NovelToon NovelToon
Nana Si Pelindung Tuan Terbuang

Nana Si Pelindung Tuan Terbuang

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Iris Kartika

Nana bukan siapa-siapa — seorang gadis yatim piatu yang tumbuh besar di jalanan Surabaya, mencuri untuk bertahan hidup. Sampai suatu hari, hidupnya berubah ketika dia masuk ke dunia keluarga Sie, salah satu dinasti konglomerat paling berkuasa di Indonesia.

Di sana, dia bertemu Steven Sie — putra ketiga yang dibuang keluarganya sendiri, dingin dan penuh misteri. Semua orang bilang dia pengkhianat. Semua orang ingin dia hancur.

Tapi Nana tahu yang sebenarnya.

Ketika Steven dikorbankan demi kepentingan yang lebih besar — dihancurkan di mata publik, dinyatakan bersalah atas kejahatan yang tidak pernah dia lakukan — hanya Nana yang berdiri melawannya. Sendirian. Tanpa bukti. Tanpa dukungan. Hanya dengan keyakinan bahwa cinta sejati layak diperjuangkan sampai mati.

Perjalanannya membawanya dari ruang sidang Jakarta hingga ke lorong-lorong gelap Singapura, dari pengkhianatan keluarga hingga pengorbanan yang tak terbayangkan. Di sepanjang jalan, ada Daniel Tjang — pengusaha paling berbahaya dan paling mempesona di Jakarta — yang diam-diam mempertaruhkan segalanya untuknya.

*Satu wanita. Dua pria. Dan satu pertanyaan yang mengubah segalanya:*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris Kartika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 24

Bab 24

Pak Shen membuka map Patrick Pang tanpa meminta izin Steven.

Kertas di dalamnya sudah tua, tapi tersusun rapi. Ada fotokopi laporan kecelakaan, foto jalan basah, catatan servis mobil, daftar saksi, dan beberapa lembar yang sudutnya diberi tanda merah kecil. Nana tidak menyentuh apa pun. Ia hanya melihat nama Patrick Pang di halaman pertama dan merasa seolah udara di ruang tamu menjadi lebih dingin.

Steven berdiri.

"Pak, ini bukan untuk hari ini."

Pak Shen tidak mengangkat kepala. "Duduk."

"Dia belum perlu melihat ini."

"Kau dulu juga merasa tidak perlu melihat banyak hal." Pak Shen membalik satu halaman. "Lalu kau hidup bertahun-tahun dengan bayangan yang kau buat sendiri."

Steven tidak duduk. Tangannya mengepal di sisi tubuh.

Nana menatapnya. Baru kali ini ia melihat Steven bukan sebagai orang yang memerintah, melindungi, atau menyembunyikan sesuatu. Ia terlihat seperti seseorang yang sedang ditahan di depan pintu kamar lama dan tidak diberi pilihan selain melihat ke dalam.

"Kalau Tuan Steven tidak mau, saya bisa keluar," kata Nana.

Pak Shen menatapnya. "Kau bisa keluar. Tapi kalau kau keluar hanya karena dia tidak siap, kau belajar kebiasaan buruk dari rumah besar itu."

Nana terdiam.

Steven akhirnya duduk, keras, tanpa suara kursi yang berlebihan.

Pak Shen mendorong tiga lembar ke arah Nana. "Baca bagian tanggal."

Nana membungkuk.

Laporan itu menyebut malam hujan, jalan licin dekat gudang lama Sie Group, rem gagal, mobil menabrak pembatas. Patrick meninggal di tempat. Satu saksi menyebut mobil melaju terlalu cepat. Saksi lain tidak bisa dihubungi saat laporan lanjutan dibuat. Kamera keamanan di dekat gudang mati karena gangguan listrik selama sebelas menit.

Sebelas menit.

Angka itu menahan mata Nana.

Di bawah laporan utama ada catatan servis mobil. Rem diperiksa dua hari sebelum kecelakaan dan ditandai layak jalan. Namun pada halaman berikutnya, kesimpulan menyebut rem lama tidak dirawat. Nana membalik lagi. Dua saksi menandatangani berita acara pada tanggal yang sama, tetapi satu tanda tangan miring ke kanan, seperti ditulis orang yang sedang berdiri, sementara kolom alamatnya diisi dengan tulisan petugas yang sama.

Ia menunjuk bagian itu. "Ini aneh."

Pak Shen tidak langsung memuji. "Kenapa?"

"Kalau saksi datang sendiri, kenapa alamatnya ditulis orang lain? Dan kalau rem baru diperiksa, kenapa laporan akhir menyalahkan perawatan lama tanpa menjelaskan bengkel mana yang salah?"

Steven menatap lembar itu, diamnya semakin berat.

"Apa yang kau lihat?" tanya Pak Shen.

"Terlalu banyak kebetulan."

"Kebetulan apa?"

"Hujan. Rem gagal. Kamera mati. Saksi hilang. Semua terjadi di tempat yang berhubungan dengan Sie Group."

Pak Shen mengangguk. "Lanjut."

Nana melihat lagi. "Laporan akhir terlalu cepat. Kalau ada saksi yang belum bisa dihubungi, kenapa kesimpulannya sudah selesai?"

