Arya Sena adalah seorang anak yang tidak diketahui publik dari pasangan Tunggul ametung dan seorang wanita yang merawatnya ketika dia mengalami luka parah akibat perintah penguasa Kediri yang memerintahkannya untuk menumpas pemberontakan disuatu daerah, setelah terluka Tunggul Ametung dirawat oleh seorang perempuan didesa bersama beberapa orang setianya, dan disaat itu mereka tidak sengaja jatuh cinta, ketika sudah benar-benar pulih, Tunggul Ametung menyuruh gadis itu untuk melupakannya, ditambah dihatinya hanya ada istrinya Dedes, lalu tanpa diketahui perempuan itu mengandung, setelah kurang lebih sembilan bulan lahirnya anak di kandungnya seorang laki-laki, tapi tak lama bayi itu kemudian meninggal tak kuasa menahan kesedihan tanpa suami sekarang ditinggal anak yang baru dilahirkan, perempuan itu kemudian juga meninggal, lalu jiwa dari timeline modern merasuki tubuh bayi itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon subspace_illusion, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
UJUNG MEDINI BERHASIL DIAMANKAN
Enam hari berlalu begitu cepat. Tepat di hari yang telah disepakati, aku sudah berdiri santai di tepi dermaga salah satu pelabuhan besar di pantai timur Jawa. Angin laut berembus kencang membenturkan ombak ke tiang-tiang kayu dermaga, membawa aroma garam yang pekat.
Dari kejauhan garis cakrawala, deretan layar lebar dengan lambang Kerajaan Dharmasraya mulai muncul satu persatu. Tak butuh waktu lama, armada kapal pengangkut skala raksasa milik Raja Srimat Trailokyaraja akhirnya merapat dengan megah.
Begitu jangkar dijatuhkan dan tangga kayu diturunkan, ratusan pekerja angkut serta panggul berotot kekar turun berhamburan dari atas kapal. Tampak perwira Dharmasraya yang memimpin armada itu bergegas menghampiriku dengan raut cemas sekaligus antisipasi.
"Gusti Arya Sena," sapanya sambil membungkuk dalam. "Kami datang sesuai janji. Di mana barang-barang tersebut disimpan? Kami siap mengangkutnya ke dalam palka."
Aku tersenyum tipis, melambaikan tangan santai. "Simpan dulu tenaga kalian. Mintalah anak buahmu untuk istirahat dan makan dulu. Nanti tengah malam baru kita isi kapal-kapal itu sampai penuh."
Sang perwira sempat mengernyit heran melihat pelabuhan yang masih sepi tanpa ada tanda-tanda tumpukan peti senjata, namun ia mengangguk patuh dan memerintahkan para pekerjanya untuk beristirahat di kedai-kedai sekitar dermaga.
Sementara itu, secara batin aku mengirimkan sinyal energi gaib ke arah Semeru, memastikan kembali apakah pesanan raksasaku sudah rampung 100 persen tanpa ada cacat sedikit pun. Dari getaran gaib yang memantul balik, aku tersenyum puas. Pekerjaan rodi mereka tuntas tepat waktu.
Tengah malam pun tiba. Kegelapan membungkus pelabuhan, diselimuti kabut tipis dan deburan ombak yang makin tenang. Para pekerja angkut dari Dharmasraya sudah berkumpul di dermaga dengan obor di tangan, siap memindahkan barang yang mereka kira ada di dalam gudang pelabuhan.
Tiba-tiba, suhu udara di sekitar pantai merosot tajam. Angin dingin bergulung-gulung membawa hawa mistis yang begitu pekat.
*BZZZZT!*
Dari dalam selubung kabut malam di balik bukit pelabuhan, terdengar derap langkah berat bergemuruh. Ratusan—bahkan ribuan—sosok siluman, jin kafir, raksasa bertanduk, hingga iblis bertubuh besar merayap keluar dari alam gaib. Mereka bergerak beriringan memanggul ribuan peti kayu berisi pedang baja hitam yang masih hangat, tumpukan baju zirah, perisai, dan jutaan anak panah.
Melihat pemandangan mengerikan itu, ratusan pekerja angkut Dharmasraya langsung membeku di tempat. Wajah mereka pucat pasi bagai mayat, obor-obor di tangan mereka gemetar hebat, dan beberapa di antaranya bahkan lupa cara bernapas karena teror yang begitu nyata di depan mata.
"Letakkan di dalam kapal-kapal itu, jangan sampai hilang satu pun," perintahku santai dengan suara yang menggema tenang di tengah keheningan mencekam.
Para siluman itu tidak berani membantah sepatah kata pun. Dengan patuh dan sigap, pasukan gaib itu naik-turun tangga kapal, menyusun ribuan peti senjata dan zirah ke dalam palka-palka kapal Dharmasraya dengan sangat rapi dan cepat.
Tak butuh waktu lama, seluruh armada kapal pengangkut milik Dharmasraya sudah terisi penuh hingga sarat muatan.
Di saat kawanan siluman mulai menyusut kembali ke balik kabut, sosok Raja Siluman Semeru yang kemarin ku kalahkan muncul melangkah mendekat. Tubuhnya masih berbalut sisa luka tebasan Bharadasura, menatapku dengan kombinasi rasa takut dan benci yang tertahan.
"Tepati janjimu, Manusia... Jangan mengacau ke daerahku lagi!" bisiknya parau dan bergetar.
