NovelToon NovelToon
Cinderella Ubi Rebus

Cinderella Ubi Rebus

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Diam-Diam Cinta / Komedi
Popularitas:435
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

Alin, gadis yatim piatu yang dekil dan jerawatan, mendadak punya kekuatan magis: bisa berubah jadi bidadari glowing setiap kali makan ubi rebus! Sialnya, sihir ini punya kedaluwarsa dan luntur tepat tengah malam.

Masalah makin rumit saat Alin tidak sengaja merusak hoodie mahal seharga 8 juta milik Rakha Pratama Bagaskara—kakak kelas arogan yang ternyata tetangga kamar kosnya! Karena tidak bisa ganti rugi, Alin dipaksa menjadi budak pembersih kamar kos Rakha setiap hari.

Tensi makin memanas ketika Rayi Arjuna Bagaskara—kembaran Rakha yang super ramah—mulai gencar mendekati Alin. Sementara Rayi tulus menyukai Alin yang apa adanya, Rakha justru gila-gilaan mengejar sosok "Bidadari Glowing" malam hari, tanpa sadar kalau cewek itu adalah pembantu kosan yang setiap hari ia tindas!

Bagaimana jadinya jika sihir ubi rebus Alin habis tepat tengah malam di dalam kamar kos Rakha?

"Nggak usah panggil gue Kakak. Ntar kalau udah sah, baru lo panggil gue Sayang!" — Rakha.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24. Bertemu Lagi Dengan Rakha

"Bwahahahahha.... banci ketiban panci! Dadanya menggelinding, woy!" teriak salah satu penumpang pria sambil menunjuk-nunjuk ke arah lantai bus dengan air mata berlinang.

"Sayang banget nggak divideoin, sekalian biar viral di TikTok! Hahahahaa!" timpal penumpang lainnya yang tawanya terdengar sangat puas.

Sementara itu, Duo Banci itu benar-benar merasa harga diri mereka diinjak-injak sampai ke inti bumi. Dengan sisa-sisa kekuatan yang ada, mereka bergegas bangkit sambil menutupi bagian tubuh mereka yang terbuka menggunakan sisa kain spandeks.

Kety memegangi kepalanya yang mendadak benjol seukuran telur ayam, sedangkan Lisa berusaha memunguti sisa balonnya yang sudah kempes.

"Stop!! Kiri, Bang! Kiri sekarang juga!!" teriak mereka kompak kepada supir bus di depan dengan suara bass asli yang tak lagi dibuat-buat kemayu.

Mereka turun dari bus dengan langkah seribu, menembus keramaian halte sambil terus menunduk sedalam-dalamnya karena sangat malu. Niat hati ingin mencari untung lewat ngamen dangdut, apa daya malah berakhir buntung dengan baju robek, balon meletus, dan kepala yang berdenyut sakit.

Di tengah riuhnya tawa, ponsel Alin di dalam saku mendadak bergetar. Sebuah pesan masuk dari Oma Karin:

"Alin sayang, kamu sudah di mana? Hari ini para fotografer dan juga model prianya sudah menunggu kamu di butik untuk memulai pemotretan. Jangan terlambat ya, Cantik!"

Membaca pesan itu, tawa Alin seketika terhenti. Jantungnya berdesir ngeri. Model pria? Firasatnya mendadak tidak enak. Ia buru-buru merapikan pakaiannya dan bersiap turun di halte berikutnya.

****

Alin melangkah pelan dengan jantung yang berdegup kencang saat tiba di depan butik milik Oma Karin yang terletak di kawasan elit Jakarta.

Bangunan butik itu tampak sangat megah dengan dinding kaca besar yang menampilkan manekin-manekin berpakaian mewah kelas atas.

Dengan perasaan yang masih sedikit gontai akibat sisa tawa di bus tadi, Alin melangkah masuk ke dalam. Wangi aromaterapi sandalwood yang mewah langsung menyambut indra penciumannya, seketika menghapus bau minyak angin dari bus kota.

