NovelToon NovelToon
KULTIVASI RAHASIA SANG TUKANG SAPU: SISTEM CHECK IN

KULTIVASI RAHASIA SANG TUKANG SAPU: SISTEM CHECK IN

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem / Mengubah Takdir
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: HINDRA10

"Dilahirkan dengan Tulang Roh yang Layu, Lin Chen dianggap sebagai aib terbesar bagi Kekaisaran Shenghuang. Setelah dijebak oleh saudara-saudaranya dan dibuang oleh ayahnya sang Kaisar, ia diasingkan ke Sekte Pedang Taixuan—sebuah sekte kuno yang hampir punah—dan hanya diberi pekerjaan sebagai murid tukang sapu.

Dunia mengira hidupnya telah hancur. Namun, mereka tidak tahu bahwa di hari pertamanya memegang sapu, sebuah Sistem Absensi Jejak Kuno bangkit di dalam jiwanya!

【Ding! Anda berhasil melakukan check-in di Gerbang Batas Taixuan. Hadiah: Tubuh Pedang Kekacauan Primitif!】
【Ding! Anda berhasil melakukan check-in di Makam Pedang Leluhur. Hadiah: Mata Dewa Kekacauan!】

Aturannya ketat: Hanya bisa check-in satu bulan sekali! Namun, setiap tempat yang pernah disinggahi para dewa kuno akan memberinya hadiah tingkat mitologi.

Ketika sekte-sekte besar mencoba menghancurkan tempatnya menumpang, dan Kekaisaran Shenghuang datang untuk menindasnya lagi, pangeran yang dianggap sampah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HINDRA10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17

Pagi itu, Sesepuh Bai nyaris menumpahkan teh di cangkirnya.

Bukan karena terkejut melihat peristiwa yang luar biasa, melainkan karena Su Qingxue baru saja turun dari tangga. Langkahnya setegap hari pertama mereka tiba di Kota Jiuyang. Jubah putihnya terawat rapi tanpa kerutan sedikit pun, kedua tangannya bergerak bebas di sisi tubuhnya, seolah tidak ada bagian tubuh yang terluka atau perlu dijaga.

Sesepuh Bai menatapnya lekat selama tiga detik penuh, lalu menoleh ke Sesepuh Duan di sampingnya. Sesepuh Duan membalas tatapan itu dengan ekspresi serupa—perpaduan rasa lega yang mendalam sekaligus kebingungan yang tak kalah besar.

Tanpa perlu penjelasan lebih lanjut, Su Qingxue duduk di tempatnya, mengambil sumpit, dan mulai menyantap makanan seolah tak ada hal istimewa yang terjadi semalam. Tak ada seorang pun yang berani bertanya.

Di bagian dapur, Lin Chen mengisi kembali teko berisi air panas dengan raut wajah yang sangat tenang dan biasa saja.

 

Sarapan berakhir lebih cepat dari biasanya. Suasana pagi itu terasa berbeda, seolah ada energi baru yang mengalir di antara mereka. Chen Hao menghabiskan makanannya sampai butir nasi terakhir. Fang Rui dan Zhou Bin kembali berbisik satu sama lain untuk pertama kalinya sejak kekalahan Zhou Bin dua hari lalu. Bahkan Luo Mei pun lebih dulu menutup buku catatan formasi tempurnya dan ikut membereskan meja—sesuatu yang belum pernah terjadi sepanjang perjalanan mereka.

Sementara itu, Wei Peng makan dengan kedua tangannya bebas.

Lin Chen mengamatinya sekilas dari sudut pandangnya. Meridian di bahu kiri murid berpostur besar itu ternyata pulih lebih cepat dari perkiraan. Tiga hari ternyata sudah cukup, apalagi selama dua hari terakhir ia secara diam-diam menambahkan ramuan jahe khusus ke dalam sup makan malam tanpa menjelaskan alasannya kepada siapa pun.

“Cukup untuk bergerak leluasa, dan mungkin cukup untuk bertarung jika keadaan memaksa,” pikir Lin Chen dalam hati. “Namun, bukan hakku untuk memberitahunya hal itu.”

 

Rombongan pun berangkat menuju arena dengan susunan yang sedikit berubah dibanding hari-hari sebelumnya.

Sesepuh Bai dan Sesepuh Duan tidak lagi berjalan kaku di posisi paling depan dan paling belakang. Kali ini, mereka bergerak lebih mendekati bagian tengah rombongan, dengan kewaspadaan yang jauh lebih tinggi. Indra pengamatan khas kultivator tingkat Jiwa Lahir mereka terbentang luas melampaui jangkauan pandangan mata biasa, memindai setiap sudut lingkungan sekitar.

Pengintaian selama tiga hari dan satu serangan mendadak di lembah sempit telah mengubah cara mereka bertindak. Itu adalah hal yang baik.

