Di usia lima puluh, Maya diceraikan karena dianggap mandul dan dijual oleh anaknya sendiri demi ambisi. Saat hidupnya hancur, ia justru mengetahui dirinya hamil dan dinikahi Raka Wijaya, CEO dingin dari keluarga terpandang. Namun pernikahan itu menyeret Maya ke pusaran warisan, rahasia kelahiran, mantan suami yang kembali, anak yang penuh penyesalan, dan wanita licik yang ingin merebut segalanya. Ketika ingatan, cinta, dan nyawanya dipertaruhkan, Maya harus memilih: tetap menjadi korban, atau merebut kembali hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lumisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 12
Bab 12
Keesokan paginya, Maya menemukan sebuah pesan dari Yudha.
Nomornya ia dapat dari grup alumni. Pesan itu masuk pukul enam lewat sepuluh, saat Maya baru selesai minum air hangat.
`Maya, maaf soal tadi malam. Aku sungguh tidak tahu Ratna akan memutar video itu. Kalau kamu berkenan, aku ingin bicara sebentar. Banyak hal yang seharusnya kukatakan sejak dulu.`
Maya membaca pesan itu sambil berdiri di dekat meja makan.
Ia belum sempat membalas ketika Raka muncul dari kamar kerja.
Pria itu sudah rapi, rambutnya sedikit basah setelah mandi. Matanya langsung turun ke ponsel Maya.
“Siapa?”
Maya refleks mengunci layar.
Gerakan itu salah.
Sangat salah.
Alis Raka naik sedikit.
“Rahasia?”
“Bukan.”
“Kalau bukan, kenapa disembunyikan?”
Maya ingin mengatakan karena ia panik. Karena selama puluhan tahun ia terbiasa menjelaskan apa pun dengan perasaan bersalah. Karena tatapan Raka membuatnya merasa seperti anak sekolah ketahuan membawa surat cinta.
Tapi yang keluar hanya, “Dari Yudha.”
Raka diam.
Udara pagi yang tadinya tenang langsung berubah padat.
Wati yang baru keluar dari dapur membawa teh jahe berbalik masuk lagi tanpa suara.
Maya meletakkan ponsel di meja. “Dia hanya minta maaf soal semalam.”
“Hanya?”
Maya membuka layar dan menyerahkannya.
Raka tidak langsung mengambil. Ia menatap Maya lebih dulu.
“Aku tidak memeriksa ponsel istriku.”
“Tapi wajah Mas Raka seperti ingin menghukum ponsel saya.”
Raka mengambil cangkir air putih, meneguknya.
“Balas bahwa kamu tidak perlu bertemu.”
“Mas Raka.”
“Apa?”
“Saya bisa memutuskan sendiri.”
Raka meletakkan cangkir. “Kalau keputusanmu bertemu laki-laki yang jelas masih menyukaimu, aku berhak tidak setuju.”
“Dia tidak bilang begitu.”
“Laki-laki tidak perlu menulis `aku masih menyukaimu` untuk menunjukkan itu.”
Maya menatapnya dengan campuran kesal dan bingung.
“Mas Raka cemburu?”
Pertanyaan itu membuat ruangan membeku.
Raka tidak menjawab.
Diamnya justru terdengar lebih keras.
Maya langsung menyesal. “Maaf. Saya tidak bermaksud—”
“Ya.”
Ia berhenti.
“Apa?”
Raka menatapnya lurus. “Aku cemburu.”
Wajah Maya panas sampai telinga.
Ia kira Raka akan mengelak, marah, atau mengatakan itu hanya soal tanggung jawab sebagai suami. Tapi pria itu mengakuinya seperti mengakui jadwal rapat.
“Kenapa?” tanya Maya bodoh.
Raka memandangnya seolah pertanyaan itu tidak perlu.
“Karena kamu istriku.”
“Tapi kita menikah karena—”
“Jangan selesaikan kalimat itu.”
Nada Raka turun.
Maya menutup mulut.
Raka berjalan mendekat. Jarak mereka tinggal satu langkah.