Oma Karin, yang tampil sangat anggun dengan setelan kerja berwarna gading, langsung menyambut kedatangan Alin dengan senyum hangat. Tanpa membuang waktu, Oma Karin mengarahkan Alin ke ruang ganti eksklusif untuk mengenakan busana koleksi terbaru.

Tak lama kemudian, Alin sudah duduk di depan cermin besar berlampu neon. Seorang penata rias profesional dengan cekatan memoles wajahnya. Rambut Alin ditata bergelombang jatuh, memberikan kesan elegan namun tetap natural.

"Oma memang nggak salah pilih model kalau hasilnya memuaskan begini. Kamu cantik banget, Nak," puji Oma Karin tulus saat Alin keluar dari ruang ganti.

Oma Karin terpaku menatap Alin yang kini mengenakan dress selutut berwarna baby blue. Potongan gaun itu sangat pas membungkus tubuh proporsional Alin, sementara warna birunya membuat kulit Alin tampak seputih porselen dan bersinar tanpa cela.

"Terima kasih, Oma... tapi aku rasanya nggak percaya diri. Ini benar-benar pertama kalinya buatku," ucap Alin sambil meremas ujung gaunnya, sedikit malu-malu kucing.

Oma Karin menepuk bahu Alin dengan lembut. "Tidak apa-apa, kamu belum mencobanya. Jangan menyerah begitu, kamu harus percaya diri. Oma yakin kamu bisa. Semangat!!"

"Iya, Oma. Terima kasih banyak."

"Kamu jangan terus berterima kasih pada Oma, seharusnya yang berterima kasih di sini itu Oma. Berkat kamu, Oma jadi tidak perlu mencari-cari model lagi yang pas di hati. Ayo, sekarang kamu ikut Oma ke ruang pemotretan. Para fotografer dan teman model pria kamu juga sudah menunggu dari tadi di dalam."

Alin mengangguk patuh dan melangkah mengikuti Oma Karin melewati lorong butik yang dihiasi lampu kristal yang berkilauan.

Cklek!

Pintu studio pemotretan yang kedap suara itu terbuka. Ruangan itu dipenuhi dengan lampu lighting besar, kabel-kabel yang tertata rapi, dan latar belakang minimalis yang estetik. Beberapa fotografer tampak sedang menyetel lensa kamera mereka.

"Rakha, ini teman model kamu yang Oma ceritain. Tolong kamu ajarin dia gaya yang bagus, ya!!" seru Oma Karin kepada seorang pemuda jangkung yang sedang berdiri membelakangi mereka sambil mengecek hasil jepretan kamera di monitor.

Alin awalnya masih menundukkan kepala, mengatur napasnya yang mendadak terasa sesak karena gugup. Namun, saat pemuda itu berbalik dengan perlahan, Alin memberanikan diri mendongak untuk melihat siapa partner kerjanya.

Deg!

Jantung Alin seolah melompat keluar dari tempatnya dan menggelinding bersama balon waria tadi. Betapa sempitnya dunia ini! Dari sekian juta pria bernama Rakha di kota Jakarta, kenapa ia harus bertemu lagi dengan Rakha "Sinting" si tetangga kosan nomor sebelah?! Ingin berbalik dan lari menembus dinding pun sudah terlambat.

"Alin, ini teman model kamu, namanya Rakha. Dia sudah bekerja selama hampir dua tahun di butik Oma sebagai model utama. Kalian sebaiknya kenalan dulu biar saling mengenal," ucap Oma Karin dengan senyum lebar, sama sekali tidak menyadari ketegangan tingkat dewa yang memuncak di antara keduanya.

Alin terpaksa mengulurkan tangannya yang mendadak sedingin es. Rakha melangkah maju, menjulang tinggi di depan Alin. Sepasang mata elangnya menatap Alin dengan tatapan tajam yang sangat sulit diartikan—ada kilat terpesona melihat transformasi Alin yang begitu cantik bak bidadari jatuh dari surga, namun ada juga rasa kesal, curiga, dan bingung yang masih tersisa dari kejadian "Hanindya" di kamarnya pagi tadi.

