NovelToon NovelToon
Wanita Malam

Wanita Malam

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Nurul Marisa putri

“Di balik senyum indahnya, tersimpan luka yang tak pernah terlihat.”

mas aku bukan orang baik pergih saja:"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Marisa putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

wanita malam: sudah tiada

Alya meronta pelan saat tangan Kevin menarik pergelangan tangannya kuat-kuat menjauh dari keramaian.

"Kevin! Acaranya belum selesai! Aku bahkan belum sempat kasih hadiah buat Raka!" seruku berusaha menyamai langkah kakinya yang lebar dan tergesa. "Kenapa kita harus buru-buru begini?!"

Kevin tak menoleh sedikit pun, tak sepatah kata pun terucap. Ia langsung membukakan pintu mobil, memaksaku masuk, lalu melesatkan kendaraan itu melaju kencang membelah jalanan kota. Suara mesin menderu keras, seolah menyamai emosi yang tak ia luapkan.

"Kevin, kita mau ke mana? Dengar aku dulu!" panggilku lagi, suaraku nyaris tenggelam oleh deru angin dan kecepatan mobil.

Tetap saja tak ada jawaban. Matanya tajam terpaku pada jalan raya, rahangnya mengeras. Ia menyetir seolah tak peduli pada lampu lalu lintas atau kendaraan lain di sekitarnya. Jantungku berdegup kencang bukan karena takut kecelakaan, tapi karena tatapan dingin dan diamnya yang jauh lebih menakutkan daripada amarahnya.

Mobil akhirnya melambat memasuki area kompleks elit, lalu berhenti tepat di depan gedung pencakar langit berdesain modern yang megah. Kevin turun lebih dulu, membukakan pintu untukku, dan kembali menarik tanganku masuk ke dalam. Lewat lobi mewah penuh marmer dan kaca, menaiki lift pribadi yang langsung menuju lantai paling atas—apartemennya yang luas, sunyi, dan begitu mewah hingga membuatku merasa semakin kecil di hadapannya.

Pintu tertutup rapat di belakang kami. Kini hanya tersisa kami berdua di ruangan yang luas itu.

Kevin berdiri mematung membelakangi ku, tinjunya terkepal erat di sisi tubuh. Hening melanda sejenak, sebelum bahunya perlahan bergetar menahan luapan emosi yang sudah dipendam belasan tahun. Akhirnya ia berbalik, menatapku dengan sorot mata perih yang tak pernah ia tunjukkan pada siapa pun.

"Duduklah, Alya..." suaranya berat dan serak.

Aku menurut perlahan, matanya tak lepas dariku seakan takut aku akan ikut pergi seperti yang lain.

"Kau tanya kenapa aku seolah membencinya? Kenapa hubungan kami sehancur itu?" Kevin menghela napas panjang seolah mengangkat beban berton-ton. "Raka... lima tahun lalu dia mengendarai motor balapnya dengan kecepatan tinggi. Dan di persimpangan jalan itu... dia menabrak seorang gadis."

Dada sesak mendengarnya. "Gadis... siapa gadis itu?"

Kevin tertawa getir, matanya berkaca. "Gadis itu adalah wanita yang paling kucintai. Wanita yang sudah berjanji akan ku nikahi. Dia koma berbulan-bulan, tubuhnya hancur tertabrak kelalaian Raka."

Tanganku menutup mulut tak percaya.

"Ibu tahu itu. Tapi apa yang beliau lakukan? Raka adalah anak yang sulit dilahirkan, hampir merenggut nyawa ibu saat melahirkannya. Sejak bayi dia selalu dimanja, selalu dibela, dianggap tak pernah bersalah. Saat itu... bukannya menegur atau meminta pert(anggung jawab), ibu justru menamparku, menyuruhku diam, dan membiarkan Raka lepas begitu saja dengan segala kemewahan untuk menutupi kesalahannya."

Suaranya pecah. "Raka tak tahu siapa gadis itu bagiku. Dia tak pernah tahu kenapa aku selalu dingin dan menjauh. Dan melihatmu—wanita yang kini membuatku kembali ingin hidup—berdiri tersenyum di sampingnya... rasanya seperti semesta sedang menertawakan luka yang belum sembuh itu."

Kata-kata itu meluncur begitu saja, namun rasanya seperti pisau tajam yang mengiris dalam di dadaku. Mataku memanas, napasku tercekat.

"Jadi begitu maksudnya..." suaraku bergetar hebat, mataku tak lepas menatapnya tak percaya. "Wanita yang kamu cintai lima tahun lalu... dia belum sadar sampai sekarang? Masih terbaring tak berdaya sampai detik ini?"

