Satu sekolah tahu Lintang Gentariana adalah gadis paling gigih yang setiap hari memanggil nama Arka—atlet pencak silat kebanggaan sekolah yang sedingin es.
Dua tahun cintanya bertepuk sebelah tangan, sebuah wasiat tiba-tiba memaksa mereka menikah secara rahasia di bangku SMA.
Lintang mengira impiannya jadi nyata. Namun, ia keliru. Arka menikahinya tepat ketika dunia cowok itu di ambang runtuh.
Di sekolah Lintang adalah gadis yang selalu terlihat mengejar Arka, tapi di rumah, Lintang harus menghadapi kemarahan dan luka terdalam Arka.
Lantas, bagaimanakah kelanjutan kisah pernikahan rahasia mereka?
Sanggupkah Lintang bertahan, atau perpisahan justru menjadi jalan terbaik bagi keduanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon siyunr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketika Teman Bertindak
Ulangan harian Matematika di jam pertama sukses membuat otak setengah penghuni kelas serasa berasap.
Disusul pelajaran kedua yang tidak kalah membosankan.
Hingga akhirnya, bel pergantian jam berbunyi dan mata pelajaran Prakarya dimulai.
Bagi sebagian besar murid kelas 12 IPS 2, Prakarya adalah oase di tengah gurun.
Kerja kelompok di mata pelajaran ini punya arti lain: sesi curhat dan ghibah massal dengan kedok belajar kelompok.
Bu Rihka berdiri di depan kelas sambil membawa map tebal.
Wanita itu memeriksa catatan absensi sejenak sebelum mengangkat wajah dengan senyum tipis.
"Untuk materi yang sudah Ibu jelaskan minggu lalu, sudah dicatat semua?" tanya Bu Rihka.
"Sudah, Buuu!" Jawaban serempak yang kelewat bersemangat langsung memenuhi ruangan.
"Baik," Bu Rihka mengangguk puas. "Untuk tugas praktiknya, silakan buat kelompok. Masing-masing beranggotakan empat orang."
Kalimat itu langsung memicu kekacauan terkontrol.
Murid-murid mulai saling toleh dan bersiap meluncur dari kursi masing-masing demi mengamankan sirkel terdekat.
"Kelompoknya bebas memilih sendiri, Bu?" tanya Wila antusias.
"Mau bikin sendiri atau Ibu yang bagi?" tanya Bu Rihka balik.
"SENDIRIII!" Jawaban satu kelas menggema kompak, seolah sedang menyuarakan hak asasi manusia.
Bu Rihka tertawa kecil. "Ya sudah, silakan cari kelompok dulu. Nanti Ibu jelaskan detail tugasnya."
Belum sampai lima detik, kelas langsung berubah jadi sarang lebah yang bubar.
Suara teriakan panggilan dan decitan geseran kursi bersahutan di mana-mana.
"Eh, cewek-cewek, sini!"
"Kurang satu cowok nih, siapa mau?!"
"Gue ikut kelompok lu, ya!"
Lintang yang awalnya santai mulai memindai situasi.
Ia melirik sekeliling, bersiap mencari dua orang lagi sebagai pelengkap kelompoknya bersama Zahiya.
"Zah, kita mau ngajak siapa lag-HEH!"
Ucapannya terputus di udara saat melihat tubuh Zahiya sudah diseret begitu saja oleh Viona ke pojok kelas.
"Yah... terus gue sama siapa kalau lu bareng Viona, Lini, sama Santi?" keluh Lintang, merasa dikhianati oleh belahan jiwanya sendiri.
Zahiya tidak berdosa.
Cewek itu malah melemparkan senyum lincah-tipe senyuman yang langsung membuat bulu kuduk Lintang berdiri karena tahu ada konspirasi besar yang sedang berjalan.
"Gitu aja nggak paham," ucap Zahiya penuh teka-teki dari kejauhan.
Lintang melongo. "Hah? Maksud lu gimana?"
Zahiya tidak menjawab.
Sebagai gantinya, ia mengangkat tangan dengan tingkat percaya diri setinggi langit ke arah guru di depan kelas. "Bu Rihka!"
Bu Rihka menoleh dari mejanya. "Iya, Zahiya? Ada apa?"
