Bunga Lestari bukan siapa-siapa.
Yatim piatu dari desa kecil di Jawa Timur, dia datang ke Jakarta dengan satu tujuan: membalas dendam kepada orang yang menghancurkan keluarganya. Tanpa uang, tanpa koneksi, tanpa pendidikan — yang dia punya hanya tinju dan tekad.
Tapi malam itu, di sebuah gala dinner yang dia coba susup, seorang pria asing menabraknya. Dan tiba-tiba, suara pria itu ada di dalam kepalanya.
Rangga Wicaksana — pewaris keluarga konglomerat, jenius hukum, tampan dingin — jiwanya terjebak di tubuh Bunga. Dia bisa merasakan apa yang Bunga rasakan. Mendengar apa yang Bunga pikirkan. Dan yang paling parah: dia tidak bisa keluar.
"Bantu aku menjatuhkan musuhku," kata Rangga.
"Bantu aku naik ke puncak," kata Bunga.
Perjanjian dimulai. Tapi bagaimana caranya menjaga rahasia, ketika dia bisa merasakan detak jantungmu setiap kali kamu berbohong?
🔥 Ikatan jiwa. Dendam. Cinta yang tak seharusnya. Dan satu gadis kampung yang bertekad meraih bintang — dengan caranya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah Pramana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24
Bab 024
Satu Meja dengan Hartono
Undangan keluarga Prawira di ponsel Bunga terasa seperti pintu menuju ruang yang selama ini ia datangi hanya dalam mimpi buruk.
Saat pintu itu benar-benar terbuka, bentuknya adalah gerbang tinggi rumah Prawira, lampu taman yang terlalu indah, dan pelayan yang menyambutnya dengan senyum terlatih.
Bunga turun dari mobil Melati dengan clutch kecil di tangan. Di dalamnya ada ponsel, lipstik pinjaman, beberapa kartu nama, dan wayang kulit miniatur dari Nenek Ratna. Benda kecil itu menekan telapak tangannya melalui kain clutch, seperti jari tua yang mengingatkan agar ia tidak membungkuk.
"Napas," kata Rangga.
"Aku masih bernapas."
"Terlalu pendek."
Bunga menarik napas lebih dalam. Udara malam membawa aroma melati asli dari taman, parfum mahal dari tamu yang lewat, dan sesuatu yang membuat perutnya mengencang bahkan sebelum ia melihat Hartono: antisipasi.
Melati menyentuh sikunya. "Kalau kamu mau pulang kapan saja, bilang."
"Aku belum masuk."
"Pintu keluar tetap perlu diketahui sebelum masuk."
Bunga menatap Melati. "Kamu belajar dari aku atau dari film?"
"Dari kamu."
Mereka masuk bersama.
Ruang makan keluarga Prawira malam itu bukan ruang makan biasa. Meja panjang sudah disiapkan dengan piring putih, gelas tinggi, bunga rendah di tengah meja, dan kartu nama kecil di setiap kursi. Keluarga yang hadir tersenyum dalam kelompok-kelompok kecil. Beberapa orang menoleh pada Bunga, mengenali gadis yang pernah membuat Baskara tertawa pelan, gadis yang ditumpahi anggur, gadis yang asal-usulnya masih menjadi hiburan diam-diam.
Ratih sudah ada di dekat jendela, bergaun hijau tua. Senyumnya muncul begitu melihat Bunga.
"Kamu datang juga," katanya.
"Saya diundang," jawab Bunga.
"Tentu. Sekarang kamu sering diundang."
Melati langsung menyela, "Karena dia tamuku."
Ratih tertawa kecil. "Aku tidak bilang bukan."
Bunga tidak membalas. Tenaganya disimpan untuk satu nama.
Baskara muncul dari sisi ruang makan. Ia memakai kemeja gelap tanpa dasi, lebih santai daripada biasanya, tetapi wajahnya justru lebih tertutup. Matanya berhenti pada Bunga.
"Kamu datang," katanya.
"Saya bilang datang."
"Tidak semua orang yang bilang datang benar-benar datang."
"Saya orang miskin. Kalau sudah janji datang ke makan malam gratis, biasanya serius."
Melati menutup mulut menahan tawa. Baskara menatap Bunga sebentar, lalu sudut bibirnya bergerak. Namun senyum itu hilang ketika seorang pelayan mendekat dan berbisik di telinganya.
Rangga berkata, "Dia datang."
Bunga tidak perlu bertanya siapa.
Percakapan di ruangan berubah sebelum pintu utama terbuka. Bukan berhenti total, hanya turun setengah nada. Orang-orang merapikan postur, memegang gelas lebih hati-hati, menoleh tanpa benar-benar menatap.
Lalu Jenderal Hartono Prakoso masuk.
