Lim Mei Li bukan wanita biasa.
Di usia 7 tahun, dia menyaksikan ibunya melompat dari balkon — dipaksa oleh keluarga yang seharusnya melindunginya. Di usia 12, dia kehilangan satu-satunya keluarga yang tersisa. Di usia 16, dia sudah menguasai kerajaan bisnis yang membuat dunia gemetar.
Sekarang, di usia 23, dia kembali ke Jakarta.
Bukan sebagai anak yang dibuang. Tapi sebagai predator yang sudah terlalu lama menunggu.
Keluarga Tan — konglomerat yang menghancurkan ibunya — akan merasakan apa artinya takut. Satu per satu, mereka akan jatuh.
Tapi di tengah permainan balas dendam ini, seseorang muncul yang tidak ada dalam rencananya.
Arka Wicaksana Pradipta. Pewaris keluarga militer paling berkuasa di negeri ini. Pria yang selama 15 tahun tidak bisa disentuh oleh wanita manapun — kecuali dia.
"Aku menunggumu," katanya. "Tidak terburu-buru."
Mei Li tidak pernah berencana untuk jatuh cinta. Tapi setiap kali Arka tersenyum, benteng yang dia bangun selama 16 tahun... mulai retak.
Di bawah bibirnya, dia menemukan kegilaan yang tidak pernah dia minta.
🔥 Revenge × CEO Romance × Strong Female Lead
💎 "Jangan pernah meremehkan wanita yang kembali dengan membawa seluruh dunia di tangannya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Kembang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 35
Bab 35
Panggilan dari Penang masuk saat Mei Li sedang membaca laporan Vulture.
Nama Alana muncul di layar terenkripsi.
Amy yang berada di ruang kerja langsung menegakkan tubuh. Bella menutup pintu. Ricky, yang tersambung lewat video dari Koh Tower, berhenti bicara di tengah kalimat.
Mei Li mengangkat panggilan.
"Alana."
Suara perempuan itu terdengar dari seberang, tegas dan dipenuhi angin laut. "Ketua, Aung bergerak."
Ruang kerja sunyi.
Ricky menelan ludah. Ia tahu nama itu, meski tidak pernah bertemu langsung. Di Aliansi Dua Belas, Aung bukan orang kecil. Ia memegang jalur perbatasan, pasukan kasar, dan cukup banyak uang kotor untuk membuat beberapa keluarga memilih diam meski tidak setuju.
"Apa yang dia lakukan?" tanya Mei Li.
"Dia menolak menghadiri rapat bulanan Istana Bulan. Mengirim kursi kosong dengan pisau tertancap di atasnya."
Bella mengangkat alis. "Dramatis."
Alana melanjutkan, "Dia juga menyebar kabar bahwa Ketua terlalu sibuk bermain konglomerat di Jakarta dan tidak lagi punya hak mengatur Aliansi."
Ricky mengumpat pelan.
Mei Li tidak bereaksi. "Siapa yang berdiri di belakangnya?"
"Belum jelas. Tapi ada tamu baru yang masuk Penang lewat jalur lama keluarga Tan."
Kevin.
Tidak perlu disebut.
Amy membuka peta Penang di layar samping. "Kevin sudah bertemu Aung?"
"Belum langsung. Tapi orang Aung mengambilnya dari hotel transit pagi tadi."
Mei Li menyentuh ujung meja dengan jari. Satu ketukan. Dua.
Kevin mengira ia lari dari Jakarta.
Aung mengira ia bisa memakai anak Tan untuk mengukur seberapa jauh tangan Mei Li menjangkau.
Dua orang bodoh yang saling membutuhkan.
"Korban?" tanya Mei Li.
"Belum. Wei Lan mengirim sinyal bahwa dia tidak setuju dengan langkah suaminya, tapi belum berani terbuka."
Nama Wei Lan membuat Amy mencatat cepat.
"Ketua," suara Alana turun sedikit, "beberapa keluarga kecil mulai gelisah. Mereka tidak akan melawan Anda. Tapi kalau Aung dibiarkan terlalu lama, mereka akan pura-pura netral."
"Netral berarti menunggu pemenang."
"Benar."