"Murid kelas kita kan totalnya ada 30 orang, Bu. Kalau dibagi empat-empat, otomatis ada satu kelompok sisa yang isinya cuma dua orang karena nggak kebagian anggota," lapor Zahiya dengan nada bicara yang sangat meyakinkan, persis jubir pemerintah.
Bu Rihka tampak berpikir sejenak lalu mengangguk. "Oh iya, benar. Siapa yang belum dapat kelompok lengkap?"
Zahiya tersenyum semakin lebar.
Senyum setan yang biasanya muncul sebelum ia melakukan sabotase besar-besaran.
"Lintang sama Gifarka, Bu. Mereka belum dapet tim."
Seketika kelas mendadak hening dua detik, sebelum akhirnya suara sorakan gemuruh pecah dari segala penjuru mata angin.
"WOOOOOOO! MAIN BERSIH YA!"
"ANJIRRR! MAU JADI PASUTRI!"
"BAU-BAU SETTINGAN DRAMA KOREA NIH!"
"ZAHIYA ANJAY! SAHABAT PALING PENGERTIAN TAHUN INI!"
Satu kelas langsung heboh. Lintang membelalak seketika.
Wajahnya yang tadi kusut karena ditinggal, sekarang mendadak memerah padam karena syok sekaligus salah tingkah.
"WOI?! ZAHIYA! APA-APAAN LU?!"
Zahiya tertawa sampai menepuk-nepuk meja. "Kan emang belum dapat kelompok, Lin. Jangan galak-galak dong, nanti cantiknya hilang."
"ITU BUKAN GITU MAKSUDNYAA, MAESAROH!"
Lintang buru-buru menoleh ke belakang, tepat ke arah meja Arka.
Cowok itu masih duduk tenang, diam, seolah-olah huru-hara yang menyebut namanya barusan hanyalah angin lalu yang menumpang lewat.
Kedua tangannya bertumpu di atas meja dengan tatapan lurus ke depan.
Bahkan saat satu kelas sibuk menjodoh-jodohkannya, ekspresi wajah Arka tetap datar tanpa cela, mirip patung manekin di mal.
Melihat ketenangan Arka, Lintang yang tadinya sempat panik justru perlahan menyeringai.
Bukannya malu, sepasang matanya kini justru berbinar terang seperti orang yang baru saja memenangkan undian miliaran rupiah.
Ia menoleh kembali ke arah Zahiya dengan pandangan penuh rasa hormat, seolah sahabatnya itu baru saja melakukan tindakan heroik yang layak mendapatkan penghargaan internasional.
Lintang mengangkat kedua jempolnya tinggi-tinggi. "PINTER BANGET LU, ZAH! Mau jajan apa lu istirahat nanti? Gue bayarin!"
Zahiya tampak sangat puas dengan hasil kerjanya.
Ia menyandarkan tubuh ke kursi lalu mengangguk pelan, persis bos mafia yang baru saja menyelesaikan misi rahasia.
"Tenang aja, Neng... Perut gue masih kosong melompong buat nampung traktiran lu."
"Deal!" seru Lintang bersemangat.
"Sekarang mending lu samperin tuh si ganteng, sebelum berubah pikiran," perintah Zahiya sambil mengedikkan dagu ke belakang.
Lintang menoleh ke arah Arka lagi. Senyumnya makin lebar sampai giginya kelihatan semua.
Teman-teman sekelasnya masih berisik bersiul-siul, tapi Lintang sudah mengaktifkan mode tuli.
Ia kembali mengangkat tangan ke arah guru. "Bu Rihka!"
"Iya, Lintang?"
"Berarti ini saya berdua doang sekelompok sama Arka nggak papa ya, Bu?"
"Nggak papa. Porsi nilainya tetap sama kok," jawab Bu Rihka santai dari balik laptopnya.
"Okey, mantap!"
Jawaban itu diterima Lintang seperti surat keputusan resmi dari negara.
Tanpa membuang waktu satu detik pun, ia langsung bangkit dari kursinya dengan penuh percaya diri yang meluap-luap.
Zahiya yang melihat itu menahan tawa sampai pundaknya sakit. "Gila... Kalau ada lomba manusia paling bahagia sedunia, lu fix juara satu tanpa seleksi, Lin."
