Tirta Adira selalu percaya bahwa perasaan manusia adalah hal yang paling sulit ditebak. Hari ini bisa mencintai, esok bisa memilih pergi. Karena itulah, setelah sebuah hubungan yang melelahkan meninggalkan luka, ia memutuskan untuk berhenti menggantungkan kebahagiaannya pada siapa pun.
Hingga takdir mempertemukannya dengan seorang pria yang terkenal kasar, keras kepala, dan memilih mengurung dirinya di balik masa lalu yang belum selesai. Pertemuan mereka tidak pernah berjalan mulus, tetapi di antara setiap perdebatan dan perbedaan, tumbuh sebuah chemistry yang tak mampu dijelaskan oleh logika.
Ini bukan kisah tentang cinta yang rumit. Ini adalah kisah tentang dua orang yang saling menemukan di waktu yang tak pernah mereka rencanakan, lalu perlahan belajar bahwa terkadang, cinta hadir bukan untuk mengubah seseorang, melainkan untuk mengajarkan bagaimana menerima dan menyembuhkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tr_w, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 35
“Kamu... marah?” Pertanyaan konyol apa yang baru saja dilontarkan oleh pria tidak punya hati ini?
Marah?
Tentu saja!
Tirta tetap memalingkan wajahnya. Jangankan mendekat, menoleh pun ia tidak mau. Padahal sejak tadi jemarinya terus disentuh pelan oleh Marchel, seolah pria itu sedang membujuknya. Lucunya, ini juga pertama kali Marchel membujuk seseorang. Dan entah bagaimana, gadis yang baru dikenalnya beberapa hari ini sudah berhasil membuat hidupnya berubah seperti menaiki roller coaster.
“Bicaralah....” Suara Marchel terdengar jauh lebih lembut.
“Kenapa kamu marah? Karena ucapanku tadi? Karena aku bilang menyenangkan saat kamu berada di sisiku?” Ia menggenggam tangan Tirta dengan lebih erat.
“Memang menyenangkan.”
“Tapi bukan karena aku bisa mempermainkanmu.” Marchel tersenyum tipis.
“Menyenangkan karena kamu selalu ada di dekatku.”
“Memperhatikanku.”
“Mengomeliku.”
“Dan melakukan tingkah-tingkah aneh yang tanpa sadar selalu membuatku ingin tersenyum.” Kalimat itu akhirnya membuat Tirta perlahan menoleh.
Mata gadis itu sudah dipenuhi air mata.
Ini pertama kalinya ada seseorang berbicara kepadanya dengan nada selembut itu hingga mampu menyentuh bagian terdalam hatinya.
“Kenapa...?” Suara Tirta bergetar.
“Kenapa kamu—”
“Karena aku mencintaimu.” Jawaban itu terdengar tegas. Tidak ada sedikit pun keraguan dalam tatapan mata Marchel.
Ruangan kembali hening.
Keduanya saling memandang tanpa berkedip, seolah tenggelam dalam lautan perasaan yang selama ini sama-sama mereka sembunyikan.
“Kalau hari ini kamu tidak mengetahui semua rencana kami...” Marchel menarik napas pelan.
“Mungkin aku tidak akan pernah mengatakannya.”
“Aku takut.”
“Aku takut setelah mendengar perasaanku, kamu justru menjauh.” Ia tersenyum pahit.
“Lagi pula... perempuan normal mana yang mau hidup bersama pria lumpuh sepertiku?” Tangan hangatnya masih menggenggam jemari Tirta yang perlahan mengusap air mata di pipinya.
“Apa...” Tirta menatapnya dalam.
“Apa kamu hanya menganggapku sebagai obat untuk penyakitmu?” Pertanyaan itu membuat Marchel terdiam. Ia berpikir cukup lama sebelum akhirnya tersenyum kecil.
“Sepertinya benar.” Jawaban itu membuat wajah Tirta kembali berubah.
“Tapi...” Marchel mengusap pelan punggung tangan gadis itu.
“Kamu bukan hanya obatku.”
“Kamu juga canduku.”nTirta spontan terkekeh pelan di sela air matanya. Sejak kapan pria sedingin ini pandai merangkai kata-kata manis? Padahal beberapa menit yang lalu ia masih seperti patung hidup.
“Sudahlah....” Tirta mengusap sisa air matanya.
“Aku keluar dulu.”
“Biarkan Dokter El yang merawatmu.” Baru saja ia hendak menarik tangannya—
Marchel kembali menggenggamnya. Bahkan menarik tubuh Tirta hingga jarak mereka hanya tinggal beberapa senti.
Tatapan pria itu penuh penyesalan. Ia merutuki dirinya sendiri. Kenapa baru sekarang ia berani jujur? Padahal ternyata bisa menatap wajah gadis ini dari jarak sedekat ini adalah hal yang selama ini paling ia inginkan.
“Kamu belum menjawab ucapanku.”
Suara Marchel terdengar pelan. Tatapannya tak pernah lepas dari wajah Tirta.
“Yang mana?” Tirta pura-pura tidak mengerti.
“Bahwa aku mencintaimu.”
“Aku tidak—”
“Tidak apa.” Marchel langsung memotong.
“Aku masih punya banyak cara supaya kamu jatuh cinta kepadaku.” Sudut bibirnya naik tipis.
“Bahkan kalau perlu... aku akan menikahimu.”
“Hah?” Mata Tirta langsung membulat.
“Gila!” Serunya spontan.
“Jadi...” Marchel masih tersenyum tenang.
“Pilih jawabanmu baik-baik.”