“Aku tahu bagaimana pernikahan ini dimulai. Kamu tidak perlu mengingatkanku setiap kali aku memperlakukanmu seperti istri.”
Dada Maya terasa sesak.
“Saya hanya takut salah paham.”
“Salah paham apa?”
“Takut saya mengira perhatian Mas Raka sebagai perasaan.”
Raka menatapnya lama.
“Kalau suatu hari itu memang perasaan?”
Maya tidak bisa bernapas.
Ponsel Raka berbunyi sebelum ia bisa menjawab.
Bima menelepon. Raka mengangkat, wajahnya kembali dingin dalam satu detik.
“Ada apa?”
Maya tidak mendengar suara Bima, tapi ekspresi Raka berubah.
“Aku ke bawah.”
Ia memutus telepon.
“Tetap di sini.”
“Ada apa?”
“Sabrina datang.”
Maya membeku.
Nama itu seperti tangan tak terlihat yang menekan dadanya.
“Ke sini?”
“Ke lobi. Dia tidak akan naik.”
Raka berjalan cepat keluar.
Maya berdiri diam beberapa detik. Lalu ia bergerak ke jendela, meski dari lantai setinggi itu ia tidak bisa melihat lobi.
Wati keluar pelan.
“Bu, duduk dulu.”
“Mbak Wati tahu Sabrina?”
Wati ragu. “Saya hanya pernah dengar. Katanya teman lama Pak Raka. Keluarganya besar.”
“Cantik?”
Wati tampak tersiksa. “Bu…”
Maya tersenyum pahit. “Berarti cantik.”
Di lobi apartemen, Sabrina berdiri dengan koper kecil dan kacamata hitam. Ia mengenakan blazer putih, rambutnya jatuh rapi, wajahnya cantik dengan cara yang membuat orang langsung tahu ia lahir di tempat mahal.
Ketika Raka keluar dari lift, Sabrina melepas kacamatanya.
“Akhirnya.”
Raka berhenti dua meter darinya. “Kenapa datang tanpa janji?”
Sabrina tertawa pendek. “Aku baru mendarat dari Singapura dan kabar pertama yang kudengar adalah kamu menikah. Menurutmu aku harus membuat janji dulu untuk bertanya?”
“Ya.”
Senyum Sabrina mengeras.
“Kamu tetap dingin.”
“Langsung ke tujuanmu.”
Sabrina melihat petugas keamanan dan Bima yang berdiri tidak jauh.
“Di sini?”
“Ya.”
“Kamu tidak akan mengajakku naik?”
“Tidak.”
Wajah Sabrina berubah.
“Karena istrimu ada di atas?”
Raka diam.
Sabrina tertawa kecil, kali ini lebih tajam. “Aku benar-benar penasaran. Perempuan seperti apa yang bisa membuat Raka Wijaya menikah dalam satu malam? Kata orang dia janda tua.”
“Jaga ucapanmu.”
Sabrina terdiam sesaat.
Ia mengenal Raka bertahun-tahun. Ia tahu nada itu berarti batas.
Tapi justru batas itu melukai harga dirinya.
“Kamu marah karena aku menyebut fakta?”
“Aku marah karena kamu menghina istriku.”
Kata itu seperti tamparan.
Mata Sabrina memerah, tapi ia tertawa.
“Istrimu. Cepat sekali kamu membiasakan lidahmu.”
“Lebih cepat daripada kamu memahami posisimu.”
Sabrina melangkah mendekat.
“Posisiku? Raka, keluarga kita sudah bertahun-tahun—”
“Tidak pernah ada pertunangan.”
“Tapi semua orang tahu!”
“Semua orang boleh mengira apa pun. Aku tidak pernah setuju.”
Sabrina menggigit bibir.
“Apa dia hamil?”
Raka menatapnya dingin.
“Itu bukan urusanmu.”
“Berarti benar.” Sabrina mengangguk pelan. “Sekarang aku mengerti. Dia menjebakmu.”
Bima menahan napas.
Raka melangkah maju.
