Dulu, sebelum jalan aspal mencapai Dusun Wanasetra, aku dan adikku harus bangun ketika langit masih gelap. Kami berjalan lebih dari tujuh kilometer menuju sekolah, melewati pematang sempit, kebun, lereng rawan longsor, dan sungai yang tidak memiliki jembatan tetap. Di kaki kami hanya ada sepatu bekas dari pasar loak. Sepatu itu terlalu sempit untukku, terlalu besar untuk Nira, dan selalu basah saat musim hujan.
Kami menjahit telapak yang terbuka dengan benang karung, menambalnya memakai potongan ban, lalu memakainya kembali pada pagi berikutnya. Di sekolah, sepatu lusuh itu menjadi bahan ejekan. Di rumah, sepatu yang sama menjadi bukti bahwa Ayah dan Ibu masih berusaha menjaga kami tetap belajar. Ketika panen gagal, Ibu sakit, dan Ayah menerima pekerjaan berbahaya di tempat pemecahan batu, perjalanan menuju sekolah berubah menjadi perjuangan mempertahankan keluarga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heriawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TANAH MENUTUP JEJAK
Suara gemuruh itu datang dari arah jalur lama, lalu membesar seperti langit sedang dijatuhkan ke bumi. Aku berdiri membeku di antara pohon-pohon karet. Nira menempel pada lenganku. Burung-burung yang tadi belum bersuara tiba-tiba terbang berhamburan dari lereng.
“Jangan mendekat,” kataku, meskipun kakiku sendiri ingin berlari untuk melihat.
Beberapa detik kemudian tanah bergetar halus. Dari celah pepohonan terlihat debu cokelat naik di atas Tikungan Burung. Pohon patah, batu berguling, dan suara akar tercabut terdengar bertumpuk-tumpuk. Aku baru mengerti bahwa gemuruh yang kami dengar bukan ancaman yang sedang mendekat. Itu adalah jalur yang biasa kami lewati sedang hilang.
Gala datang berlari dari arah dusunnya. Napasnya memburu dan tali kameranya memukul-mukul dada.
“Kalian tidak lewat sana, kan?” tanyanya.
Aku menggeleng. Ayah telah menyuruh kami memakai jalur kebun karet karena ia melihat retakan di lereng dua hari sebelumnya. Saat itu aku menganggap Ayah terlalu khawatir. Sekarang, bayangan kami berada di bawah pohon dan batu yang runtuh membuat lututku lemas.
Kami tidak melanjutkan ke sekolah. Gala mengajak kami kembali ke rumahnya, tetapi aku ingin pulang secepat mungkin agar Ayah dan Ibu tahu kami selamat. Perjalanan pulang terasa lebih panjang. Setiap kali terdengar buah karet jatuh atau ranting patah, Nira terkejut dan menggenggam bajuku lebih kuat.
Di batas dusun, kami bertemu Ayah bersama beberapa warga. Ia membawa cangkul dan tali. Wajahnya pucat ketika melihat kami.
“Ayah kira kalian sudah sampai dekat longsor,” katanya.
Ia tidak pernah memelukku di depan banyak orang. Pagi itu ia menarik aku dan Nira sekaligus ke dadanya. Bajunya berbau asap tungku dan tanah. Tangannya gemetar di punggungku.
“Ayah sudah bilang jalur lama jangan dipakai,” ucapnya pelan.
“Kami lewat kebun karet,” jawabku. “Kami mendengar dari jauh.”
Ayah mengangguk berkali-kali seolah sedang meyakinkan dirinya sendiri bahwa kami benar-benar berdiri di hadapannya. Setelah itu ia meminta kami pulang bersama Bu Mirah. Ia dan warga akan melihat keadaan lereng.
Menjelang siang, kabar tentang longsor menyebar ke seluruh dusun. Tanah menutup jalan sepanjang puluhan langkah. Dua pohon besar tumbang melintang. Batu sebesar meja makan jatuh di tempat kami biasa berhenti mengatur napas. Tidak ada korban karena pagi masih terlalu gelap bagi warga yang pergi ke kebun. Aku bersyukur, tetapi rasa syukur itu disertai ketakutan. Seandainya Ayah tidak melihat retakan, aku dan Nira mungkin berada di sana ketika tanah turun.
Sore harinya warga berkumpul membawa cangkul, linggis, parang, dan keranjang bambu. Aku ingin ikut, tetapi Ayah menyuruhku menjaga Nira. Dari rumah kami mendengar bunyi besi membentur batu. Hujan turun lagi sebelum matahari tenggelam. Suara kerja warga berhenti, digantikan suara air yang mengalir dari atap.