"Makasih atas pujiannya," jawab Lintang enteng sambil mengibaskan rambut.
"Itu bukan pujian, bloon," balas Zahiya sinis.
Lintang sudah tidak peduli. Ia berjalan mantap menuju meja Arka di barisan belakang.
Cowok itu menyadari kehadiran Lintang yang berjalan mendekat, namun tidak menunjukkan perubahan ekspresi sama sekali.
Begitu sampai di samping meja, Lintang langsung menarik satu kursi kosong lalu duduk di sana tanpa permisi. "Mas crush~, sekelompok nih kita. Jodoh emang nggak kemana ya?"
Arka hanya mengangguk sangat kecil. "Hm."
Lintang langsung menopang dagu di atas meja, menatap wajah Arka dari jarak dekat dengan lekat-lekat.
"Kita mau bikin prakarya apa nih, Ka? Cinta? Asmara? Atau langsung konsep rumah tangga?"
"Heh!" Suara Leon terdengar dari meja sebelah, memotong percakapan. "Bikin prakarya yang bernilai jual, Coy! Bukan bikin kartu keluarga!"
Beberapa murid yang mendengar itu langsung tertawa. Namun, Lintang malah memasang wajah super serius.
"Jadi pasutri juga bernilai kok, Leon. Ada nilainya di mata hukum dan negara."
Arka yang sejak tadi sedang membolak-balik buku catatan akhirnya membuka suara. Singkat, padat, dan jelas. "Terserah."
"Oh, terserah berarti setuju, kan?" goda Lintang, memajukan wajahnya satu senti.
"Terserah bukan berarti setuju," koreksi Arka, kini menatap Lintang sebentar-tatapan tajam yang biasanya sukses membuat murid lain ciut.
Namun, Lintang justru membalasnya dengan senyuman yang makin lebar. Akhirnya, Arka yang mengalah dan memalingkan wajah kembali ke bukunya.
Leon geleng-geleng kepala melihat pemandangan ajaib itu.
"Gue heran sama lu, Lin. Lu adalah satu-satunya spesies manusia di sekolah ini yang bisa ngobrol sendiri lima menit sama batu es sejenis Arka tanpa mati gaya."
"Berarti spek takdir kita udah cocok dan sinkron," jawab Lintang enteng tanpa beban.
"Astagfirullah," Leon mengelus dada sambil menahan kesal akibat tingkat kepedean Lintang yang sudah stadium akhir.
...----------------...
"Jadi... dua minggu lagi sekolah kita akan mengadakan pameran plus bazar tahunan," ujar Bu Rihka setelah situasi kelas mulai kondusif dan semua kelompok terbentuk.
"Anak kelas sepuluh bagian jualan makanan, kelas sebelas pameran lukisan, dan khusus kelas dua belas... kalian wajib membuat produk kerajinan tangan yang bernilai fungsional."
"Bahannya bebas, bisa pakai kain flanel, kain perca, kawat bulu (pipecleaner), atau benang rajut. Bikin sekreatif mungkin."
Mendengar jenis bahan kerajinan itu disebut, sepasang mata Lintang langsung menyala penuh kelicikan. Otaknya yang encer kalau urusan modus langsung menemukan ide cemerlang.
Ia kembali menatap Arka dengan senyum penuh arti.
"Ka, lu bisa ngerajut atau ngelipet kawat bulu yang estetik gitu nggak?" tanya Lintang setengah berbisik.
Arka tidak menoleh, tangannya masih sibuk menggoreskan pena di buku. "Nggak."
"Sip! Pas banget!" Lintang menepuk tangannya sekali dengan riang.
"Gue kan jago tuh bikin bunga estetik dari kawat bulu sama benang rajut. Tapi tangan gue sering gemeteran kalau bikin detailnya sendirian."
Arka menghentikan gerakan penanya. Cowok itu mengangkat wajah, menatap Lintang dengan sebelah alis terangkat tebal. Menanti kelanjutan kalimat gadis itu yang biasanya aneh-aneh.
Lintang memajukan tubuhnya, menopang dagu sambil mengerlingkan mata manja.