Lin Chen mengawasi kepergian mereka dari depan pintu penginapan, sebelum kemudian masuk kembali ke dapur untuk mulai menyiapkan menu makan siang.

Cuk... cuk... Suara pisau yang memotong bahan makanan terdengar teratur di atas talenan.

“Benar-benar hari yang menentukan,” gumamnya dalam hati. “Su Qingxue kini dalam kondisi terbaiknya. Kedua sesepuh juga sudah lebih waspada, dan para murid yang tersisa cukup stabil menjaga semangat.”

“Dari sisi Sekte Taixuan, persiapannya sudah cukup baik.”

Tangannya sempat berhenti memotong sejenak saat namanya terlintas.

“Namun, dari sisi Lin Hao... hari ini ia akan muncul sendiri. Dan orang sepertinya tidak akan turun ke tengah keramaian tanpa rencana yang sudah diperhitungkan matang-matang.”

Setelah jeda singkat, pisau di tangannya kembali bergerak teratur.

“Kita lihat saja apa yang akan terjadi.”

 

Saat siang tiba, Arena Utama Kota Jiuyang dipenuhi sesak oleh ribuan penonton.

Ini adalah hari keempat penyelenggaraan turnamen. Hari di mana babak penyisihan berakhir dan dimulainya ronde penentuan yang lebih ketat. Penonton yang memadati tribun bukan hanya murid sekte dan rombongan mereka, melainkan juga warga kota, pedagang yang menutup lapaknya lebih awal, serta para kultivator lepas yang datang dari berbagai wilayah hanya untuk menyaksikan pertarungan-pertarungan paling menegangkan hari ini.

Di tribun khusus untuk para sesepuh dan pemimpin sekte, Sesepuh Bai serta Sesepuh Duan duduk dengan raut tenang, meskipun hati mereka sebenarnya gelisah. Di sebelah mereka duduk para tetua dari sekte-sekte lain yang belum dikenal, namun harus tetap bersikap setara dan sopan.

Di sisi kiri tribun itu, tempat duduk rombongan Sekte Naga Langit terisi rapi. Lima sesepuh berpakaian ungu dengan lambang naga berkepala tiga tampak duduk dengan wibawa, seolah terbiasa menjadi pusat perhatian. Namun, satu kursi di ujung barisan mereka—tempat yang seharusnya ditempati Murid Utama sekte itu—terlihat kosong melompong.

Sesepuh Bai melirik sekilas ke arah kursi kosong itu.

“Shen Yufeng belum hadir. Entah masih dalam perjalanan, atau ada hal lain yang menyita waktunya,” pikirnya.

“Sesepuh Bai.”

Suara lirih Sesepuh Duan memotong pikirannya. Matanya mengarah ke tribun penonton biasa yang terletak di sisi seberang arena. Sesepuh Bai mengikuti arah pandangan itu, dan seketika bahunya menegang tanpa sadar.

Di barisan ketiga tribun umum, bukan di tempat terhormat atau tribun khusus, duduklah seorang pemuda yang mengenakan jubah berwarna keemasan. Pakaian itu terlalu mewah untuk sekadar penonton biasa. Rambutnya terikat rapi, wajahnya tampan dan tenang, serta sorot matanya memandang arena seolah sedang menonton pertunjukan semata.

Lin Hao. Pangeran Ketiga dari Kekaisaran Shenghuang.

Namanya bukanlah hal asing di dunia persilatan. Putra Kaisar yang kabarnya telah menembus ranah Jiwa Lahir di usia yang sangat muda, dan kehadirannya di mana pun selalu menimbulkan satu pertanyaan besar: apa tujuan sebenarnya ia datang ke tempat itu?

“Ia benar-benar turun sendiri ke tengah keramaian,” bisik Sesepuh Duan dengan suara sangat pelan.

“Ya. Tetap jaga sikap dan posisi. Jangan sampai ia sadar bahwa kita sedang mengamatinya,” jawab Sesepuh Bai dengan nada tegas namun tetap rendah.

 

Sementara itu, Lin Hao duduk santai sambil melipat kedua tangannya di atas pangkuan. Ekspresinya tak berubah sejak pertama kali memasuki arena. Di sebelahnya, dua orang pengawal yang menyamar sebagai penonton biasa duduk terpisah satu kursi—cukup dekat untuk bertindak jika diperlukan, namun cukup jauh agar tidak menarik perhatian.

Pertandingan pertama sesi siang belum dimulai. Petugas masih membersihkan sisa pertarungan sebelumnya, sementara penonton terus memadati kursi kosong dengan suara riuh yang memenuhi seluruh ruangan.

Namun, Lin Hao sama sekali tidak memperhatikan hal itu. Pandangannya tidak tertuju ke tengah arena, melainkan menyapu setiap pintu masuk, koridor samping, hingga celah jendela besar yang menghadap ke luar bangunan.