Kevin hanya diam terpaku, rahangnya mengeras menahan gejolak emosi yang tak sanggup ia ucapkan.

"Lalu aku?" air mata mulai meluncur deras membasahi pipi. "Aku ini apa bagimu? Hanya sekadar pengganti sementara saat dia belum kembali? Saat kamu merasa sepi dan kesepian, lalu kamu temukan aku yang mirip atau sekadar bisa menghiburmu? Semua kebaikanmu, perhatianmu, belanjaan mahal itu... semuanya hanya pelarian? Kamu memperlakukanku istimewa bukan karena melihat Alya, tapi karena bayang-bayang dia yang masih kamu tunggu?"

Dadaku sesak bukan main. "Kau memberiku harapan palsu, Kevin. Kau membuatku merasa istimewa, ternyata hanya peran pengganti untuk seseorang yang tak pernah aku kenal!"

Alya mundur perlahan, menggeleng tak percaya. "Sungguh kejam caramu mempermainkan perasaanku..."

Kevin tersentak, matanya melebar panik melihat kekecewaan yang begitu nyata di wajah gadis itu. "Bukan begitu, Alya... dengar aku dulu!"

Kata-kataku tercekat di tenggorokan saat kalimat itu meluncur dari bibirmu. "Jadi... Jessica sudah tiada?"

Kevin mengangguk pelan, air mata yang tak pernah kulihat jatuh membasahi pipi tegasnya. "Dua tahun lalu... dia akhirnya menyerah. Tubuhnya tak sanggup lagi bertahan. Aku yang ada di sisinya saat napas terakhir itu lepas... rasanya seperti separuh jiwaku ikut hilang bersamanya."

Ia melangkah mendekat, tak lagi berani menyentuh, hanya menatapku penuh kepasrahan.

"Aku takut, Alya. Aku takut sekali mencintai lagi, takut mengulang rasa hancur yang sama. Saat kamu datang... kamu membawa warna yang kukira sudah lenyap selamanya. Kamu bukan pengganti dia. Sama sekali bukan. Kamu adalah Alya—gadis tangguh yang berjuang demi ibunya, yang tulus, yang sederhana, yang membuatku ingin hidup kembali."

Tangannya terulur ragu, seakan takut aku menjauh.

"Melarang mu dekat Raka... itu bukan karena masa lalu saja. Itu karena aku cemburu, karena aku takut kamu memilih dia, karena aku tak sanggup jika harus kehilangan orang yang kucintai untuk kedua kalinya. Aku mencintaimu apa adanya, bukan bayang-bayang siapa pun."

Air mataku semakin deras, tapi kali ini bukan karena sakit hati—melainkan rasa haru yang menyergap seketika. Lututku terasa lemas, dan tanpa sadar kakiku melangkah mendekat.

"Maafkan aku... Kevin..." suaraku parau tertahan isak tangis. "Aku bodoh, aku langsung berprasangka buruk tanpa mau mendengar semuanya dulu. Aku kira aku cuma pelarian... padahal kamu sebegitu takutnya kehilangan aku."

Kevin tak ragu lagi, ia langsung menarik ku masuk ke dalam pelukannya yang hangat dan erat, seakan tak ingin melepaskan ku sedetik pun. Dada bidangnya bergetar seirama napasnya yang tersengal.

"Sudah... jangan minta maaf. Aku yang seharusnya lebih pandai bicara dari awal, bukan memendamnya sendirian," bisiknya lembut di samping telingaku, sambil mengusap punggungku perlahan.

Aku memeluk pinggangnya erat, menyembunyikan wajah di dadanya. Dalam hati, aku tahu betul—nama Kevin sudah terukir dalam sana sejak lama, tak terhapuskan. Hanya saja aku selalu berusaha menjaga batas, takut melangkah terlalu jauh dan terluka. Tapi kini aku paham: ketakutannya bukan karena masa lalu, melainkan karena aku kini adalah masa depannya.

"Aku juga... aku juga tidak mau kehilangan kamu," bisikku pelan. "Dan aku bukan siapa-siapa selain Alya yang mencintaimu apa adanya."

Kevin menunduk pelan, menatap lekat mataku, lalu mengecup keningku dengan penuh kasih sayang yang tulus. Malam itu, di tengah kemewahan yang sunyi, akhirnya dua hati yang sempat tertahan oleh luka masa lalu, mulai berani melangkah bersama ke depan.

