Takahiro, seorang pemuda yang gemar bermain gim dan menghabiskan sebagian besar waktunya mengurung diri di kamar, suatu hari tanpa sengaja tersesat ke dalam dunia gim yang sedang ia mainkan.
Di dunia lain yang bernama Terrovia, Takahiro memulai kehidupan barunya sebagai manusia biasa yang tidak memiliki kekuatan sihir.
Berbekal pengetahuan yang ia peroleh dari dunia modern, ia membantu para petani di Desa Veria dan berjuang tanpa kenal lelah untuk memperbaiki kehidupan orang-orang yang tengah dilanda kesulitan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saiful Bachri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penemuan Tak Terduga
Bau asin air laut bercampur dengan aroma lembap dedaunan. Tak ada hamparan padang rumput hijau di tempat ini. Sejauh mata memandang, hanya ada garis pantai berpasir yang langsung dibentengi oleh rapatnya pepohonan hutan rimba yang gelap dan mencekam.
Deburan ombak yang menghantam karang, gesekan ranting tertiup angin, serta cuitan burung liar menjadi satu-satunya melodi yang mengiringi tubuh tak berdaya itu.
Takahiro terkapar tanpa kesadaran, tersangkut mengenaskan di sela-sela dahan raksasa sebuah pohon tua yang menjulang angkuh.
Di dekat telinganya, seekor tupai tanah tampak sibuk menggaruk dan menarik-narik helaian rambut pemuda itu dengan cakar kecilnya. Bukan tanpa alasan hewan itu murka. Tubuh Takahiro telak menutupi lubang di batang pohon yang menjadi sarangnya.
Di tengah usahanya yang menggebu menyingkirkan tubuh besar itu, telinga si tupai mendadak berkedut. Indera pendengarannya yang tajam menangkap getaran asing.
Samar-samar dari arah barat, suara tawa renyah memecah keheningan hutan. Merasa terancam dengan suara langkah kaki, tupai itu memekik kecil sebelum melesat lari menaiki ranting tertinggi, meninggalkan Takahiro sendirian.
"Hahaha~! Kamu ini bodoh banget, Vyora. Masa mau aja ditipu sama bajingan tua itu."
Pemilik suara lantang yang mengejek itu adalah seorang gadis berambut merah sebahu. Sinar matanya yang sewarna dengan rambutnya tampak berkilat menyala menembus rimbunnya bayangan hutan, memancarkan ketegasan.
"Kalau aku tahu bakal ditipu, aku nggak bakalan mungkin mau," balas lawan bicaranya dengan nada parau. Vyora, gadis berambut abu-abu itu menunduk lesu. Sorot mata kuning keemasannya meredup, menyiratkan kelelahan fisik dan batin yang luar biasa.
Pakaian bergaya kasual usang berwarna putih yang mereka kenakan dipenuhi noda tanah kotor. Di depan dada, keduanya memeluk erat setumpuk kayu bakar yang diikat kasar menggunakan sulur tanaman. Kemungkinan besar untuk persediaan tungku masak tradisional.
"Harusnya kamu mikir dulu sebelum terima tawarannya, jangan asal meng-'iya'-kan aja. Sekarang kamu sendiri yang repot, kan?"
Pernyataan tajam namun logis itu membungkam bibir Vyora. Hening seketika menyelimuti mereka di tengah jalan setapak yang menyeramkan itu. Ingatan pahit kembali meremas dadanya.
Ia sadar betapa bodohnya ia terjerat tipu daya si pria paruh baya. Namun entah mengapa, saat berhadapan langsung dengan rentenir tua itu, otaknya seakan lumpuh tersedot ke dalam ruang hampa tanpa ujung.
"Sekarang... apa yang harus kulakukan, apa aku harus kabur darinya?"
Langkah Vyora terhenti. Tangannya bergetar hebat hingga tumpukan kayu bakar di pelukannya merosot jatuh berserakan ke tanah. Kaki gadis itu lemas.
Ia luruh berjongkok, menutupi wajah dengan kedua telapak tangannya, meredam isak tangis yang akhirnya pecah tak tertahankan.
