menurutnya, urusan ini terlalu penting dan ia merasa tidak seharusnya ikut terlibat.

"Kau menunggu di dalam."

Tanpa memberi kesempatan Arin membantah, Nathan menggenggam tangan wanita itu dan mengajaknya masuk ke dalam gedung.

Begitu tiba di meja resepsionis, kedatangan Nathan langsung disambut oleh petugas yang seolah sudah mengetahui bahwa ia akan datang.

"Saya ingin bertemu dengan direktur kalian."

"Maaf Pak. Bu Alia sedang menghadiri rapat. Namun, beliau berpesan agar Bapak menunggu di depan ruangannya."

Nathan mengangguk singkat. Ia dan Arin kemudian mengikuti resepsionis menuju lantai tempat ruang kerja Alia berada.

Sesampainya di depan ruangan itu, mereka duduk di sofa yang tersedia.

Dua puluh menit berlalu.

Nathan kembali melirik ponselnya. Sekarang sudah hampir tiga puluh menit sejak ia tiba, tetapi Alia masih belum juga mempersilahkannya masuk.

Dengan sedikit kesal, Nathan meletakkan ponselnya di atas meja sedikit lebih keras kali ini.

"Mereka sudah selesai," ucap Arin pelan ketika melihat pintu ruang kerja Alia mulai terbuka.

Nathan juga langsung menoleh ke arah pintu, ketika pintu itu terbuka lebar

satu per satu peserta rapat keluar dari ruangan. Beberapa di antaranya menghentikan langkah sejenak untuk menyapa Nathan sebelum melanjutkan perjalanan mereka.

Sekretaris Alia keluar paling akhir. Ia segera menghampiri Nathan.

"Pak Nathan, Ibu Alia sudah menunggu. Bapak bisa masuk sekarang."

Nathan mengangguk pelan. Sebelum memasuki ruangan, ia menoleh ke Arin.

"Tunggu di sini."

Arin membalas dengan anggukan kecil.

Nathan pun membuka pintu dan masuk ke dalam.

Di dalam ruangan itu hanya ada Alia. Wanita itu masih duduk di kursinya sambil menatap Nathan dengan senyuman, seolah tidak pernah terjadi apa pun.

Nathan terus melangkah hingga berhenti tepat di depan meja kerjanya.

"Kau menunggu lama?" tanya Alia.

Ia bangkit dari kursinya, lalu berjalan mendekati Nathan hingga hanya tersisa sedikit jarak di antara mereka.

Nathan tetap diam.

"Maaf. Seharusnya aku tidak membiarkanmu menunggu."

Belum sempat Nathan memberikan tanggapan, Alia tiba-tiba mengecup bibirnya.

Nathan dengan sigap menggenggam lengan Alia dan mendorongnya menjauh.

Namun, Alia kembali mendekat. Kali ini ia langsung memeluk Nathan erat.

"Kau tahu?" gumam Alia lirih. "Aku menunggu sangat lama agar kau melihatku. Saat Ayah pertama kali mengatakan bahwa aku akan bertunangan denganmu... aku benar-benar bahagia."

Nathan tidak membalas pelukan itu. Namun, ia juga tidak langsung mendorong Alia lagi.

"Kenapa kau menikah?" tanya Alia pelan.

Beberapa saat berlalu tanpa jawaban dari Nathan.

"Kau membenciku?" lanjutnya. Suaranya mulai bergetar, seolah mati-matian menahan tangis.

"Aku tidak—"

Ucapan Nathan terhenti ketika Alia mendongakkan wajahnya. Jarak mereka kembali begitu dekat.

"Bisa lepaskan dulu?" ucap Nathan tenang.

Alih-alih melepaskan, pelukan Alia justru semakin erat.

Nathan menarik napas pelan. Ia sadar memaksa Alia melepaskannya dalam keadaan seperti ini hanya akan memperburuk keadaan.

"Pernikahanku tidak ada hubungannya denganmu," ucap Nathan akhirnya. "Ini hanya urusan antara aku dan Ayahku."

"Jadi... selama ini kalian tidak pernah berpacaran?" tanya Alia. Tatapannya dipenuhi harap sekaligus kekecewaan.

"Alia, kau tahu alasanku datang."

"Jawab pertanyaanku!" bentak Alia.

"Tidak." Jawaban Nathan singkat tanpa keraguan.

"Kau mencintainya?"

Nathan menatap Alia beberapa saat.

"...Tidak."

1
Karu
Catatan Kecil: Masih berjuang melawan sakit gigi sambil menulis bab ini. Terima kasih sudah membaca.😭💔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!