Bau kemenyan menyengat hidung Raka jam 12 malam pas. Bukan dari kamar bapak nya yang udah kosong 40 hari. Dari punggung nya sendiri. Pekat, anyir, kayak kemenyan di campur darah basi.
"Arghh!" Raka jatuh dari kasur, sprei putih nya ketarik. Punggung nya serasa di sayat silet panas dari tulang ekor sampe tengkuk. Keringet dingin langsung mengucur segede jagung.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvian Adi Pratamaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 Warisan Yang Tertinggal
Satu bulan sudah berlalu sejak solo tenang kembali. Udara di kaki gunung lawu sekarang terasa lebih ringan. nggak ada lagi bau darah dan asap hitam yang nempel di hidung, yang ada cuma bau tanah basah habis hujan dan kayu bakar dari dapur warga.
Raka hidup di rumah kayu kecil di ujung desa.
setiap pagi dia bangun jam 5, bantu pak slamet angkat batu buat bangun ulang rumah yang hancur waktu solo rusuh dulu. Tangannya udah kapalan, nggak ada lagi luka kutukan, cuma luka kerja biasa anehnya, dia lebih nyaman gini.
Bima tiap sore selalu datang. anak itu bawa buku tulis bekas dan pensil pendek.
"Kak, kata pak guru, kata 'manusia' itu artinya makhluk yang bisa mikir," kata bima sambil nulis pelan-pelan di atas papan kayu.
Raka duduk di sampingnya, ngelap keringat. "Bener. tapi buat gue, manusia itu makhluk yang bisa milih buat nggak jadi jahat."
Bima ngangguk pelan, walaupun kayaknya belum ngerti sepenuhnya tapi dia senyum senyum yang tulus itu cukup buat raka.
Malamnya raka duduk di depan rumah sambil ngopi hitam. Serpihan mahkota kala raja di jarinya udah nggak pernah panas lagi. dingin kayak batu kali tapi kadang, pas malem sunyi banget, dia masih denger suara kecil di kepalanya. bukan bisikan jahat. cuma suara tua yang ngomong pelan, kayak orang tua yang ngasih nasihat.
"Masih ada satu hal yang belum lo selesaikan, Raka wiraatmaja."
raka nggak kaget lagi. dia udah biasa denger suara aneh.
"Siapa lo?" tanyanya pelan sambil ngeliatin api di tungku.
"Nama gue nggak penting lagi. gue cuma penjaga terakhir dari catatan sangkala."
Raka mengernyit. "Catatan? Catatan apa?"
"Dateng ke candi sukuh bawa serpihan itu. Sebelum terlambat."
Suara itu hilang angin gunung lewat, bawa dingin yang menusuk tulang.
Raka diem lama. dia tau, kalau suara itu muncul lagi, berarti emang ada sesuatu yang belum selesai.
---
Paginya Raka pamit ke pak slamet dan bima.
"Gue ada urusan sebentar ke candi sukuh. paling 2 hari balik lagi."
Pak slamet cuma ngangguk. "Hati hati ya nak. Jalan ke sana licin kalau abis hujan."
Bima langsung cemberut. "Jangan lama lama ya kak. nggak ada yang ngajarin gue nulis kalau kakak nggak ada."
Raka ketawa kecil, ngelus kepala bima. "Iya dek. gue janji. 2 hari doang."
Jalan ke candi sukuh nggak jauh. cuma 1 jam naik motor tua milik pak slamet. Candi itu sepi kayak biasa. cuma ada satu juru kunci tua yang duduk di bawah pohon beringin besar. mukanya keriput, tapi matanya tajam.
Pas lihat Raka, mata juru kunci itu melebar.
"Lo dateng juga akhirnya," katanya pelan, kayak udah nunggu lama.
Raka berhenti. "Maksud pak?"
Juru kunci itu nggak langsung jawab. dia ngisep rokok kretek, ngeluarin asap pelan.