“Karena hasilnya mungkin tidak akan bagus untukmu.” Nada suaranya lembut. Namun entah kenapa ancaman itu terdengar sangat serius. Tirta hanya bisa menggeleng sambil tersenyum malu.
“Aku juga... menyukaimu.” Pipinya mulai memerah.
“Hanya suka?” Marchel tampak tidak puas.
“Tidak mencintaiku?” Tanpa menunggu jawaban, tangannya kembali merangkul pinggang ramping Tirta hingga gadis itu terdorong semakin dekat.
“Aku mencintaimu, Tuan Tua!” Seru Tirta malu-malu. Kalimat itu berhasil membuat seluruh pertahanan Marchel runtuh. Dengan penuh hati-hati ia mengecup kening Tirta.
Lama.
Hangat.
Penuh rasa syukur. Senyum di wajah pria itu tak pernah hilang. Bahkan wajahnya sendiri mulai memerah karena malu.
“Nah...” Marchel menaik-turunkan alisnya.
“Sekarang lanjutkan.”
“Apa?” Tirta benar-benar bingung. Marchel memajukan dagunya. Janggut di sisi kanan wajahnya masih setengah tercukur. Tirta langsung menggeleng cepat.
“Tidak mau.”
“Suruh saja Kak Arga.”
“Aku tidak mau kejadian tadi terulang lagi.”
“Katanya impoten, tapi malah bangun waktu aku menyentuhmu.” Gerutunya sambil mencoba melepaskan diri dari pelukan Marchel.
“Hahaha....” Marchel tertawa lepas.
“Aku jamin kali ini dia tidak akan bangun.”
“Aku sudah membuatnya tidur.”
“Tapi... kalau pawangnya macam-macam lagi, aku tidak bisa janji.” Ucapan absurd itu langsung membuat pikiran Tirta kembali dipenuhi bayangan-bayangan tidak senonoh hasil racun dari cerita dan tontonan Lala. Pipinya langsung memerah.
“Baiklah....” Ia mengembuskan napas pasrah.
“Aku akan membantumu bercukur.”
“Tapi pastikan dia benar-benar tidur.” Marchel hanya mengangguk sambil menahan tawa. Tirta kembali mengambil alat cukur dan krim yang tadi diletakkan di atas sofa.
Sementara itu Marchel mengambil tisu lalu dengan lembut membersihkan sisa krim cukur yang masih menempel di leher Tirta akibat ulahnya tadi. Sentuhan itu membuat Tirta sesekali mencuri pandang ke arah pria tersebut. Perlahan ia kembali mengoleskan krim, lalu mencukur sisa janggut Marchel dengan sangat hati-hati.
Sesekali ia membersihkan bulu-bulu halus yang menempel di wajah pria itu sambil memastikan tidak ada luka sedikit pun.
“Kita jadi ke taman nanti?” Tanya Marchel pelan.
“Ini sudah hampir jam enam sore.”
“Aku ingat tadi ada seseorang yang sangat semangat ingin mengajakku keluar.” Senyum kecil muncul di wajah Tirta. Namun sebelum sempat menjawab, ponselnya berdering. Nama Lala muncul di layar.
“Halo, La...” Sambil menjawab telepon, Tirta tetap mengelap sisa krim di wajah Marchel. Kini wajah pria itu terlihat jauh lebih bersih.
Jauh lebih tampan.
Dan jauh lebih tegas.
Tanpa sadar Tirta terdiam menatap wajah itu. Masih sulit dipercaya. Bagaimana bisa ia dipertemukan dengan pria setampan ini? Marchel yang menyadari tatapan itu perlahan menggenggam tangan Tirta yang masih berada di pipinya. Ia mengusap punggung tangan gadis itu menggunakan wajahnya seperti seekor kucing yang sedang mencari perhatian.
Lalu... Dengan lembut ia mengecup punggung tangan Tirta.
“Tirta?” Suara Lala dari telepon membuyarkan lamunannya.
“Kamu dengar aku tidak?”
“Hah? Iya... iya, aku dengar.” Tirta buru-buru menarik tangannya sambil tersenyum canggung.
“Baiklah, aku akan ke sana nanti.” Setelah panggilan berakhir, Tirta mulai merapikan alat cukur yang sudah selesai digunakan.
“Aku harus ke rumah temanku malam ini.” Ia menatap Marchel.
“Jadi kita tidak jadi ke taman. Mungkin lain kali, ya.” Wajah Marchel langsung berubah lesu.
“Baiklah....” Jawabnya pelan.
“Kamu pulang jam berapa?”
“Aku baru akan pergi setelah kamu tidur.” Tirta tersenyum lembut.
“Makanya malam ini tidur lebih cepat.”
“Kalau kamu sudah tertidur, baru aku berangkat ke rumah Lala.” Marchel mengangguk pelan. Setidaknya malam ini ia masih bisa tertidur ditemani gadis itu, walaupun hanya sebentar.
Tok.
Tok.
Suara ketukan pintu membuat keduanya menoleh bersamaan.
“Masuk.”
Pintu perlahan terbuka. Arga dan Dokter El masuk dengan senyum lebar yang sejak tadi sudah sulit mereka sembunyikan. Arga langsung melirik Marchel, lalu kembali menatap Tirta. Senyumnya semakin melebar.
“Halo, Kakak Ipar....” Godanya santai.
“Sekarang aku sudah resmi boleh memanggilmu begitu, kan?”
...****************...
💌 Terima kasih sudah menemukan dan membaca kisah ini bersama. Sampai jumpa di halaman berikutnya. Tr_w 💜