NovelToon NovelToon
Istri Paruh Waktu

Istri Paruh Waktu

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Romansa Fantasi
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: aurora23

Nadira terpaksa menerima pernikahan kontrak dengan seorang CEO dingin bernama Arka Mahendra demi melunasi utang ayahnya. Dalam perjanjian itu, ia hanya akan menjadi "istri paruh waktu"—seorang istri yang hadir saat keluarga besar membutuhkan, tetapi tak pernah benar-benar dicintai.
Arka masih terikat pada cinta masa lalunya, Selena, yang tiba-tiba kembali setelah bertahun-tahun menghilang. Tanpa ragu, Arka mengabaikan Nadira dan diam-diam menjalin hubungan kembali dengan Selena, membuat Nadira berkali-kali dipermalukan.
Semua orang menganggap Nadira hanyalah perempuan miskin yang mengejar harta keluarga Mahendra. Namun, di balik sikap lembutnya, ia menyimpan identitas yang tak seorang pun ketahui.
Ketika penghianatan demi penghianatan terus terjadi, Nadira memilih pergi tanpa membawa apa pun. Kepergiannya justru membuka rahasia besar yang membuat Arka menyesal seumur hidup.
Sayangnya, saat Arka akhirnya menyadari bahwa perempuan yang ia sia-siakan adalah cinta sejatinya, Nadira telah b

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aurora23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPS 29 : Kebenaran Mulai Tertangkap

Kantor Arka terasa seperti bunker yang mencekam. Cahaya lampu neon di atas kepala berdengung rendah, seolah mewakili ketegangan yang menekan dada Arka. Sudah dua minggu sejak kepergian Nadira, dan setiap detiknya dirasakan Arka seperti tusukan ribuan jarum. Namun, malam ini, sebuah harapan tipis muncul di tengah badai penyesalan yang tak kunjung reda.

Rian, sahabat sekaligus tangan kanan Arka, masuk ke ruangan dengan napas yang memburu. Wajahnya pucat, keringat dingin membasahi keningnya, dan matanya terus menyapu sekeliling, memastikan tidak ada mata-mata yang mengawasi. Rian segera mengunci pintu ruang kerja Arka dan mendekati meja besar sang CEO.

"Arka, ini dia," bisik Rian, tangannya gemetar saat mengeluarkan sebuah flashdisk perak kecil dari saku jasnya. "Mereka mencoba menghapus seluruh jejak dari server utama sebelum aku sempat melakukan audit internal. Beruntung, sistem cadangan di data center bawah tanah masih menyimpan fragmen data yang belum sempat mereka timpa."

Arka meraih flashdisk itu dengan tangan yang tak kalah gemetar. Ia segera mencolokkannya ke laptop pribadinya. Layar menyala, menampilkan interface rekaman kamera pengawas (CCTV) ruang arsip perusahaan yang bertanggal di malam nahas itu—malam di mana tuduhan pencurian dokumen triliunan rupiah dilayangkan kepada Nadira.

Video itu berputar. Arka menyaksikan Nadira masuk ke ruang arsip dengan langkah tenang, mencari berkas untuk laporan kerja, lalu keluar sepuluh menit kemudian tanpa membawa apa pun selain buku catatan kecil miliknya. Arka menghela napas, matanya tertuju pada waktu yang tertera di sudut layar.

Tepat lima menit setelah Nadira meninggalkan ruangan dan mengunci pintu, sosok lain muncul di ambang pintu. Jantung Arka seakan berhenti berdetak saat melihat sosok itu dengan santai mengeluarkan kunci akses cadangan. Itu adalah Selena.

Selena tidak tampak seperti orang yang melakukan pencurian. Ia bergerak dengan keanggunan yang licik. Ia membuka brankas utama menggunakan kode yang hanya diketahui oleh jajaran direksi, memasukkan tumpukan dokumen ke dalam tas kerjanya, lalu dengan sengaja menjatuhkan sebuah berkas kecil di atas meja—sebuah berkas yang berisi data pribadi milik Nadira untuk memancing kecurigaan.