“Di mana kau bersembunyi,” pikirnya dalam hati dengan sangat tenang. “Pasukan pengintaiku sudah melihat wajahmu. Kau adalah keanehan yang membuat tiga orang bawahanku pulang tanpa membawa informasi apa pun. Seorang pelayan sekte yang tidak memancarkan energi kultivasi, namun mampu melakukan hal-hal yang mustahil bagi orang biasa.”

“Jika ada yang tahu apa yang sedang terjadi, maka pasti dirimulah orangnya. Dan kau pasti hadir di sini hari ini.”

Matanya terus mengamati sekeliling, namun yang dicari belum terlihat sampai saat itu.

 

Pertandingan Su Qingxue baru akan dimulai setelah dua pertandingan berikutnya dan sesi istirahat singkat usai.

Lawan yang dihadapinya adalah Gao Tianpeng, murid utama Sekte Guntur Langit—sekte tingkat satu yang terkenal dengan teknik serangan berbasis energi petir. Ia berada di tingkat puncak ranah Inti Emas, setingkat dengan Bai Ruochen yang dihadapi Su Qingxue kemarin. Namun, berbeda dengan Bai Ruochen yang mengandalkan ketepatan dan strategi, Gao Tianpeng adalah tipe petarung yang mengandalkan kekuatan kasar dan tekanan tanpa henti.

Ia melangkah turun ke arena dengan langkah yang terdengar berat dan tegas, bukan karena ceroboh, melainkan sebagai pernyataan kekuasaan. Saat melihat Su Qingxue berjalan masuk dari arah berlawanan, seulas senyum percaya diri terbit di wajahnya.

Berita mengenai kondisi Su Qingxue yang terluka parah dan nyaris kalah kemarin telah menyebar luas. Semua orang meyakini bahwa dalam waktu satu malam, mustahil lukanya bisa pulih sempurna. Gao Tianpeng pun percaya sepenuhnya pada kabar itu.

Ia segera melancarkan serangan pertama begitu pertandingan dimulai. Tanpa pemanasan atau pengamatan, energi petir berwarna biru keputihan meledak dari kedua telapak tangannya, membelah udara dengan suara gemuruh yang membuat sebagian penonton secara refleks menutup telinga. Serangan itu sengaja diarahkan ke sisi kiri tubuh Su Qingxue—titik lemah yang telah dipelajarinya dari rekaman pertandingan sebelumnya.

Namun, Su Qingxue hanya melangkah miring ke kanan.

Bukan mundur ketakutan, bukan menghindar secara sembarangan, melainkan satu langkah yang sangat terukur dan presisi. Ia membiarkan sambaran petir itu melintas hanya sejengkal dari tubuhnya tanpa menyentuh sehelai kain pun.

Alis Gao Tianpeng langsung mengerut heran.

Ia melancarkan serangan kedua yang lebih cepat dan dari sudut berbeda, namun tetap mengincar sisi yang sama. Su Qingxue kali ini hanya membelokkan arah serangan itu menggunakan sisi bilah pedang gioknya, membuat energi petir itu tersebar memukul tanah tanpa melukainya.

Sesuatu berubah dalam tatapan Gao Tianpeng. Belum panik, namun perhitungannya yang awalnya meyakinkan kini mulai berubah cepat.

“Kondisinya tidak seburuk yang dilaporkan,” batinnya. “Namun selisih tingkat kekuatan masih terpaut dua jenjang. Keadaan fisik yang lebih baik saja tidak akan mengubah hasil akhir.”

Ia pun mempercepat ritme serangannya, dan pertarungan sesungguhnya baru saja dimulai.

1
Ihya Ilmi
Semangat thor
Ihya Ilmi
Lanjutkan thor, jangan kasih kendor, crazy UP thor👍👍
Hindra Hin: siap, masih di garap nihh 🙏👍👍👍
total 1 replies
Ihya Ilmi
Thor, 7 hari katanya tp knp MC nya bisa check in 2x?
Hindra Hin: terimakasih atas komentarnya, sangat membantu 🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Ihya Ilmi
Koreksi thor, " Enam Bulan?" atau "30 hari?", soalnya di sinopsis sebulan sekali.
Hindra Hin: baik, Terimakasih atas koreksinya 🙏🙏🙏
total 1 replies
Pecinta Gratisan
hiatus gak nih thor cerita nya
Hindra Hin: update terus bang tiap hari aman. nantikan aja🙏🙏
total 1 replies
Hadi Hadi
semangat 👍👍
Hindra Hin: makasih bro👍👍
total 1 replies
Hadi Hadi
up up up 💪
Hindra Hin
Jangan lupa di komen Bro kalau ada kata yg salah kritik aja biar ada masukan🫵
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!