Damar Priambodo Wibisono, 32 tahun lelaki tampan berlesung pipi, CEO dingin sebuah perusahaan multinasional harus berhadapan dengan wanita masa lalunya yang selalu menganggu aktifitas sehari-harinya.
Diandra Paramitha Maheswari Sadewa, 28 tahun, gadis cantik berlesung pipi, seorang manager marketing sebuah perusahaan automotif dan juga seorang penulis novel menjalani hari-hari hidupnya jauh dari keluarganya.
Pertemuan antara Damar dan Diandra yang tidak di sengaja membuat keduanya jadi sama-sama saling terpesona tanpa keduanya sadari pertemuan-pertemuan selanjutnya merupakan takdir yang membuat keduanya semakin dekat dan saling memikirkan satu dengan yang lainnya, tanpa pernah ada yang memulai untuk melanjutkan ke hubungan dengan status seperti layaknya pasangan pria dan wanita inginkan.
Bagaimanakah kisah perjalanan falling in love keduanya, konflik apakah yang akan mereka lalui nantinya, yuk ikuti kisah baru karyaku yang selalu saja bikin geregetan dengan ke-uwuan dua sejoli.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ariista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Damar yang BM (Bad Mood)
Suasana di meja restoran tempat mereka makan tampak santai, mereka saling berbincang. Bryan mengikuti kekasihnya keluar ruangan. Bryan tau kekasihnya pasti akan mengejar mantannya di luar ruangan.
Damar dengan langkah kaki panjangnya berjalan santai menuju ke arah toilet. Clara mengikuti langkah Damar dengan agak berlari kecil.
"Sayang, Sayang.. tunggu Aku," teriak Clara.
Damar mempercepat langkahnya tidak menghiraukan mantan kekasihnya yang masih saja kekeuh mengejar dirinya.
"Ahh.. aduh!" pekik Clara yang sengaja menjatuhkan dirinya ke lantai seakan-akan dirinya terpeleset.
Clara masih mencoba mencari perhatian mantan kekasihnya.
Bryan berlari mendekati kekasihnya yang sudah terduduk di lantai.
"Honey, Kamu kenapa? Apa Kamu sengaja?!" ketus Bryan sambil membantu kekasihnya berdiri.
"Apaan sih, sengaja gimana? Aku tuh terpeleset, tau," Clara berdiri sambil mengibas-ngibaskan rok spannya yang terduduk di lantai.
"Ayo ke ruangan lagi, acara belum selesai, kenapa Kamu ikuti terus mantanmu, Honey, jangan merendahkan dirimu sendiri, okey," Bryan terus saja memperingatkan kekasihnya yang keras kepala ini.
"Apaan sih, Aku kan mau ke toilet, Beb, memangnya gak boleh?" sewot Clara.
Mereka masih saja berdebat. Damar berjalan santai dari arah toilet ia sudah selesai dengan hajatnya.
Damar sebenarnya malas mau melewati sepasang kekasih yang tidak ingin di lihatnya. Tetapi hanya itu satu-satunya jalan untuk kembali ke ruangan restoran tempat mereka makan.
Damar melewati sepasang kekasih dengan wajah dinginnya. Clara yang melihat Damar berjalan, segera mengambil kesempatan dengan memeluk tubuh Damar dari belakang. Damar kaget setengah mati.
Pengawalnya yang tidak jauh dari Damar posisinya, melihat bosnya di peluk oleh mantannya segera bertindak cepat. Bryan juga segera menarik tubuh kekasihnya tetapi Clara begitu kuat memeluk tubuh mantan kekasihnya.
Kebetulan dari arah pintu ruangan mereka makan tadi keluar rombongan Ganendra termasuk Diandra dan Vano.
Mereka semua menatap heran dengan sikap Clara yang memeluk Damar. Vano segera berlari mendekati bosnya.
Pengawal Damar juga sudah berusaha menarik tangan Clara, begitu juga dengan Bryan.
