Kainara Seroja Putri tidak pernah menyangka kematian akan membawanya kembali ke tahun 1972, terbangun dalam tubuh Seroja Ningsih, gadis desa lemah yang baru saja dibuang oleh ayah kandungnya sendiri.
Dengan bekal sistem game pertanian dan pengetahuan dari masa depan, Seroja harus menghidupkan tanah kapur tandus yang dianggap tidak berguna, mencari jalan untuk bertahan hidup, serta mengembalikan harga diri ibunya yang telah diinjak-injak.
Namun, ketika tanah buangan itu perlahan berubah menjadi sumber kekayaan, Seroja justru menarik perhatian orang-orang yang selama ini menyembunyikan rahasia kelam keluarganya. Sebuah rahasia yang dapat mengubah hidupnya selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
3. Butuh Lebih Banyak Kesabaran
"Ini bibit sawi? Tumbuh semalam di tanah tandus begini?"
Suara bariton Danu memecah sunyi pagi di pinggir Hutan Jati. Pemuda dua puluh tahun itu berjongkok di tepi pekarangan, menatap deretan tunas hijau pucat yang baru menyembul dari tanah gembur. Matanya membelalak lebar, nyaris tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Danu, putra sulung Pakde Prasetyo, mewarisi tubuh kekar khas petani. Sejak subuh ia sudah datang membawa segulung tali ijuk, siap membantu memindahkan sisa bongkahan kapur yang masih berserakan di halaman.
Seroja berdiri di ambang pintu gubuk, memegang cangkir seng berisi air hangat. Gadis itu tersenyum tipis. "Kakek Hadi dulu pernah bilang, tanah ini cuma butuh lebih banyak air dan kesabaran, Mas Danu. Aku menyiramnya pelan-pelan semalaman."
Seroja berbohong tanpa ragu. Ia memilih menyimpan rapat rahasia nutrisi penyubur dari sistemnya. Mana mungkin ia menjelaskan keberadaan layar digital di zaman ini? Orang-orang pasti menganggapnya gila atau kerasukan roh jahat.
Danu berdiri sambil mengusap keringat di dahinya dengan punggung lengan. Ia tidak banyak bertanya. Baginya, melihat tanaman bisa tumbuh di tanah buangan ini saja sudah menjadi secercah harapan baru bagi bibi dan sepupunya.
"Mas Danu, minum dulu," kata Seroja sambil menyodorkan cangkir seng itu.
Pemuda itu menerimanya, menenggak air hangat dalam satu tarikan napas panjang. "Kamu tidak perlu repot ke ladang, Seroja. Biar tanganku saja yang kotor. Mas akan bangun pagar bambu keliling hari ini, supaya anjing liar tidak merusak sawimu."
Hati Seroja menghangat. Danu selalu menjadi orang yang berdiri melindungi keluarga mereka. Meski hanya sempat mengenyam bangku sekolah dasar, ia tak pernah berhitung jika keluarganya membutuhkan bantuan.
Di kehidupan sebelumnya, ia dikelilingi rekan kerja yang saling menikam demi jabatan. Di kehidupan ini, meski hidup serba kekurangan, ia justru menemukan keluarga yang rela mengorbankan tenaga tanpa mengharap balasan.
Siti keluar dari dapur darurat sambil membawa tampah berisi singkong rebus. Baru saja hendak menyapa keponakannya, bentakan kasar dari arah jalan memotong ucapannya.
"Heh! Penghuni gubuk reyot! Keluar kalian!"
Dua pria bertubuh gempal melangkah begitu saja ke pekarangan. Kemeja katun mereka kusam dengan beberapa kancing dada terbuka, memperlihatkan kaus dalam lusuh dan kalung akar bahar. Sarung kotak-kotak tersampir sembarangan di leher, sementara bau tembakau murahan menyengat di udara pagi.
Danu langsung maju, berdiri di depan Siti dan Seroja. Ia mengenali kedua pria itu. Jono dan Kardi, anak buah Paman Supri. Supri sendiri adalah kakak tiri Hardiman sekaligus tangan kanan pejabat desa yang menguasai keamanan dan pasar kecamatan.
"Mau apa kalian pagi-pagi ke mari?" geram Danu. Urat di lehernya menegang menahan amarah.
Jono, pria bercodet panjang di pipi kiri, meludah sembarangan di dekat kaki Danu. "Jangan galak-galak, Danu. Kami cuma menjalankan perintah Kang Supri. Bibimu numpang di tanah desa, jadi mulai sekarang harus bayar sewa tanah liar."
Siti sontak mencengkeram lengan Seroja. "Sewa? Kula tidak pernah dengar aturan seperti itu, Jono. Ini pinggir hutan, bukan tanah kas desa."