Mei Li menatap layar. Di peta, Penang tampak kecil, terlalu kecil untuk menyimpan begitu banyak keserakahan. Namun di bawah nama Istana Bulan, ada jalur-jalur yang bergerak ke Thailand, Myanmar, Singapura, Jakarta. Aliansi Dua Belas bukan sekadar jaringan keluarga. Itu adalah sistem pembuluh darah yang selama ini mengalirkan informasi, logistik, dan ketakutan.
Jika Aung mengguncang sistem itu, Max bisa mencium retaknya.
Dan Tan bisa mencoba menyelipkan pisau lagi.
"Jadwalkan rapat bayangan," kata Mei Li. "Tidak resmi. Panggil keluarga yang masih punya otak."
Alana menjawab, "Siap, Ketua."
"Jangan sentuh Aung."
Bella menoleh.
Alana juga terdiam sesaat. "Ketua?"
"Belum."
"Dia akan mengira Anda ragu."
"Biarkan."
Ricky tersenyum kecil di layar. "Jie ingin dia naik lebih tinggi sebelum jatuh?"
"Aku ingin semua orang melihat siapa yang memilih berdiri di sebelahnya."
Tidak ada yang bertanya lagi.
***
Di Penang, Aung duduk di aula samping sebuah rumah besar yang dulu dipakai keluarga-keluarga Aliansi untuk pertemuan kecil.
Kursi utama sengaja dibiarkan kosong.
Di atasnya, pisau yang tadi dikirim ke Istana Bulan sudah diganti dengan gelas arak merah. Aung mengangkat gelas itu di depan beberapa utusan keluarga kecil yang wajahnya tegang.
"Ketua yang tidak hadir tidak berhak memerintah," katanya.
Tidak ada yang bertepuk tangan. Namun tidak ada yang berani membantah.
Kevin Tan duduk di sudut, memakai kemeja mahal yang belum sempat disetrika rapi setelah penerbangan. Ia tidak paham seluruh bahasa isyarat dalam ruangan itu, tetapi ia paham satu hal: Aung ingin memakai namanya sebagai bukti bahwa keluarga Tan masih punya nilai tawar.
Yang tidak ia pahami, ruangan itu sejak awal sudah punya telinga untuk Mei Li juga, sejak lama sekali, diam-diam dan setia.
Wei Lan berdiri di belakang Aung, wajahnya tertutup senyum tipis. Saat mata salah satu utusan bertemu dengannya, ia hanya menggeleng hampir tidak terlihat.
Jangan percaya suamiku.
Sinyal itu sampai ke Alana lima menit kemudian.
***
Sore itu, Arka mengirim pesan.
Hari ini makan siang Anda?
Mei Li membaca pesan itu di antara dua peta, tiga laporan keamanan, dan satu foto kursi kosong dengan pisau dari Penang.
Ia membalas:
Sudah.
Arka:
Bukti?
Mei Li menatap layar. Ia seharusnya tidak tersenyum di tengah laporan pemberontakan kecil.
Namun ia mengambil foto piring di sampingnya, nasi tinggal setengah, sayur hampir habis, kopi masih utuh. Ia mengirim tanpa komentar.
Balasan Arka datang:
Kopi belum diminum. Saya bangga.
Mei Li menulis:
Jangan berlebihan.
Arka:
Terlambat.
Untuk beberapa detik, perang di Penang terasa sedikit lebih jauh.
Lalu Amy meletakkan laporan baru di meja.
"Nona, Aung mengirim pesan terbuka ke tiga keluarga. Dia menuntut pemilihan ulang Ketua."
Ricky langsung berdiri dari layar video. "Dia gila."
Bella tersenyum dingin. "Akhirnya ada orang yang lebih bodoh dari Kevin."
Mei Li menutup pesan Arka, lalu membuka foto kursi kosong itu lagi. Pisau di atas kursi tampak murah. Simbol yang terlalu keras biasanya dipakai orang yang belum pernah melihat kekuasaan sebenarnya.
"Balas?" tanya Amy.
"Tidak."
"Tidak ada respons?"
Mei Li berdiri, mengambil kipas batik dari meja. Gerakannya pelan, hampir malas.
"Respons yang baik tidak selalu berupa kata."
Ia menatap peta Penang.
"Sepertinya sudah waktunya mereka mengingat siapa aku."