"Di bawah sana," katanya sambil nunjuk ke arah pintu bawah candi. "Ruang terakhir keluarga sangkala. bapak lo pernah nitip sesuatu buat lo."
Raka nggak nanya lagi. dia langsung turun.
Udara di bawah tanah lembab dan bau tanah basah. lampunya cuma obor kecil yang dia bawa.
Di ujung lorong ada peti kayu tua. di atasnya ada ukiran naga dan mahkota retak.
Raka buka peti itu pelan. engselnya berderit.
di dalamnya cuma ada satu buku usang, satu keris tumpul yang nggak tajem, dan surat yang udah menguning.
Surat itu tulisan tangan ayahnya.
Raka kenal tulisan itu. bapaknya dulu suka nulis di buku harian.
"Raka, kalau lo baca surat ini, berarti kutukan udah putus. dan lo udah milih jadi manusia.
Gue minta maaf. gue gagal jadi bapak yang baik. gue terlalu takut lo ngulangin kesalahan gue. Di buku itu ada catatan semua sejarah keluarga sangkala. semua dosa, semua pengorbanan. Jangan lo buang. jangan lo simpen buat dendam pake itu buat ngajarin orang lain, biar nggak ada lagi yang kayak gue ayah."
Raka membaca surat itu dua kali tangannya gemetar ini pertama kalinya dia ngerasa deket sama ayahnya, padahal ayahnya udah mati 3 tahun lalu.
Dia nggak nangis tapi dadanya sesak dia buka buku itu. Isinya tulisan tangan kecil-kecil, rapat. Nama, tanggal, peristiwa. dari prabu kala jaya sampai dirinya sendiri.
Ada cerita tentang pengkhianatan, pembunuhan, sumpah darah, dan pengorbanan yang nggak pernah diceritain siapa siapa.
Di halaman terakhir ada satu kalimat yang belum selesai:
"Kalau suatu hari nanti darah sangkala harus memilih antara kekuasaan dan manusia, maka..." Tulisannya berhenti di situ. kayak bapaknya nggak sempet selesaiin.
Raka nutup buku itu pelan.
"Hue udah milih, yah," bisiknya. "Gue milih jadi manusia."
---
Pas Raka mau keluar, juru kunci udah nunggu di atas.
"Jadi lo udah nemu," katanya sambil nyodorin tangan buat bantu raka naik.
Raka mengangguk. "Iya pak. makasih."
Juru kunci itu ngasih satu bungkusan kecil yang dibungkus kain batik lusuh.
"Ini dari bapak lo juga. katanya kasih ini kalau lo udah nggak punya dendam lagi."
Raka buka. isinya foto lama. foto ayah, ibu, dan raka kecil umur 5 tahun. Mereka lagi ketawa di bawah pohon mangga di halaman rumah dulu.
Foto itu udah agak pudar, tapi wajah mereka jelas banget Raka nggak nangis. tapi dadanya panas.
"Pak," tanya Raka pelan. "Kenapa bapak gue ninggalin semua ini di sini?"
Juru kunci itu senyum tipis. "Karena dia tau, suatu hari nanti lo bakal balik dan lo bakal siap nerima."
Raka ngangguk dia masukin foto itu ke saku jaketnya nggak bakal dia lepas lagi.
---
Malamnya raka balik ke desa.
Bima langsung nyambut di depan rumah, matanya berbinar. "Kak! kakak bawa apa itu?"
Raka ngangkat buku dan foto. "Ini warisan keluarga gue, dek."
Bima ngeliatin bingung. "Warisan kok buku tua?"
Raka ketawa. "Iya tapi isinya lebih mahal dari emas."
Dia duduk di teras buka buku itu lagi.
"Mulai besok, gue bakal bacain ini ke lo. biar lo tau, jadi manusia itu nggak gampang."
Bima duduk di sampingnya. matanya berbinar.