"Aturannya baru dibuat subuh tadi. Khusus buat kalian!" Jono terkekeh. "Bayar lima ratus rupiah sekarang. Kalau tidak, gubuk ini kami bakar, lalu kalian tidur di jalan."
Darah Siti serasa mengalir turun. Lututnya melemas. Lima ratus rupiah bukanlah jumlah yang mungkin mereka bayar. Dengan uang sebesar itu, seseorang bahkan bisa membeli puluhan kilogram beras. Tuntutan itu jelas bukan soal sewa, melainkan cara mengusir mereka.
"Lima ratus rupiah?" bentak Danu. Suaranya menggema hingga kawanan burung jati beterbangan. "Kalian mau memeras janda miskin! Jangankan lima ratus rupiah, serupiah pun bibiku tidak punya!"
Jono mengangkat tongkat bambu di tangannya, lalu menepukkannya ke telapak tangan kiri. "Kalau begitu, kami ratakan gubuk ini sekarang juga."
Danu membungkuk cepat dan menyambar gagang cangkul tua yang tergeletak di tanah. Ia berdiri tegak dengan cangkul siap diayunkan. "Coba langkahkan kaki kalian satu langkah lagi. Kepala kalian kubelah!"
Suasana seketika menegang. Jono menggenggam tongkatnya lebih erat, siap menyerang.
"Mas Danu, tahan."
Suara Seroja tidak keras, tetapi cukup membuat Danu menoleh. Gadis delapan belas tahun itu melangkah melewati punggung lebar sepupunya tanpa sedikit pun terlihat gentar.
Pikiran Kainara bekerja cepat. Menghadapi orang seperti ini dengan emosi hanya akan memperkeruh keadaan. Yang ia butuhkan adalah menemukan titik lemah mereka.
Tatapannya beralih dari Jono ke Kardi. Jono terus berceloteh sambil memancing emosi. Sebaliknya, Kardi justru tampak gelisah. Tubuhnya sedikit membungkuk, tangan kirinya terus menekan perut bagian atas. Wajahnya pucat, napasnya pendek-pendek, dan keringat dingin membasahi pelipis meski udara pagi masih menusuk.
Kardi bukan sedang bersiap menyerang. Ia sedang menahan sakit. Dari cara pria itu membungkuk sambil menekan perutnya, Seroja menduga penyebabnya adalah asam lambung akut atau kejang lambung.
Seroja menunduk menatap rumput liar di dekat kakinya.
Layar transparan biru muda kembali muncul di sudut penglihatannya.
"🔍 Analisis Tumbuhan | Daun Patikan Kebo liar"
"Kandungan: Getah mengandung alkaloid alami."
"Efek: Membantu meredakan kejang lambung dan menenangkan asam lambung akut."
Tanpa ragu, Seroja mencabut segenggam patikan Kebo yang didaerah ini dikenal sebagai daun pati'an beserta akarnya, lalu membersihkan sisa debu kapur yang menempel.
"Ibu, minta air hangat di cangkir tadi."
Meski bingung, Siti segera menuangkan sisa air rebusan dari ceret seng. Seroja meremas daun dan batang pati'an hingga lumat, lalu mencampurkannya ke dalam air hangat dan mengaduknya dengan jari.
Air bening itu berubah keruh kehijauan.
Seroja membawa cangkir itu menghampiri kedua preman. Ia melewati Jono begitu saja dan berhenti tepat di depan Kardi.
"Lambungmu mulai melilit sejak lewat tengah malam, Pak Kardi."
Kardi sontak menatapnya. Bibirnya sedikit terbuka, tetapi tak satu kata pun keluar.
"Asam lambungmu sudah naik sampai ke kerongkongan. Itu sebabnya napasmu pendek dan keringat dinginmu terus keluar. Kau tetap memaksakan diri datang ke sini karena takut pada Supri."
Jono langsung menoleh. "Kau sakit, Di?"
Kardi tetap diam. Lututnya mulai goyah, sementara tangannya makin kuat menekan perut.
Seroja mengangkat cangkir seng itu ke hadapannya.
"Minum."
Suaranya pelan, tetapi tegas.
"Dalam lima belas menit rasa sakitmu akan berkurang. Kalau tidak percaya, buang saja, tapi kalau dibiarkan, kau bisa tumbang di sini sebelum setengah jam."
Tatapan Kardi terpaku pada cangkir di depannya. Aroma daun liar itu memang langu, tetapi rasa sakit di perutnya jauh lebih menyiksa. Dengan tangan gemetar, ia mulai mengulurkan tangan.
"Jangan diminum, Di!" bentak Jono sambil menepis tangan rekannya. "Siapa tahu itu racun! Bocah itu mau membunuh kita!"