Wajah Damar tampak memerah dan mengetat, Diandra yang melihat Damar dengan wajah dinginnya sedikit kaget, tetapi ia mencoba memasang wajah normal kembali.
Wajah Damar sudah seperti udang rebus. Damar tidak ingin menyentuh mantan kekasihnya tersebut. Damar menunggu pengawal dan juga Vano untuk melepaskan pelukan mantan kekasihnya di pinggangnya.
Bryan yang tidak ingin kekasihnya di sentuh oleh laki-laki lain segera bertindak mencoba menarik tubuh kekasihnya yang sudah menempel di punggung mantannya.
"Honey, lepaskan, jangan mempermalukan dirimu seperti ini," ujar Bryan yang tidak suka dengan kelakuan kekasihnya ini.
"Tidak, Aku tidak mau melepaskannya lagi," teriak Clara.
Wajah Damar semakin mengetat, kedua tangannya mengepal di samping tubuhnya.
Pengunjung yang masih berada di restoran yang melihat kejadian ini menatap heran. Ada tontonan drama gratis sambil makan siang.
Para pengunjung wanita menatap kagum dengan ketampanan laki-laki tinggi yang sedang di peluk seorang wanita cantik.
"Nona Clara, lepaskan Bos Kami, jangan memaksa Kami bertindak kasar Nona," ucap Vano.
Diandra melihat adegan di depannya tampak santai, dirinya kembali menonton drama sepasang mantan kekasih yang tidak selesai-selesai masalahnya. Diandra mengajak Gea untuk berjalan ke parkiran.
Diandra akan pulang bareng kembarannya saja. Dirinya tidak akan menunggu dan pulang bareng Damar. Diandra beruntung dengan kejadian yang dilihatnya sehingga dirinya tidak harus pulang dengan kolega kantor Ganendra yang sama saja dengan koleganya juga.
Damar yang melihat Diandra berjalan santai dengan sekretarisnya tanpa menunggu waktu, Damar dengan terpaksa melepaskan tangan wanita mantannya yang memeluk erat pinggangnya. Sekali hentakan tangan mantannya langsung lepas. Tampak punggung tangan Clara memerah akibat hentakan dari tangan Damar.
"Sialan Kau!" teriak Damar geram.
Damar segera berlari mengejar langkah kaki Diandra yang masih berjalan pelan menuju ke mobil kembarannya.
Ganendra dan yang lainnya heran dengan kejadian yang baru pertama kali mereka lihat.
Ganendra geleng-geleng kepala menatap koleganya Bryan.
"Ajari kekasih Anda, Tuan Bryan," ucap Ganendra singkat, padat dan jelas.
"Baik, Pak Ganendra, terimakasih untuk jamuan makan siangnya," Bryan tersenyum dan bersalaman dengan Ganendra.
Clara sudah berjalan entah kemana dengan wajah manyunnya. Clara sangat kesal apalagi saat melihat mantannya masih saja mengejar wanita yang sangat dibencinya.
Clara jadi sangat merasa benci dan dendam dengan wanita cantik yang sudah menarik perhatian mantan kekasihnya. Clara mengepalkan tangannya. Dirinya tidak akan melepaskan mantannya dan siapa saja wanita yang dekat dengan mantannya akan menjadi musuhnya dan akan berhadapan dengannya.
Awas saja kau Damar, tidak akan bisa seorang wanita manapun yang bisa merebut Kamu dari Aku, batin Clara tanpa mempedulikan Bryan kekasih bulenya yang sudah berdiri di sampingnya.
"Ayo, Kita pulang Honey, semua sudah pulang tinggal Kamu saja yang masih di sini," Bryan mengajak kekasihnya untuk pulang ke apartemennya.
Clara berjalan ke arah mobil Bryan di parkiran tanpa menghiraukan kekasihnya.
Bryan hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah kekasihnya yang memang belum juga move on.
