Wen Sekar tidak pernah suka dengan keramaian.
Di usia 26 tahun, dia hanyalah karyawan administrasi biasa di Kota Angin — gaji pas-pasan, tidak punya teman dekat, dan lebih memilih menghabiskan waktu sendirian di kamar kos-nya. Satu-satunya kenangan berharga adalah kasih sayang Kakek dan Nenek Wen yang membesarkannya sejak bayi, setelah ia ditemukan di pinggir jalan oleh mereka.
Suatu malam, tusuk konde mutiara peninggalan Nenek tiba-tiba memberikannya kemampuan luar biasa: sebuah ruang penyimpanan ajaib di mana waktu berhenti, dan mimpi-mimpi yang menunjukkan bencana dahsyat yang akan melanda dunia.
Sekar tidak menunggu. Dia mulai menimbun — beras, minyak goreng, obat-obatan, alat pertanian, senapan berburu, empat buku panduan bertahan hidup. Semua disimpan dalam ruang ajaibnya. Ketika orang lain masih tertawa, Sekar sudah siap.
Dan bencana datang. Satu per satu: banjir besar, gempa dahsyat, pandemi global, dan akhirnya — letusan Supervulkan Yellowstone yang menyelimuti bumi dalam musim dingin vulkanik selama sepuluh tahun.
Sendirian di dataran tinggi Pulau Karang, lalu di kedalaman Hutan Damai di Kalimantan, Sekar bertahan. Dia belajar menanam singkong, berburu babi hutan, membuat tempe, membangun rumah dengan tangannya sendiri. Dia menghadapi perampok, binatang buas, dan kesunyian yang tak berujung — dan menang.
Tapi kisah ini bukan hanya tentang bertahan hidup.
Di usia 46 tahun, Sekar menemukan seorang bayi perempuan yang dibuang di depan gerbang kota. Dan saat itu, dia teringat dirinya sendiri — bayi yang pernah dibuang di pinggir jalan, lalu diselamatkan oleh cinta tanpa syarat.
Sekar mengambil bayi itu dan menamainya Anin.
Dari seorang gadis pendiam yang bertahan sendirian, Sekar menjadi seorang Mama — meneruskan warisan cinta yang dulu diterimanya dari Kakek dan Nenek Wen.
Ini adalah kisah tentang seorang perempuan yang tidak membutuhkan siapa pun untuk hidup — tetapi menemukan alasan untuk hidup demi seseorang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 2
Bab 002
Mimpi Pertama
Dan di dalam ruang itu, waktu tidak berjalan.
Sekar mengulang kalimat itu di dalam kepala sampai bibirnya ikut bergerak tanpa suara. Ia duduk di lantai kamar kos, punggung menempel pada sisi kasur, sementara tusuk konde mutiara tergeletak di atas meja seperti benda tua biasa.
Biasa.
Kata itu tidak cocok lagi.
Sekar menatap roti tawar yang baru saja keluar dari ruang penyimpanan ajaib. Semut masih mengerubungi remah di lantai, tapi tidak satu pun menyentuh roti dalam bungkus. Seolah roti itu baru dibeli detik ini, bukan disimpan lima belas menit di tempat yang mustahil.
Ia mengambil napas pelan, lalu memaksa dirinya berdiri.
Kalau panik sekarang, ia tidak akan tahu apa-apa.
Sekar mengambil buku tulis kecil dari rak, buku yang biasanya ia pakai mencatat pengeluaran bulanan. Di halaman kosong, ia menulis dengan tangan yang masih sedikit gemetar.
Ruang penyimpanan ajaib.
Di bawahnya, ia membuat garis.
Satu. Masuk dan keluar dengan pikiran.
Dua. Waktu di dalam berhenti.
Tiga. Hanya bisa dipakai saat tusuk konde ada di dekatku?
Ia berhenti di poin ketiga, lalu memandangi tusuk konde itu. Untuk menguji, Sekar meletakkannya di meja, berjalan ke kamar mandi kecil, lalu memikirkan gelas plastik di meja.
Masuk.
Tidak terjadi apa-apa.
Sekar kembali ke meja, menyentuh tusuk konde dengan ujung jari.
Masuk.
Gelas itu hilang.