"Bajingan," desis Arka. Suaranya rendah, sarat dengan kemarahan yang tertahan di kerongkongan.

Seluruh dinding ego yang selama ini Arka bangun—dinding yang ia gunakan untuk membenarkan perlakuannya yang dingin terhadap Nadira—runtuh seketika. Ia teringat kembali wajah Nadira yang pucat saat ia menuduhnya, teringat bagaimana istrinya itu menolak membela diri bukan karena bersalah, melainkan karena ia tahu suaminya tidak akan percaya pada kata-katanya.

"Aku buta, Rian," ujar Arka, menoleh pada sahabatnya dengan mata yang berkaca-kaca. "Selama ini aku membiarkan wanita itu menderita di bawah fitnah yang keji, sementara aku... aku justru memeluk ular yang merusak hidupku."

Rian mengangguk kaku. "Kita harus segera membawa ini ke pihak berwajib, Arka. Bukti ini sudah cukup kuat untuk menjebloskan Selena ke penjara dan membersihkan nama Nadira sepenuhnya. Skandal ini akan selesai malam ini juga."

Arka mengepalkan tangannya. "Segera siapkan mobil. Kita pergi ke kantor polisi pusat sekarang. Aku tidak ingin menunggu sampai besok pagi."

Namun, di tengah urgensi tersebut, sebuah firasat buruk menyerang pikiran Arian. Ia menatap Arka dengan serius. "Arka, jika Selena tahu kita memiliki bukti ini, dia pasti akan melakukan apa pun untuk menghentikan kita. Dia memiliki koneksi yang luas di luar sana."

"Biarkan saja," tantang Arka dengan nada dingin. "Siapa pun yang mencoba menghalangi jalan ini akan merasakan akibatnya."

Keduanya bergegas meninggalkan ruangan. Suasana kantor pusat yang sudah larut malam terasa lengang dan sunyi. Langkah kaki mereka menggema di koridor marmer yang panjang. Arka merasa seolah beban yang menghimpit pundaknya selama berbulan-bulan mulai terangkat, namun ketegangan di udara justru semakin pekat.

Saat mereka tiba di basement parkir, Rian segera menuju mobilnya sendiri sementara Arka masuk ke mobilnya. "Kita bertemu di depan kantor polisi utama, Arka! Jangan berhenti di mana pun!" seru Rian melalui jendela mobilnya yang terbuka.

Arka mengangguk tegas dan segera menyalakan mesin. Namun, sebelum mobilnya melaju keluar, sebuah truk besar dengan lampu dim yang silau tiba-tiba muncul dari persimpangan tikungan basement dengan kecepatan yang tidak wajar. Truk itu melaju seperti peluru, mengabaikan rambu berhenti.

BRAK!

Suara dentuman logam yang beradu terdengar memekakkan telinga. Mobil Rian dihantam tepat di bagian samping oleh truk tersebut, membuat kendaraan itu terpelanting dan menghantam pilar beton hingga remuk tak berbentuk.

Arka yang menyaksikan kejadian itu dari jarak sepuluh meter merasa dunianya hancur. "RIAN!" teriaknya, memacu mobilnya mendekat dengan kepanikan yang luar biasa.

Ia keluar dari mobil, berlari menuju rongsokan mobil Rian yang berasap tebal. Namun, sebelum ia sempat mencapai mobil sahabatnya, truk tersebut melakukan manuver berputar dan melarikan diri dengan kecepatan tinggi ke arah pintu keluar. Arka tidak bisa mengejarnya—prioritas utamanya adalah Rian.

Saat Arka sampai di pintu mobil yang ringsek, ia menemukan Rian dalam kondisi yang mengenaskan. Darah segar mengalir dari pelipisnya, napasnya tersengal-sengal di tengah sisa-sisa kesadaran.