Kok aroma tubuh cewek ini... sama persis kayak cewek udik yang meluk gue di kasur tadi subuh? batin Rakha menyipitkan mata.

"Kenalin, gue Rakha Pratama Bagaskara," ucap Rakha. Suaranya berat, dalam, dan terdengar penuh penekanan rahasia. Ia menjabat tangan Alin dan sengaja mengeratkan genggamannya dengan sangat kuat, seolah sedang menjepit kepiting.

"Aku... Alin," ucap Alin sambil meringis kaku menahan perih. Ia berusaha keras menarik tangannya karena Rakha terlalu keras menjepit jemarinya, seolah sedang memberi peringatan bahwa riwayatnya berada di ujung tanduk.

"Oke, sekarang kalian sudah kenalan. Oma harap kalian bisa bekerja sama dengan baik ke depannya. Dan untuk kamu Rakha!! Tolong ajarin Alin sampai dia bisa!! Oma mau pulang dulu ke mansion, ya," pamit Oma Karin santai.

"Baik, Oma," sahut Rakha yang kini menyunggingkan senyum menyeringai licik.

Sebuah senyum yang sukses membuat bulu kuduk Alin meremang hebat. Awas lo setelah ini, bisik aura Rakha.

"Kalau begitu, Oma pamit dulu ya, Alin. Kamu baik-baik di sini. Kalau ada apa-apa hubungi Oma, oke?!"

"Iya, Oma. Hati-hati di jalan."

Setelah Oma Karin pergi dijemput supir pribadinya, suasana di studio mendadak menjadi sangat dingin dan menegangkan. Lampu-lampu studio mulai dinyalakan kilat, menandakan sesi pemotretan segera dimulai di bawah arahan fotografer utama.

Meskipun Alin masih tampak kaku dan gemetar di depan kamera, ia berusaha sebaik mungkin mengatur posisinya sesuai arahan. Di luar dugaan kru studio, Rakha membimbingnya dengan instruksi yang jelas, tegas, namun luar biasa sabar.

Cowok itu meletakkan telapak tangan hangatnya di pinggang ramping Alin untuk mengarahkan gaya berpasangan, membuat jantung Alin berdegup disko. Meskipun mata elang Rakha memancarkan kilat menyelidiki, ia memilih untuk tetap profesional di depan para fotografer.

Rakha menyimpan semua perhitungan terkait masalah "Hanindya", utang delapan juta, dan kamar kosan untuk nanti setelah lampu studio padam.

****

Sementara pemotretan di butik berlangsung tegang, di belahan kota lain, sebuah mobil sport mewah melaju membelah jalanan.

"Dit, nanti gue pengen beli seblak dulu ya di kedai seblak prasmanan langganan gue itu. Sekalian lewat, gue pengen banget makan seblak. Soalnya udah lama gue nggak makan seblak, lidah gue udah hambar," rengek Reno yang duduk di kursi penumpang. Wajahnya tampak penuh harap menatap Adit yang sedang fokus menyetir dengan kacamata hitamnya.

Adit mendengus kasar, jemarinya mengetuk kemudi dengan tidak sabar. "Kelamaan, Ren! Nanti keburu macet jalanan ke arah mansion!"

"Gue janji bakalan cepet-cepet makannya! Paling cuma lima menit!" seru Reno meyakinkan sambil menangkupkan kedua tangannya.

"Gue nggak percaya omongan lo. Gue udah tahu kelakuan lo kayak gimana dari zaman SMP Lo kalau makan paling sebentar lima belas menit, itu juga kalau nggak pakai nambah kerupuk sama ceker," sindir Adit telak tanpa ampun.

Reno tidak menyerah, otaknya berputar cepat mencari celah. "Kalau gitu, gue bungkus aja gimana? Terus gue makannya di dalam mobil lo, biar lo nggak usah nungguin gue makan, dan kita nggak bakalan kena macet."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!