"Siap kak! gue mau jadi manusia yang hebat kayak kakak!"
Raka ngelus kepala Bima. "Nggak usah jadi kayak gue. jadi diri lo sendiri aja udah cukup."
---
Dua minggu setelah itu, berita aneh mulai muncul di desa. ada orang asing yang datang tanya tanya tentang Raka wiraatmaja.
Pakai jas hitam, muka dingin, nggak mau ngomong banyak mereka nggak beli apa-apa. cuma nanya, "Di mana Raka tinggal?"
pak slamet langsung lapor ke Raka. "Raka, hati hati. orang itu nanya lo terus. kayaknya bukan orang baik."
Raka cuma ngangguk. dia tau, warisan keluarga sangkala nggak bakal diem diem aja.
Selama namanya masih ada, orang bakal nyari.
Malam itu, waktu raka lagi baca buku buat bima, pintu rumah diketuk keras.
"Raka wiraatmaja! keluar!"
Raka berdiri. dia ngasih buku itu ke Bima.
"Lo sembunyi di belakang ya dek. jangan keluar, apapun yang terjadi."
Bima mengangguk takut, tapi nurut.
Raka buka pintu, di depan rumahnya berdiri 3 orang pakai jas hitam, yang di tengah ngeluarin foto raka waktu masih jadi kala raja. foto itu dari rekaman cctv waktu kejadian di solo.
"Kami dari yayasan sangkala baru," kata orang itu. suaranya datar. "Kami butuh lo buat bangkitin kembali warisan keluarga lo."
Raka ketawa pelan. "Warisan gue udah gue buang."
"Nggak bisa," jawab orang itu. "Darah nggak bisa bohong. lo tetap keturunan prabu kala jaya dan dunia butuh raja lagi."
Raka melangkah maju. cahaya keperakan keluar dari dadanya.
"Kalau dunia butuh raja, cari orang lain gue udah capek jadi boneka."
Pertarungan nggak lama 3 orang itu bukan tandingan Raka, tapi sebelum pergi, pemimpin mereka bilang satu kalimat yang bikin raka diem lama.
"Raka, lo boleh kabur sekarang. tapi warisan itu nggak bakal hilang suatu hari nanti, darah lo sendiri yang bakal manggil lo balik." Mereka pergi. tinggal raka yang berdiri di depan rumah, napasnya berat.
Bima keluar dari persembunyian. matanya berkaca kaca. "Kak... kita kabur aja yuk."
Raka ngelus kepala bima. "Nggak dek. kalau gue kabur, mereka bakal nyari orang lain.
lebih baik gue hadapin sekarang."
Malam itu raka nggak bisa tidur. Dia buka buku keluarga sangkala lagi di halaman kosong paling belakang, dia nulis satu kalimat pake tinta hitam.
"Aku Raka wiraatmaja. aku milih jadi manusia.
dan selama aku hidup, nggak akan ada lagi raja dari darah sangkala."
dia tutup buku itu warisan itu nggak bakal hilang tapi sekarang, warisan itu ada di tangannya. dan dia yang nentuin mau dijadiin apa.
---
Pagi harinya Raka pamit ke bima. "Gue pergi sebentar dek. kalau gue nggak balik dalam 3 hari, kasih buku ini ke pak slamet. bilang, suruh dia jaga baik-baik."
Bima nangis. "Kakak mau ke mana?"
"Gue mau pastiin, nggak ada lagi yang bisa bangkitin nama sangkala," jawab Raka pelan.
Dia naik motor tua itu jalan ke arah solo. nggak nengok ke belakang di belakangnya, Bima lari sambil teriak.
"Kak Raka! hati hati ya!"
Raka nggak nengok tapi dia senyum, karena untuk pertama kalinya, dia nggak lari dari masa lalu dia jalan buat ngadepinnya dan kali ini, dia jalan sebagai manusia. Bukan sebagai kala Raja.