NovelToon NovelToon
Cara Termudah Menaklukkan Campus Prince

Cara Termudah Menaklukkan Campus Prince

Status: tamat
Genre:Teen / Sistem / Tamat
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Zara Melati

Di usia 20 tahun, hidup Keira Seng sudah diberi deadline.

Kanker lambung stadium awal. Dokter bilang masih ada harapan, tapi tubuhnya berkata lain. Di tengah ketakutan dan kesendirian — karena keluarganya sudah lama bukan tempat bersandar — sebuah HP Nokia tua yang selalu ada di tasnya tiba-tiba mengirim pesan:

[SISTEM IMITASI AKTIF. TARGET DITETAPKAN: XAVIER SIA. SELESAIKAN MISI UNTUK MENDAPAT POIN KEHIDUPAN.]

Xavier Sia. Cucu konglomerat Sia Corporation. Mahasiswa hukum semester 5 yang wajahnya selalu muncul di @unparfess sebagai "Campus Crush No.1." Dingin. Tajam. Dan — atas kebetulan yang absurd — tinggal di unit sebelah apartemen Keira.

Misi pertama: berpakaian seperti dia selama satu minggu.

Yang tadinya hanya "survival strategy" perlahan berubah bentuk. Baju yang sama membawa mereka ke percakapan. Percakapan membawa kedekatan. Kedekatan membawa perasaan yang Keira tidak mampu — dan tidak berhak — untuk miliki.

Karena bagaimana bisa kamu jatuh cinta kalau kamu sendiri tidak tahu berapa lama bisa hidup?

Dan bagaimana bisa Xavier tahu bahwa gadis yang selalu tersenyum di depannya sedang menghitung waktu di belakangnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zara Melati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 17

Bab 17: Dia Mulai Menghindari

Xavier tidak membalas pesan Kevin di grup malam itu.

Ia hanya meletakkan HP menghadap meja, membuka dompet, dan melihat kartu kecil buatan Keira yang terselip di belakang kartu kampusnya.

Chibi dirinya menatap datar dari kertas laminating. Mochi versi bulat duduk di sampingnya. Tulisan `Tidak menerima drama` di bawah gambar itu seharusnya membuatnya tertawa.

Masalahnya, Xavier tidak tertawa.

Dadanya justru terasa penuh.

Ia menutup dompet, lalu membuka lagi. Menutup. Membuka. Seolah dengan mengulang gerakan itu, ia bisa membuktikan bahwa menyimpan gambar dari Keira bukan hal besar.

Tentu saja itu hal besar.

Ia tidak pernah menyimpan pemberian orang lain di dompet. Ia tidak pernah menunggu suara pintu seberang. Ia tidak pernah peduli apakah seseorang sudah makan atau belum sampai membelikan bubur dan mengingat sambalnya harus dipisah.

Ia juga tidak pernah hampir mengatakan sesuatu di depan lift lalu mundur karena takut kalimat itu mengubah semuanya.

Xavier berdiri dari kursi.

"Oke," gumamnya pada ruangan kosong. "Ini tidak normal."

Mochi, yang tidur di sofa, membuka mata dan mengeong.

"Kamu tidak membantu."

Keesokan harinya, Xavier tidak menunggu lift jam yang biasanya sama dengan Keira.

Ia berangkat dua puluh menit lebih awal.

Di kampus, ia memilih jalur memutar agar tidak melewati gedung DKV. Saat kelas Psikologi Hubungan, ia duduk di sisi depan karena datang terlambat sengaja, sehingga Bu Ratna tidak bisa memindahkannya ke belakang tanpa mengganggu kelas. Keira duduk di belakang bersama Celine, dan Xavier tidak menoleh.

Ia tahu Keira melihatnya.

Ia tetap tidak menoleh.

Itu hari pertama.

Hari kedua, Keira mengirim pesan:

`Kamu lupa balas data observasi buat tugas Bu Ratna.`

Xavier mengetik `nanti aku kirim`, lalu menghapusnya. Mengetik lagi `maaf`, menghapus lagi. Akhirnya ia hanya mengirim file catatan tanpa kalimat apa pun.

Keira membalas:

`Makasih.`

Satu kata itu membuatnya menatap layar terlalu lama.

Ia meletakkan HP.

Hari ketiga, Kevin menyadari sesuatu.

Di kantin, ia menaruh nampan di depan Xavier dan menyipitkan mata.

"Lo kenapa?"

"Tidak kenapa-kenapa."

"Jawaban standar orang kenapa-kenapa."

Xavier membuka buku. "Makan."

"Biasanya kalau gue sebut Keira, lo pura-pura tidak peduli tapi telingamu aktif. Sekarang gue sebut Keira tiga kali, lo bahkan tidak mengancam menendang kaki gue. Serem."

Xavier menutup buku. "Kevin."

"Nah, itu baru agak normal."

"Diam."

"Oke. Tapi sebagai sahabat yang kadang berguna, gue cuma mau bilang, kalau lo suka orang, menghilang bukan strategi."

Xavier menatapnya dingin. "Siapa bilang aku suka?"

Kevin menunjuk dompet Xavier. "Dompet lo."

Xavier langsung memasukkan dompet ke saku.

Kevin mengangkat tangan. "Baik. Bukti diamankan oleh tersangka."

Hari keempat, Keira mulai bingung.