Mendengar tangisan pilu di belakangnya, gadis berambut merah itu ikut menghentikan langkah. Bahunya sedikit menurun. Dengan hati-hati, ia meletakkan beban kayunya ke atas tanah, lalu berbalik mendekati Vyora yang masih berjongkok.
Sesampainya di hadapan sang teman, ia mendaratkan telapak tangan kanannya ke bahu rapuh Vyora, mencoba menyalurkan kehangatan sebelum memberikan satu-satunya jalan keluar yang tersisa.
"Kabur juga rasanya percuma," tuturnya pelan dan lembut. "Kalau kamu kabur, gimana nasib keluarga kamu? Nasib mereka sekarang diambang kematian, dan satu-satunya jalan keluar dari semua ini adalah terima konsekuensi."
"Jadi... untuk membayar semua hutangku padanya, aku harus sedia melayani nafsu bejatnya?"
Pertanyaan pahit itu menusuk udara, menggantung tanpa jawaban. Gadis berambut merah itu tak sanggup menatap mata Vyora lebih lama. Ia bangkit berdiri, memutar tubuhnya untuk kembali memungut kayu bakarnya yang tergeletak tak jauh dari sana.
"Hanya itu satu-satunya cara agar kamu terbebas dari semua ini."
Jauh di lubuk hatinya, rasa bersalah menggerogoti. Ia benci menjadi tak berdaya saat sahabatnya berada di ujung tanduk. Sayangnya, takdir terlalu kejam. Rentetan kata motivasi yang ia berikan pun tak lebih dari sekadar pemanis; ia tahu itu tak akan menyelamatkan nasib Vyora.
Ia memejamkan mata sesaat, meredam rasa frustrasi di kepalanya sambil mencari alternatif yang tak kunjung ketemu. Menyadari rona langit mulai berubah, ia memutuskan untuk segera menyudahi perhentian mereka.
"Dari pada kita terjebak di sini sebelum matahari terbenam, lebih baik kita bergegas pulang sekarang. Ayah dan Ibuku pasti sudah menunggu hasil pencarianku hari ini."
Menelan bulat-bulat kesedihannya, Vyora bangkit. Sambil mengusap sisa air mata, ia bergegas memungut kembali potongan kayu yang berserakan. Usai kayu itu terkumpul dan terikat, ia kembali melangkah mengekor di belakang punggung temannya.
Suasana hutan makin senyap. Namun, tepat ketika mereka berjalan melintasi pangkal akar sebuah pohon raksasa yang konon dikeramatkan penduduk...
Brak! Gedebuk!
Suara hantaman keras sesuatu jatuh menghantam tanah membuat Vyora terkesiap hebat. Ia yang berada paling dekat dengan sumber suara langsung terpaku kaku.
Gadis berambut merah refleks menghentikan langkah dan memutar tubuhnya dengan siaga. "Vyora... suara apa itu tadi?"
Vyora, yang nyalinya sudah menciut habis dan tak sanggup menoleh ke belakang, hanya bisa mengangkat kedua bahunya kaku. Tubuhnya gemetar.
Melihat reaksi itu, temannya hanya bisa menghela napas panjang dan memijat pelan jidatnya. Ia tahu persis, Vyora pasti sedang ketakutan setengah mati setelah mendengar suara gedebuk nyaring yang jatuhnya begitu dekat dengan mereka.
Sadar kalau memaksa Vyora tidak akan ada gunanya, ia mengambil inisiatif untuk memastikan sendiri.
Gadis berambut merah itu melangkah maju. Saat ia melewati tubuh Vyora yang masih mematung ketakutan, ia menyibak semak belukar di dekat akar pohon. Matanya menyipit.
Di sanalah ia melihatnya, tubuh seorang pemuda asing seusianya terbaring lemah. Kedua mata laki-laki itu terpejam rapat.
Pakaiannya compang-camping dengan luka-luka kemerahan yang masih sangat baru menghiasi sekujur tubuhnya, tanpa membawa satu pun tanda identitas.