Untuk pertama kalinya, Sabrina mundur.
“Kalau kamu mengulang kalimat itu di depan Maya, aku tidak peduli kamu putri siapa.”
Sabrina menatapnya tidak percaya.
“Kamu mengancamku karena perempuan itu?”
“Aku memperingatkanmu karena kamu lupa diri.”
Beberapa penghuni lobi mulai melirik.
Sabrina sadar ia tidak boleh terlihat kalah di tempat umum. Ia menarik napas, mengembalikan senyum anggun.
“Baik. Aku tidak akan membuat keributan hari ini. Tapi ayahku mengadakan makan malam penyambutan Jumat depan. Kamu harus datang. Dengan istrimu, kalau kamu memang tidak malu.”
“Kami akan mempertimbangkan.”
“Tidak.” Sabrina memakai kacamatanya lagi. “Kamu akan datang. Banyak partner bisnis akan hadir. Kalau kamu tidak datang, orang akan mengira pernikahanmu memang sesuatu yang perlu disembunyikan.”
Ia berbalik pergi.
Raka menatap punggungnya dengan wajah gelap.
Di atas, Maya menerima pesan baru.
Dari nomor tak dikenal.
`Bu Maya, saya Sabrina. Kita belum kenal, tapi sepertinya kita mencintai pria yang sama. Saya harap Ibu cukup dewasa untuk tidak salah memahami tanggung jawab sebagai cinta.`
Maya membaca pesan itu sampai napasnya terasa berat.
Wati yang melihat wajahnya berubah langsung panik.
“Bu?”
Maya mengunci layar.
“Tidak apa-apa.”
Tapi tangannya dingin.
Ketika Raka kembali ke apartemen, Maya sudah duduk di meja makan, berusaha menghabiskan teh jahe.
“Dia sudah pergi,” kata Raka.
Maya mengangguk.
“Dia mengirim pesan padamu?”
Sendok Maya berhenti.
Raka melihat jawabannya dari gerakan kecil itu.
“Tunjukkan.”
“Tidak perlu.”
“Maya.”
Ia menatap Raka.
“Saya ingin menangani satu hal sendiri.”
Raka diam.
Maya melanjutkan, suaranya pelan tapi stabil, “Kalau setiap orang yang merendahkan saya langsung Mas Raka hadapi, saya tidak akan pernah belajar berdiri. Saya tahu Mas ingin melindungi. Tapi saya juga tidak mau menjadi alasan orang berkata saya hanya bisa bersembunyi.”
Raka menatapnya lama.
“Apa yang ingin kamu lakukan?”
Maya membuka pesan Sabrina, membalas singkat.
`Mbak Sabrina, terima kasih sudah mengingatkan. Saya memang dewasa. Karena itu saya tidak akan membahas suami saya lewat pesan dengan perempuan yang datang tanpa memperkenalkan diri baik-baik. Kalau ingin bicara, silakan di depan Mas Raka.`
Ia menekan kirim.
Raka membaca dari samping.
Untuk beberapa detik, wajahnya tidak berubah.
Lalu ia berkata, “Bagus.”
Maya menghela napas lega.
“Tapi lain kali,” lanjut Raka, “jangan panggil dia Mbak. Dia akan merasa dihormati.”
Maya menatapnya, lalu tertawa.
Tawa itu kecil, tapi nyata.
Raka memandangnya seolah baru pertama kali mendengar suara itu.
Di ponsel Maya, balasan Sabrina masuk hampir seketika.
`Baik. Sampai jumpa Jumat malam, Bu Maya. Semoga Ibu siap masuk ke dunia Raka.`
Maya menatap pesan itu.
Jumat malam.
Dunia Raka.
Ia menyentuh perutnya pelan.
Untuk pertama kali, ia tidak ingin mundur.
Ia hanya takut, ketika masuk ke dunia itu, ia akan melihat dengan jelas seberapa jauh jarak dirinya dari perempuan seperti Sabrina.
jangan lama² UP nya,penasaran dengan cerita nya👍👍👍