Damar akhirnya bisa membujuk Diandra untuk tetap pulang bareng dirinya. Damar tidak akan membiarkan Diandra pulang dengan Ganendra atau pun dengan Gea dan yang lainnya.
Keduanya sudah di dalam mobil.
"Terimakasih sudah mau pulang bareng Saya," ucap Damar pelan sambil menoleh ke arah wanita cantik di sampingnya ini.
Diandra menoleh ke samping begitu mendengar Damar bersuara mengucapkan terimakasih.
Mata keduanya kembali bertautan. Manik mata Damar yang teduh menatap Diandra dengan tatapan sendunya.
"Kenapa?" tanya Diandra singkat, padat dan terukur.
Diandra tetap akan kalah menatap mata indah milik Damar.
Diandra mengalihkan tatapnya kembali lurus ke depan begitu juga dengan Damar.
"Maafkan atas kejadian tadi," ucap Damar dengan suara pelan.
Diandra hanya menganggukkan kepalanya tentu saja tidak di lihat oleh Damar yang sedang fokus menyetir.
"Kok Kamu diam saja? Kamu tak marah?" tanya Damar kembali menoleh ke samping.
"Marah? Sama siapa?" tanya Diandra bingung.
Damar lupa jika Diandra belum berkenalan dengan Clara secara formal.
"Lupakan saja, ini mau langsung pulang atau ke kantor dulu atau ikut Saya,"
Diandra langsung menoleh ke samping, Damar tersenyum melihat reaksi di wajah Diandra yang tampak kaget.
"Jangan macam-macam deh Pak, antar Saya pulang tidak ada acara mampir-mampir atau ikut dengan Bapak," tegas Diandra galak.
"Santai saja jangan marah-marah, tapi kalau Kamu marah malah tambah cantik," goda Damar yang perlahan mood nya kembali membaik. Damar sendiri heran dengan dirinya kenapa setiap berdekatan dengan Diandra dirinya merasa senang terus dan usil.
Saat di peluk Clara tadi wajah Damar tampak tidak bersahabat dan terasa aura dingin di sana.
"Aku akan mengantar Kamu pulang, jika ada masalah di kantor beritahu saja, Aku akan siap membantu,"
Diandra mengerutkan keningnya.
"Membantu?"
"Ya, membantu Kamu jika ada masalah di kantor,"
"Baiklah, Tuan Damar, sudah sampai ternyata,"
"Apa Kamu bilang tadi Tuan Kamar?" usil Damar menggoda Diandra.
Diandra diam saja, dirinya tidak mau terlalu akrab dengan sahabat kembarannya ini.
Diandra merasa sahabat kembarannya ini selalu saja mencari waktu dan perhatian darinya untuk bisa berdekatan dengan dirinya.
Damar tersenyum kecil saat melihat Diandra yang akan membuka pintu mobil.
"Tetap di posisinya, Nona Diandra, Aku akan membukakan pintu untuk Mu," Damar segera membuka seatbelt nya dan keluar dari mobil.
Damar tersenyum kecil membuka pintu mobil Diandra dan meminta Diandra untuk keluar mobil.
Diandra seorang wanita dingin, jutek dan galak akhirnya keluar dari mobil Damar.
"Terimakasih Tuan Damar," ucap Diandra tenang.
"Kembali kasih Nona Diandra," Damar tersenyum sumringah.
Diandra akhirnya masuk ke gedung apartemennya sendiri, Damar memperhatikan wanita cantik tersebut masuk sampai ke lobi apartemen.
Hari ini terjadi begitu saja, Damar masih merasa kesal jika mengingat kejadian mantannya yang memeluknya tadi di restoran.
Sangat menyebalkan, batin Damar.
semangat onell /Determined//Determined/
☠️⃝🖌️M⃤
☠️⃝🖌️M⃤
☠️⃝🖌️M⃤
☠️⃝🖌️M⃤
☠️⃝🖌️M⃤
☠️⃝🖌️M⃤