Aku tersenyum puas, menatapnya dengan pandangan menilai. "Baiklah. Terima kasih atas kerja keras kalian. Pergilah."
Raja Siluman itu bernapas lega, lalu berbalik dan menghilang dilalap kegelapan malam bersama seluruh pasukannya tanpa menyisa bekas.
Suasana pelabuhan kembali hening. Para pekerja angkut Dharmasraya masih berdiri mematung bagaikan patung batu, mata mereka membelalak tak percaya dengan apa yang baru saja mereka saksikan secara langsung.
Aku melangkah mendekati perwira dan beberapa pekerja yang paling dekat, lalu menepuk pundak mereka pelan.
*Tep!*
Mereka tersentak kaget seolah baru saja terbangun dari mimpi buruk yang mengerikan.
"Tunggu apa lagi? Ayo kembali ke Dharmasraya," ucapku santai sambil mengibaskan jubah.
Aku melangkah menaiki kapal utama, memutuskan untuk ikut berlayar kembali bersama mereka guna memastikan seluruh angkutan persenjataan ini aman sampai di tangan Raja Srimat Trailokyaraja tanpa ada gangguan di jalan.
Pelayaran yang memerlukan waktu berhari-hari berhasil dipangkas menjadi sehari dengan bantuan mantra pelipat bumi yang aku gunakan, perjalanan kami berjalan lancar tanpa kendala. Begitu armada kapal pengangkut merapat di pelabuhan Kerajaan Dharmasraya, suasana dermaga langsung sibuk. Rombongan pejabat dan perwira tinggi kerajaan sudah berjejer menunggu di tepi dermaga, menyambut kedatanganku dan armada persenjataan dengan raut wajah penuh antisipasi.
Beberapa perwira langsung memeriksa palka kapal, membuka peti-peti kayu untuk memastikan kualitas dan jumlah bawaan. Setelah melihat sendiri kilatan pedang baja hitam, baju zirah kokoh, dan tumpukan perisai tanpa cacat, mata mereka berbinar puas. Salah seorang pejabat senior berbalik, mengangguk hormat padaku dengan senyum lebar, lalu memandu ku melangkah menuju Istana Kerajaan untuk menemui Raja Srimat Trailokyaraja.
Di Balairung Agung, Sang Raja sudah menunggu di atas singgasananya. Begitu mendengar laporan dari pejabatnya bahwa seluruh senjata pesanan telah tiba dengan selamat dan sempurna, tawa puas Raja Srimat Trailokyaraja membahana di seluruh ruangan.
Ia mengisyaratkan juru tulisnya untuk menyerahkan sebuah tabung perak berukir. Di dalamnya tersimpan **dekrit resmi kepemilikan wilayah** yang diukir di atas lempengan tembaga dan ditandatangani langsung oleh Sang Raja.
"Terima kasih atas kepenuhan janjimu, Arya Sena," ucap Raja Srimat Trailokyaraja dengan nada penuh rasa hormat. "Ini adalah dekrit sah kepemilikan Ujung Medini atas namamu. Bukan hanya itu, aku juga telah mengirimkan utusan khusus dan burung pem Bawa pesan kepada seluruh pengurus dan kepala pemukiman di Ujung Medini untuk memberitahukan bahwa mulai hari ini, daerah itu sepenuhnya telah berpindah tangan ke dalam kekuasaanmu."
Aku menerima tabung perak itu, menggenggamnya dengan mantap. Surat izin legal dan pengakuan resmi atas Ujung Medini kini sepenuhnya berada di tanganku tanpa ada celah hukum. Rencana jangka panjangku untuk menguasai jalur maritim strategis di semenanjung telah aman 100 persen.
"Keputusan dan tindakan yang sangat cepat, Paduka," ujarku sambil membungkuk hormat. "Aku sangat menghargai kerja sama ini."
melihatku mengemas dekrit itu ke balik jubah, Raja Srimat Trailokyaraja tersenyum ramah. "Malam ini kau harus menginap lagi di istana, Arya Sena. Kita gelar perjamuan besar untuk merayakan keberhasilan transaksi ini sebelum kau kembali ke Jawa."
Aku tersenyum tipis lalu menggelengkan kepala secara halus.
"Hamba berterima kasih banyak atas tawaran dan kebaikan Paduka," balasku tegas namun penuh kesopanan. "Namun hamba harus menolaknya secara halus. Urusan di sini sudah tuntas, dan masih banyak tugas penting yang menungguku di Singhasari. Hamba harus segera pulang."
Melihat keseriusan dan keteguhan di mataku, Raja Srimat Trailokyaraja tidak memaksakan kehendaknya. Ia berdiri dari singgasana, mengangkat tangan memberiku penghormatan terakhir.
"Baiklah kalau begitu. Semoga keselamatan dan kejayaan selalu menyertai langkahmu, Arya Sena dari Tugaran!"
Setelah menyampaikan salam perpisahan yang hangat, aku memutar badan dan melangkah keluar dari Istana Dharmasraya. Tanpa membuang waktu naik kapal dagang, begitu tiba di tempat yang sepi, aku langsung mengaktifkan "Ajian Saipi Angin". Langkah kakiku membelah lautan dan daratan dalam sekejap mata, Melesat cepat kembali menuju Jawa, tempat Singhasari.