DESKRIPSI CERITA: ILMU PENGLARIS (Ilmu Pemanggil Tamu)"Jangan pernah coba-coba untuk mengingkarinya..."
> Bagi Rahmat, kemiskinan adalah kutukan yang harus dihancurkan, bahkan jika ia harus bersekutu dengan iblis sekalipun. Melalui perantara Mbah Cahyo, kios baksonya mendadak berubah menjadi lautan manusia yang lapar. Namun, di balik kepulan asap dandang yang menggiurkan, ada aroma anyir darah dan hawa dingin yang mengurung tempat itu.
> Di saat Ratna, sang istri yang setia berjuang melayani pelanggan dengan peluh dan ketulusan, ia tidak pernah tahu bahwa suaminya sendiri telah menjual jiwanya ke penguasa kegelapan hutan fajar. Satu per satu keanehan mulai muncul. Angin yang berputar aneh, tatapan kosong para pembeli, hingga sekelebat wajah mengerikan yang mulai menggantikan wajah tulus istrinya.
> Sebuah kisah tentang keserakahan yang membutakan, kebohongan yang menumpuk, dan sebuah jebakan pesugihan searah yang tidak akan pernah membiarkan korbannya kembali ke jalan yang benar dala
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HERMAWAN 505, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jalan yang berputar
## BAB 35 - Jalanan yang Berputar
Siska mengangguk pelan, lalu menepuk jok belakang motornya. "Baiklah, Pak. Ayo naik."
Rahmat tidak membuang waktu lagi, ia langsung melompat naik ke atas boncengan dan terpaksa memegang erat pembatas besi di belakang demi keamanan. Mesin sepeda motor menderu kembali, membelah kabut tebal yang kini kian pekat menyelimuti jalanan sunyi tersebut. Angin malam berembus menusuk hingga ke tulang, namun rasa dingin yang ekstrem itu sama sekali tak sebanding dengan gejolak kecemasan yang terus merayap membakar dada Rahmat. Semakin jauh mereka melaju, semakin kuat firasat buruknya—seolah ada benang tak kasat mata yang terus menariknya mendekati sebuah bahaya besar yang tak terbayangkan.
Di sepanjang perjalanan, tak ada satu pun dari mereka yang bersuara. Keheningan begitu pekat mengunci, hanya suara deru mesin motor dan desau angin malam yang terdengar bersahut-sahutan. Rahmat terus memandang lurus ke depan dengan tatapan tegang, matanya berusaha keras menembus kegelapan malam, berharap siluet rumah mewahnya bisa segera terlihat.
Namun, keanehan demi keanehan mulai terjadi. Jalanan aspal yang biasanya sangat hafal ia lalui setiap hari kini terasa makin panjang, berliku ganjil, dan terasa sangat asing. Rahmat merasa seolah-olah tanah di bawah ban motor mereka sedang berputar-putar tak menentu, mengunci mereka dalam labirin gaib yang tak berujung.
Setelah berkendara selama hampir satu jam setengah lamanya, motor yang dikendarai Siska akhirnya berhasil menembus pekatnya kabut dan tiba di halaman depan rumah mewah Rahmat. Namun, perjalanan malam ini menyisakan kejanggalan yang sangat besar di benak mereka berdua. Perjalanan yang seharusnya hanya memakan waktu normal sekitar tiga puluh menit saja, entah mengapa kini harus mereka tempuh hingga hampir memakan waktu satu setengah jam.
Siska pun perlahan menepikan sepeda motornya tepat di depan pagar besi tinggi yang memagari rumah megah milik majikannya itu.
"Akhirnya... sampai juga, Sis," ujar Rahmat menghela napas panjang dengan perasaan yang sedikit lega.
"Iya, Pak... Alhamdulillah. Tapi, kok rasanya aneh ya, Pak? Mengapa perjalanan kita tadi lama sekali?" tanya Siska dengan dahi berkerut, benar-benar heran dan merasakan ada yang tidak beres sepanjang jalur tadi.