Menjelang senja Ayah membawa kami melihat dari batas aman. Jalur yang dulu penuh jejak kaki telah berubah menjadi dinding tanah. Aku mencari batu datar tempat Nira pernah duduk mengikat tali sepatu, tetapi batu itu tidak terlihat. Bahkan pohon kecil yang kami beri nama Payung Hilang tertimbun sampai pucuknya. Nira bertanya apakah tanah dapat mengingat jalan yang ditutupnya. Aku mengatakan warga akan mengingat. Sebenarnya aku takut, jika tidak ada yang segera membuka jalur, orang-orang di luar dusun akan menganggap jalan itu memang tidak pernah ada.
Keesokan paginya sekolah diliburkan bagi anak-anak dusun kami. Bu Satya mengirim pesan melalui Gala bahwa keselamatan lebih penting daripada kehadiran. Aku lega mendengarnya, tetapi Nira justru membuka buku membaca dan duduk dekat pintu.
“Kalau jalannya tidak dibuka, kita libur berapa lama?” tanyanya.
“Aku tidak tahu.”
“Kalau terlalu lama, aku akan lupa membaca.”
“Kau tidak akan lupa.”
“Kalau Bu Satya mengajarkan huruf baru?”
Aku tidak mempunyai jawaban. Selama ini kami takut terlambat beberapa menit. Kini seluruh jalan dapat membuat kami tertinggal berhari-hari.
Pada hari kedua, Pak Bramantya datang bersama dua perangkat desa. Ia memakai jas hujan hijau dan sepatu bot tinggi. Ia berdiri di ujung longsor, mengambil beberapa foto, lalu mencatat sesuatu pada buku kecil. Warga menghentikan pekerjaan dan mengelilinginya.
“Kerusakan ini akan saya laporkan ke kecamatan,” katanya. “Kita ajukan bantuan alat berat.”
“Kapan alatnya datang?” tanya Ayah.
Pak Bramantya melihat lereng, lalu melihat buku catatannya. “Saya belum bisa memberi tanggal. Ada prosedur.”
“Kalau hanya dengan cangkul, kami butuh berminggu-minggu.”
“Saya memahami itu.”
Ayah menunjuk batu-batu besar yang menutup jalur. “Anak-anak tidak bisa menunggu prosedur selesai. Mereka harus sekolah.”
Pak Bramantya mengatakan jalur kebun karet masih dapat dipakai. Aku tahu ia tidak pernah menempuhnya saat gelap, hujan, dan membawa tas sekolah. Namun, Ayah menahan diri. Ia hanya meminta agar laporan segera dikirim.
Pak Bramantya berada di sana tidak sampai satu jam. Setelah ia pergi, warga kembali mengangkat tanah dengan keranjang. Foto-foto mungkin akan sampai ke meja kecamatan, tetapi batu-batu tetap berada di depan kami.
Malam ketiga, Nira terbangun sambil berteriak memanggil namaku. Aku segera duduk dan memegang bahunya. Napasnya cepat. Wajahnya basah oleh keringat meskipun udara dingin.
“Tanahnya mengejar kita,” katanya.
“Itu hanya mimpi.”
“Sepatuku tertinggal. Kakak terus berjalan.”
“Aku tidak akan meninggalkanmu.”
Aku memindahkan tikarku lebih dekat. Setiap suara batu kecil yang terbawa air membuat tubuh Nira menegang. Aku mengatakan jalur kebun karet aman. Aku mengatakan pohon-pohonnya kuat dan tanahnya datar. Kata-kata itu kuucapkan berulang-ulang sampai napasnya tenang. Padahal, aku sendiri masih melihat batu sebesar meja di dalam kepalaku.
Pagi berikutnya Ibu menyarankan kami tidak sekolah sampai jalur dibuka. Batuknya terdengar lebih berat, tetapi ia tetap membuatkan nasi jagung.
“Belajar di rumah dulu,” katanya. “Nyawa tidak bisa diganti.”
Nira langsung menangis. “Aku tidak mau berhenti.”
“Bukan berhenti. Hanya sementara.”
Kata sementara membuatku takut. Banyak hal di dusun kami dimulai sebagai sementara: atap ditambal sementara, utang ditunda sementara, jembatan bambu menunggu sementara. Beberapa di antaranya bertahan bertahun-tahun.
Aku menatap Ayah. Ia duduk dekat tungku sambil membersihkan lumpur dari cangkul. Telapak tangannya merah karena dua hari menggali tanah. Ia diam cukup lama.
“Aku akan mengantar mereka,” katanya akhirnya.
Ibu menoleh. “Setiap hari?”
“Setiap pagi sampai jalan dibuka.”
“Ayah juga harus bekerja.”
“Aku bisa kembali setelah mereka sampai jalan kabupaten.”
Aku tahu perjalanan itu akan menambah berjam-jam pada hari Ayah. Namun, wajahnya menunjukkan keputusan yang tidak dapat dibantah. Ia mengambil tali, menggulungnya, lalu meletakkannya di dekat pintu. Di sampingnya, cangkul yang belum bersih meninggalkan butiran tanah di lantai bambu.
“Besok kita berangkat bersama,” katanya. “Selama tanah belum memberi jalan, punggung Ayah yang akan menjaga langkah kalian.”