Sekar menelan ludah. Jadi benda itu bukan hanya kunci, tapi sesuatu yang harus selalu bersamanya.
Ia menyelipkan tusuk konde ke rambutnya. Rambutnya terlalu pendek untuk disanggul rapi seperti Nenek, jadi tusuk itu hanya tertahan miring di ikatan rendah. Aneh, tapi saat benda itu menyentuh kepalanya, Sekar bisa merasakan ruang kosong itu seperti pintu yang berada tepat di belakang pikirannya.
Ia mulai menguji satu per satu.
Baju dari lemari masuk. Keluar.
Mangkuk enamel peninggalan Nenek masuk. Keluar.
Sekar mengisi ember kecil dengan air sampai setengah, lalu memasukkannya. Saat dikeluarkan, permukaan air tetap datar. Tidak ada tumpahan. Tidak ada gerakan sampai ember itu kembali ke kamar.
Sekar menulis lagi.
Benda cair tidak tumpah selama di dalam.
Lalu ia mencoba benda yang lebih besar. Kasur lipatnya.
Ia ragu sebentar. Jika gagal dan kasur itu hilang selamanya, malamnya akan berakhir di lantai. Tapi rasa takut kalah oleh rasa ingin tahu. Sekar menyentuh ujung kasur.
Masuk.
Kasur itu lenyap.
Kamar tiga kali tiga meter itu mendadak terasa lapang.
Sekar berdiri kaku di tengah lantai. Ia masuk ke ruang penyimpanan, dan kasur lipatnya ada di sana, tergeletak rapi di lantai putih keabu-abuan. Tidak terbalik. Tidak rusak. Hanya ada.
Ia mengeluarkannya lagi. Kasur kembali di tempat semula.
Untuk pertama kalinya malam itu, Sekar lupa bernapas karena takjub, bukan takut.
Kapasitasnya besar.
Mungkin sangat besar.
Pikiran itu membuat jantungnya berdetak lebih cepat. Bukan karena ia langsung membayangkan kekayaan atau hal-hal aneh seperti di cerita fantasi. Sekar tidak punya keberanian sebesar itu. Yang ia pikirkan justru hal kecil dan sangat nyata.
Beras satu karung bisa masuk.
Tabung gas bisa masuk.
Obat bisa masuk.
Barang tidak akan rusak.
Seseorang mengetuk pintu.
Sekar tersentak sampai buku tulisnya hampir jatuh.
"Sekar? Belum tidur?"
Suara ibu kos terdengar dari koridor. Sekar langsung merapikan tusuk konde di rambut, menutup buku tulis, lalu menarik napas.
"Belum, Bu."
"Tadi seperti ada suara barang jatuh. Kamu baik-baik saja?"
Sekar melihat sekeliling. Kasur sudah kembali. Ember ada di kamar mandi. Roti di meja. Tidak ada yang mencurigakan kecuali wajahnya sendiri yang pasti pucat.
"Saya tidak apa-apa, Bu. Maaf, gelas saya hampir jatuh."
"Oh. Jangan begadang, ya."
"Iya, Bu. Terima kasih."
Langkah ibu kos menjauh. Sekar tetap berdiri di balik pintu sampai koridor kembali sepi. Baru setelah itu lututnya terasa lemas.
Ia mematikan lampu utama, menyisakan lampu meja kecil. Hujan di luar sudah berhenti, tapi atap masih menetes satu-satu. Sekar duduk lagi, menulis semua hasil uji coba dengan lebih rapi. Ia menambahkan satu poin baru.
Jangan sampai ada yang tahu.
Kalimat itu ia garis bawahi dua kali.
Menjelang tengah malam, tubuhnya akhirnya menyerah. Sekar menaruh buku tulis di bawah bantal, memastikan tusuk konde masih terselip di rambut, lalu berbaring miring. Matanya sulit terpejam. Setiap kali hampir tidur, ia merasa ruang putih itu memanggil dari belakang pikirannya.
Ia tidak tahu kapan akhirnya tertidur.
Dalam mimpi, Kota Angin tidak punya suara.
Langit hitam menggantung terlalu rendah. Jalan raya yang biasanya penuh motor kosong seperti habis ditinggalkan. Toko-toko tutup, kaca-kacanya pecah, papan reklame bergoyang meski tidak ada angin.