Kevin menatap lekat ke dalam manik mataku, jemarinya mengusap lembut sela-sela jari tanganku yang dingin. Suaranya rendah namun mantap, tak ada lagi keraguan yang tersisa.

"Alya... aku mencintaimu. Sejak pertama kali kita bertemu, saat kau berdiri gemetar namun tetap berusaha tegar di hadapanku, aku sudah menyukaimu. Bukan karena siapa pun yang dulu ada di hidupku, bukan karena hal lain... murni karena kau adalah kau."

Dada bidangnya terasa hangat saat ia mendekap ku perlahan. "Awalnya aku pura-pura tegar, berlagak dingin, padahal setiap detik mataku tak pernah lelah mencari mu. Setiap senyummu, setiap caramu berusaha kuat demi orang yang kau sayangi... semuanya perlahan menyusup masuk dan mengisi ruang hatiku yang sempat mati rasa."

Air mataku menetes kembali, namun kali ini tersenyum bahagia sambil menyandarkan dahi di dadanya. "Aku juga... sejak lama rasanya sudah tak sebatas atasan dan bawahan. Hanya saja aku terlalu takut berharap."

Kevin mengecup puncak kepalaku dengan lembut. "Mulai sekarang, jangan takut lagi. Biarkan aku yang menjagamu, selayaknya kau menjaga ibumu."

Malam itu suhu di ruangan terasa makin hangat, jantungku berdegup kencang tak karuan saat melihat perawakan tegap di hadapanku. Perutnya yang rata berotot membuat tanganku gatal ingin menyentuh, namun rasa malu masih menahan gerak-gerik ku.

Seakan tahu apa yang kurasakan, Kevin tersenyum menggoda sambil merangkul pinggangku erat. "Mau pegang aja gak usah sungkan... atau mau yang bagian bawah sekalian?"

Belum sempat aku menjawab, bibirnya sudah mendarat di bibirku dengan gairah yang meluap-luap. Ciumannya begitu dalam dan mendesak hingga napas ku seakan tertahan.

"Ahh... Kevin... pelan-pelan... aku nggak bisa napas..." rintih ku lemah di sela ciumannya.

"Siapa suruh kamu menggoda aku duluan," bisiknya sambil tersenyum tipis, jemarinya mengusap pipi yang memerah. "Kamu kelihatan makin manis kalau pipinya merah begini."

"Ih... kamu gombal banget," ujarku terbata, namun tangannya perlahan merambat turun lembut ke bagian pahaku, membuat suara kecil tak sengaja lolos dari bibirku. "Ahh..." Refleks tanganku melingkar erat di lehernya.

Saat menyadari segalanya masih utuh, Kevin berhenti sejenak, menatapku lekat dengan tatapan tak percaya sekaligus penuh kelembutan. "Alya... kamu belum pernah melakukan hal ini sebelumnya?"

Wajahku menunduk dalam penuh rasa malu. "Belum... Kevin... aku nggak tahu rasanya seperti apa..."

Kevin kembali mengecup keningku pelan, suaranya berubah sangat lembut dan penuh perhatian. "Kalau begitu akan terasa sedikit sakit di awal, sayang. Tahan sebentar ya... aku akan bergerak sangat pelan."

"Aku takut, Kevin..." isak ku pelan.

"Tenang saja, sayang. Aku di sini bersamamu. Nanti rasanya akan berubah menjadi nyaman dan indah... percayalah padaku."

Perlahan namun pasti ia bergerak selembut mungkin, terdengar rintihan kecil yang tak tertahan: "Aww... sakit... pelan-pelan ya..."

Kevin terus membisikkan kata-kata penenang sambil menatapku penuh kasih. "Sabar sayang... tarik napas pelan... rileks saja... aku tak akan menyakitimu lebih dari ini..."

Setiap sentuhan dan kedekatan itu terasa penuh makna, di mana awalnya ada rasa canggung dan sedikit perih, perlahan berganti dengan rasa dekat yang tak terlukiskan. Hanya ada kami berdua, saling melengkapi dan merasakan kehangatan cinta yang akhirnya terjalin utuh.

Kevin selalu memastikan aku merasa nyaman setiap saat, menatapku penuh kasih sambil berbisik pelan, "Kamu milikku sepenuhnya sekarang, Alya... dan aku akan menjagamu selamanya."

Aku menyandarkan kepala di dadanya yang bergetar seirama dengan detak jantungnya, merasa damai sekaligus bahagia yang meluap-luap. "Aku juga milikmu, Kevin... sepenuhnya milikmu."