Bunga pernah melihatnya di panggung gala. Pernah melihat fotonya. Pernah melihat bayangannya di semua cerita buruk yang membentuk hidupnya. Namun melihatnya dari jarak beberapa meter adalah hal lain.
Hartono tinggi, bahunya lebar, rambutnya dipotong rapi, wajahnya keras tanpa perlu dibuat galak. Langkahnya sedikit berbeda. Baru setelah ia bergerak melewati lampu, Bunga melihat kaki prostetik di balik celana gelapnya. Bukan kelemahan. Pada dirinya, itu tampak seperti bagian dari ancaman, seperti bukti bahwa ia pernah kehilangan sesuatu tetapi dunia tetap memberinya ruang untuk mengambil lebih banyak.
Tangan Bunga dingin.
Clutch di genggamannya bergetar kecil.
"Bunga," kata Rangga.
Ia tidak bisa menjawab.
Hartono menyalami tuan rumah, menepuk bahu seseorang, lalu tertawa rendah pada komentar yang tidak Bunga dengar. Tawa itu membuat perut Bunga berbalik. Bagaimana mungkin suara orang yang menghancurkan Desa Kemuning bisa terdengar begitu biasa? Bagaimana mungkin ruangan ini menerima tawa itu tanpa dindingnya retak?
"Kontrol napas," kata Rangga. "Empat hitungan masuk. Tahan dua. Keluar enam."
Bunga mencoba.
Masuk.
Satu, dua, tiga, empat.
Tahan.
Keluar.
Di kepalanya muncul suara Nenek Ratna menghitung kuda-kuda. Jangan naikkan bahu. Jangan lihat kaki lawan terlalu lama. Mata ke dada. Baca gerak, bukan wajah.
Bunga menatap dada Hartono, bukan matanya.
"Bagus," kata Rangga.
"Aku ingin muntah."
"Jangan. Sulit menjelaskan secara sosial."
Humor buruk itu menyelamatkan satu detik. Bunga menahan napas yang hampir patah.
Hartono mendekati meja. Kursinya berada di tengah, seperti yang Bunga lihat di daftar. Saat ia duduk, orang lain ikut menyesuaikan diri. Bukan karena ia tuan rumah, tetapi karena ruangan itu seolah punya gravitasi baru.
Melati menarik Bunga ke kursi mereka. "Duduk."
Bunga duduk. Kakinya terasa jauh dari tubuh. Di bawah meja, Melati menyentuh lututnya dengan lutut sendiri, isyarat kecil: aku di sini.
Rangga berkata, "Lihat meja. Jangan lihat dia terus."
"Kalau aku tidak lihat, aku takut dia hilang lalu muncul di belakang."
"Dia bukan hantu."
"Dia lebih buruk."
Pelayan mulai menyajikan hidangan pembuka. Sup bening dalam mangkuk kecil. Bunga memegang sendok, tetapi tangannya bergetar. Sup itu memantulkan cahaya lampu, dan di permukaannya ia melihat bayangan jarinya sendiri bergerak.
Ratih yang duduk tidak jauh memperhatikan. "Bunga, kamu pucat. Tidak terbiasa makan malam keluarga besar?"
Bunga mengangkat wajah. "Saya terbiasa makan kalau ada makanan."
Beberapa orang tertawa pelan. Ratih tersenyum, tetapi matanya kesal.
Hartono menoleh.
Hanya sedikit.
Namun Bunga merasakannya seperti pintu besi dibuka.
"Siapa?" tanya Hartono.
Baskara menjawab sebelum Melati. "Bunga Lestari. Teman Melati."
"Oh." Hartono menatap Bunga lebih lama. "Yang dari Jawa Tengah itu?"
Rangga berkata cepat, "Jawab singkat."
"Iya, Pak," kata Bunga.
"Keluarga siapa?"
Pertanyaan itu sama seperti pertanyaan Ratih dulu, tetapi di mulut Hartono terasa seperti pemeriksaan senjata.
Bunga menekan wayang kecil di clutch dengan ibu jari. "Keluarga yang tidak terlalu terkenal, Pak."
Hartono tertawa rendah. "Di ruangan seperti ini, semua orang ingin keluarganya terkenal."
"Mungkin itu sebabnya keluarga saya jarang masuk ruangan seperti ini."
Keheningan jatuh setipis pisau.
Melati menahan napas.
Baskara menatap Bunga.
Rangga tidak berkata apa-apa, tetapi Bunga merasakan seluruh kesadarannya siap menariknya mundur kalau perlu.
Hartono menatap Bunga. Lama.
Lalu ia tertawa.
Bukan tawa besar. Hanya suara rendah yang membuat beberapa orang ikut tertawa karena aman untuk ikut tertawa.
"Berani juga," katanya. "Anak sekarang jarang punya lidah seperti itu."
"Maaf kalau kurang sopan, Pak."