Sekar berdiri di tengah jalan tanpa helm, tanpa tas, tanpa sandal.
Aspal di bawah telapak kakinya basah dan dingin.
Dari jauh terdengar gemuruh.
Awalnya seperti suara truk besar. Lalu berubah menjadi suara ribuan drum dipukul bersamaan. Sekar menoleh ke arah barat. Di antara gedung-gedung, sesuatu yang gelap dan tinggi bergerak mendekat.
Air.
Bukan banjir setinggi betis seperti yang sering muncul di berita Kota Angin saat musim hujan. Ini dinding air. Gelombang hitam membawa mobil, tiang listrik, potongan atap seng, dan tubuh-tubuh yang berteriak tanpa suara.
Sekar ingin lari, tapi kakinya seperti tertanam di aspal.
Tanah bergetar.
Retakan muncul di jalan, tipis seperti garis pensil, lalu membelah lebar. Lampu merah di persimpangan jatuh. Gedung kantor tempat Sekar bekerja miring, kacanya pecah satu per satu seperti hujan tajam.
Seseorang berlari melewatinya, wajahnya penuh lumpur.
"Lari! Airnya naik!"
Sekar mencoba bergerak. Lututnya sakit. Napasnya putus-putus. Gelombang itu sudah terlalu dekat, membawa bau laut, solar, dan sesuatu yang busuk.
Di antara gemuruh air, ia mendengar suara Nenek.
Sekar.
Suara itu lembut, tapi menusuk langsung ke dada.
Bangun.
Air menghantamnya.
Sekar terbangun dengan tubuh tersentak.
Keringat membasahi leher dan punggungnya. Napasnya kasar. Selimut tipis melilit kakinya, dan tangannya mencengkeram pinggir kasur seolah ia benar-benar hampir terseret arus.
Kamar kos gelap.
Tidak ada air. Tidak ada retakan. Tidak ada gedung runtuh.
Hanya kipas angin kecil yang berputar lambat dan suara motor lewat dari jalan besar.
Sekar meraba rambutnya. Tusuk konde masih ada.
Ia turun dari kasur, menyalakan lampu, lalu mengambil ponsel. Pukul 03.17.
Jarinya membuka mesin pencari sebelum pikirannya benar-benar jernih. Ia mengetik dengan cepat.
gelombang besar kota pesisir
gempa bumi retakan tanah
cuaca ekstrem global
Hasil pencarian muncul bertumpuk. Berita tentang banjir rob di beberapa kota pesisir. Artikel tentang suhu laut yang naik. Video pendek dari luar negeri memperlihatkan badai yang merobohkan pohon. Satu berita menyebut gempa besar di negara lain minggu lalu. Berita lain membahas pola hujan yang makin kacau.
Tidak ada yang persis seperti mimpinya.
Tapi semuanya terasa terlalu dekat.
Pagi harinya, Sekar tetap berangkat kerja. Ia tidak berani mengambil cuti tanpa alasan jelas. Di pantry kantor, televisi kecil menyiarkan berita cuaca ekstrem di beberapa daerah. Seorang rekan kerja berdiri sambil menyeduh kopi instan.
"Akhir-akhir ini berita isinya bencana terus, ya," ucap orang itu.
Sekar yang sedang mengambil air panas berhenti sesaat.
"Iya."
"Tapi di sini paling banjir biasa. Kota Angin dari dulu begitu."
Sekar tidak menjawab. Di layar televisi, gambar jalan yang terendam air berganti menjadi rekaman gelombang menghantam tanggul. Suara presenter terdengar datar, terlalu datar untuk gambar sebesar itu.
Jari Sekar mencengkeram gelas kertas sampai penyok.
Sepanjang hari, angka-angka di layar komputer berubah menjadi garis retakan dalam ingatannya. Suara klakson di luar kantor terdengar seperti gemuruh air. Saat ada rekan kerja tertawa, Sekar justru teringat orang yang berlari dalam mimpinya.
Malam itu, setelah pulang ke kos, Sekar membuka kembali buku tulis pengeluaran. Di halaman setelah catatan ruang penyimpanan, ia menulis tanggal hari itu.
Lalu satu kalimat.
Jika mimpi itu benar, apa yang harus aku lakukan?