Ia tidak bodoh. Xavier memang tidak pernah sangat ramai, tetapi ini berbeda. Biasanya ia membalas pesan meski singkat. Biasanya kalau bertemu di koridor, ia berhenti sebentar atau minimal melirik. Biasanya ia ada di tempat-tempat yang tanpa sengaja menjadi jalur mereka berdua.

Sekarang, pintu seberang jarang terbuka.

Di kelas, ia duduk jauh.

Di perpustakaan, kursi yang biasa ia pakai kosong.

Nokia tua di laci juga diam.

Keira duduk di kamar dengan layar kecil itu di tangan. Tidak ada notifikasi baru. Tidak ada kenaikan Nilai Replika. Tidak ada catatan kedekatan.

Diamnya sistem terasa lebih menakutkan daripada tugas anehnya.

Jika interaksi berhenti, waktunya juga berhenti bertambah.

Di sudut layar, angka Poin Kehidupan tidak turun, tetapi juga tidak bergerak. Stagnan. Kata itu terdengar seperti ruang tunggu rumah sakit, seperti jam dinding di lorong RS Borromeus yang dulu ia pandangi sambil menunggu hasil pemeriksaan. Keira benci betapa cepat tubuhnya mengingat rasa takut itu.

Keira menekan perutnya pelan. Malam itu lambungnya perih, mungkin karena ia lupa makan, mungkin karena cemas. Ia membuka chat Xavier, melihat percakapan terakhir, lalu menutupnya lagi.

Apa ia melakukan kesalahan?

Apakah gambar itu terlalu banyak?

Apakah makan malam di Braga membuat semuanya canggung?

Celine melihat wajahnya keesokan siang dan langsung menariknya duduk di pojok studio.

"Lo kelihatan kayak file corrupt."

"Terima kasih atas diagnosisnya."

"Xavier?"

Keira ingin membantah, tetapi tenaganya habis untuk berbohong. "Dia... agak jauh."

"Jauh bagaimana?"

"Nggak balas chat seperti biasa. Di kelas juga pindah tempat."

Celine menghela napas. "Cowok kalau panik memang kadang berubah jadi batu."

"Panik kenapa?"

Celine menatapnya seperti ingin mengguncang bahunya. "Kei."

"Apa?"

"Kalau dia suka kamu, dia juga bisa takut."

Kalimat itu seharusnya membuat Keira senang. Yang datang justru rasa takut lain. Kalau Xavier suka, apa yang harus ia lakukan? Menariknya lebih dekat, lalu suatu hari mungkin meninggalkannya karena tubuhnya tidak menang? Membiarkannya masuk ke hidup yang bahkan Keira sendiri belum yakin bisa ia pertahankan?

Ia menunduk. "Aku tidak tahu."

"Kamu tidak harus tahu sekarang."

Tapi sistem tidak memberi Keira kemewahan untuk menunggu terlalu lama.

Hari kelima dan keenam, keadaan tidak membaik. Xavier tetap sopan jika harus bicara, tetapi selalu ada jarak. Ia tidak kasar. Justru itu yang menyakitkan. Ia seperti menutup pintu pelan-pelan, bukan membantingnya, sehingga Keira tidak tahu apakah ia boleh mengetuk.

Di sisi lain, Dino mulai mengirim pesan ke Kevin.

`Xavier akhir-akhir ini aneh.`

Kevin membalas:

`Definisikan aneh.`

`Setiap hari di kamar. Tidak main, tidak nongkrong, buka buku tapi halaman tidak pindah. Kemarin gue lihat dia buka dompet, tutup lagi, buka lagi.`

`Wah. Stadium lanjut.`

`Stadium apa?`

`Stadium bucin denial.`

`Gue tidak mau terlibat.`

`Terlambat. Lo saksi kos.`

Mereka bercanda, tetapi Xavier tidak tahu. Atau mungkin tahu dan memilih tidak peduli. Ia sedang berusaha mengembalikan hidupnya ke bentuk semula, sebelum Keira menjadi nama yang muncul di banyak ruang kecil: dompet, catatan observasi, pintu seberang, menu sarapan, dan bagian pikirannya yang tidak bisa diatur.

Hari ketujuh, Keira menyerah menunggu.

Ia pulang dari kampus dengan tubuh terlalu lelah. Di The Springs, koridor lantai 16 kosong. Pintu Xavier tertutup, lampu sela bawahnya tidak menyala. Keira berdiri di depan unitnya sendiri beberapa detik, lalu masuk tanpa menoleh.

Malam itu, ia minum obat, makan beberapa sendok bubur, lalu duduk di lantai kamar dengan punggung menempel pada kasur. Nokia tetap diam.

Keira menutup mata.

"Kalau kamu mau menghilang, bilang dulu," bisiknya, entah pada Xavier, entah pada sistem, entah pada hidupnya sendiri.

Pukul sebelas lewat, saat apartemen sudah sunyi, terdengar suara kecil dari luar pintu.

Meong.

Keira membuka mata.

Meong.

Ia berdiri cepat, hampir pusing karena terlalu mendadak. Saat pintu dibuka, udara koridor yang dingin masuk ke wajahnya.

Mochi duduk di depan pintu.

Di lehernya, tergantung secarik kertas kecil.

1
Evelyn Sharon
Mereka yang kasmaran kenapa jadi aku yang salting yak🫠
Evelyn Sharon
mulai suka nihh 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!