NovelToon NovelToon
BISIKAN LUKISAN BERDARAH

BISIKAN LUKISAN BERDARAH

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / Misteri / Penyelamat
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Andhig Rosdiana

Bagi Adista, barang antik bukan sekadar benda mati; mereka memiliki jiwa, cerita, dan keindahan tersendiri. Hobinya mengoleksi barang-barang unik dan kuno selalu berhasil membawa kepuasan tersendiri, hingga suatu malam di sebuah ruang pelelangan rahasia, matanya terpaku pada sebuah mahakarya yang unik.
​Sebuah lukisan tua berbingkai emas kusam yang menggambarkan sosok perempuan dengan air mata darah.
​Ada daya tarik magis yang tak kasat mata, seolah lukisan itu sengaja memanggil namanya. Tergiur oleh keunikan dan aura mistisnya, Adista berhasil memenangkan lelang tersebut tanpa tahu harga yang harus ia bayar bukan sekadar uang.
​Sejak lukisan itu tergantung di dinding rumahnya, atmosfer berubah mencekam. Langkah kaki misterius, bau anyir yang menguap di udara, hingga bisikan ghaib yang menyayat hati mulai meneror malam-malam Adista. Sosok perempuan dalam kanvas itu seolah hidup, dan tangisan darahnya perlahan mulai merembes keluar dari bingkai, menuntut balas yang mengerikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andhig Rosdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 7

Napas Bram masih memburu. Rasa mual di dadanya perlahan mereda, namun rasa takut yang amat sangat kini mengalir deras ke seluruh pembuluh darahnya. Bau busuk bangkai dan amis darah dari mangkuk soto di meja makan terasa semakin menyengat, memenuhi setiap sudut hidungnya. Lingkungan di sekitarnya tidak lagi terasa aman. Rumah besar ini sudah berubah menjadi perangkap yang mematikan.

​"Aku harus keluar dari sini. Sekarang juga," bisik Bram pada diri sendiri.

​Dengan tangan yang masih gemetar hebat, ia menyeka sisa muntah di mulutnya menggunakan tisu. Ia tidak peduli lagi dengan barang-barangnya yang tertinggal di kamar tamu. Yang ada di dalam pikirannya saat ini hanyalah melarikan diri sejauh mungkin dari rumah terkutuk ini. Bram berbalik memunggungi meja makan, berniat lari menuju pintu depan.

​Namun, begitu ia melangkah keluar dari area dapur dan sampai di ruang tengah, langkah kaki Bram mendadak terhenti. Tubuhnya seketika kaku seperti batu.

​Pandangannya terkunci pada dinding tempat lukisan perempuan menangis darah itu digantung.

​Jantung Bram serasa mau copot. Lukisan itu berubah lagi. Di dalam bingkai emas yang kuno itu, sosok perempuan berambut panjang tersebut kini tidak lagi menghadap ke depan. Kepalanya tampak menoleh ke arah samping, tepat ke arah posisi Bram berdiri. Sepasang matanya yang mengalirkan darah pekat menatap lurus ke dalam bola mata Bram. Dan yang paling membuat bulu kuduk berdiri, bibir sensual perempuan di dalam lukisan itu kini terbuka lebar, membentuk sebuah senyuman lebar yang sangat dingin dan penuh kemenangan.

​...Mau pergi ke mana, Bram?...

​Sebuah suara bisikan perempuan bergaung keras di dalam kepala Bram, bukan lewat telinganya. Suara itu begitu nyaring dan dingin, membuat kepalanya mendadak terasa pening luar biasa seolah dihantam benda keras.

​"Pergi! Jangan ganggu aku!" teriak Bram histeris. Ketakutannya kini berubah menjadi kepanikan .

​Bram langsung mengambil langkah seribu menuju pintu depan rumah. Ia berlari sekuat tenaga, mencengkeram kenop pintu kayu yang besar itu, lalu menariknya dengan sekuat tenaga.

​KLIK. KLIK.