"Rian! Bertahanlah! Aku akan memanggil ambulans!" Arka meraih ponselnya dengan tangan yang gemetar hebat, namun Rian justru mencengkeram lengan jas Arka dengan sisa kekuatannya.

"Arka... jangan... jangan kejar dia..." bisik Rian dengan suara parau. Ia merogoh saku dalamnya dengan sisa tenaga, mengeluarkan flashdisk cadangan kedua yang ternyata ia simpan. "Mereka... mereka sudah tahu. Hati-hati, Arka... ada pengkhianat di lingkaran dalam kita sendiri..."

"Siapa? Siapa yang melakukan ini, Rian?" tanya Arka, air mata mulai mengalir di wajahnya.

Namun, sebelum Rian sempat menjawab, matanya memejam. Petugas keamanan mulai berdatangan ke area parkir. Arka merasa seperti sedang dijebak dalam sebuah skenario yang jauh lebih besar dan lebih kelam daripada sekadar pencurian dokumen.

Kejadian itu membuat Arka terpuruk di rumah sakit. Berjam-jam ia menunggu di depan ruang operasi, pikirannya berkecamuk. Kecelakaan itu terlalu kebetulan. Terlalu sempurna. Itu adalah percobaan pembungkaman yang dirancang dengan presisi militer. Seseorang tidak ingin rekaman itu sampai ke tangan polisi.

Selena. Wanita itu memang licik, namun apakah ia memiliki kekuasaan sebesar itu untuk menggerakkan truk pembunuh di dalam gedung Mahendra Group? Atau ada sosok lain di balik layar?

Arka menatap pantulan dirinya di kaca jendela ruang tunggu rumah sakit. Wajahnya terlihat jauh lebih tua dari usianya. Ia menyadari satu hal: selama ini, ia terlalu sombong untuk melihat ke bawah, ke arah orang-orang yang diam-diam menyayanginya. Nadira, dan kini Rian, telah menjadi korban dari keangkuhannya.

Ia mengeluarkan flashdisk yang diselamatkan Rian dari sakunya. Benda kecil itu kini terasa seperti bom waktu. Arka tahu, jika ia menyerahkan bukti ini ke kantor polisi sekarang, nyawanya mungkin akan menjadi target berikutnya. Namun, ia tidak punya pilihan. Jika ia mundur, maka penderitaan Nadira akan menjadi abadi, dan pengorbanan Rian akan menjadi sia-sia.

Ponsel Arka berdering. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal.

‘Jangan bermain api, Arka. Jika kau masih ingin hidup dan melihat istrimu kembali, bakar rekaman itu. Atau kau akan menyusul sahabatmu ke dalam liang kubur.’

Arka mematikan ponselnya dengan kasar. Rasa takut yang biasanya membelenggu orang lain justru membakar kemarahan yang lebih dahsyat di dalam dirinya. Ia tidak akan tunduk. Ia tidak akan membiarkan musuhnya menang.

Arka menghubungi pengacara pribadinya—seorang pria tua yang sudah ia percayai sejak ayahnya masih memimpin perusahaan. "Kumpulkan tim hukum rahasia kita. Aku punya bukti kuat, tapi aku berada dalam bahaya. Siapkan pengamanan tingkat tinggi. Kita akan menyerahkan bukti ini besok pagi melalui jalur yang tidak bisa disentuh oleh siapa pun."

Pagi hari itu tiba dengan langit yang kelabu. Arka keluar dari rumah sakit dengan tatapan mata yang tajam. Ia tidak lagi peduli dengan reputasi atau tahta. Ia hanya peduli pada satu hal: memulihkan martabat Nadira dan mengungkap kebenaran yang busuk ini.

Sepanjang perjalanan menuju lokasi pertemuan rahasia dengan pihak berwajib, Arka terus diawasi. Mobil hitam misterius mengikuti langkahnya dari jarak jauh. Namun, Arka tidak gentar. Ia telah menyiapkan jebakan balik. Jika mereka ingin bermain kotor, ia akan memastikan mereka semua habis.