"Jadi nanti pas kerja kelompok, tugas lu gampang kok, Ka. Lu cukup pegangin jari-jari gue aja dari belakang biar tangan gue nggak gemeteran pas ngerajut. Gimana? Solusi yang sangat membantu nilai kita, kan?"
Leon yang kebetulan sedang meneguk air mineral di meja sebelah langsung tersedak hebat di tempat.
"UHUK! KHEKK! ANJIR, MODUS LU KETINGGIAN, LINTANG!"
"Bisa diam nggak, Leon? Ini urusan internal kelompok gue," semprot Lintang dengan wajah galak, sebelum kembali memasang senyum semanis gulali ke arah Arka.
Arka menatap Lintang selama beberapa detik tanpa ekspresi, lalu menghela napas pendek yang terdengar sangat pasrah. Ia menutup bukunya dengan gerakan perlahan namun tegas.
"Gak usah aneh-aneh. Kerjain yang bener."
"Iya, kerjain berdua di rumah gue, kan?" sambung Lintang cepat, mencari celah baru.
"Bahan-bahan rajut sama kawat bulu gue di rumah lengkap banget, Ka. Daripada di kelas ini berisik banyak gangguan gaib kayak Leon."
Arka terdim sejenak. Matanya menatap langit-langit kelas, tampaknya sedang menimbang jadwalnya yang padat. "Gue ada jadwal latihan silat."
"Kan bisa pulang latihan langsung ke rumah gue? Sebentar aja demi masa depan nilai Prakarya kita," bujuk Lintang lagi, menatap Arka dengan pandangan memohon yang dibuat seimut mungkin.
Zahiya yang memantau dari kejauhan hanya bisa menepuk jidatnya pasrah, menanti jawaban apa yang akan keluar dari mulut sang juara silat tersebut.
Arka mengembuskan napas kecil, lalu akhirnya menyerah. "Sabtu. Jam tiga sore."
Lintang hampir saja memekik kegirangan di tempat, namun ia berhasil menahannya demi menjaga image di depan mas crush.
"Oke, siap! Titik koordinat alias sharelok rumah gue nanti gue kirim lewat chat ya, Pak Ketua!"
"Jangan panggil itu," sahut Arka datar.
Lintang terkekeh geli melihat punggung Arka yang tampak kaku. Ia sangat yakin, sedingin-dinginnya Arka, cowok itu sebenarnya tidak se-batu yang orang-orang pikirkan.
Hanya butuh usaha ekstra saja untuk mencairkan es batu di hati cowok stoik tersebut.
"Zah, liat tuh! Dia nerima ajakan gue ke rumah!" seru Lintang setengah berbisik kepada Zahiya begitu kembali ke bangkunya.
Zahiya hanya memberikan dua jempol sambil menggelengkan kepala heran. "Satu langkah lebih dekat ke jadian, nih! Siapin PJ!" ledek Zahiya.
Lintang tertawa lepas. Dunianya tiba-tiba terasa jauh lebih cerah benderang, hanya karena hari Sabtu sore nanti, dia akan memiliki waktu berdua dengan Arka tanpa gangguan makhluk lain.
...----------------...
Ketika bel istirahat berbunyi nyaring, Arka langsung menyampirkan tasnya di sebelah bahu, lalu berjalan keluar kelas dengan langkah lebar tanpa menoleh sedikit pun.
Namun, tepat saat langkah kakinya melewati meja Lintang, Arka menghentikan langkahnya selama dua detik.
"Nanti sharelok," ucap Arka singkat dengan suara beratnya, sebelum benar-benar menghilang di balik pintu kelas.
Lintang ternganga di tempat selama beberapa detik, seperti patung yang kehilangan sistem operasinya.
Lalu pada detik berikutnya, ia langsung melompat kegirangan hingga membuat kursi kayu yang didudukinya bergeser dramatis.
"DIA NGOMONG DULUAN SAMA GUE! DIA MINTA CHAT GUE, ZAH! DIA NGOMONG!" Lintang mengguncang-guncang bahu Zahiya dengan brutal sampai kepala sahabatnya itu maju-mundur.
"Aduh! Sakit, Lin! Lepas!" Zahiya mengaduh kesakitan, namun sudut bibirnya ikut tersenyum geli.