​Pintu itu tidak bergerak sedikit pun. Pintu depan itu terkunci rapat dari luar. Bram mencoba memutar kunci slot di bagian dalam, namun kunci itu terasa keras seolah menyatu dengan besi pintu, sama sekali tidak bisa digerakkan.

​"Sialan! Kenapa nggak bisa dibuka?!" umpat Bram panik. Ia memukul-mukul pintu kayu itu dengan tinjunya. BRAK! BRAK! BRAK! "Adista! Tolong! Siapa pun di luar, tolong!"

​Tidak ada jawaban. Di luar rumah, cuaca siang yang cerah mendadak berubah menjadi gelap secara tidak wajar. Awan hitam tebal bergulung-gulung menutupi matahari, dan suara rintik hujan kembali terdengar mengetuk-ngetuk atap rumah dengan sangat keras. Angin kencang mulai berembus di luar, membuat dahan-dahan pohon bergesekan dengan kaca jendela, menghasilkan suara seperti kuku panjang yang sedang menggaruk.

​Bram menoleh ke belakang dengan waswas. Suasana di dalam rumah berubah menjadi sangat remang-remang dan gelap. Di tengah kegelapan ruang tengah, hawa dingin yang luar biasa mulai berembus, membawa kembali aroma busuk yang menyengat dari dapur.

​KRETEKK...

​Suara kayu yang bergeser terdengar dari arah lukisan. Bram membelalakkan matanya. Di bawah cahaya yang minim, ia melihat cairan darah di dalam lukisan itu meluber keluar dari bingkai emasnya. Darah segar yang kental itu menetes dan mengalir turun ke dinding, lalu mulai membanjiri lantai kayu rumah Adista. Dari dalam genangan darah di lantai itu, perlahan-lahan muncul sebuah bayangan hitam yang bergerak naik, membentuk sosok wanita berambut panjang.

​Bram tahu ia tidak punya waktu lagi. Pintu depan terkunci. Jalan satu-satunya untuk selamat adalah bersembunyi atau mencari jalan keluar lain lewat jendela. Bram berlari menuju koridor kamar, berniat masuk ke dalam kamar tamu tempat ia menginap semalam untuk melompat keluar jendela.

​Ia berhasil mencapai pintu kamar tamu, membuka pintunya, lalu langsung masuk dan membanting pintu itu hingga tertutup rapat. BLAM! Bram segera memutar kunci pintu dari dalam dan menyandarkan punggungnya di pintu kayu tersebut sambil terengah-engah.

​Napasnya naik-turun dengan cepat. Kamar tamu itu gelap gulita karena gordennya masih tertutup rapat. Bram melangkah mendekati jendela kamar, berniat membuka grendelnya dan kabur lewat sana. Namun, begitu ia menyentuh bingkai jendela kaca, ia menyadari hal yang sama: jendela itu juga terkunci rapat dan tuasnya tidak bisa digerakkan sama sekali, seolah-olah dilem dengan besi tipis.

​"Nggak, nggak, nggak! Ini nggak mungkin!" Bram mulai frustrasi. Ia mengambil sebuah kursi kayu di sudut kamar, mengangkatnya tinggi-tinggi, lalu melemparkannya ke arah kaca jendela dengan sekuat tenaga.

​PRAAAKKK!

​Kursi itu menghantam kaca dengan keras, namun anehnya, kaca jendela itu sama sekali tidak pecah atau retak sedikit pun. Kursi kayu itu justru terpental dan hancur berantakan di lantai. Kaca jendela itu seolah berubah menjadi sekeras dinding beton. Rumah ini benar-benar telah menutup dirinya, mengunci Bram di dalam sebuah jebakan mistis.

​Di tengah keputusasaannya, ruangan kamar tamu yang semula sunyi mendadak mendingin dengan sangat cepat. Hawa dingin itu begitu ekstrem hingga membuat napas Bram mengeluarkan asap putih tipis setiap kali ia membuang napas.

​SREKK... SREKK...

​Jantung Bram berhenti berdetak sesaat. Suara itu kembali terdengar. Suara sesuatu yang diseret di atas lantai kayu. Tapi kali ini, suara itu tidak berasal dari koridor luar rumah.

