Keira Wulandari — gadis adopsi dari perumahan subsidi, dianggap bodoh, jelek, dan tidak berguna.
Tapi tidak ada yang tahu... di kehidupan sebelumnya, dia adalah Blood Shadow — pembunuh nomor satu dunia, hacker terhebat, dan dokter legendaris.
Sekarang dia terlahir kembali. Dengan semua kemampuan dari kehidupan sebelumnya, dia kembali untuk melindungi adiknya, membalaskan dendam, dan membuat semua orang yang pernah meremehkannya berlutut.
Dan CEO konglomerat terkaya di Indonesia — Tan Hansel — yang dingin kepada semua orang kecuali dia?
"Dia istriku. Ada masalah?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19
Bab 019: Jebakan Matematika
Rabu pagi, Bayu membawa tiga lembar soal baru ke sekolah.
Tangannya masih sedikit dingin, tetapi matanya berbeda. Semalam, Keira menyusun soal yang bentuknya mirip dengan catatan lama, lalu mengubah bagian kunci. Siapa pun yang hanya menghafal cara dari buku curian akan jatuh di langkah kedua.
"Kalau aku salah?" tanya Bayu sebelum masuk kelas.
"Salah lalu perbaiki."
"Kalau Laras benar?"
"Berarti dia belajar sungguhan. Itu juga bagus."
Bayu menatapnya. "Mbak percaya itu mungkin?"
"Tidak."
Bayu hampir tertawa.
Pelajaran matematika dimulai dengan pengumuman mendadak dari guru pengganti. Ada kuis singkat untuk persiapan UTBK. Lima soal, empat puluh menit. Bu Ratna berdiri di belakang kelas sambil mengamati.
Kertas soal dibagikan dari depan ke belakang. Saat lembar itu sampai ke tangan Laras, matanya langsung bergerak cepat mencari pola yang ia kenal. Saat lembar itu sampai ke Bayu, ia menutup mata satu detik, mengingat suara Keira semalam.
Pahami kenapa belok.
Ia membuka mata dan mulai menulis.
Laras tersenyum begitu melihat bentuk soal pertama.
Ia mengenal polanya.
Tangannya bergerak cepat, menulis cara yang ia salin dari buku Bayu. Pada soal kedua, senyumnya masih ada. Pada soal ketiga, tangannya mulai berhenti. Ada satu variabel yang berbeda. Satu perubahan kecil yang membuat rumus hafalannya tidak lagi berjalan.
Laras mencoba memaksa rumus itu tetap masuk. Angka-angka menjadi aneh. Hasil akhir tidak bulat. Ia menghapus, menulis ulang, lalu melirik Keira.
Keira sudah selesai.
Lebih buruk lagi, Bayu masih menulis dengan tenang.
Keringat dingin muncul di punggung Laras.
Di bangku lain, Bayu menunduk, menarik napas, lalu memakai cara baru yang Keira ajarkan.
Keira sendiri menyelesaikan semua soal dalam kurang dari sepuluh menit. Setelah itu ia menutup pulpen dan menatap jendela.
Ketika hasil diumumkan, kelas menjadi ramai.
"Keira, seratus."
Tidak ada yang terlalu terkejut lagi, tetapi tetap ada bisik-bisik.
"Bayu, sembilan puluh lima."
Bayu membeku. Ia melihat kertasnya seperti takut angka itu berubah. Lalu matanya memerah.
Bu Ratna tampak kaget. "Bagus, Bayu. Ada peningkatan besar."
Keira tidak bertepuk tangan. Ia hanya mengetuk meja sekali dengan ujung jari.
Bayu mendengar itu.
Untuknya, itu lebih dari cukup.
"Laras..." Guru pengganti berhenti sebentar. "Tiga puluh lima."
Kelas hening.
Angka itu jatuh lebih keras daripada bentakan.
Laras yang kemarin disebut calon anak UI kini duduk dengan kertas bernilai tiga puluh lima di meja. Beberapa siswa tidak mengejek terang-terangan, tetapi mata mereka cukup jahat.
Laras menatap kertasnya. Wajahnya memucat sampai lip gloss tipisnya terlihat terlalu merah.
"Pak, mungkin ada yang salah koreksi."
"Boleh cek. Tapi banyak langkahmu berhenti di tengah. Soal ketiga sampai kelima salah konsep."
Beberapa teman yang kemarin memuji Laras mulai saling melirik.
Di kantin, rumor bergerak lebih cepat daripada antrean bakso.
"Katanya Laras cuma hafal rumus."
"Bayu dapat sembilan puluh lima, loh."
"Keira seratus lagi. Keluarga itu sebenarnya gimana sih?"
Laras mengunci diri di toilet selama sepuluh menit. Saat keluar, matanya merah. Ia mengirim pesan suara ke Bu Sri.