Sentuhannya begitu lembut namun menyalurkan rasa hangat yang menjalar ke seluruh tubuh. Setiap usapan dan kecupan penuh kasih membuatku tak kuasa menahan desah halus yang lolos begitu saja.

"Kevin... aku tak sanggup lagi..." bisikku terbata, melingkarkan pelukan makin erat.

Ia mendekap ku balik dengan penuh kelembutan, menatapku lekat-lekat. "Bersabar sedikit lagi, sayang... sebentar lagi kita utuh sepenuhnya."

aah...ah sayang,aku sayang mencintaimu Alya.

Dan di detik itu juga, segala batas, ragu, dan luka masa lalu runtuh bersama—menyatu dalam ikatan cinta yang tulus, saling memiliki sepenuh hati tanpa ada yang tersembunyi lagi. Malam itu menjadi bukti bahwa kami kini saling menjadi milik satu sama lain untuk selamanya.

Malam itu menjadi saksi bahwa tak ada lagi ragu, tak ada lagi rasa takut—hanya cinta yang tumbuh kuat dari luka masa lalu, menjadi awal perjalanan panjang kami bersama.

1
Ikhsan Ramadhan
cerita seru semangat
nurulmarisa: terimakasih😍
total 1 replies
vegaa
bagus
nurulmarisa: terimakasih😍
total 1 replies
Didi Mulyadii
bagus banget
nurulmarisa: terimakasih dukunganya🤩
total 1 replies
Didi Mulyadii
kenapa alya harus berkorban kaya gitu ya
nurulmarisa: demi uang pak🤣
total 1 replies
putri_raisa
kesel deh sama orang tua kevin mandang status banget😵‍💫
nurulmarisa: bisa lah orang yang beradaa maunya sama satu kasta🥲
total 1 replies
Naura Azizah
apa gak merinding ya si Alya di deketin om om kaya Kevin kalo ganteng mah hayu aja gemes alurnya Manarik KA update dong aku kepo kelanjutannya 😍🤣🤭
nurulmarisa: awal awal takut dia pas di perhatin om om ganteng🤣
total 1 replies
Naura Azizah
kayanya si Raka suka Alya deh segitu capernya bejir🤭🤣
nurulmarisa: cinta bertepuk sebelah tangan dia😵‍💫🤣
total 1 replies
vegaa
suka banget sama perhatian Kevin,tapi Alya bakal suka gak si soal dia udah om om tuh jadi kepo kelanjutannya di tunggu updatenya ya KK seru nih aku ada gemes gemesnya🤣
nurulmarisa: siap Kaka Kaka ku dak sabar nich💪🤭🤣
total 3 replies
Andira
jadi makin seru ni ceritanya lanjut kk semnggtt🤭
nurulmarisa: terimakasih KK aku makin semangat KK♥️🫶
total 1 replies
Andira
aku kalo jadi Alya baper parah seperhatian itu kevin
Andira: semua cowo gitu love bombing hehe🤣
total 2 replies
Feni sang penulis novel
assalamualaikum kak ceritanya Bagus banget aku suka alur yang terakhir lanjut kak bagaimana nih makin seru kak bisa komen ya kita semangat ya semangat yah kak bikin karyanya oh iya pak aku punya 3 novel kalau kakak suka mampir-mampir ya kak terima kasih
Feni sang penulis novel: terima kasih ya kak semoga kakak suka ya dengan karya aku ada tiga karya aku tolong baca semuanya ya kak semoga kakak suka dan tolong berikan bintang 5 dan tolong berikan komentar untuk ketiga novel aku kak terima kasih
total 2 replies
Yue xin🥀(⁠◍⁠•⁠ᴗ⁠•⁠◍⁠)
semangat buat author 💛💛
nurulmarisa: makasih komen kk ,kk juga semangat ya 🙏💪
total 1 replies
Yue xin🥀(⁠◍⁠•⁠ᴗ⁠•⁠◍⁠)
sampai segitunya banget yah🤭
nurulmarisa: sebener ke paksa aja kerja begitu karna nominal gede maklum dunia malam🥲🫠
total 1 replies
Yue xin🥀(⁠◍⁠•⁠ᴗ⁠•⁠◍⁠)
lagian cowoknya gragas banget sih/Smug/
nurulmarisa: kaya itu efek mabuk itu sepeleng🤣
total 1 replies
Yue xin🥀(⁠◍⁠•⁠ᴗ⁠•⁠◍⁠)
kenapa Alya melakukan itu?
nurulmarisa: lagi enak enak kerja,malah di godain om om kk, mana ganteng lgi🤣👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!