"Sudah, jangan terlalu dipikirkan. Mungkin itu hanya karena kita berdua sedang panik saja, makanya perjalanan tadi terasa jauh lebih lama dari biasanya," jawab Rahmat dengan nada tegas, sengaja menyembunyikan kecurigaan mistisnya agar karyawan setianya itu tidak ikut dilingkupi ketakutan.
Siska tidak menjawab lagi, ia hanya memberikan isyarat dengan menganggukkan kepalanya pelan, menerima penjelasan dari sang majikan.
"Oh iya, ini untuk ongkos ojeknya," ujar Rahmat sembari menyodorkan selembar uang seratus ribu rupiah kepada Siska dari dalam dompetnya.
"Gak usah, Pak. Saya benar-benar ikhlas membantu Bapak," sahut Siska dengan sopan sambil mendorong pelan lengan majikannya, menolak uang tersebut secara halus.
Keikhlasan hati Siska seketika membuat Rahmat terpesona sekaligus terenyuh. Di zaman yang serbapekat ini, ternyata masih ada karyawannya yang dengan tulus menolong tanpa mengharapkan imbalan sepeser pun dari dirinya yang mulai goyah.
"Kalau begitu, bagaimana kalau kamu menginap saja di sini malam ini? Tidak baik anak gadis keluyuran di jalanan malam-malam begini," tawar Rahmat yang merasa cemas melepas Siska pulang sendirian menembus kabut gaib tadi.
"Gak usah, Pak, terima kasih banyak atas tawarannya. Tapi saya harus tetap pulang sekarang, kasihan ibu saya di rumah nanti malah mencari-cari saya," sahut Siska sembari mulai membelokkan setang motornya bersiap untuk tancap gas.
Akhirnya mereka berdua pun berpisah. Siska segera memacu sepeda motornya, pulang meninggalkan Rahmat sendirian yang masih berdiri di balik pagar besi rumah mewahnya. Bersamaan dengan hilangnya raungan mesin motor Siska di balik kabut, sunyi malam kembali menyergap dengan begitu pekat. Rahmat pun mulai membalikkan badan dan melangkah pasti masuk ke dalam halaman rumahnya yang terkesan mati.
Sebelum membuka pintu utama, Rahmat sempat mengeluarkan ponselnya untuk menelepon orang bengkel kepercayaannya, memberikan lokasi koordinat yang jelas agar mobil mewah miliknya yang tertinggal di tepi jalan sepi tadi bisa segera diderek dan diperbaiki besok pagi. Setelah urusan itu selesai, ia langsung memasukkan anak kunci ke lubang pintu utama.
*Cklek...* Saat daun pintu besar itu terbuka, embusan hawa sedingin es mendadak berembus keluar dari dalam rumah, seolah menyambut kedatangannya dengan aura kelam. Tidak hanya itu, indra penciuman Rahmat lantas menangkap sekelebat bau anyir yang ganjil bercampur aroma wewangian bunga kuburan yang sangat tipis—sebuah aroma asing yang tak biasa ada di rumahnya.
Buluk kuduk Rahmat mendadak berdiri, namun ia mencoba menepis rasa takut itu demi sang istri.
"Alhamdulillah, akhirnya saya bisa sampai di rumah dengan selamat. Si Ibu bagaimana ya di dalam? Apa dia sudah tidur?" gumam Rahmat lirih pada kegelapan ruang tengah yang tampak lengang dan mencekam.
Didorong oleh rasa rindu sekaligus sisa firasat buruk yang kini justru kian berdegup kencang menghantam dadanya, Rahmat berjalan cepat membelah kegelapan ruang bawah. Dengan napas yang mulai memburu, ia lantas mulai berlari kecil menaiki satu per satu anak tangga menuju ke lantai dua, tempat kamar pribadi mereka berada. Setiap langkahnya terasa berat, diiringi detak jantung yang berpacu liar seolah tahu ada petaka besar yang siap menyambutnya di atas sana.
Bersambung
jangan lupa like back ke ceritaku 😁