"Mama, nilainya jelek. Soalnya beda. Aku nggak tahu kenapa."
Balasan Bu Sri cepat.
Jangan panik. Mama urus.
Laras menggigit bibir. Ia tidak tahu bahwa Bayu berdiri di ujung lorong, mendengar cukup banyak untuk memahami satu hal: ibunya tidak akan mencari kebenaran. Ia akan mencari cara menutupinya.
Keira muncul di samping Bayu.
"Mbak, aku mau ambil bukuku sekarang."
"Belum."
"Kenapa?"
"Karena dia belum merasa cukup terdesak."
Bayu menatap koridor kosong. Kali ini, ia tidak membantah. Ia mulai mengerti cara Keira bekerja. Tidak cepat, tetapi tepat.
"Aku dapat sembilan puluh lima," katanya pelan, seolah baru berani percaya.
"Aku dengar."
"Itu nilai tertinggiku."
"Belum tentu yang terakhir."
Bayu menunduk, tetapi senyumnya tidak bisa disembunyikan.
Sepulang sekolah, ponsel Keira bergetar di dekat gerbang.
Sebelum pesan itu masuk, Bu Sri sempat menelepon Laras tiga kali. Laras menjawab sambil menangis kecil di balik pohon dekat parkiran.
"Mama, teman-teman lihat nilaiku."
"Jangan nangis di sekolah," suara Bu Sri terdengar tajam dari speaker. "Besok Mama bicara dengan Bu Ratna. Soal itu pasti tidak sesuai materi."
"Tapi Bayu bisa."
Hening sebentar.
"Bayu cuma kebetulan."
Keira yang lewat tidak berhenti. Ia mendengar cukup. Bayu juga mendengar dari sisi lain gerbang, dan untuk pertama kalinya, wajah anak itu tidak runtuh saat kemampuannya disebut kebetulan.
Ia hanya menatap Keira.
"Aku akan belajar soal berikutnya," katanya.
"Bagus."
"Dan aku mau bukuku kembali."
"Nanti."
Kata itu masih menyebalkan, tetapi kali ini Bayu mengerti bahwa nanti bukan berarti menyerah. Nanti berarti Keira sedang memilih panggung yang lebih ramai.
Di kelas, efek nilai kuis belum selesai. Seorang siswa yang biasanya mengejek Bayu mendekat dengan canggung.
"Yu, cara soal nomor empat gimana?"
Bayu menatapnya, bingung.
Anak itu menggaruk kepala. "Kalau nggak mau ngajarin juga nggak apa-apa."
Bayu melihat Keira dari jauh. Keira tidak memberi isyarat apa pun. Keputusan itu dibiarkan padanya.
Bayu menarik napas. "Aku jelasin sekali. Kalau kamu manggil aku si pincang lagi, selesai."
Anak itu langsung mengangguk. "Iya. Maaf soal yang dulu."
Permintaan maaf itu kecil, terlambat, dan tidak menghapus apa pun. Tetapi bagi Bayu, suara itu seperti batu pertama yang bergeser dari dadanya.
Laras melihat dari ujung koridor. Wajahnya makin buruk. Ia kehilangan nilai, kehilangan tepuk tangan, dan sekarang bahkan Bayu mulai dilihat orang.
Keira menyaksikan semua itu tanpa ikut campur. Ini bukan sekadar menjatuhkan Laras. Ini membangun tulang punggung Bayu sedikit demi sedikit. Jika kelak ia harus berdiri tanpa Keira di sampingnya, anak itu perlu tahu bahwa suaranya sendiri bisa cukup keras.
Bel tanda pulang berbunyi. Siswa-siswa keluar dengan keributan biasa, tetapi beberapa mata kini mengikuti Bayu, bukan untuk mengejek, melainkan meminta jawaban.
Keseimbangan kecil di SMAN 7 mulai bergeser.
Dan pergeseran kecil sering menjadi awal jatuhnya kebohongan besar.
Keira tahu waktunya akan datang lebih cepat dari dugaan Laras.
Nomor tidak dikenal. Jalur terenkripsi lama.
Dr. Seely, pasien #0047 mengalami penurunan tekanan mendadak. Mohon arahan.
Mata Keira berubah.
Perubahan itu halus, tetapi Bayu melihatnya. Kakaknya seperti menutup satu pintu dan membuka pintu lain di dalam dirinya. Suasana sekolah, suara siswa, rasa manis kemenangan kecil mereka, semuanya seperti mundur.
Ia berhenti di bawah pohon ketapang, membuka pesan, dan membaca data singkat yang dikirim. Tekanan darah. Saturasi. Riwayat operasi. Obat yang diberikan.
Bayu melihat wajahnya dan tidak berani bertanya.
Keira mengetik balasan.
Kirim data lab-nya. Sekarang.