Namun, di tengah perjalanan, pikirannya kembali tertuju pada Nadira. Jika kebenaran terungkap nanti, apakah Nadira akan memaafkannya? Apakah wanita itu masih ingin melihat wajahnya setelah segala rasa sakit yang ia berikan?

Arka menarik napas panjang, menatap jalanan yang membentang. Kebenaran kini telah di depan mata. Rekaman CCTV itu adalah kunci yang akan meruntuhkan semua dinding yang memisahkan mereka. Dan Arka bersumpah, setelah semua ini usai, ia akan mencari Nadira, berlutut di kakinya, dan memohon ampun dengan cara yang paling tulus, tidak peduli berapa lama waktu yang dibutuhkan.

Mobilnya melaju kencang, meninggalkan gedung-gedung tinggi, menuju sebuah lokasi di mana kebenaran akan diletakkan di atas meja. Arka tahu, setelah ini, hidupnya tidak akan pernah sama lagi. Ia akan kehilangan banyak hal—mungkin kekuasaan, mungkin ketenangan—tapi ia akan mendapatkan kembali hal yang paling berharga: kebenaran atas cinta dan kehormatan yang selama ini ia injak-injak.

"Tunggu aku, Nadira," bisiknya dengan suara yang bulat dan penuh tekad. "Aku akan membersihkan namamu, bahkan jika itu berarti aku harus menghancurkan seluruh duniaku sendiri."

Dengan flashdisk di saku jasnya, Arka melangkah maju. Ia bukan lagi CEO yang angkuh. Ia adalah seorang pria yang sedang berjuang demi masa depannya, demi cinta yang kini ia sadari adalah segalanya baginya. Musuh mungkin sedang mengintai, ancaman mungkin sedang menunggu, tapi Arka tidak lagi takut. Karena di balik semua kegelapan ini, ia tahu bahwa cahaya Nadira akan segera bersinar kembali, dan ia akan memastikan tidak ada lagi noda yang menyentuh wanita itu.

Ia terus melaju, menembus kabut kecurigaan, menuju satu-satunya tujuan yang kini masuk akal dalam hidupnya. Kebenaran, bagi Arka, bukan lagi soal bisnis. Itu adalah soal jiwa. Dan ia sudah siap untuk menyerahkan jiwanya demi mengembalikan kebahagiaan Nadira. Pencarian yang terlambat ini akhirnya sampai pada titik krusial. Dan Arka sudah siap dengan konsekuensi apa pun yang menghadang di depan sana.

Ia akan menang. Tidak demi dirinya sendiri, tapi demi Nadira. Karena setelah segala luka yang telah ia torehkan, inilah satu-satunya hal benar yang bisa ia lakukan sebelum ia mencoba mencari Nadira kembali. Dan Arka, dengan segenap keberanian yang ia miliki, tidak akan membiarkan siapa pun menghentikannya kali ini. Kebenaran akan terungkap, dan setelah itu, barulah Arka merasa pantas untuk melangkah menuju tempat di mana Nadira berada, membawa permintaan maaf yang sudah ia susun dalam setiap tetes keringat dan air matanya.

Mobilnya berhenti tepat di depan gedung kepolisian. Arka keluar, menatap gedung itu sejenak, lalu melangkah masuk. Ia tahu, di balik pintu itu, masa lalunya yang kelam akan dihakimi, dan masa depannya akan dimulai. Tanpa rasa ragu, tanpa rasa takut, Arka Mahendra melangkah masuk, siap untuk menghadapi badai apa pun yang akan terjadi selanjutnya. Karena baginya, tidak ada jalan kembali. Hanya ada satu jalan: jalan menuju kebenaran. Dan ia akan berjalan di sana, sampai ia sampai di tempat di mana Nadira menunggunya—entah di dunia ini, atau di mana pun ia berada.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!