Steven menutup mata sebentar.

Pak Shen meletakkan lembar lain. "Karena keluarga ingin selesai."

Kalimat itu membuat Nana mengangkat kepala.

"Keluarga Sie?"

"Sebagian orang di dalamnya," jawab Pak Shen. "Sebagian lagi terlalu patah untuk bertanya dengan benar."

Nana tidak perlu bertanya siapa. Stella menangis setiap kali nama Patrick mendekat. Steven berubah setelah malam itu. Elvin pergi ke Jakarta. Sebuah kematian bisa membuat rumah besar tetap berdiri, tapi membuat semua orang di dalamnya berjalan dengan tulang yang retak.

"Pak Shen percaya Patrick tidak sekadar kecelakaan?"

"Aku percaya laporan ini dibuat agar orang berhenti bertanya."

"Siapa yang paling diuntungkan?"

Pertanyaan itu keluar dari mulut Nana sebelum ia sadar. Daniel pernah mengajarkan harga. Pak Shen baru saja mengajarkan manfaat. Dua pelajaran itu bertemu di halaman yang sama.

Pak Shen menatapnya lama. "Itu pertanyaan pertama yang benar."

Steven membuka mata. "Dan belum ada jawaban yang cukup untuk menuduh siapa pun."

"Aku tidak menuduh," kata Pak Shen. "Aku mengajari dia bertanya."

"Dengan memakai Patrick?"

"Patrick sudah mati karena terlalu banyak orang memilih diam. Jangan jadikan diam sebagai cara menghormatinya."

Suara Pak Shen tetap datar, tetapi Nana merasakan pukulannya. Steven pun merasakannya. Rahangnya mengeras, matanya turun ke foto jalan basah.

"Tuan Steven ada di sana malam itu?" tanya Nana pelan.

Ruangan menjadi sunyi.

Pak Shen tidak menjawab untuknya.

Steven menatap foto itu. "Aku seharusnya ada."

Nana menunggu.

"Patrick meneleponku. Dua kali." Suaranya rendah, seperti batu diseret di lantai. "Aku tidak angkat panggilan pertama. Panggilan kedua mati sebelum kujawab."

Nana merasa cangkir teh di depannya sudah tidak hangat lagi.

"Kenapa tidak diangkat?"

"Karena aku marah padanya."

Itu bukan jawaban besar. Bukan rahasia spektakuler. Justru karena kecil dan manusiawi, kalimat itu lebih sakit. Orang bisa terlambat karena marah. Orang bisa hidup bertahun-tahun karena satu panggilan tidak diangkat.

Pak Shen berkata, "Terlambat bukan membunuh."

Steven tertawa tanpa suara. "Mudah sekali kalau ditulis begitu."

"Kebenaran memang sering lebih pendek daripada hukuman yang kau buat untuk dirimu sendiri."

Nana melihat Steven. Ia ingin bertanya apa yang dipertengkarkan Steven dan Patrick malam itu. Namun Pak Shen menutup satu lembar dengan telapak tangan, seolah memberi batas.

"Hari ini cukup sampai di sini."

"Kenapa?" tanya Nana.

"Karena membaca luka orang lain tidak boleh dilakukan seperti membaca koran. Kalau kau terburu-buru, kau akan merasa pintar, bukan paham."

Nana menunduk. "Saya mengerti."

"Belum. Tapi kau bisa mulai."

Pak Shen merapikan kembali sebagian kertas, namun tidak memasukkan map ke kotak. Ia mengambil satu halaman kosong dan menulis tiga pertanyaan dengan pulpen hitam. Tulisannya tegak dan keras.

Siapa yang hilang dari laporan?

Siapa yang paling ingin laporan selesai?

Siapa yang merasa bersalah meski belum tentu bersalah?

Ia menyerahkan halaman itu kepada Nana.

"Bawa pulang. Jangan tunjukkan pada Stella dulu."

"Kenapa?"

"Karena kesedihan bukan alat latihan."

Nana memegang kertas itu dengan hati-hati.

Steven berdiri lagi. Kali ini lebih pelan. "Kita pulang."

Pak Shen menatapnya. "Kau boleh pulang."

Steven berhenti.

"Nana tinggal?"

"Tidak lama." Pak Shen menutup map Patrick Pang. "Ada satu pertanyaan yang harus kudengar dari dia tanpa kau berdiri di sampingnya."

Nana menatap Steven. Steven jelas tidak suka, tapi ia juga tidak berani membantah Pak Shen dengan cara yang biasa ia pakai pada orang lain.

"Aku tunggu di mobil," katanya akhirnya.

Saat pintu tertutup di belakang Steven, ruang tamu terasa berubah. Lebih kecil. Lebih jujur.

Pak Shen menuang teh baru untuk Nana.

"Sekarang," katanya, "ceritakan padaku tentang Steven tanpa memakai kata dingin, menyebalkan, atau melindungi."

Nana memegang cangkir itu, dan untuk pertama kalinya hari itu, ia tidak tahu jawaban mana yang lebih berbahaya: yang benar, atau yang ingin ia sembunyikan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!