​Suara itu terdengar dari dalam kamar, tepat di kolong ranjang tempat tidur yang hanya berjarak satu meter dari posisi Bram berdiri.

​Bram melangkah mundur dengan gemetar hingga punggungnya kembali membentur kaca jendela yang dingin. Matanya menatap tajam ke arah kegelapan di bawah kolong tempat tidur. Di tengah kesunyian kamar yang mencekam, dari balik seprai kasur yang menjuntai ke bawah, perlahan-lahan muncul sepasang tangan dengan kuku-kuku panjang yang hitam dan tajam. Tangan itu merayap keluar, mencengkeram lantai kayu dengan kuat.

​Kemudian, sebuah kepala dengan rambut hitam panjang yang acak-acakan menyembul keluar dari bawah kolong ranjang. Kepala itu mendongak perlahan, memperlihatkan wajah pucat pasi seperti mayat yang berlumuran darah segar mengalir dari kedua matanya. Wanita dari lukisan itu kini berada di dalam kamar yang sama dengannya.

​...Kamu... tidak bisa... lari... Bram... bisik suara ghaib itu, bergaung langsung di dalam ruangan, membuat kaca jendela di belakang Bram bergetar hebat.

​Wanita itu perlahan mulai merangkak naik ke atas kasur dengan gerakan yang ganjil dan patah-patah. Tatapan matanya yang merah darah mengunci posisi Bram, seolah siap untuk mencabik-cabik tubuh korbannya sama seperti yang terjadi pada Ronald. Bram hanya bisa berdiri mematung di sudut kamar, menangis ketakutan tanpa bisa melakukan apa pun, menyadari bahwa ajal kini sedang berjalan mendekatinya di dalam kamar yang mengunci rapat tersebut.

1
🏡s⃝ᴿ 𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ
bagus aja sih buat jaga rumah dr org jahat tp klo smoe makan korban gtu yo takitnya polisi juga lama2 curiga ya kan bisa 2 di tangkap 🤣🤣🤣🤣
Kungkar Aje
lumayan lah
Kungkar Aje
nah kan nah kan "tapi untuk Rian bodo amat klu mau jadi korban darahnya udah terkontaminasi 🤭
Kungkar Aje
Adista masih terus mempertahankan lukisan nya padahal udah memakan korban harus kah ada korban korban berikutnya ...yuk dong cari solusi
Kungkar Aje
apa mungkin darah kotor itu fikiran fikiran yang kotor .oh my God ...
Kungkar Aje
berharap jangan deh ada korban berikutnya .
🏡s⃝ᴿ 𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ
smgt up kk aq menantikan nya
🏡s⃝ᴿ 𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ
nahh kan skrg mau apa adista
🏡s⃝ᴿ 𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ
kapok mu kapan
soookorrr
🏡s⃝ᴿ 𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ
heeeee menyesal tuh di blakang klo di depan mah antre beli timet kali weekkj
🏡s⃝ᴿ 𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ
mampus kau ryan.. weekk kasiha kau jd tumbal berikutmya
🏡s⃝ᴿ 𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ
knp g ambil tindakan gtu sih
apa ya g gmn gtu smpe teror siang hari pun ada lho
Kungkar Aje
seperti nya laki laki yang punya fikiran buruk yang bakal mati ...Adista tolongin dong sepupumu /Frown/
Kungkar Aje
hantunya nggak kenal waktu🤭
🏡s⃝ᴿ 𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ
hayooo gmn skrg coba dista
🏡s⃝ᴿ 𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ
hayoo jadi mau gmn kamu dista
mau lwrtahanin lukisan mu apa mau buang dan bakar gtu
🏡s⃝ᴿ 𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ
wehh gtu ya critanya

trus piye yo saiki
🏡s⃝ᴿ 𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ
haduhh gmn ya lanjut aja lah
🏡s⃝ᴿ 𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ
lhaa knp makan korban laginkek tumbal deh
🏡s⃝ᴿ 𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ
apa maksudnya darah kotor hayooo

nah jadi misteri bget sih tp sadis cara bantai nya hiss ngeri ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!