"Tidak. Saya suka orang yang tidak terlalu licin."
Bunga hampir tidak tahan mendengar kata suka dari mulutnya.
Tatapan Hartono turun ke tangan Bunga yang masih memegang sendok.
"Tanganmu," katanya, "bukan tangan anak pesta."
Ratih langsung menoleh, seperti mendapat hadiah kecil.
Bunga menahan dorongan untuk menyembunyikan jari. Telapak tangannya memang tidak halus. Ada bekas kapalan tipis di pangkal jari, bekas latihan lama dengan tongkat bambu, bekas memegang sapu halaman Nenek Ratna, bekas hidup yang tidak pernah diberi sarung tangan.
Rangga berkata, "Jangan defensif."
Bunga meletakkan sendok dengan tenang. "Saya pernah tinggal dengan nenek yang percaya pekerjaan rumah bisa mengganti gym, Pak."
Beberapa tamu tertawa. Melati ikut tertawa paling dulu, terlalu cepat, jelas sedang membantu.
Hartono tidak tertawa. Ia melihat bahu Bunga, lalu cara kaki Bunga menapak di bawah meja. Seolah ia tidak hanya melihat tubuh, tetapi menghitung kemungkinan gerak.
"Nenekmu keras?"
Kata itu menusuk.
Bunga tersenyum tipis. "Cukup keras untuk membuat saya tidak mudah jatuh."
"Bagus," kata Hartono. "Orang yang terlalu mudah jatuh biasanya merepotkan."
Di bawah meja, lutut Bunga ingin mengunci kuda-kuda. Rangga segera berkata, "Kendurkan kaki kanan."
Bunga menurut. Pelan. Hampir tidak terlihat.
Namun Hartono tersenyum sedikit, seperti tetap melihatnya.
Hidangan utama datang. Percakapan bergerak ke proyek komunitas, sponsor, dan keamanan acara. Hartono bicara sedikit, tetapi setiap kalimatnya membuat orang lain mencatat dalam kepala. Ia menyebut Kalimantan seperti menyebut halaman belakang rumah. Ia menyebut warga lokal seperti angka di tabel. Tidak kasar. Justru itu yang membuat Bunga makin marah. Kekejaman yang rapi lebih sulit ditampar di depan umum.
"PT Garuda Perkasa siap mendukung keamanan distribusi," kata Hartono. "Yang penting jangan terlalu banyak tangan kecil mengganggu proses."
Tangan kecil.
Bunga menggenggam sendok sampai buku jarinya memutih.
Rangga berkata, "Buka telapak tanganmu."
"Tidak."
"Bunga."
"Dia bilang tangan kecil."
"Saya dengar."
"Nenek punya tangan kecil."
Rangga terdiam.
Bunga membuka telapak tangan perlahan. Di bawah meja, kukunya meninggalkan bekas di kulit.
Baskara melihat gerakan itu. Matanya turun ke tangan Bunga, lalu naik ke wajahnya. Kali ini ia tidak bertanya. Mungkin karena ia tidak tahu harus bertanya apa. Mungkin karena ia mulai melihat ada sesuatu yang lebih gelap di balik keberanian Bunga.
Menjelang akhir makan, seorang anak kecil dari keluarga Prawira berlari melewati ruang makan, dikejar pengasuhnya. Suasana mencair sebentar. Anak itu tertawa, membawa mobil-mobilan kecil, lalu tersandung ujung karpet dekat kursi Hartono.
Tubuh Bunga bergerak refleks.
Ia belum berdiri penuh, tetapi tangannya sudah siap.
Rangga berkata, "Tahan."
Bunga menahan.
Pengasuh berhasil menangkap anak itu sebelum jatuh. Semua orang tertawa lega. Hartono menatap anak itu, lalu melihat Bunga yang setengah bergerak dari kursi.
Mata mereka bertemu untuk pertama kalinya benar-benar lurus.
Bunga merasakan seluruh tubuhnya ingin mundur ke masa lalu, ke halaman Nenek, ke tempat sebelum nama Hartono masuk ke hidupnya.
Hartono menyipitkan mata, bukan marah. Tertarik.
"Refleksmu cepat," katanya.
Bunga duduk kembali perlahan.
"Kebiasaan, Pak."
"Kebiasaan dari mana?"
Rangga berkata, "Jangan sebut silat jika tidak perlu."
Namun Hartono masih menatapnya, menunggu.
Bunga menelan ludah.
"Dari orang yang mengajari saya bertahan hidup."
Ruangan kembali tenang.
Hartono meletakkan garpu. Senyumnya tipis, matanya tajam seperti elang yang baru menemukan gerak kecil di rumput.
"Menarik," katanya.
Dan Bunga tahu, malam itu ia tidak hanya berhasil melihat Hartono.
Hartono juga mulai melihatnya.